"Daddy! Rea ke minimarket dulu, ya!"
Pengait helm terpasang dengan sempurna. Gadis cantik ber-make up tipis duduk di atas motor KLX milik Irfan, atau biasa dipanggilnya dengan sebutan 'Daddy'—khusus untuk seorang Andrea Wulandari.
Seorang pria sudah berumur 46, berperawakan tegap, dan wajah yang keliatan masih muda, celemek yang masih terpasang, datang dengan beberapa lembaran uang merah untuk disodorkan ke putri satu-satunya. "Biasa, nitip bumbu-bumbu dapur. Mau habis soalnya."
Rea berdecak pelan. Terpaksa menerima uang itu. Memang kewajibannya harus menuruti perintah orang tuanya, kan? Apalagi sekarang yang tersisa hanya Daddy-nya seorang.
Irfan menyebutkan pesanannya sementara Rea mencatat dalam otaknya. Begitu Rea menyalakan motor, Irfan melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Motor melaju keluar gerbang rumahnya, lalu tak terlihat di kedua mata Irfan saat berbelok.
Irfansyah namanya. Seorang pengacara korporat top ibu kota. Usianya yang sudah berkepala empat itu jauh dengan penampilannya yang masih terlihat seperti remaja seumuran anaknya. Bahkan, kadang kalau sedang jalan berdua, mereka akan dikira sepasang kekasih.
Tampan, ramah, penyayang.
Tak heran lagi, banyak ibu-ibu kompleks yang hobi berkunjung ke rumahnya. Sekedar mencari perhatian Irfan setiap harinya. Seperti membawakan makanan setiap hari, terang-terangan mengajaknya jalan, namun selalu ditolak. Rea yang tidak pernah mengizinkan Irfan berhubungan dengan wanita lain selain almarhumah ibunya. Dia selalu mengusir kedatangan mereka dengan jurus galak andalannya. Di kantornya, wanita-wanita rekan kerja Irfan, bahkan bos wanitanya pun ikut terpikat dengan ketampanan Irfan.
Irfan terkadang lupa caranya bersyukur; menyesal terlahir tampan dan awet muda.
•••
Rea mendorong pintu kaca minimarket begitu sampai. Tidak perlu berkeliling untuk mencari pesanan ayahnya. Hanya dalam sekali lirik, beberapa bahan masakan dapur langsung dicomotnya dan dimasukan ke keranjang jinjing.
Andrea Wulandari namanya. Bertubuh ramping, berkaki jenjang, suka mencepol rambutnya asal ke belakang, menyisakan poni-poni tipis menutupi dahi dan pelipis. Gadis yang tidak akan membiarkan ayah kandung satu-satunya menikah lagi—kecuali Rea sendiri berubah pikiran, yaitu menemukan seorang ibu yang pantas Rea sebut 'ibu'.
Tidak perlu mencari tutorial memasak di Youtube, Daddy memang sudah pintar memasak sejak kepergian Mommy. So, Rea tidak perlu menghabiskan tabungannya untuk membeli makanan siap saji sendiri. Rea itu kadang bisa berubah galak, bisa berubah jadi manja kalau di hadapan orang tuanya, terkadang juga bisa berubah menjadi seekor anak kucing di hadapan Omanya.
Ya, sekarang di sinilah Rea tinggal, di Jakarta. Bolak-balik dari Madiun-Jakarta. Madiun adalah rumah asli ibunya sebelum menikah. Rea mencoba untuk melawan rasa traumanya di tempat ini.
Kini, gadis itu berpindah tempat ke rak jajanan. Mencomot beberapa cemilan. Lalu beralih menarik pintu lemari pendingin. Tangannya sibuk mengambil beberapa minuman tanpa melirik harga. Kemudian saat menutup pintu dan mundur selangkah, tanpa sengaja bahunya menabrak bahu seseorang yang membelakanginya. Rea perlu sedikit mendongak untuk melihat wajah orang itu.
Tatap keduanya bertemu. Orang itu refleks meminta maaf dua kali. Padahal di sini Rea yang salah. Rea memilih mengabaikan, melanjutkan langkahnya. Tidak memedulikan orang yang masih menatap punggungnya menuju kasir.
Bersamaan saat belanjaan Rea tengah ditotal oleh mbak-mbak kasir, orang tadi berhenti di sampingnya, tersenyum ramah ke kasir yang menyapanya, seperti sudah saling kenal sambil meletakkan keranjang jinjing berisi belanjaannya. Sesekali Rea melirik, terang-terangan menunjukkan raut tak sukanya. Masih dengan senyum ramahnya, cowok itu merogoh dompet di saku celana. Buru-buru Rea mengambil belanjaannya begitu selesai ditotal dan dikemas tanpa menunggu uang kembalian.
"Kembaliannya, Mbak?"
"Ambil aja." Rea keluar dengan santai tapi terlihat buru-buru. Padahal sekarang hari minggu, gadis itu juga tidak ada acara apapun. Entahlah, masih tidak percaya jika harus bertemu lagi dengan cowok itu.
"Biar gue aja yang kembaliin, Mbak."
Rea masih berada di sekitar minimarket. Di detik cowok tadi keluar membawakan uangnya, motor KLX itu otomatis dinyalakan.
"HEI, TUNGGU! UANG LO!"
Rea tidak menggubris. Nata berlari mengejar. Tapi percuma saja, motor itu sudah melaju memasuki area jalan raya. Dia pun memutuskan untuk mengikutinya, dengan cepat berbalik menuju motor sport merahnya.
Dari kaca spion kanan, Rea bisa melihat pengendara di belakangnya mengangkat kelima jemarinya melambai—seolah itu kode memanggilnya untuk berhenti. Tapi, Rea tidak peduli. Dia menambah kecepatan lajunya. Begitu motor di belakangnya tiba-tiba menyelip dan berhenti di depan, Rea otomatis mengerem dadakan. Terkejut bukan main. Jantungnya berdetak lebih kencang karena panik.
Nyaris saja.
Keduanya bersamaan membuka helm. Pemilik motor sport merah lebih dulu turun, dan mendekat. Raut Rea menyorotnya marah. Dia membiarkan beberapa helai rambut yang dicepol hingga keluar ikatan itu menghalangi wajah waktu angin berhembus menerbangkannya.
"Sengaja lo cari mati biar gue tanggung jawab?"
Rea melirik sebentar selembar uang biru yang di atasnya ada selembar total belanjaannya tadi. Lalu ke arah yang menyodorkannya lagi dengan raut tajam. "Lo tadi ada di sana, ya, berarti lo juga denger dong kalo gue bilang, kembaliannya ambil aja, punya telinga, kan?"
Uang itu disodorkan lebih maju tepat di depan mata Rea. "Ambil buru. Gue males ribut."
"Buat apa? Lagian kalo gue nggak mau bakal ngerugiin diri lo sendiri? Nggak, kan? Nggak usah sok, deh."
"Lo tuh nggak tau caranya bersyukur, ya? Mentang-mentang anak orang kaya, lo bebas berbuat seenaknya?" Mata Nata menyipit karena terpaan angin yang berhembus kencang meski cuaca sedang terik-teriknya.
Rea mengedikkan bahu. "Ya emang gue kaya, masalah buat lo? Freak!"
"Apa lo bilang?"
"Nggak usah pura-pura budeg."
"Lo lupa siapa gue?"
Rea mengernyit. Dia ingat cowok ini adalah cowok tiga malam yang lalu mencegatnya, menarik-narik tangannya, menyelamatkannya, dan sekarang mencegatnya lagi dengan maksud mengembalikan uang yang dirasa tidak penting itu. "Siapa lo? Suaminya Lucinta Luna?"
Seharusnya Rea tertawa kalau ada teman-temannya disini. Justru dia hanya mendengus geli dan tersenyum sinis.
Nata mengumpat dalam hati, berusaha untuk tidak berbuat nekat di hadapan cewek. Apalagi nyali cewek ini benar-benar bahaya. "Daripada lo buang-buang uang gede nih, mending lo amalin, deh, sono." Nata menepuk jidat Rea dengan selembar uang itu di sana. Totalan kertas belanjaannya terjatuh, lalu terbawa angin yang sedang lewat. Helaian rambut Rea ikut terbang. Dengan cepat jemari Rea menangkap uang yang nyaris ikut terbawa angin juga.
"Amalin aja sendiri." Rea meremas dan mengembalikannya paksa ke telapak tangan Nata. "Bilang aja lo miskin, sok-sokan mau ngembaliin. Jangan pura-pura nggak butuh uang ini, deh, miskin!" Gadis itu mendengus dan berbalik.
"Lo cewek tiga hari yang lalu itu, kan?" Nata menatap punggung mungilnya. Rea menghentikan langkah tanpa berbalik. "Nama lo Andrea, kan?" Dia lanjut bertanya.
Gadis itu mengerutkan kening. Bagaimana dia bisa tahu? Satu sekolah, kah? Teman SD, kah? TK? SMP? Di SMA yang sekarang, dia sama sekali belum pernah melihat siluet cowok itu karena Rea baru masuk beberapa hari, atau memang belum muncul?
"Bisa, nggak usah lamat-lamat gitu ngeliatnya? Yang ada orang-orang yang lo teliti kayak gitu bisa-bisa risih, tahu nggak? Dasar jelek!"
Sudut bibir sebelah Nata terangkat. Berani sekali, pikirnya. Saat Rea berbalik, ternyata Nata sudah di belakangnya persis membuat gadis itu refleks memundurkan langkah terkejut, hingga matanya otomatis membulat.
"Lo risih gue pantengin?" Nada itu keluar pelan dengan santai.
Rea meneguk ludah saat Nata menipiskan jarak. Dia mengambil langkah mundur lagi hingga pinggangnya menabrak palang besi, posisinya sekarang berada di jembatan dekat dengan jalan raya. Karena tidak mungkin Nata bisa mencegatnya di jalan raya, kalau kena tilang berabe lagi urusannya. Netra keduanya saling beradu hingga Rea bisa melihat jelas warna mata cowok ini. Cokelat gelap. Seketika nyali Rea hilang begitu wajah Nata mendekati wajahnya.
Tubuh Rea dikunci. Refleks jemarinya memegang palang itu. Tatapan tajamnya menusuk hampir membuat Rea tidak bisa bernafas. Cowok yang tingginya melebihi Rea itu menyisipkan helaian rambut Rea yang lolos dari ikatan ke belakang telinga dengan pelan. Rea membeku. Sesaat, matanya terpaku dengan ketampanan cowok ini. Oke, dia menyesal sudah mengatai jelek tadi.
"Diajarin sopan santun nggak lo sama orang tua?"
Rea menelan salivanya. Mengumpat dalam hati karena cowok ini telah memblokir jalannya dengan kedua lengan mengunci tubuhnya di kanan-kiri. Ada aroma yang membuat Rea ingin cepat-cepat kabur saat itu juga. Aroma nikotin—ah, aroma yang Rea tidak suka dari kecil. Daddy bahkan Rea larang untuk mengonsumsinya.
"Mundur," desis Rea tajam.
Senyum Nata tertarik sebelah. Mata Nata menyadari raut tegang dan takut dari sorot mata Rea. Cewek itu memang terlihat seperti tidak punya attitude. Tapi lihat, sekarang ketakutan waktu Nata mendekatinya. Nata tersenyum puas, dia sudah lama tidak menunjukan salah satu kelemahan cewek.
"Kalo gue nggak mau, lo mau apa? Sekarang lo nggak bisa apa-apa, kan?"
Mata Rea bergerak menatapnya lagi. Wajah mereka berada kurang dari tiga inchi. "Mundur sekarang juga, atau gue tonjok?"
Nata menahan tawanya. "Tonjok aja kalo berani."
BUGH!
Belum ada sedetik setelah perintah tadi keluar, Rea sudah melayangkan tinjunya di pipi kiri Nata membuat kepalanya ikut berpaling dan refleks memegang pipinya yang tiba-tiba ngilu, sebelum menoleh ke arah Rea lagi dengan tatapan yang masih terkejut. Gila, nyali cewek ini benar-benar bahaya. "Lo...?"
Dada Rea naik turun emosi, sama sekali tidak menyesal menonjoknya justru puas melampiaskan emosinya. Tapi nyalinya kembali tegang saat cowok itu mendekat lagi. Alih-alih membalasnya, justru Nata menepukkan selembar uang biru tadi ke pundak kiri Rea dengan sedikit keras, membuat Rea tersentak. Jemari Rea refleks meraih uangnya yang nyaris terbawa angin. Di detik yang sama, cowok itu menarik ikat rambut Rea ke belakang hingga rambutnya mulai terbang bebas diterpa angin. Kedua mata Rea membulat sempurna.
Nata buru-buru berbalik menuju motor dengan membawa ikat rambutnya yang dijadikan gelang.
"W-WOI, IKAT RAMBUT GUE!" Gadis itu berteriak, tapi tidak ada usaha-usahanya mengejar cowok yang telah mengambil ikat rambutnya. Tapi dia tidak terlalu peduli juga.
Mungkin Rea pikir uang lima puluh ribu itu terlalu kecil. Maka dengan seenaknya dia meninggalkan kembalian. Bagi Rea, lima ratus ribu hilang pun tidak masalah. Walau Irfan selalu mengajarinya untuk selalu menghargai sekecil apapun nilai mata uang. Kekayaannya membuat Rea jadi lupa caranya bersyukur.
Cowok itu... Rea akui memang tampan. Perpaduan aroma nikotin tadi bertabrakan dengan wangi parfum cowok itu. Dua kali pertemuan, dua kali cowok itu menunjukkan perhatian. Padahal Rea tidak butuh yang satu itu. Rea paling tidak suka jika dihadapi dengan cara seperti tadi. Terlalu tiba-tiba. Mencegat seenaknya lagi. Bagaimana jika motor si cowok tertabrak karena ulah Rea? Untung Rea bisa langsung mengendalikannya.
Gadis itu menunduk, menatap uang yang dibalik dari telapak tangan kiri, yang tadi sempat disodorkan bolak-balik sana-sini.
Berpikir.