DERAP langkah Fania menuruni satu per satu anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamarnya di lantai dua. Aroma harum masakan mulai tercium penghidunya dan Fania harus mencegah air liurnya menetes ketika membayangkan semua masakan lezat yang pasti sudah disiapkan Bi Ipah di meja makan. Fania menduduki kursi favoritnya di depan meja makan. Suasana hening karena memang tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Benar, di meja makan yang besar itu hanya ada dirinya seorang diri. Pandangan datarnya menyapu lima kursi kosong di sekeliling meja makan yang masih tersisa. Sepi. Aneh sekali. Rasa hampa seperti tiba-tiba masuk ke relung hatinya tanpa bisa dicegah, padahal selama ini ia menganggap kesepian adalah teman setia yang tak pernah menjauhinya. Ia sudah mulai mencoba menempatkan rasa

