Apa penyakit keluargaku bisa disembuhkan di rumah sakit?

1045 Words
"Han, banguun." Savira di depan Farhan yang tergeletak. Argh, dadaku sakit sekali. Tadi diinjek sama sikampret. Tapi Farhan sedang nggak baik-baik saja disana. Kupaksakan tubuhku berdiri tapi nggak bisa. Ah, enggak, aku harus kesana dan liat sendiri. Ayo kuat, ayo Rovan. "Ra, Farhan gimana?" Aku langsung memastikan sesampainya aku disana. "Ini gara-gara kamu Van." "Maafin aku Ra. Aku nggak nyangka bakal kayak gini." "Van, gapapa?" Bang Piton menghampiri kami, situasi sudah jauh lebih baik. "Bang, tolong bawa Farhan ke rumah sakit dulu Bang," pintaku. "Lu juga luka-luka Van." "Aku sama yang lain aja nanti Bang. Yang penting Farhan dulu." "Oke, gue bawa dia dulu." "Bang Bogem mana bang?" "Di luar masih panas Van. Gue disuruh Bogem tadi ngeliat kondisi lu di dalam." "Aku oke kok Bang. Abang amanin Savira sama Farhan dulu ya Bang. Jangan sampai mereka kena serang lagi." "Oke-oke,gue lewat belakang aja." "Makasi ya Bang." Ssssh, aku nggak kuat berdiri. Tadi aja akhirnya aku ngerangkak ke tempat Farhan. Aduh sakit sekali. Nafasku sesak, Ya Tuhan. Aaaaggghhh. *** "Van, kamu gapapa?" Suaranya, seperti.... "Aku dirumah sakit ya kak?" "Iya Van. Kakak tadi dikabari Bang Bogem." "Maafin aku ya kak. Kakak jadi harus balik lagi kesini." "Gapapa kok dek. Bukan kamu yang salah kan. Bang Bogem udah cerita semua." "Adeknya Savira di rumah sakit ini juga nggak kak?" "Kakak belum ketemu mereka Van. Kayaknya nggak dibawa kesini deh." Duh, semoga Farhan baik-baik aja. Nyatanya, aku harus menginap di rumah sakit selama tiga hari. "Kak, kakak kenapa kasih uang sih sama Bang Robin?" Tanyaku saat keadaanku sudah berangsur pulih. "Biar dia nggak ngerepotin kamu terus dek." "Tapi ujungnya dia beli miras kak. Ditaruh di kamar segambreng. Kalau ketahuan tetangga kan bahaya?" "Dia malah beli miras?" "Iya kak." "Astaga Robin." "Jadi kakak nggak tau?" "Kakak kira dia bakal gunain uang itu untuk sesuatu yang bermanfaat." Aku nenarik nafas, sejak kapan Bang Robin tau sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya? Tiga hari sudah lewat, sore ini aku boleh pulang. Savira, Farhan, gimana mereka sekarang? Apa mereka baik-baik aja? Kayaknya aku nggak mungkin nelpon Savira. Dari percakapan terakhir hari itu, aku tau dia pasti marah sama aku. Hmm, nelpon Boy aja kali ya? "Hallo, Boy." "Hallo Van. Gimana lu udah baikan?" "Iya udah," "Sorry banget bro kita belum sempat kesana. Beberapa hari ini kita ke kantor polisi terus ngasih keterangan soal kejadian hari minggu." "Iya gapapa. Eh tapi gimana jadinya?" "Lawan lu itu ditangkep. Sama beberapa temennya. Bang Bogem juga ditahan." "Lah, Bang Bogem kenapa ikut ditahan?" "Dia mukulin orang yang main sama lu sampe berdarah-darah." "Ya ampun." "Tapi lu tenang aja Van. Kita sedang coba cari cara kok. Kebetulan Bokap gue kan pengacara jadi dia mau bantu." "Makasi ya Boy." "Sama-sama Bro. Eh btw hadiah pemenang lu ada sama gue ya? Ntar gue kasih kalau kesana." "Eh, gue jadinya menang?" "Iya, lawan lu kena DQ. Bukan cuma itu, dia nggak boleh ikut turnamen lagi seumur hidupnya." "Boy," (sheesh, kalimatku menggantung di langit-langit) "Apa?" "Savira sama Farhan gimana?" "Gue beberapa kali ketemu Savira di kantor polisi. Kami nggak berangkat bareng sih karena dia kan ada supir. Tapi yang gue liat kayaknya adeknya baik-baik aja." "Syukurlah." "Yaudah, gue mau