• 9 | Penyesalan Rio

2889 Words
"Nat." "Hm?" "Thanks, ya, bro." Di dalam jeruji besi itu, hanya ada Nata dan Rio. Tidak membuat kekacauan atau keributan. Tidak ada sarkasme atau tatapan intimidasi seperti saat-saat pertemuan mereka sebelum-sebelumnya. Beberapa menit lalu sebelum suara mereka terdengar, hanya ada keheningan dan kecanggungan di dalam sana. Seolah bingung hendak apa dan membicarakan apa karena mereka tidak pernah akur, bahkan dekat sekali saja tidak. Polisi sudah menelpon orangtua mereka masing-masing, tinggal menunggu kedatangannya. Nata hanya punya ibu dan saudara sebayanya di rumah. Semuanya sibuk. Saudaranya entah sibuk dengan olimpiade, turnamen basket, atau kegiatan apapun yang menurut Nata akan makin membosankan kalau diceritakan beserta semua kompetisinya. Lalu mustahil juga ibunya datang. Dia adalah seorang ibu yang juga super sibuk dengan kerjaannya. Selain sibuk menjadi guru, beliau juga bekerja melanjutkan bisnis perusahaan peninggalan kakek Nata. "Kenapa lo mau nyelametin gue?" Nata mendongak ke langit-langit jeruji besi yang dipegangnya. Mendengar pertanyaan itu keluar, laki-laki itu perlahan menoleh ke arah Rio yang tengah duduk lesehan di belakangnya sambil melingkarkan kedua lengannya ke sekeliling lutut yang ditekuk. Beberapa permukaan kulit wajahnya yang terluka sudah diobati walau masih nyeri. "Karena emang udah menjadi tugas sebagai sesama manusia, kan?" Nata mengambil posisi duduk tiga meter sebelah kanan Rio, seolah tidak ingin dekat-dekat. "Tapi itu Ferdian, Nat. Temen lo." Rio sedikit protes gemas. Seharusnya Nata tadi kabur, maka tidak akan bernasib malang seperti dirinya di sini. Meninggalkannya seperti yang dilakukan teman-temannya, bukan malah menyelamatkannya, kan? "Harusnya dia yang lo bela." "Dia udah kabur dulu. Ngapain juga harus gue bela? Dia yang mulai duluan, kan, ke elo?" Tatapan Rio kini kosong ke depan, kepalanya digeleng-gelengkan pasrah. "Gue nggak tahu nasib gue nantinya kayak gimana kalo tadi nggak ada lo. Mungkin gue udah mati babak belur di tangannya." "Lo mati juga bukan urusan gue." Walaupun Nata tadi berbuat baik kepada Rio itu tulus, tapi jauh dari dalam lubuk hatinya, laki-laki itu masih menyimpan dendam atas semua kelakuan b******k Rio selama ini. "Bahkan..." Bibir Rio bergetar, ekor matanya melirik ke samping, menyembunyikan rautnya dari Nata agar cowok itu tidak bisa melihatnya yang sedang menahan tangis. "...bahkan temen-temen gue penghianat semua, Ta. Mereka justru ninggalin gue di saat gue lagi sekarat kayak tadi." Air mata Rio merebak. Sekarang dia baru sadar, mana penghianat, dan mana yang pantas disebut sahabat. "Sementara lo... elo yang notabennya musuh gue... tapi malah lo yang nyelametin gue. Gue... udah jahat banget...," sambungnya, terisak. Kedua tangan Nata terulur hendak mendekap kepala Rio yang dipukul-pukul bodoh oleh tangannya sendiri. Terkadang, sahabat bisa menjadi musuh dalam selimut. Dan musuh bisa menjadi sahabat. Mungkin suatu saat mereka akan begitu. Nasib keduanya sama, sama-sama baru dikhianati oleh sahabat sendiri. Nata menepuk-nepuk bahu Rio menenangkan. "Ssssttt, udah, udah, elah. Nggak usah lebay. Ini bukan lo banget, Yo." ucapnya. "Gini, ya, Yo. Gue bukannya kasihan sama lo—bukan." Rangkulan mereka perlahan merenggang. "Gue hanya kasihan sama kedua orangtua lo karena kelakuan anaknya sendiri. Ya lo pikir-pikir lagi, deh, ya. Mereka udah berkorban banyak ke elo, tapi elonya malah kayak gini. Coba pikirin gimana perasaan mereka? Lo ngerasain nggak?" Rio mengusap air matanya dengan lengan jaket. Bayang-bayang kedua orangtua, teman-teman penghianatnya, teman-teman Nata yang sudah menjadi korbannya, kembali terlintas di benak. Tatap keduanya bertemu. "Lo... lo orang baik, Nat, mau nolongin musuh sebrengsek gue." Kedua mata cowok itu sudah merah sembap. Tatapannya sayu, tapi tulus. Ya, kini cowok itu benar-benar sudah menyesali perbuatan dan sadar atas perilaku buruknya selama ini berkat kebaikan Nata. Senyum Nata tertarik. Dari sorot matanya, Nata seolah bisa melihat ada luka yang baru saja sembuh, ketulusan dari perkataan Rio barusan. Tidak ada hal yang lebih membuat kita merasa lebih tenang daripada saling memaafkan, kan? "Gue udah maafin lo." Jadi Nata memilih kedamaian. Rio menatap Nata tidak percaya. Padahal dia belum menyiapkan kata-kata yang pas agar mendapat maaf dan perdamaian, namun seolah Nata bisa langsung menebak pikirannya, dan dengan mudahnya dia memaafkan? Hati lo ini... terbuat dari apa, sih, Nat? "Saudara Rio, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Seorang polisi datang memutar kunci, membuka gembok hingga menarik perhatian keduanya. Rio menoleh, sebelum menoleh lagi ke arah Nata saat pintu jeruji itu sudah terbuka lebar-lebar. Lalu cowok itu berdiri. "Bokap gue," ucapnya, lalu menepuk-nepuk pundak Nata dua kali. "Lanjutin entar, gue mau ketemu bokap gue dulu." Nata mengangguk, membiarkan Rio menemui ayahnya. Kini senyum Nata perlahan luntur saat perlahan punggung tegap Rio tidak terlihat di kedua matanya lagi. Cowok itu menelan ludah teringat sesuatu lagi. Siapa yang akan datang membebaskannya dari sini? *** Rea sedari tadi hanya mengaduk-aduk lemon tea-nya dengan sedotan dengan tatapan kosong. Tubuhnya ada di kantin dengan Karin, namun pikirannya mengarah ke kejadian pagi-pagi tadi di jalan. Sekarang tuh cowok beneran ditahan? Nggak sekolah lagi, dong? Senggolan bahu dari Karin menyentak tubuh Rea. "Mikirin apa, hayooo?" "Nggak mikirin apa-apa," geleng Rea sambil menyeruput minumannya dan berpura-pura bersikap santai-santai saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ngapain juga dia harus memikirkan cowok itu? Memang seharusnya jeruji besi tempat aslinya, kan? Dari awal saja sudah jelas kalau cowok itu adalah cowok yang tidak benar. Karin menyenye jawaban Rea sebelum memasang tatapan penasaran. "Nata nggak hadir hari ini? Atau... dia bolos lagi?" Karena setalah dia bolak-balik kelas Rea, tidak mendapati ransel atau tanda-tanda ada penghuni sebelah tempat gadis itu duduk. Ini memang bukan yang pertama kali, tapi Karin sebenarnya hanya ingin berbasa-basi saja karena tidak ada topik. "Ya iyalah... orang dia pagi-pagi tadi ditahan polisi." "WHAT?!" Karin terlalu terkejut untuk bereaksi. Mulutnya menganga bersama sedotan yang mencelup ke jus. "Ditangkep maksud lo? Dia salah apa? Kok lo bisa tahu?" Dia menormalkan suaranya, lalu tiba-tiba tersenyum lebar menyadari sesuatu. "Ohhh, pantes... dari tadi ngelamun mulu. Ternyata mikirin Nata, to? Ha-ha-ha." Karin menepuk bahu Rea sambil tertawa membentuk suku kata. Rea meliriknya sinis. "Siapa juga yang mikirin dia? Ya justru gue seneng. Kriminal Abipraya akhirnya ketangkep juga." Dia tersenyum puas mengingat kejadian tadi pagi. Karin menatapnya penuh selidik. "Udah gila lo. Orang lagi susah malah diketawain. Kasihan tahu!" "Ya salah sendiri. Tujuan mau sekolah malah tawuran. Yang lebih kasihannya lagi tuh orang tuanya. Kapok tuh anak dimarahin habis-habisan pasti." Karin geleng-geleng tidak habis pikir saat melihat Rea tertawa, menertawakan orang yang tengah terkena musibah. "Masalahnya, lo tahu nggak siapa orangtuanya? Lo, kan, pernah jalan sama Nata? Besar kemungkinan lo diceritain dong sama dia, siapa orang tuanya?" Rea memiringkan kepalanya. "Ng...gak, tuh? Emangnya nggak ada yang tahu?" Karin mengangguk-angguk dengan mulut penuh roti isi kacang, menelannya dulu, sebelum menjawab, "Kehidupan dia tuh misterius. Yang lain juga ngerasa gitu. Pas penerimaan raport nggak ada yang dateng ngambil raportnya. Atau kayaknya... dateng terlambat, atau mungkin... waktu para wali murid lain udah bubar? Seolah privasi banget siapa orangtuanya. Bener-bener nggak ada yang tahu," gelengnya, heran. "Gue aja penasaran, apalagi yang lain?" Dahi Rea berkerut tertarik. "Segitunya? Rahasia banget?" "Jadi tuh, kan, pas penerimaan raport, muridnya duduk di sebelah ortu tuh," ucap Karin melanjutkan, "nah, anak-anak tuh penasaran waktu giliran jatah si Nata dipanggil yang dateng siapa. Malah kadang asistennya yang dateng. Semua orang tuh jadi bertanya-tanya, apa ibunya si Nata udah nggak ada? Atau gimana? Gila, kan? Si Nata udah kayak selebritis aja." "Nata nggak malu duduknya di sebelah asistennya?" Karin menggeleng. "Kalo penerimaan raport, dia nggak pernah dateng, sih. Cuma asistennya aja. Kadang." "Tunggu, tunggu. Kok lo tahu semuanya, sih, Rin? Dulu emang sekelas juga sama Nata?" Karin tertawa. "Ikut ngegosip di kelas sebelah. Seru abis. Btw, sebenarnya gue juga udah kenal Nata dari lama. Dulu, kan, kakak gue segeng sama Nata." Kemudian Karin melanjutkan aktivitas mengisi perutnya sampai makanannya habis sementara Rea terdiam meresapi semua cerita baru Karin. "Ntar gue mau mabal satu mapel ah," ujar Rea bersemangat setelah beberapa menit hanya ada suara kerupuk Karin yang dipatahkan dan kunyahan-kunyahan renyahnya. Karin menoleh kaget. "Lho, kenapa lagi, deh? Iseng?" "Males sama Pak Dendy." Pasalnya, Pak Dandy itu selalu menyeramahi Rea seperti roknya kependekanlah, sering tidur di kelaslah, suka cekikikan saat pelajaran berlangsunglah, jarang menyelesaikan tugaslah, dan lip tint yang kemerahan (sempat dilirik sinis kakak kelas ceweknya, tapi Rea tidak peduli). Dan yang paling membosankan, juga membosankan bagi satu kelas; ceramah panjang lebar yang tidak ada habisnya. Entah soal biaya administrasi, tugas-tugas, dan banyak lagi. Kadang cerita kehidupan guru itu pun yang tidak perlu dan tidak penting juga disangkutpautkan. Begitulah Rea. Baginya, semua sekolah sama saja. Membosankan. ••• Rea memandangi anak-anak lain naik bus, jalan kaki, naik kendaraan sendiri, atau dijemput taksi, terlihat ada yang dijemput ibunya—terbesit rasa cemburu saat Rea menatapnya dari parkiran di atas motor. Cewek itu sudah siap dengan jaket denim dan celana jeans-nya hendak pulang. Irfan tidak diizinkan menjemputnya. Takut kejadian seperti kemarin lusa terulang lagi. Maka dari itu, Rea lebih memilih naik motor sendiri, walaupun bukan kendaraan pribadi. Mau numpang-numpang pun, Rea merasa gengsi karena dia seorang murid baru, atau memang itulah sifatnya, gengsi tingkat tinggi. Karin selalu menawari tumpangan, tapi Rea tidak pernah mau menerima tumpangannya. Alasannya sesimpel, takut bertemu lagi dengan bundanya Karin. Yah, mereka memang sudah kenal lama dan dulu cukup dekat, tapi karena masalah itu, hubungan keluarga mereka dengan Rea merenggang. Gadis itu mendengus geli lantaran melihat adik kelas mungil yang katanya terkenal cengeng, lemot, penakut, dan terlihat masih seperti anak SD. Tapi satu hal yang patut diacungi jempol, dia genius. Selain genius, dia jelas murid favorit guru. Rea butuh hiburan, dia lantas menghalangi jalan gadis yang kerap dipanggil Nana itu. Nana butuh mendongak untuk melihat siapa yang menghalangi jalannya, karena tingginya hanya sepundaknya. "A-ada apa ya, kak?" Sesekali dia membetulkan letak kacamatanya dengan perasaan bimbang ragu. Bagaimana tidak? Dijumpai oleh kakak kelasnya tiba-tiba bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Apakah dia membuat masalah dengannya? Nana ketar-ketir karena dengar-dengar Rea murid baru yang barbar, pemberontak, berani dengan siapa saja termasuk berurusan dengan anak-anak nakal lain. Rea tersenyum remeh, tanpa aba-aba dia menarik paksa tas kuning cerah milik Nana yang sedikit berdebu, membuat gadis mungil itu terkejut karena tidak siap. Nana ingin merebut, tapi Rea mengangkatnya tinggi-tinggi hingga lama-lama Nana kesulitan mengambil karena kalah tinggi. "Kak, balikin, Kak," pinta Nana memelas. "Aku mau pulang..." "Kik, bilikin, Kik, heh? Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" seru Rea mengejek Nana sampai mampus dengan tega, sampai-sampai membuat mata Nana berkaca-kaca. "Sini, sebelah sini." Rea tertawa jahat tidak peduli dengan ekspresi melasnya. "Ya elah, nih ambil, sini." Nana melompat-lompat meski tetap tidak kesampaian mengambil tasnya. Rea bermain-main waktu hendak menyerahkannya dan menarik kembali. Waktu tubuh Nana dan tubuh Rea dekat sampai menghabisi jarak, otomatis Rea melempar tas itu ke atas ranting pohon yang lebih tinggi dari tubuhnya dekat parkiran. Hanya ada beberapa murid yang masih berlalu lalang. Ada yang memerhatikan sambil menahan tawa, ada juga yang geleng-geleng kepala karena perbuatan jahil Rea, dan masih banyak yang hanya berlalu tidak terlalu peduli, pun tidak ingin ikut campur. "Kak... balikin...," lirih Nana dengan nada serak, ingin menangis rasanya karena letak tasnya ada di ranting pohon mahoni yang lebih tinggi dari tubuhnya. Rea sengaja menyenye, meniru gaya Nana dengan alunan tawa jahatnya. Sudah lama dirinya tidak mengisi kegabutan dengan kejahilan. Sudah lama dia tidak menghibur dirinya sendiri. Sekarang dia berhasil membuat seseorang yang mudah dijahili menangis. "Cengeng! Nangis di pohon aja sana!" "Andrea!" Kedua gadis itu mengalihkan pandang ke sumber suara. Tepat saat itu, tangisan Nana terhenti digantikan dengan Nata yang berlari ke arah mereka. Cowok itu berdecak dan geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan tingkah Rea. Tanpa suruhan, Nata langsung memanjat pohon. Kedua gadis di bawah memperhatikan dalam diam. Beberapa detik kemudian, raut Nana berubah seperti sediakala seiring Nata turun membawa tasnya. Nana menyeka air matanya sambil menerima tasnya kembali. "Makasih, Kak Nata!" ucapnya sambil membungkuk sopan. Tapi Nata tidak menjawab. Nana tidak berani menatap Rea yang kini sinis menatapnya. Merasa atmosfer sekitar mereka tidak enak, dan tidak ingin menambah-nambah atau kecipratan masalah lagi, akhirnya adik kelas itu melanjutkan langkah setengah berlari ketakutan keluar gerbang. Bahkan, cara berlarinya saja terlihat lucu dan menggemaskan. "Lo nggak ada kerjaan apa gimana?" Rea menoleh sinis sebentar. "Ngerusak suasana aja lo. Bukannya lo ditahan?" "Udah kelar masalahnya," tanggap Nata. "Cuma dikasih peringatan doang sama tandatangan." "Oh. Terus?" Rea melipat kedua lengannya di d**a, sebelum tatapan keduanya bertemu. "Ngapain lo ke sekolah?" "Mau ngapain gue ke sekolah, nggak ada urusannya sama lo," balas Nata dengan raut yang ingin Rea tonjok rasanya. "Lagian lo sendiri kenapa belum pulang? Noh, di parkiran tinggal motor lo doang sama guru-guru." Rea mendengus. Yakin, raut Rea lebih jutek kali ini dibanding sebelumnya. Mungkin efek baru saja ada yang menghalangi rencananya untuk membuat adik kelas menderita. "Mau gue belum pulang kek, mau terbang kem, mau kepental sambil kayang kek, nggak ada urusannya sama lo," balas Rea dengan nada paling jutek sedunia. Gadis itu berbalik hendak kembali menuju motor, setidaknya sampai suara Nata kembali terdengar menghentikan langkahnya. "Seragam gue apa kabar?" Mampus. Rea benar-benar tidak ingat apapun soal seragam itu. Seingatnya, dia menunda jadwal mencuci pakaiannya sudah ada seminggu. Dan, soal kabar seragam cowok itu sudah pasti tenggelam atau terpental entah ke mana. "Besok gue balikin, elah. Dikiloin juga nggak bakalan laku tuh baju," ucapnya tanpa menoleh, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya lagi. Mata Nata terus memperhatikannya hingga motor itu melewatinya, melewati gerbang, dan membelah jalanan. ••• Rea belum pulang. Motor itu berhenti di area parkir Nawa Kafe. Sang empu melepas helm, mencabut kunci motor, turun, sebelum mematri langkah memasuki gedung kafe sembari menyeka rambut panjangnya yang tergerai bebas ke belakang. Beberapa menit berikutnya, dia keluar lagi setelah memesan minuman. Gadis itu duduk di salah satu kursi kosong sendirian dengan ponsel di tangannya yang dimainkan. Tanpa sadar, ada pengunjung yang baru datang memarkirkan motornya. Cowok yang Rea kenal itu bersenandung kecil sambil memutar-mutar kunci motornya di satu jari, setidaknya sampai matanya menangkap siluet familiar yang padahal beberapa menit yang lalu mereka sudah bertemu. Takdir apa lagi ini? "Sendirian aja." Nada itu terdengar seperti ejekan, otomatis wajah Rea diangkat untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar suara itu. "Hah?!" Gadis itu terkejut bukan main ketika menyadari seseorang yang tengah tersenyum ke arahnya—yang padahal beberapa menit lalu ditemuinya juga di tempat yang berbeda. "Lo ngapain ikutin gue?" tanyanya langsung ke inti tanpa ragu. Alis sebelah Nata terangkat begitu sudah mendudukkan dirinya di kursi seberang meja Rea, berhadapan dengannya. "GR banget lo? Siapa juga yang ngikutin? Nih kafe juga udah jadi langganan gue, kali. Dan lo." Satu telunjuknya mengarah persis ke depan wajah bingung Rea, "Selamat. Lo pengunjung baru." Pernyataan itu keluar seolah ejekan karena Rea baru tahu tempat ini semenit lalu. "Nggak penting kayaknya, deh, gue ngomong sama cowok resek kayak lo. Dapet faedah kagak, malah nambah-nambah masalah." Segelas americano pesanan Rea datang menyela obrolan konyol mereka. "Ren, gue pesen kayak biasa, ya." Orang yang dipanggil Rendi itu mengangkat jempolnya ke arah Nata sambil melebarkan senyum menyenangkan seakan mereka sudah saling kenal. "Itu Rendi. Temen lama gue," ucap Nata tanpa ditanya. "Kalo lo mau pesen gratis, ngomong aja sama dia. Bilang, biar Nata yang bayar—" "Kenapa?" protes Rea menukik alisnya sensi. "Biar dikira gue cewek matre?" Alis sebelah Nata terangkat. "Bukannya lo emang matre?" "Apa beruntungnya gue jadi cewek matre kalo gue masih punya banyak harta?" Rea berdiri. "Kalo lo mau nyari ribut sama gue, mending gue yang pergi dulu." Gadis itu tampak tersinggung, padahal kalimat Nata tadi tidak ada maksud mengajaknya ribut. "Baperan amat, deh, jadi bocah." Rea tidak menanggapi. Gadis itu tidak pergi meninggalkan kafe, tapi masuk lagi ke dalam kafe. Meninggalkan americano yang masih panas di depan Nata. Pesanan cowok itu datang beberapa menit kemudian. Rendi menoleh bingung ke arah Rea yang tadi sempat menyenggol bahunya di jalan tanpa sengaja. Dan yang meminta maaf bukannya si pelaku, justru Rendi sendiri sambil membawa nampan. Jangankan Rea menanggapinya, menoleh dan menghentikan langkah saja tidak. "Tuh, cewek lo ngambek," ledek Rendi sambil meletakkan minuman Nata di atas meja dekat americano milik Rea yang belum disentuh sama sekali. Nata menyesap frappuccino-nya sedikit sambil menahan tawa. Di detik yang sama, Rendi duduk di kursi bekas Rea duduk. "Doa lo yang kerenan dikit bisa? Males banget gue punya cewek kayak dia," ucap Nata. Minuman yang baru disesapnya, diletakkan di dekat milik Rea lagi. "Kayaknya dia bisa ke sini juga karena habis ngerampas harta pacarnya." "Ngerampas harta pacar? Maksud lo? Dia maling?" Dahi Rendi berkerut penasaran. "Ya... cewek kayak dia tuh nggak ada apa-apanya kalo dilihat-lihat. Udah sekolah nggak niat, matre lagi. Kemarin gue lihat dia jalan sama Om-Om di restoran. Pake mobil mewah milik tuh Om-Om kayaknya. Tajir. Gila, kan, pacarannya sama Om-Om tajir?" Nata mulai membicarakan keburukan Rea yang selama ini membuatnya semakin membenci gadis itu karena tingkah kurang ajarnya sedari awal suka cari gara-gara dengannya. "Matre-matre gitu... siapa, sih, yang mau sama dia? Cewek nggak laku itu, mah," lanjutnya blakblakan, lalu menyesap minumannya lagi. Rendi yang sedari tadi menyimak baru merespons, "Suuzan lo. Tapi... emang kayaknya iya, deh. Orangnya jutek lagi. Yah... tapi tetep keliatan cantiknya, sih." "Ya lo pikir-pikir lagi, deh. Pas sama Om-Om aja kelihatan manis banget. Di depan orang kayak kita-kita, nih, juteknya nggak ketulungan. Udah pasti nggak laku tuh pacarannya sama Om-Om." Rendi mengangguk-angguk sementara Nata yang masih menampilkan wajah julidnya hingga tanpa sengaja matanya menoleh ke arah belakang punggung Rendi, tak jauh dari sana, berdiri seseorang yang tengah dijadikan bahan pembicaraan barusan. Untuk beberapa saat, Nata membeku. Seolah dadanya baru saja disiram es batu. Tanpa mengatakan apa-apa, gadis itu berbalik, melanjutkan langkah menuju parkiran. Untuk pertama kalinya, Natarel Andreano merasa tidak enak dengan Andrea Wulandari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD