• 12 | Pacar Settingan

1765 Words
"Gimana, sih..., rasanya ditikung sama sahabatnya sendiri? Apalagi... sahabat dari kecil." Gadis berkepang susun dua yang tengah menikmati mi kuahnya itu mendongak setelah dihadapkan sebuah foto layar ponsel persis depan matanya yang menampilkan foto dua orang familiar di dalam kafe tengah duduk berhadapan dan... terlalu dekat. Satu orang tersebut jelas adalah sahabatnya. Di depannya, seorang cowok memunggungi kamera yang terlihat familiar dari belakang. Foto itu ditarik lagi. "Gila, ya? Bisa-bisanya dia nusuk temennya sendiri dari belakang." Itu Febby. Kapten cheerleaders. Cantik, elegan, dan fashionable. Bisa dibilang, Febby termasuk jajaran siswi paling populer di sekolah. Terkenal angkuh, tidak takut dengan siapapun, dan suka mencampuri urusan orang lain—contohnya seperti saat ini. Karin sedari tadi hanya terdiam menatap foto itu. Mendadak, dia tidak berselera melanjutkan makan. Gadis yang mengenakan seragam cheerleaders yang sama dengan enam murid di sekitarnya termasuk Febby itu berdiri. "Bisa nggak, sih, lo jangan nyari ribut dulu?" geram Karin, panas. "Lo ganggu gue yang lagi makan, tahu nggak?" "Siapa yang cari ribut?" tukas Febby dengan nada lembut penuh racun. "Gue cuma mau nunjukin fakta ke lo... biar lo tahu, mana sahabat, dan mana yang penghianat." Febby dengan gerakan manis menunjukan layar ponselnya sekali lagi. "Btw, gue juga udah sebar di grup." Cewek itu tersenyum licik. Karin melebarkan matanya. "Sejak kapan lo tambah gila?" "Semua anak yakin kalo ini tuh Devon. Cowok yang lo suka, kan?" Karin mendekat, menatap mata Febby tajam. Karin dan Febby memang cukup saling kenal karena satu tim cheers. Tapi jujur saja, Karin beserta teman-temannya yang lain tidak menyukai cewek ini karena, yah... contohnya ini. Suka memancing masalah dan mencampuri urusan orang lain. "Emangnya lo lihat secara langsung kalo cowok di sini tuh Devon?" "Nggak lihat pun, udah ketebak, Sayang," sela Febby dengan nada dibuat-buat lembut lagi. "Siapapun yang lihat foto ini... bakalan satu pemikiran juga sama kita. Ya, nggak, guys?" Febby berseru, meminta persetujuan semua murid di kantin. Sebagian bersorak kompak menyetujui dan saling melempar komentar-komentar negatif. "Apa spesialnya si anak baru, sih, sampe-sampe puluhan cewek yang ngejar-ngejar Devon aja susah buat luluhin hatinya?" "Parah banget, sih, diem-diem ngegebet Devon." "Si Devon diguna-guna tuh pasti sama si anak baru." "Nggak kasihan apa sama Karin? Padahal sahabatnya." Karin merasa tidak terima sahabat satu-satunya itu ramai dijadikan trending topik gosip hangat siang ini. "Heh, kalian jangan ngawur kalo nggak ada bukti itu Devon!" serunya, meledak, sebelum menoleh marah ke arah Febby. "Dan lo. Lo jangan bikin nama sahabat gue jadi jelek!" "Sahabat lo?" Febby tertawa kecil. "Kalo dia sahabat lo, harusnya dia nggak jalan sama cowok yang lo taksir, kan?" Tepat pada saat itu, seseorang yang baru saja ramai dibicarakan, datang bersama kedua temannya. Rea, Zara, dan Audrey. Ketiganya tengah sibuk memilih tempat duduk, belum menyadari kalau mereka tengah diperhatikan seisi kantin dengan keadaan hening. Semua pasang mata kini hanya mengarah ke satu titik yang sama. "Ya, Rea," panggil Febby. "Sini, deh." Yang di panggil menoleh nyaris bersamaan dengan kedua temannya. Begitu matanya melihat seorang kapten cheers menggerakkan tangan menyuruhnya ke sana, dia tersadar kalau ternyata diperhatikan seisi kantin sedari tadi. "Gue?" Bodohnya, Rea menunjuk dirinya sendiri memastikan. Ternyata, di sana juga ada Karin, Rea jadi bertanya-tanya, siapa gadis yang memanggilnya itu? "Bener lo Rea, kan?" "Iya." "Ya udah, sini." Rea mendekat dengan raut bingung. Entah kenapa dia jadi bodoh dan keliatan polos hari ini diperhatikan seperti itu. "Kemaren waktu lo di kafe, lo sama siapa?" tanya Febby, to the point begitu keduanya sudah saling berhadapan. "Feb!" tekan Karin. Tatapannya mengartikan bahwa meminta Febby agar tidak terlalu memprovokasi Rea. Seketika d**a Rea mencelos. Seolah ada batu bohlam tak kasat mata yang menghantam dadanya keras-keras. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Rahasia yang sudah dijaganya baik-baik, semuanya hanya sia-sia. Bahkan, sekalipun mereka ada di kafe jauh dari sekolah, jauh dari murid-murid Abipraya, tetap saja, ada CCTV berwujud mata manusia di mana-mana. Belum lagi ditambah Febby menunjukan foto di layar ponsel yang sempat viral tadi persis di depan mata Rea. Zara dan Audrey ikut mendekat, ingin melihat dengan penasaran. "Kok diem?" Satu alis Febby terangkat tidak sabar menunggu jawaban Rea. "Ngaku aja, cowok yang di foto ini Devon, kan?" "Febby!" Karin menatap Febby tidak suka. Lalu beralih menatap Rea, kalem. "Rea, apa bener cowok yang di foto ini Devon? Bukan, kan, Re?" Kali ini Karin yang bertanya dengan nada lembut. Apakah Rea harus mengakuinya saja? Tidak ada pilihan lain, kan? Kalau dia berbohong juga pasti suatu saat ketahuan. Tapi kalau sebaliknya... bagaimana dengan perasaan Karin yang sudah membelanya mati-matian? Apakah mereka nantinya masih bisa disebut teman? Rea menelan ludah. Tidak ada pilihan lain karena dia didesak. "Sebenarnya itu—" "—gue." Suara itu datang dari arah lain. Otomatis semua pasang mata termasuk Rea menoleh ke sumber suara dari arah pintu masuk kantin. Seketika seisi kantin dibuat terkejut dengan berbagai tatapan tidak percaya dengan orang yang datang-datang melempar jawaban mengejutkan. Rea melirik cowok yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Yang lebih tidak percaya lagi di sini adalah Febby. Reaksinya terlihat tak kalah terkejutnya. "What?! Lo—" "Cowoknya Andrea," potong Nata dengan raut kelewat santai. "Ada problem apa lo sama cewek gue?" Rea merasakan atmosfer di sekitarnya makin panas sewaktu Nata merapatkan tubuhnya dengan tubuh Rea. Seolah barusaja menyandang dan mengakui kepada seluruh dunia bahwa Rea adalah miliknya. Jadi Rea tidak bisa berkata apa-apa, bahkan melakukan perlawanan saja tidak bisa. Otaknya dipaksa bekerja super lambat. Terlalu blank. Karin menelan ludahnya, jadi merasa bersalah kepada sahabatnya ini. Padahal di sini Febby yang paling kompor. "Kenapa? Nggak ada yang percaya?" Tangan Nata bergerak turun dari pundak Rea, dan beralih menautkan jemarinya ke dalam sela-sela jemari Rea, menggenggamnya erat, dan menunjukannya dengan jelas di depan mata Febby—yang juga dapat dilihat jelas seisi kantin. "Gila, skandal apaan lagi, nih?" "Nata pacaran sama si anak baru?" "Ini beneran, mereka pacaran?" "Jadi... yang di foto bukan Devon?" Laki-laki itu membawa Rea keluar kantin setelah puas membuat seisi kantin syok. Dan sepertinya, bakalan ada new trending topik yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Rea, si anak baru yang diduga banyak orang mempunyai hubungan khusus dengan Devon, ternyata salah. Jelas pengakuan yang baru mereka dapat adalah, Rea, si anak baru, ternyata ceweknya Nata. Ini bukan untuk pertama kalinya Nata menggandengnya tanpa izin. Tapi yang ada di pikirannya bukan rasa nyaman itu, namun rasa cemas dan panik luar biasa karena perlakuan cowok itu benar-benar... benar-benar di luar nalar. Otak Rea sekarang mulai terkoneksi begitu mereka sampai di depan ruang musik. Kini bergantian Rea yang menarik paksa jemari Nata masuk ruang musik di lantai paling atas. Keadaan di sana sepi. Mungkin aman kalau-kalau Rea berteriak atau membeberkan rahasia. Langkah Nata perlahan terhenti saat si gadis di depannya berhenti lebih dulu. Genggaman itu disentak lepas oleh si gadis. "LO TUH APA-APAAN, SIH, TADI?! Diliatin orang-orang, tahu nggak?!" Rea yang kelihatan panik, justru membuat Nata diam-diam menahan tawa menyadari raut lucu dari gadis itu. "Kenapa? Mereka, kan, punya mata?" "Kenapa lo harus bohong soal foto tadi juga? Pake ngaku-ngaku pacar gue segala lagi! Lo pikir itu