Galih berjalan perlahan menghampiri Adhera yang sudah terpojok di ujung gang. Matanya mengilat marah, kedua tangannya terkepal menahan emosi. Sementara gadis yang telah menipunya itu, ia mulai meringkuk ketakutan, tidak bisa lari kemana-mana lagi. Galih menghentikan langkahnya setelah berada persis di hadapan Adhera. Ia menoleh ke belakang sejenak. Sepi, tidak ada orang. Ia kembali menatap Adhera. Tangannya terangkat, kemudian menjambak rambut gadis itu dengan kasar. “Berani banget lo, ya, udah nipu gue?!” geramnya marah. Giginya bergemeretak menahan emosi. Adhera merintih antara sakit bercampur takut. Air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Melihat Adhera yang tidak meresponsnya Galih semakin memperkuat jambakannya pada rambut panjang gadis itu. Adhera pun semakin merintih kesaki

