"Sumpah, ya, gue pengen makan Pak Gun hidup-hidup rasanya, tahu nggak. Padahal coretan tipe-x dikiiit doang, loh..." Dua jari Zara membentuk cubitan kecil. "...udah disuruh ganti jurnal lagi. Mana ngeluarin biaya uang jajan gue dua hari, belum iuran yang tugas kelompok," ujar gadis bule itu berapi-api, sedari tadi misuh-misuh sambil menggebrak-gebrak meja kantin sesekali dengan kepalan tangan.
Rea menepuk bahu Zara, menenangkan. "Sabar, sabar."
Mata Zara melirik sahabatnya di sampingnya kesal. "Ada batasannya, Re."
"Ya elah... lo, kan, orkay, Zar," timpal Banu sembari menulis nama-nama kelompok mereka di buku.
Pagi ini mereka sudah akan berdiskusi tugas bahasa Indonesia tentang unsur intrinsik. Bahasa Indonesia selalu diberi kesempatan meminjam buku dari perpustakaan. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok bebas, per kelompok bertugas menulis unsur intrinsik novel.
"Orkay gini-gini, ya, jajan harus dibatesin." Kepalan tangan Zara menggebrak meja lagi. Membuat keempat gelas mereka ikut melompat sedikit bersama airnya yang terombang-ambing. Audrey yang baru saja meminum jus sedikit keciprat air itu menatap Zara dengan raut penuh menuntut.
Banu melirik novel tebal di sebelah lengan Audrey. "Novelnya yakin yang itu? Tebel banget, buset. Gue baca novel tebel di rumah aja sampai berbulan-bulan," ucapnya mengalihkan topik.
Audrey menanggapi, "Ya elah, Nu..., ini, kan, pernah Rea baca juga. Terus juga menarik kelihatannya." Gadis berkacamata itu melirik teman kelompok satunya meminta persetujuan. Yang ditatap mengangguk mengiyakan.
"Serahkan semua kepada detektif Audrey," tambah Rea sembari merangkul bahu Audrey di sebelahnya.
Audrey hanya mengangguk-angguk polos sambil menyeruput jusnya lagi kelewat santai. Sepertinya gadis itu juga yang paling banyak kerjanya, banyak pasrahnya, dan banyak dimintai tolongnya. Bisa di bilang, Audrey dan Banu termasuk murid tiga besar di kelas.
"Iya, dah, si paling detektif. Yakin, Drey, cita-cita lo jadi detektif?"
Audrey mengangguk lagi waktu Banu bertanya memastikan. "Ntar ini Drey yang print, ya?" Dia tiba-tiba meminta persetujuan teman-temannya, karena tinggal dua anak yang belum mengerjakan apa-apa.
Kelima jemari Zara sontak terangkat. "Gue yang jilid." Lalu kepalanya menoleh ke arah gadis yang tengah menyeruput jus stroberinya, karena hanya sisa gadis itu yang belum usul tugas apa-apa. "Elo, Re?"
Ketiga anak itu memusatkan perhatian ke arah Rea.
"Gue bantu doa," jawab Rea santai.
"Sinting!"
Ketiganya tertawa waktu Zara menepuk pelan jidat Rea. Makanan mereka satu persatu datang, mereka lalu menyantapnya sesuai selera masing-masing. Banu dan Audrey makan sembari sibuk mengurusi tugas kelompok.
"Drey, mana yang namanya Nata? Udah dua Minggu, loh, gue nggak pernah lihat. Temen sebangku gue juga, kan? Mana? Kok nggak pernah hadir, sih? Nggak asik tahu, duduk sendirian mulu." Rea bertanya sembari sesekali menyapu pandang ke tengah kerumunan kantin.
Senyum Zara terangkat. "Rea, Rea... Nata mulu, ih, yang ditanyain. Awas, ntar naksir berat, loh," ledek Zara diikuti tawa yang lainnya.
"Iya, ih, nanyain Nata mulu perasaan," timpal Banu.
Rea mengerucutkan bibirnya. "Ih, nggak gitu. Habisnya Zara sama Karin suka ngomongin, ya, gue penasaranlah sampai sekarang nggak ketemu-ketemu sama yang namanya Nata-Nata itu."
"Terus, kalo udah ketemu, mau diapain, Re? Lo cium?"
Tawa Zara lagi-lagi meledak diiringi yang lain. Rea menatapnya kesal. "Apaan, sih?" Gadis di sebelahnya itu, dipukul bahunya sekali. "Kan gue penasaran kayak apa, sih, orang yang katanya paling pinter sekelas, tapi suka bikin onar satu sekolah?"
"Ya kayak gituuu, tinggi kayak tiang, rambutnya selalu acak-acakan, terus... badannya lumayan bagus dan berotot, lah, kayak Jeno—suami gue. Seragamnya nggak dipasangi atribut lengkap, suka ngelanggar aturan juga. Ini aja diskors dari sebelum lo masuk sini. Makanya, lo nggak ngeliat dia," jelas Zara lengkap sambil senyam-senyum membayangkan ketampanan cowok yang diceritakan.
"Pecicilan anaknya. Kayak suka nyari perhatian ke guru-guru gitu. Kalo lo mau nyariin dia, tinggal cari aja sumber keributan," sahut Revan yang tiba-tiba datang ikut mengompori. Cowok itu duduk di meja lain menikmati makanan. Keliatannya, tidak menyukai sosok Nata. Terlihat cara dia mengompori dengan nada tidak suka.
Zara meletakkan sendok dan garpunya. "Ya elah, Van... masalah setahun yang lalu nggak usah dibawa-bawa, kali."
"Serius, Rev? Masalah apa?" Rea bertanya penasaran.
Mata gadis itu tanpa sengaja menangkap sosok yang sekarang keliatan tidak asing tengah memesan makanan di stan Baso Aci di tengah-tengah Revan bercerita mengungkit masalahnya dengan wajah berapi-api. Namun, ceritanya hanya samar-samar di telinga Rea.
"Mau kemana, Re?"
Rea tidak menjawab pertanyaan Zara saat dirinya berdiri, justru berteriak ke arah cowok yang menjadi pusat perhatiannya itu.
"WOI, PENCURI IKET RAMBUT!"
Semua pasang mata otomatis mengarah ke sumber suara. Gadis berkaki jenjang yang sudah dua minggu resmi menjadi murid SMA Abipraya itu mendekat ke arah cowok yang barusaja menoleh ke sumber suara. Teman-teman Rea menganga tidak percaya, orang yang baru saja diomongin mereka ternyata sudah berada di kantin. Dan, berani sekali Rea meneriakinya di antara kerumunan. Yang benar saja, Rea belum tahu siapa nama cowok itu. Ternyata mereka satu sekolah?
Cowok itu menaikan satu alisnya ketika Rea mendekat, mengikis jarak satu meter dengan tatapan menuntut.
"Mana iket rambut gue?" Gadis itu mengangkat telapak tangannya. Matanya sibuk menyusuri seragam yang atribut si cowok yang kurang lengkap, yang bisa kemasukan benda-benda kecil seperti ikat rambut Rea—misalnya.
"Ternyata emang bener, lo sekolah di sini juga?" Pertanyaan Nata membuat seisi kantin yang awalnya bising, menjadi hening—dan sekarang ada banyak raut tanda tanya atas pertanyaan Nata. Pertanyaan yang bisa jadi membuat orang-orang mengira kalau keduanya pernah bertemu sebelumnya.
Rea tidak memedulikan berbagai macam tatapan seisi kantin termasuk pertanyaan tidak butuh jawaban yang Nata lontarkan. "Nggak usah basa-basi, deh. Cepet balikin iket rambutnya!" Tangan Rea bergerak mendesak Nata agar segera mengembalikan haknya.
Kedua lengan Nata dilipat. "Kalo iket rambutnya udah gue buang, lo mau apa?
Rea sedikit terkejut. "Gila lo?"
"Katanya kaya? Masa cuma iket rambut dua ribuan aja nggak mampu beli?" cibir Nata.
Rea tertegun. "Oh, yaudah, ambil aja. Nggak penting juga."
Tangan Nata otomatis mencekal pergelangan gadis itu waktu gadis itu hendak berbalik. Tangan sebelah Nata meraih benda pipih di saku seragam Rea sebelum akhirnya membawanya kabur keluar area kantin.
Rea langsung tersadar. "WOI, HP GUE, SETAN!" Dia hendak mengejar, namun panggilan salah satu temannya menghentikan langkahnya.
"Andrea!"
Gadis itu dengan raut kesal kembali ke tempat sebelumnya tanpa memedulikan berbagai macam tatapan seisi kantin. Kedua tangannya dilipat di depan d**a. "Nyebelin banget, sih."
"Re..., sumpah? Lo barusan..." Zara menatap Rea lamat-lamat dengan cemas, nadanya terdengar hati-hati. Dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya saking speechless-nya dengan keberanian Rea.
"Lo udah kenal sama dia, sumpah?"
"Re, kok iket rambut lo bisa ada di dia?"
"Gimana ceritanya—"
"Oke, oke." Kepalan tangan Rea menggebrak meja pelan. Tatapan tidak mengertinya menuntut teman-temannya untuk berbicara dengan jelas. "Jadi, sebenarnya dia itu siapa?"
Teman-temannya saling bertukar tatap sebelum kompak menjawab.
"DIA NATA, b**o!"
"DIA NATA, b**o!"
Audrey menutupi wajahnya di saat nyaris seisi kantin melihat ke arah mereka lagi karena teriakan kencang Zara dan Banu. "Kecilin volumenya, gila."
•••
Seorang wanita berkacamata dengan seragam guru yang dibalut blazer, dengan rambut setengah terikat itu tampak keberatan membawa barang-barang belanjaan, ditambah map berisi dokumen-dokumen penting sekolah. Nafasnya terengah-engah. Matanya menyipit waktu matahari begitu terik. Mendadak langkahnya terhenti saat ada dua preman mencegat. Wanita itu membulatkan mata. Kenapa harus di situasi seperti ini?
"Sendirian aja, Neng?"
Dagu guru yang kerap disapa Bu Wening oleh murid-muridnya di sekolah itu dicubit tanpa permisi. Membuat Bu Wening merinding risi. Beliau berusaha mengambil langkah mundur.
"Cakep-cakep panas-panasan begini, Neng? Mari, biar saya anterin." Salah satu preman membawa paksa belanjaannya. Yang satu mencoba mengambil map. "Yuk, biar Abang antar."
Bu Wening menjauhkan barang-barang bawaannya dari preman-preman itu. Beliau susah payah menelan ludahnya. Kepalanya digeleng-gelengkan waktu satu preman ingin meraih belanjaannya lagi. Di siang bolong begini, kemana semua orang? Sebentar lagi Bu Wening akan sampai di ladang sawah, di mana ada banyak petani yang bisa dimintai bantuan, tapi—
BUGH!
—justru malaikat tanpa sayap yang entah datang dari belahan mana, datang menyelamatkannya.
BUGH!
Wanita itu memejamkan matanya takut sewaktu mendengar suara-suara pukulan keras. Tidak berani melihat adegan kekerasan yang tepat di depan mata. Matanya memburam menyadari dia tidak memakai kacamata entah sejak kapan.
Ke mana kacamatanya?
"PERGI LO SEMUA SEBELUM GUE LAPOR POLISI!"
Teriakan itu mempu menyita perhatian Bu Wening. Dia berusaha melihat wajah orang yang menolongnya. Tapi penglihatannya tetap buram.
Pria yang membantunya itu melihat kacamata milik Bu Wening yang lensanya sudah pecah. Sepertinya ulah preman tadi. Pria itu berjongkok. Bu Wening meraba rumput-rumput sekitar, berusaha mencari kacamata berharga satu-satunya.
"Kacamata saya...?"
Pria yang dilihat Bu Wening samar-samar, memakai pakaian kerja kantoran dibalut blazer. Terdengar embusan nafas pelan. "Ini."
Bu Wening menerima sodoran benda itu. Lensanya saja yang pecah. Mungkin Bu Wening bisa menggantinya sendiri. Guru itu mengangguk sopan. "Makasih, ya, Mas."
Baru sekarang Bu Wening bisa melihat senyuman manis pria yang menolongnya tadi.
"Lo nggak apa-apa? Ada yang luka, nggak?" Pria itu bertanya dengan tenang. Sengaja tidak meralat panggilan informalnya tadi. Masih menampilkan senyumnya, dia meraih sebelah tangan Bu Wening, membantunya berdiri di antara rerumputan.
Bu Wening menggeleng sambil menerima bantuannya untuk berdiri, lalu menepuk-nepuk rok dan kedua telapak tangan membersihkan kotoran. "Anda?" Wanita itu balik bertanya.
"Gue juga nggak apa-apa, kok." Pria itu berbalik setelah melemparkan senyum manis. Memasukan tangan ke dalam saku celana kerja.
Bu Wening sadar ada luka di bagian sudut bibirnya. Ingin membahas, namun pria itu lebih dulu memunggunginya, lalu punggung tegap itu hilang saat berbelok melewati gang. Bu Wening berani bersumpah, kalau saja pria tadi tidak menolongnya, dia bisa saja menegur penampilannya, gayanya, dan cara bicaranya yang menurutnya tidak sopan.
Pria tadi kelihatan masih muda, namun penampilannya sudah seperti bos kantoran dulu waktu Bu Wening masih bekerja di kantoran. Tapi, nada bicaranya terdengar tidak enak didengar. Apalagi memanggilnya dengan embel-embel 'lo-gue'. Kalau saja benar seumuran, Bu Wening bisa saja memutar telinganya lalu menyadarkan kalau mereka sudah tua, jadi jangan sok-sokan bersikap seperti remaja. Sebaliknya, seharusnya jika memang dia lebih muda dan seumuran dengan anaknya yang masih SMA, dia bisa saja menegurnya agar lebih sopan dengan yang lebih tua.
Satu helaan nafas terdengar. "Apa masih pengin muda, ya? Hadeh... inget umur, Mas, Mas." Bu Wening bergumam sambil geleng-geleng heran menatap sosok yang barusaja melenggang pergi, sebelum akhirnya menghilang.
•••
Pertama, Rea memang tidak takut dengan siapapun kecuali Tuhan dan Omanya. Kedua, kata Zara, bertemu dengan Nata harus siap-siap menghadapi seribu bencana. Masalahnya, sekarang ponsel Rea ada di berandalan sekolah itu!
Tiga kali u*****n. Bel baru saja berbunyi. Seorang cowok yang beberapa menit yang lalu—atau yang dari tempo lalu membuatnya kesal setengah mampus—tiba-tiba duduk di sebelahnya—tapi memang itu singgasananya. Dengan santainya cowok itu menaruh ranselnya di kursi tanpa menatap Rea yang kini menatapnya tercengang sekaligus kesal dari samping.
"Balikin HP gue sekarang," desis Rea. Menutupi rasa syok bahwa ternyata memang cowok itu sebangku dengannya.
Dahi Nata berkerut. Sambil bersedekap d**a, dia balas menatap Rea santai. "Lo siapa, ya? Atas hak apa lo duduk di sini? Sudahkah dapat izin dari pemiliknya, Nyonya?"
Sebenarnya bukan keinginan Rea juga duduk di sebelah cowok itu. Gadis itu juga sebelumnya tidak tahu kalau ternyata yang dimaksud wali kelas, orang yang paling pintar satu kelas itu Nata. Singkatnya begini, Irfan pernah meminta wali kelas agar Rea didudukan di sebelah orang yang paling pintar di kelasnya karena kemampuan Rea kalau soal pelajaran jauh di bawah rata-rata. Ternyata, orang yang dimaksud adalah cowok resek yang sok baik dengannya itu, juga, pencuri benda berharganya. Tahu begini, Rea tidak perlu menunggu-nunggu kedatangan teman sebangkunya, dan seharusnya dari awal menolak untuk duduk di sini.
Senyum paksa diterbitkan. "Apakah Anda juga sudah mendapatkan izin mengambil ponsel orang?"
Nata mengangguk-anggukan kepala santai. "Yes."
Rea mendelik. "Gue nggak ngizinin."
"Gue juga nggak ngizinin lo duduk disini." Tatap tajam keduanya saling beradu.
"Gue nggak minta persetujuan dari lo."
"Kan ini singgasana gue, ya, harusnya lo nggak berhak dong—"
"Pertama," potong Rea kesal dengan satu acungan telunjuk, "bukan keinginan gue buat duduk di sini. Semua ini diatur sama wali kelas. Gue juga nggak minta. Kedua, nggak penting gue minta izin sama lo. Emangnya nih bangku milik nenek moyang lo, apa? Ketiga, cepet balikin hp gue sekarang, atau gue lapor ke guru biar dia lapor ke pihak yang berwajib sekalian atas kasus pencurian?"
Nata mendengus geli. "Pertama, gue nggak nanya lo duduk diatur sama siapa. Kedua, ya jelas penting, lah, minta izin sama sebelahnya buat duduk di sini. Dan yang ketiga, laporin aja sono. Gue nggak ngerasa rugi."
Mata Rea otomatis membulat karena balasan menyebalkan Nata. "Lo tuh bener-bener—"
Belum sempat Rea melanjutkan argumennya, suara Pak Gun yang baru saja memasuki kelas dengan satu buku paket di tangan, membuat Rea menahan keinginannya untuk menjewer Nata. Kali ini dia setuju dengan Zara, kalau boleh, Rea juga ingin memakan Pak Gun hidup-hidup.
"Kita lanjut ke materi minggu lalu. Minggu depan jangan lupa presentasi. Atau, ada yang mau presentasi sekarang juga boleh," kata Pak Gun tanpa berbasa-basi menyapa 'selamat pagi'.
Di depan Rea, sudah tersedia sebuah buku tulis kosong dan satu bolpoin. Jujur saja, dia belum mendapatkan buku paket. Matanya melirik Nata yang tengah mengambil buku-bukunya dari laci. Penjelasan materi singkat, tapi jelas dan padat dari Pak Gun sedikit membantu sebagian murid-murid mengerjakan soal-soal yang diberi oleh beliau dari buku paket. Seperti biasa, keadaan kelas hening kalau kedatangan guru killer itu.
Rea memainkan bolpoin di antara jari tengah dan telunjuknya—gusar, sementara buku di depannya masih kosong. Merasa jenuh, dia pun melirik sebelahnya yang terlihat sibuk mengerjakan soal. Merasa dilirik, cowok itu menoleh. Mata keduanya bertemu.
Saat Rea menggeledah saku, laci, dan tas Nata tanpa izin, cowok itu mengerutkan kening merasa terganggu. "Mana, sih? Di mana lo ngumpetinnya?"
Kening Nata masih setia berkerut, berpura-pura tidak mengerti. "Apaan?"
"LO JUAL, YA?!" Di detik yang sama, Rea berdiri.
Seisi kelas termasuk Pak Gun sontak menoleh ke sumber teriakan. "Hei, ngapain ini malah teriak-teriak? Sudah selesai kamu?"
Tersadar menjadi pusat perhatian seisi kelas, Rea terdiam sejenak, sebelum menunjuk Nata."Dia nggak mau minjemin buku paketnya, Pak."
Yang ditunjuk menatap Rea dan Pak Gun bergantian. "Lah, dia nggak minta, Pak." Nata menunjuk Rea balik.
"Ya, lo peka, dong!"
"Gue bukan umang-umang."
"Sudah, sudah," putus Pak Gun marah pelajarannya jadi berisik. "Kalian ikut saya ke lapangan sekarang!"