lanjut sama Bokap nih." "Oke makasi banyak Boy." "Yoi Bor." Aaahh sakit, tadi pengen ambil gelas buat minum tapi malah sakit beut. Aku lagi sendiri sih, Kak Rossi tadi keluar, nggak tau kemana. Mungkin bayar administrasi kali ya? Ah, jadi ngerepotin. Meski kak Rossi itu kakakku sendiri, aku nggak ingin membuat dia repot. Apalagi harus keluar uang demi aku. Sejak ikut turnamen dan ehm, sering menang, aku udah bisa ngatasin isu finansialku sendiri. Biasanya kalau minta sama Kak Rossi pasti itu buat kebutuhannya Bang Robin. Eh, ngomong-ngomong soal Bang Robin. Kalian pasti penasaran gimana POV aku (ciyee POV, kayak penulis aja). Nah, aku tu pada dasarnya ngerti kenapa dia bisa jadi kayak gitu. Somehow aku mencoba memposisikan diriku adalah dia. Dia yang waktu itu bawa mobil, dia yang pasti menyesal udah sok nge-drift malah tabrakan. Dia yang nggak sengaja menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Dia yang dihukum oleh keadaan. Dia yang dihujat begitu banyak orang. Pun begitu aku tidak serta-merta membenarkan mengapa sekarang dia suka mabuk dan sering Mobile Legend (kalian tau maksudku mobile legend bukan game) sama kak Tania. Aku pun masih berpikir bagaimana cara terbaik untuk pelan-pelan mengubahnya balik. Tapi aku nggak mau ada di sisi yang getol menyalahkan, yang cuma bilang harusnya begini harusnya begitu. Aku ingin mendampingi dia, membantu dia melewati prosesnya. Sakit senang, aku ingin terlibat. Makanya saat Kak Rossi dan suami mengajak aku pindah bersama mereka, aku menolak. Jangan salah, kak Rossi bukannya lepas tanggungjawab lho ya? Dia hanya nggak mau anaknya yang masih bayi kental dengan bau miras dan suasana mabuk, makanya mereka pindah. Buktinya kali ini, Kak Rossi bela-belain ngurusin aku di rumah sakit. Aku tau nggak gampang ninggalin anak gitu apalagi berhari-hari. Suaminya? Aku salut sih. Top lah, pengertiannya. Bagaimana dia menerima keluarga kami yang seperti ini sekarang. Aku berterima kasih padanya sudah mau mengerti kami. Juga memberikan kebahagiaan kepada Kak Rossi. Bahagia yang kami adik-adikmya belum bisa ngasih selama ini. Bahkan orang tua kami mungkin ninggalin sakit yang nggak enak buat Kak Rossi. Gimana enggak? Hari dimana kami kecelakaan adalah h-1 paling bahagia buat kak Rossi. Aku sebenarnya mau nyusul sorenya. Setelah nyokap sama bokap berangkat pagi ke terminal, aku kelas dulu karena ada ujian. Sorenya aku baru nyusul sama Bang Robin. Eh jadinya malah gitu. Sempat hampir batal nikahnya kalau Pak Penghulu nggak inisiatif pake wali hakim. Campur aduk sih pasti rasanya nikah disaat kita tau orang tua kita baru aja meninggal. Cuman yaa mau gimana, biaya yang disiapin pasti juga nggak dikit. Kasian keluarga cowoknya sih. Aku sampe nggak tega liat Kak Rossi nangis selama akad, yang nggak penuh tawa malah penuh kesedihan. Alhamdulillah, semesta berbaik hati menggantikan semua kesedihan di hari itu dengan bahagia yang terus terpancar. Si Abang nge-treat Kak Rossi dengan sangat baik. Yaa aku tau dia emang orangnya baik lah menurutku. Eh itu Kak Rossi udah balik. Denger gak ya dia tadi aku ghibahin ke kalian? Semoga enggak lah ya? Hmm, bukan ghibah juga sih ya? Yaudah aku siap-siap pulang dulu. Ah, aku seneng banget sih bisa berbagi cerita sama kalian. Buat yang udah baca sampe sini aku rispek kali. Kapan-kapan ngopi gass? Wkwk. Ada-ada aja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD