Hari ini adalah hari pertama Rea diantar Irfan ke sekolah. Biasanya Rea memilih naik taksi karena Irfan yang akhir-akhir ini super sibuk memilih berangkat lebih pagi. Irfan dengan semangat membukakan pintu mobil untuk putrinya. Padahal Rea bisa sendiri, dan yang kedua, takut-takut ada yang melihat dan mengira Rea anak manja, walaupun fakta.
"Udah, Daddy pulang sana," usir Rea begitu sudah keluar mobil. "Inget pesan Rea tadi, jangan genit-genit lagi sama cewek. Awas."
Irfan hari ini cuti bekerja. Jadi pakaiannya bebas. Kaos oblong putih dibalut jaket hitam kulit, celana robek-robek, dan sepatu Converse putih, mirip remaja-remaja seumuran Rea. Penampilannya selalu tidak tanggung-tanggung. Rea pernah protes, namun tidak Irfan setujui karena baginya itu sudah menjadi kebiasaannya yang tidak bisa ditinggal.
Irfan mengelus kepala anaknya, sebelum jatuh ke pundak dua kali. "Belajar yang bener, ya?"
Satu anggukan. Tidak ada dua detik, suara teriakan beberapa siswi membuat atensi Rea dan Irfan otomatis teralihkan. Beberapa siswi menghampiri mereka, lebih tepatnya mengerubungi Irfan hingga tubuh Rea tergeser, otomatis gadis itu mundur karena tidak siap dengan serbuan itu. Untung saja Rea bisa menjaga keseimbangannya. Kalau tidak, mungkin dia diinjak-injak.
"WOI, APA-APAAN, SIH?!"
Meski kesulitan, Rea masih berusaha menggapai tangan ayahnya dengan raut geram. Dan dia berakhir terhuyung keluar dari kerumunan. Sekitar lima belas anak dengan genitnya meminta kenalan Irfan, meminta tanda tangan, username IG, nomor w******p, bahkan ada beberapa yang mengira Irfan guru atau murid baru—seolah pengakuan Rea bahwa dia adalah anaknya tadi hanyalah angin lalu.
Irfan terlihat tertekan sambil menatap Rea, meminta bantuannya. Rea yang di belakang mereka hendak membelah kerumunan lagi, tapi kesulitan karena terdorong sana-sini diiringi kebisingan masing-masing.
"MINGGIR LO SEMUA! UDAH DIBILANGIN ITU BOKAP GUE! JANGAN SENTUH-SENTUH!"
Seolah tuli, anak-anak itu makin meriuhkan suasana memperebutkan Irfan, seolah dia adalah sembako gratis, atau berlian yang berharga, atau (lagi) pangeran yang turun dari kayangan. Mereka saling dorong-dorongan, geser-geseran hingga akhirnya terdengar suara peluit satpam sekolah dan suara Bu Wening—selaku guru Matematika—dengan tepukan tangannya, mengomando beberapa siswi itu agar bubar.
Perlahan kerumunan itu mulai merenggang dan bubar. Irfan dan Rea bernafas lega. Bu Wening berdecak pelan dan geleng-geleng kepala sewaktu mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Otaknya langsung ingat dengan wajah familiar Irfan.
"Mohon maaf, ya, Pak. Dikarenakan kehadirannya Bapak di sini banyak murid saya yang jadi berisik. Jadi tolong... mohon pengertiannya, ya, Pak, dan Rea juga. Sebaiknya, alangkah baiknya Bapak pulang saja karena bisa mengganggu aktivitas belajar murid-murid yang lain." Suara Bu Wening terdengar tenang, namun tegas dan penuh penekanan membuat Rea dan Irfan saling bertukar pandang.
Raut Rea yang masih setengah panik itu mengedikan dagu ke arah mobil, meminta agar Irfan segera pulang sekarang juga. Merasa tidak enak dengan Bu Wening. Akhirnya Irfan pamit pulang dan meminta maaf dengan senyuman ramah khasnya.
"Andrea, kamu ikut saya sebentar."
Satu kali ini saja. Semoga hanya hari ini, besok-besok Rea tidak akan menerima ajakan Irfan untuk diantar. Rea kapok. Awalnya, dia kira sampai sekolah akan baik-baik saja. Ternyata, semenjak Irfan keluar mobil tadi malah nyaris merobohkan parkiran. Berakhir Rea berhadapan dengan Bu Wening di ruangannya. Sekedar dikasih peringatan kecil walaupun hal ini bukan tanggung jawabnya.
•••
"Apaan, sih, basi banget?"
Gadis itu membersihkan isi lokernya, meremas secarik surat dari dalam loker yang baru saja dibaca, melemparnya masuk tong sampah dekat loker. Sebuah surat murahan dan tidak masuk akal. Rea tahu surat yang berisi puisi itu adalah puisi yang dijiplak dari karya Kahlil Gibran, dan terselip kata-kata jiplakan entah dari mana lagi.
"Surat lagi?" Itu suara Karin yang tengah menyeruput s**u kotak stroberi begitu jemari sebelahnya menaruh sebuah buku ke dalam loker pojok yang berjarak dua loker dari loker Rea. Karin selalu meninggalkan buku-bukunya di dalam loker. Bahkan isi tasnya hanya alat-alat tulis, parfum, make up, dan satu buku yang dijadikan coret-coretan asal waktu tidak ada kerjaan. Dia tidak pernah belajar kecuali saat penilaian semester. Bisa dibilang sebelas-duabelas dengan Rea, sahabatnya.
Rea mengangguk malas. Mungkin gadis-gadis lain jika diberi surat misterius seperti itu akan salah tingkah dan senyam-senyum tidak jelas, atau dibaca berulang kali, atau lagi yang paling utama, mencari-cari tahu siapa pemberinya. Berbeda dengan Rea yang tidak peduli karena menurutnya alay, murahan, dan kurang kerjaan.
"Nih, cokelat." Karin memberi Rea sebatang cokelat yang baru saja dirogoh dari saku.
Rea langsung mengambil cokelat dengan senyum lebar. "Wihhh, tumben peka lo." Dia memang pecinta cokelat, atau makanan apa saja yang berbau-bau manis. "Thanks, Rin. Lo emang sahabat the best forever gue banget."
Karin berdecak malas. "Biasanya juga yang paling peka gue."
Rea buru-buru membuka, mematahkan isinya lalu memakannya. "Lo mau?" tawarnya.
"Nggak—eh." Karin menggeleng lagi sewaktu Rea mendekatkan cokelat itu ke arahnya. "Itu... sebenarnya... bukan dari gue, sih...," kekehnya.
Gerakan Rea terhenti. Kedua bola matanya membulat sempurna. "Bukan dari elo? Terus dari siapa, dong?" Gadis itu membuang sisa gigitannya dengan raut panik. Takut-takut pemberi aslinya memasukan racun ke dalam cokelat itu. Atau... cokelat itu hasil curian Karin?
"Nata."
Tapi, begitu nama itu yang keluar, Rea mengelus d**a. "Astagfirullah, Karin! Kenapa nggak ngomong, Sayang?" gertak Rea dengan kedua tangan digadahkan ke atas dramatis.
Wajah Karin terlihat begitu polos saat mengucapkan, "Ya... soalnya pasti lo nggak mau nerima kalo bukan dari cewek?"
"Ya, kan, bisa ngomong langsung..., Karin," gertak Rea. "Ini dari Nata, gitu. Iya-iya doang lo bisanya. Gue kira dari lo sendiri."
"Ya elah, Re, tuh muka biasa aja dong nggak usah syok gitu. Kayak nerima coklat dari penyihir aja lo."
"Nggak panik gimana?" Rea menarik lengan Karin setelah mengunci lokernya rapat-rapat. "Lo sendiri tahu Nata ke gue itu kayak gimana. Kalo sampai ntar gue mati gara-gara nih cokelat, lo yang mau tanggung jawab?"
"Aduhhh, ini kita mau ke mana? Lo mau buang gue juga? Kok lo tega, sih, Re... gue udah anggep lo seperti saudara sendiri, loh. Re... jangan buang gue juga, dong... Gue masih pengen temenan sama lo... Katanya kita mau jodohin anak-anak kita kelak?" cerocos Karin tanpa dipedulikan oleh Rea yang menariknya di sepanjang koridor. "Reaaaaaa!"
Kantin belakang di penuhi anak-anak nakal. Jauh dari kantor guru karena bisa dijadikan nongkrong, merokok, berbicara hal nyeleneh tanpa ada teguran guru. Beberapa anak bersiul-siul genit saat kedatangan dua cewek cantik, tapi tidak dipedulikan oleh keduanya. Karin mengira yang tidak-tidak. Bukannya dibawa ke kantin depan malah ke kantin belakang, takut-takut dihukum bukan diceburin ke laut, melainkan ke anak-anak nakal. Ini sama saja Karin bagaikan ikan asin di tengah para penghuni kantin adalah kucing kelaparan.
"HEH!"
Lima anak yang duduk sambil cekikikan tidak jelas itu terlonjak kaget sewaktu meja mereka digebrak berani oleh seseorang. Telapak tangan Rea terasa panas perpaduan dengan suasana hatinya, tapi rasa panas itu tertahan dan dikalahkan oleh rasa marah.
"Rea?" Salah satu dari mereka berdiri dengan raut setengah bingung. Keempat temannya saling bertukar pandang.
Rea membuang coklat yang masih sisa tadi ke sembarangan arah. "Itu dari lo, kan? Ambil lagi sana. Gue nggak butuh!"
Nata hendak menjawab, namun Rea yang teringat sesuatu yang dari semalam dia pendam hendak dikeluarkan hari ini juga, pun langsung melanjutkan, "Oh ya. Lo juga, kan, pelakunya? Lo yang buka-buka Youtube gue, bikin histori gue isinya horor semua. Siapa lagi yang lancang bawa HP gue? kemarin, kan, ada di elo!" tunjuknya ke wajah Nata persis. "Jadi pasti pelakunya tuh elo! Pembohong! Katanya nggak bisa buka sandi HP gue?!"
Seruan Rea berhasil membuat beberapa murid di sana mengalihkan pandangan ke satu titik yang sama.
"Lo tahu nggak? Bukan cuma horor, tapi ada koleksi bokepnya! Itu kelakuan elo, kan?!" geram Rea tanpa mengontrol volume suaranya di satu kata sensitif tadi hingga mengundang tawa keempat teman Nata; Farel, Abi, Jacky dan Gavin, begitu pula sebagian murid lain di kantin yang menyaksikan.
Nata justru ikut-ikutan tertawa lepas. Harusnya dia yang malu, tapi cowok itu tidak ada raut malu-malunya sama sekali.
"Hapus, nggak?! Hapus! Buru!" Rea memukul-mukul d**a Nata dengan ponselnya, meminta agar Nata segera menghapus sisa tontonannya agar tidak muncul lagi di histori.
"Bukannya itu koleksi elo juga?" tuduh Nata ngawur sembari menahan tawa.
Karin hanya diam saja menyaksikan Rea yang tidak terpikir olehnya, berani melabrak Nata di depan banyak orang.
"Sinting lo! Nggak usah fitnah, ya! Gue nggak sejorok elo! Hapus, atau gue banting HP lo!" Jemari Rea mengangkat ponsel Nata dari atas meja tanpa memperhatikan sekeliling yang menganga tidak percaya.
Saat Rea mengangkat ponsel Nata tinggi-tinggi seolah mengancam, siap membantingnya, baru Nata mengalah. "Iya, deh... oke. Gue hapus, nih...," setuju Nata di sisa tawanya. Cowok itu benar-benar menghapus beberapa histori di Youtube ponsel Rea yang diperhatikan Rea sebentar untuk memastikan apakah benar-benar dihapus. Dan ternyata benar. Nata memang menghapusnya.
Beberapa menit kemudian, ponsel itu dikembalikan ke pemiliknya lagi yang otomatis langsung direbutnya kasar. Ponsel Nata juga dikembalikan lagi ke atas meja.
"Awas lo kalo masih ada," tuding Rea dengan tatapan kesal. "Ayo, Rin." Karin ditarik lagi meninggalkan area kantin.
•••
"SETAN!"
"Woilah..., ngagetin aja lo, Re!" celetuk Romeo di pojokan tengah bermain game, terusik karena gebrakan satu meja diiringi teriakan Rea yang heboh sendiri.
"Ada apa, sih, Re? Lo ngagetin satu kelas, tahu nggak?"
"Modus banget, tahu nggak? Maksud dia nyimpen nomor kontaknya di HP gue apaan coba? Dikiranya gue butuh bantuan dia apa? Dikira gue mau PDKT-an apa sama dia? Dih, ogah."
Karin yang kini ada di tempat duduk samping Rea tertawa ngakak. Padahal tadi saja nyalinya menciut sewaktu di kantin, dan baru sekarang sifat aslinya keluar lagi. Karena tidak ada pemilik kursi di samping Rea sekarang, dia berani mendudukinya. Zara belum diberitahu siapa orang yang disebut-sebut 'dia' oleh Rea.
"Terus, koleksi bokepnya udah dihapus belum, Re?"
Rea mendelik ke arah Karin yang mulutnya ember mengalahkan akun-akun gosip di i********:. "RIN!"
Mendengar itu, kedua mata Zara membulat. "HAH? REA? LO KOLEKSI BOK—MMPH!" Rea dengan cepat membekap mulut Zara sambil mendelik tajam saat nyaris saja dia asal ceplos sama seperti Karin, dan gara-gara Karin. "DIEM!"
Zara berlagak jijik menatap Rea, seolah tidak pernah menyangka. "Lo beneran koleksi begituan, Re?" Zara mengulangi pertanyaannya menjadi berbisik.
Rea berdiri seiring dengan gebrakan mejanya, mengagetkan satu kelas lagi. "ENGGAK!"
"Nata, kan, yang kemarin lusa ngambil HP Rea? Jadi, ya... dialah pelakunya," ungkap Karin.
Rea menelan ludah menatapnya horor. Zara membuka mulut mengucap huruf 'O' tanpa suara, lalu tersenyum menerawang. "Gila, sih. Tuh cowok kayanya, nih, ya, ada apa-apanya sama lo, Re. Soalnya lo doang, sih, cewek yang digituin."
"Iya, yang lainnya mah dicuekin," sahut Karin menyetujui sambil merogoh satu komik di laci Rea, membukanya tanpa izin.
"Heh, emangnya lo udah kenal jauh sama dia? Kok tahu kalo cuma gue doang? Palingan tuh, ya, lebih banyak lagi sebelum gue cewek-cewek digodain sana-sini tapi ditolak karena jelek."
Karin tawa renyah sambil menampol bahu Rea dengan komik itu pelan. "Sumpah, lo bakal nyesel jelek-jelekin Nata. Apa lagi kalo sekarang orangnya denger, bisa abis lo sama dia, Re."
"Lo buta, Re? orang ganteng-ganteng ciptaan Tuhan gitu malah lo bilang jelek," timpal Zara.
"Ya ya ya, gue akuin dia emang keren, baby face, cute, tapi kelakuannya itu, lho..."
"Cie..."
"Ihirrrr..."
"Apaan, sih?!"
"Eh, btw, kok HP lo bisa balik? Kan kemaren-kemaren dibawa tuh anak?" heran Zara, merubah rautnya menjadi serius dan penuh penasaran.
Zara adalah spesies teman paling kepo tingkat nasional. Biarpun begitu, kalau tidak ada Zara, tidak ramai. Di antara mereka, Zaralah yang paling ember mulutnya dan hobi mencontek (*jangan ditiru). Selain itu, gadis ceria itu anak tunggal dan keturunan konglomerat. Ayahnya pemilik lapangan golf sementara ibunya seorang hakim.
Karin tidak kalah embernya dengan Zara. Biarpun ceroboh, tukang panik duluan, pemalu, dan penakut, tapi dia adalah teman sekaligus sahabat paling peka di antara mereka. Tidak ada yang tahu selain mereka di sekolah ini kalau kakak Karin adalah mantan pacar Rea dulu.
Rea bingung hendak menjawab pertanyaan Zara seperti apa. Teringat saat-saat di mana cowok itu mengajaknya naik motor, beruntung waktu itu pulang sekolah. Jadi, hanya ada beberapa anak yang mengetahui, dan mereka adalah anak-anak yang tidak terlalu peduli terhadap aktivitas murid lain yang suka berbuat keributan. Teringat saat-saat dibawa ke sport center, menunggu Nata sampai selesai futsal hingga ketiduran, dan bodohnya Rea menurut-nurut saja demi ponselnya kembali di tangannya. Bangun-bangun wajah Nata sudah dekat dengan wajahnya membuatnya membeku sejenak. Teringat saat-saat di apartemen mengobati cowok itu dalam keheningan... berdua.
Zara dan Karin saling tukar pandang sebelum kembali menoleh bingung ke arah Rea yang tiba-tiba tersenyum kosong seperti seseorang yang kehilangan jiwa. Rea tersadar kaget dari lamunan saat kedua sahabatnya mengguncang bahunya. Gadis itu linglung bersamaan saat masuknya seorang guru fisika, Bu Zahra.
Karin yang berbeda kelas buru-buru melipir keluar, seisi kelas yang tadinya sibuk membuat kebisingan kelas seperti tidur di lantai, merias wajah, mengobrol-ngobrol, dan aktivitas yang lain, otomatis kini berlalu lalang kembali ke habitatnya masing-masing.
Rea melirik kursi sebelahnya yang kosong. Sepertinya pemilik kursi kayu itu bolos mata pelajaran ke tiga.