lucu? Lo pikir itu keren? Lo pikir gue setuju?" "Lo pikir gue lagi berusaha ngelucu? Lo pikir gue lagi usaha buat dipuji keren? Lo pikir gue minta persetujuan dari lo?" balas Nata membalikan pertanyaan. "Dasar, cewek nggak tahu berterima kasih lo." Kedua mata Rea membulat tidak habis pikir. "Ngapain juga gue harus berterima kasih sama lo? Emangnya lo ngelakuin ap—" "Gue tadi nyelametin lo. Puas?" "Ya jadi—" "Ya jadi..., itu artinya lo aman sekarang, Andrea." Rea mendengus sarkas. "Gue nggak ngerti." Dia menggeleng pasrah. Nata menghela nafas. "Ya udah. Lo aman sekarang jadi pacar pura-pura gue kalo lo nggak mau kejadian tadi keulang lagi. Jelas, Andrea?" "Gue nggak suka dipanggil Andrea!" protes Rea. "Lo tahu nggak, sih? Kalo sampe kita ketahuan bohong, satu sekolah pasti bakalan nggak ada yang suka sama gue—nggak, maksud gue, gue nggak ad—" "Nggak ada temen?" tebak Nata tepat. "Ya, kan, ada gue yang nemenin? Nggak usah diambil pusing, elah." Alis Nata naik turun dengan raut menyebalkan bagi Rea. Rea menggertakkan giginya dengan d**a naik turun menahan emosi. Nata dengan entengnya bisa menjawab cepat di saat Rea sedang kalut-kalutnya? "Emang harus banget, ya, kita pacaran pura-pura? Kayak nggak ada jalan lain aja." "Ya terus, lo maunya gimana? Resmiin aja?"Laki-laki itu menghabisi jarak keduanya, menyentuh dagu Rea, mengangkatnya hingga tatapan keduanya bertemu, lima senti lebih dekat. Di detik yang sama, Rea menahan nafasnya. "Status lo sekarang jadi pacar pura-pura gue. Lo mau cari aman, kan? Lo jangan kege-eran dulu. Gue ngelakuin ini semua cuma buat balas dendam." Jemari Nata beralih bergerak menyeka helaian rambut Rea yang lolos ke belakang telinga. Rea menepis kasar tangan Nata. Melototi matanya tajam setengah penasaran. "Balas dendam? Balas dendam ap—" "Bikin Febby cemburu." Mulut Rea setengah terbuka tidak percaya. Seorang Nata mau membuat anak orang cemburu? Mana? Katanya Nata itu banyak yang ngejar, bukan mengejar? Rea mendengus geli. "Emang lo pikir Febby suka sama lo? Atau... lo yang suka sama Febby?" tanya Rea, mengejek di balik senyum miringnya. "Dia mantan gue." "Hah?" Rea tertegun. Ekspresinya langsung berubah begitu cepat setelah mengetahui fakta itu. "Gue cuma mau buat dia nyesel karena udah mainin perasaan gue." "HAHAHAHAHA!" Tawa Rea sudah pasti pecah saat itu juga. Nata meliriknya bingung karena justru ditertawakan padahal dia tidak sedang melawak. "Lo emang dulu sesuka itu sama dia? Gila, ya?" geleng Rea, geli sendiri. "Cowok kayak lo ternyata bisa disakitin juga?" ejeknya puas. "Mampus lo. Dapet karma, kan, karena udah mainin perasaan cewek?" Nata mengerutkan kening. Ada yang salah dari ucapan Rea. "Disakitin? Mainin perasaan cewek?" Rea merapatkan bibir saat Nata mendekatkan diri hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan ujung sepatu Rea. Tatap keduanya lagi-lagi bertemu sangat dekat. "Kita emang nggak niat pacaran, kok. Jadi, lo nggak usah sok tahu," kilah Nata sambil mendorong dahi Rea mundur. Rea tambah kesal diperlakukan seperti itu. "Nggak niat pacaran? Terus, ngapain lo mau bikin dia cemburu? Nggak usah norak! Bilang aja lo disakitin dia!" Sudut bibir Nata terangkat. "Lo tuh emang seberani ini, ya?" "Eh, kenapa gue harus takut? Emangnya lo Tuhan? Nggak peduli gue lo siapa. Minggir lo!" Gadis itu mendorong Nata menyingkir agar memberinya jalan keluar, agar bisa mengontrol detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, dan agar bisa menghindari tatapannya yang bisa membiusnya kapan saja. "Jadi... lo nggak setuju sama ide gue buat pacaran? Fine." Tepat di langkah ke tiga hendak mencapai pintu, Rea berhenti. Di detik yang sama juga, Nata meneruskan langkah melewati Rea, namun Rea bergantian mencegat langkah Nata. Seketika itu, Nata mengulas senyumnya puas saat suara pelan Rea terdengar. "Oke, gue setuju jadi pacar pura-pura lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD