Adinda's POV Mata itu, senantiasa tertutup rapat. Tak membiarkan siapapun melihat keindahan yang terpancar dibaliknya. Tidak siapapun, tidak juga aku. Bukalah matamu barang sebentar saja. Biarkan aku melihat keyakinan bahwa kau tak akan meninggalkanku dalam gelap malam yang mencekam. Menyelimutiku kala badai berpusar mengelilingiku. Mendekapku kala aku takut akan gemuruh petir. Dan menemaniku kala dunia mencoba menjauh. Sebentar, sebentar saja, Bunda. — Dinda Aku hanya bisa menumpahkan kesedihanku pada buku bersejarah ini. Menorehkan tinta dengan harapan besar pada setiap huruf yang kutuliskan. Manusia bukan tempat yang pantas untuk melabuhkan harapan, terlalu besar kesempatan mereka berkhianat. Tut... Tut... Tut.... Lagi, hanya bunyi alat pendeteksi detak jantung yang menema

