Cold-18

1832 Words
"Selama Josephine tidak ada, kalian yang harus atur semuanya." perintah Andrea.  Aubrey dan juga Audy melongo mendengar hal itu. Mereka pun menatap Andrea dengan tatapan bingungnya, pekerjaan yang sama sekali bukan passion mereka harus mereka kerjakan?  "Jangan gila, Ea. Aku tidak bisa mengurus semuanya." protes Audy.  "Aku bilang kalian berdua, bukan cuma kamu saja." jelas Andrea menatap Audy kesal.  Masalahnya ini kerjaan tidak hanya satu. Josephine menghandle semuanya dengan baik. Walaupun mereka berdua mengakui, bila Josephine baru saja bergabung dengan Andrea tak lama ini. Tapi mampu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik.  Dan sekarang karena Andrea meminta Josephine untuk berlibur, yang ada malah mereka yang menggantikan pekerjaan Josephine?  "Tidak menerima penolakan!! Jadi kerjakan apapun yang aku perintahkan!!" kata Andrea tegas.  "Honornya?" kata Aubrey yang diam saja.  "Lamborghini buat kalian."  Setelah mengucapkan hal itu, Andrea pun memilih pergi. Sedangkan dua makhluk kasat mata, yang belum bekerja saja sudah minta honor malah berteriak kencang sambil bertepuk tangan. Memasuki mobil miliknya, wanita itu segera meninggalkan tempat ini dan menuju ke tempat satunya. Siang ini akan ada barang datang, entah barang apalagi yang mereka kirim untuk Andrea. Bahkan selalu transaksi pun tidak ada yang gagal sama sekali.  Membutuhkan waktu tiga puluh menit, Andrea pun sampai di tempat yang dia tuju. Wanita itu tersenyum kecil, dia pun menatap satu kardus besar di hadapannya dengan puas. "Buka isinya, saya ingin tahu." kata Andrea.  Dua orang itu mengangguk, dan membuka kardus di hadapannya. Dan tentu saja hal itu langsung membuat Andrea tersenyum. Banyak sekali butiran kristal dan juga beberapa senjata yang diinginkan lama Andrea. Mengingat kata senjata, sampai saat ini Andrea belum menemukan informasi tentang Keano dan juga Frederick. Entah ada hubungan apa mereka berdua saat ini.  Ketika tangan Andrea ingin menyentuh bahan haluanya. Ponsel wanita itu bergetar, dia pun menatap telepon masuk dari Keano yang ternyata sudah menelpon nya sebanyak lima kali. Pria itu juga sudah menunggu Andrea di sebuah cafe yang tempatnya tidak jauh dari tempat Andrea saat ini.  "Aku harus pergi. Periksa barangnya, jangan ada yang kelewat. Kalau terjadi sesuatu, hubungi aku segera." kata Andrea.  "Baik Bos."  Cepat-cepat Andrea menuju cafe yang disebutkan oleh Keano. lagian pria itu untuk apa lagi sih bertemu dengan Andrea? Bukannya dua hari ini dia sudah menghabiskan waktu bersama dengan Andrea? Lalu untuk apalagi dia bertemu dengan Andrea? Turun dari mobil ketika wanita itu sampai. Dia pun langsung menatap Keano yang ternyata sudah menunggunya dengan wajah murungnya. Tentu Saja hal itu langsung membuat Andrea tertawa kecil.  “Katakan, ada apa kau memanggilku? Pekerjaanku banyak Kiano.” kata Andrea. “Aku melihat sepasang kekasih yang tengah makan siang bersama. Jadi … aku pikir aku juga ingin seperti itu.” jelas Keano. Dia bahkan juga menunjuk sepasang kekasih yang ternyata duduknya tak jauh dari meja Keano. Melihat hal itu, Andrea pun mendengus kesal. Dia pun menjelaskan pada Keano. Jika mereka ini bukan sepasang kekasih, atau apapun itu. Andrea tidak ingin terikat dengan Keano, dan dia itu wanita bebas. Hidupnya juga tidak hanya mengurus Keano, ada banyak pekerjaan yang harus Andrea lakukan. Jika … pria itu memanggilnya karena urusan penting, tentu saja Andrea juga akan datang. Tapi kalau hanya masalah seperti ini, anggap saja pria itu sudah membuang banyak waktu Andrea.  “Jadi kau benar-benar tidak menginginkanku ya?” kata Keano yang mulai serius.  “Keano bukannya aku tidak menginginkanmu. Aku–” “Bagaimana jika kamu hamil?” kata Keano cepat dan membuat Andrea menatapnya bingung. “Tidak. Aku tidak akan hamil. Kita hanya melakukan sekali, belum tentu juga aku langsung hamil.”  “Kau yakin hanya sekali?”  Pertanyaan Keano mampu membuat Andrea berpikir dua kali. Dia masih ingat betul apa yang mereka lakukan malam itu. Hanya sekali tidak lebih. Dan disini Keano menjelaskan jika mereka tidak hanya sekali melakukan hubungan itu. Dan semua nya Keano keluarkan di dalam, yang dimana Keano sendiri juga tidak tahu Andrea hamil atau tidak setelah itu. Makanya, dia ingin dekat dengan Andrea untuk memastikan jika wanita itu tidak hamil anaknya.  Bukannya tidak ingin tanggung jawab. Pria itu mau bertanggung jawab, bakan untuk menikah saat ini juga Keano mau. Tapi yang ada wanita itu sama sekali tidak menginginkan Keano hadir dalam hidupnya. Sikapnya memang sudah mencari, tapi hatinya …   “Sedikit saja, kasih aku ruang untuk membuktikan jika aku tidak akan meninggalkanmu. Aku melakukan hal ini karena aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku ingin mengikat kamu, dan kamu hanya menjadi milikku.” jelas Keano. “Ki tapi aku tidak bisa.” tolak Andrea. “Apa yang membuatmu tidak bisa!!”  “Karena dia masih menjaga hatinya untuk Cio, pria yang dulu pernah dia cintai sampai saat ini. Dia juga belum bisa menerima kepergian Cio dengan begitu mudah. Itulah kenapa dia tidak bisa membuka hatinya untukmu, dan hanya bisa menerima dirimu dalam hidup Andrea.” jelas seseorang. Tidak hanya Keano saja yang menoleh, tapi juga dengan Andrea yang kaget dengan ucapan itu. Disana sudah ada Cinta yang datang bersama, dengan kedua temannya. Tiga wanita yang selalu saja membuat hidup Andrea tidak tenang.  “Jangan katakan apapun!!” kata Andrea memperingati.  “Kenapa!! Kenapa aku tidak boleh mengatakan apapun pada Keano? Dia berhak tahu, dan kamu berhak bahagia. Orang mati seperti Cio, tidak akan kembali hidup lagi. Dan Cio juga akan  bahagia jika kamu menemukan orang yang tepat Andrea!! Dan itu Keano, jangan memungkiri perasaanmu sendiri hanya karena Cio sebagai alasanmu!!” jelas Cinta. Andrea menatap Cinta tajam. tanpa mengatakan apapun wanita itu langsung meninggalkan Cinta dan yang lain dengan begitu saja. Tidak!! Cio juga tidak akan senang jika Andrea bersama dengan pria lain. Wanita itu juga yakin, jika saat ini Cio sudah menunggunya disana. Dia sudah berjanji jika Cio tidak akan pernah meninggalkannya. “Ya dia nggak mungkin ingkar janji.” gumam Andrea pelan.   **** "Jadi dia seperti ini hanya karena Cio?" kata Keano.  Cinta mengangguk, dia terpaksa memberitahu Keano siapa Cio sebenarnya. Masa itu sudah la, tidak hanya Cinta saja yang menginginkan Andrea bahagia. Tapi juga dengan kedua sahabatnya  dan juga keluarganya. Mereka ingin Andrea hidup dengan normal, jatuh cinta layaknya orang banyak. Merasakan kebahagiaan walaupun itu dengan cara sederhana sekalipun tidak akan masalah bagi Cinta dan juga kedua keluarganya. Tapi yang ada, selama ini Andrea memendam rasa harap, jika Cio akan kembali dan memenuhi janjinya.  "Dia masih berharap Cio bangkit dari kuburnya, dan menepati janjinya pada Andrea. Jika pria itu tidak mungkin meninggalkan dirinya. sedangkan kematian Cio juga sudah hampir sepuluh tahun. Yakali dia datang dalam bentuk tulang terus mendatangi Andrea? Yang ada kabur semua orang melihat hal itu." jelas Cinta.  Keano mengusap wajahnya frustasi. Jadi ini alasan utama kenapa Andrea tidak ingin membuka hatinya untuk Keano. Itu karena dia masih hidup dalam harapan palsu. Keano juga memiliki orang yang dia cintai dulu. Tapi ketika dia mengenal Andrea, bahkan Keano sadar jika saat ini perasaannya bukan lagi tentang dirinya dan juga Naomi. Tapi tentang dirinya dan juga Andrea.  Bangkit dari duduknya, pria itu mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya. Tak lupa juga meninggalkan beberapa jang lembar diatas meja, untuk membayar tagihan makanannya, yang sama sekali belum disentuh. Sedangkan Cita yang melihat itu hanya mampu menatap Keano dengan heran, sebegitunya dia dengan Andrea? Bahkan jika dilihat, masih banyak wanita yang lebih baik dan sempurna dibanding Andrea. Dan Cinta juga yakin, jika pria itu bisa mendapatkan yang lebih dari Andrea. Memasuki mobilnya, Keano langsung mengambil ponsel lainnya, lalu mengecek nomor ponsel Andrea agar tahu dimana posisi wanita itu. “Penthouse … .” ucapnya tersenyum miring. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, Keano pun sampai di depan tujuannya. Dia pun menatap gedung tinggi di hadapannya. Sama seperti apartemen miliknya, yang dimana setengah dari bangunan ini memiliki dinding kaca tembus pandang. Dimana kalau siang bisa melihat banyaknya gedung tinggi dan juga awan biru. Jika malam mampu melihat kerlipnya lampu kota. Turun dari mobil, pria itu langsung dihadang oleh dua orang yang bertubuh tegap.  “Maaf, ada perlu apa anda datang kemari?” kata salah satu diantara mereka.  Jangans ampai Keano geram dan menembak mereka semua saat ini juga. Dia hanya ingin bertemu dengan Andrea saja harus di halangi seperti ini. Jujur saja, kalau bukan perkara Andrea tidak tahu identitas Keano, pria itu tidak mungkin bersikap se sopan ini pada orang lain.  “Hmm, saya ingin bertemu dengan Andrea.” kata Keano. “Andrea? Apa sudah ada janji?” Keano mengernyitkan keningnya, dia pun mengangguk kecil. Sudah ada janji, tapi ketika Keano menelpon dan juga mengirim pesan pada Andrea, wanita itu sama sekali tidak memberi respon apapun pada Keano. Dua orang itu saling pandang, detik berikutnya langsung memberikan jalan untuk pria itu.  “Baiklah, silahkan masuk.” kata mereka. Keano tersenyum kecil, dia pun langsung melangkah pelan tapi pasti dia pun mencari dimana letak penthouse milik Andrea. Dilantai ini ada tiga unit penthouse yang ada, dan pria itu menekan setiap tombol penthouse yang ada. Dia hanya memastikan salah satu diantara pintu ini adalah milik Andrea.  “Apa ini milik Andrea Key?” kata Keano.  “Tidak. Ini milik keluarga Jackson.”  setelah mengucap terima kasih, Andrea menatap satu pintu paling ujung. Entah kenapa perasaannya itu adalah penthouse milik Andrea. Berjalan ke arah sana, dan menekan tombol dengan tidak sabaran. Hingga tak lama pintu penthouse pun terbuka dengan lebar, dan menunjukkan wajah Andrea yang terpampang jelas di balik pintu. “Apa yang kamu lakukan!!” seru Andrea kaget. Tentu saja dia kaget, bagaimana tidak, selama ini Andrea sama sekali tidak pernah menunjukkan alamat penthousenya pada pria itu. Dan sekarang pria itu sudah berdiri tegak di hadapannya, bahkan tanpa mengatakan apapun pria itu nyelonong masuk tanpa sopannya.  “Aku tidak mengizinkanmu masuk ke penthouse ku.” kata Andrea kembali.  “Aku tidak membutuhkan izin mu, untuk masuk ke penthouse ini. Dna bahkan … aku akan tinggal di penthouse ini bersamamu.”  Mata Andrea mendelik sempurna, dia ingin mengusir pria itu dari penthouse miliknya. Tapi apalah daya, jika dia mengeluarkan jurus silatnya, yang ada pria itu akan curiga pada Andrea. Memilih pergi dari hadapan pria itu, Andrea memilih mandi. Lagian tubuhnya bau keringat, karena terlalu lama memukul samsak. Untuk mengurangi rasa emosinya pada Cinta. Rasanya dia masih belum terima dengan ucapan Cinta.  Sambil menunggu, Keano menatap pernak pernik penthouse ini dengan seksama. Dari barang kecil, hingga sebuah lukisan yang diyakini Keano harganya cukup mahal. Disini Keano juga melihat banyak pohon kaktus, bahkan Andrea juga menata pohon kaktus itu di satu tempat dengan jenis yang berbeda.  “Bagus … .” pujinya. Mendengar suara deheman, Jeano pun menoleh Dia bisa melihat Andrea yang ternyata sudah berada di satu ruangan yang sama dengan Keano. Membawa dua minuman kaleng, yang diyakini Keano salah satunya adalah milik Keano.  “Penthouse mu sangat bagus.” kata Keano. “Aku tidak membutuhkan pujianmu. Sekarang katakan, apa yang membuatmu datang ke rumahku!!”   Pria itu tersenyum kecil, dia pun langsung melepas jaketnya dan menghampiri Andrea. Mencium bibir wanita itu begitu kasar dan mendorongnya sedikit demi sekitar. Hingga punggung wanita itu membentur sebuah meja, Keano juga langsung  menaikkan tubuh Andrea agar duduk di atas meja, dengan posisi kedua kaki Andrea yang menghimpit tubuh Keano.  “Ouch … s**t!!”  -To Be Continued- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD