• 14 | Sandiwara

2973 Words
"Yahhh! Itu, Nat, yang itu!" Bahu Nata diguncang beberapa kali ketika Rea menunjuk-nunjuk boneka Pororo ngotot. Awalnya Rea menunjuk boneka Doraemon dalam lemari capit, tapi Nata susah mencapitnya. Walaupun sedikit kecewa, dia tidak berhenti memaksa Nata agar mencapit boneka lain. Ternyata seru juga, ya, ngerjain nih anak, haha, tawa Rea dalam hati. Nata sempat menyerah dan melirik Rea malas karena gadis itu sangat bawel sedari tadi heboh sendiri. Dia kira Rea bukan tipikal gadis yang suka boneka atau pun benda lain yang perempuan banget. "YESSS!" Nata tersenyum begitu akhirnya berhasil mencapit boneka Pororo sesuai permintaan Rea. Gadis itu menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan terima kasih banyak-banyak. Kemudian keduanya melanjutkan langkah mengelilingi mal. Nata melirik Rea yang sedari tadi memainkan boneka Pororonya dengan tawa kecil yang sesekali terdengar. Sekali itu, Nata geleng-geleng geli. "Ternyata lo masih inget kalo lo cewek." Rea menoleh bingung. "Lah, terus selama ini lo kira gue bukan cewek, gitu?" Kedua tangan Nata diangkat, mengelak. "Bukan gue, loh, yang bilang gitu." "Tapi kenyataannya, maksud lo kayak gitu, kan?" "Elonya aja yang baperan, kan?" "Gue? Baperan?" Otomatis seperti ada asap mengepul dari kedua telinga Rea sebelum gadis itu mengalihkan pandang. "Terserah lo, deh. Capek debat mulu sama lo." "Bercanda," kekeh Nata. Kelima jemarinya kemudian mengacak-acak puncak rambut Rea gemas. Gadis itu membeku beberapa saat diperlakukan seperti itu. Pandangan Rea akhirnya jatuh pada tempat bowling. Dia mengajak Nata bermain ke sana. Di tengah permainan, selalu ada saja kekonyolan yang diperdebatkan. Selain bowling, mereka juga menikmati beberapa permainan lain. Tidak lupa mereka mampir ke studio photobox. Sebenarnya ide siapa lagi kalau bukan dari Rea? Nata menolak keras, tapi bukan Rea namanya kalau tidak mengeluarkan jurus memaksanya. Lalu keduanya asyik bertanding lagi pada beberapa permainan di Timezone lain sampai puas sambil berdebat bodoh, dan sesekali saling menertawakan, begitu pun seterusnya hingga pada akhirnya memutuskan untuk pulang. Belum mencapai eskalator lantai bawah, Rea melirik arloji di pergelangan kirinya. Sementara tangan kanannya sudah membawa beberapa paper bag berisi barang-barang beserta alat kosmetik dan juga aksesoris yang tadi sempat dibeli termasuk boneka tadi. "Kayaknya masih jam pulang, nih," ucap Rea, sebelum menoleh ke sebelahnya. "Gimana kalo kita nonton?" Nata menyeruput Starbuck-nya sampai habis, lalu mengangguk setuju. "Hayuk atuh, mau nonton apa?" Rea menarik tangan Nata agar lebih cepat sampai ke aula bioskop menuju lantai teratas lagi. Setelah sampai, keduanya mengamati beberapa poster-poster film. "Ini." Rea menunjuk sebuah poster film horor. Nata memiringkan senyumnya begitu melirik Rea dengan tatapan meremehkan. "Emangnya lo berani?" Keliatannya cowok itu tidak percaya kalau Rea suka horor. Buktinya waktu meminjam—ralat, lebih tepatnya memalak ponsel Rea, gadis itu marah-marah karena daftar riwayat historinya ada film horor karena ulah Nata sendiri. Ah, mengingat kejadian waktu itu... lucu juga. "Kalo ada yang nemenin, kenapa enggak?" Rea menarik lengan Nata masuk dengan antusias. ••• Dalam perjalanan pulang, Rea sempat berpikir, kapan terakhir kali dia duduk di jok belakang ini? Hingga pertanyaan Nata membuyarkan lamunan kecilnya. "Nggak mau peluk-peluk kayak tadi aja?" Begitu pertanyaan modus kacangnya ketika menyadari Rea masih berpegangan di kedua pundak cowok itu. Sudah memakai helm dengan duduk posisi miring. "Emangnya lo siapa? Dilan?" Tawa Nata pecah. Motor otomatis dinyalakan dan mulai membelah jalanan. Rea masih sedikit tidak terima mengingat kecurangan Nata waktu mereka menonton horor tadi. Ketika di tengah-tengah film, hantu mulai menunjukan wujudnya, Rea menjerit dilanda ketakutan, tapi justru Nata di sebelahnya sudah menutup kedua matanya dengan penutup mata milik Rea yang sempat dibeli tadi dan cowok itu terlelap sambil mendengkur kecil di sana. Pantas saja Rea tidak merasakan ada pergerakan apapun dari cowok itu saat dirinya refleks bersembunyi di dadanya. Hingga akhirnya Rea memukul kepala Nata, menyadarkannya. Sebenarnya tadi, Nata merasakan saat gadis ini memeluk lengannya, dan dia tersenyum kecil tanpa Rea sadari. "Btw, lo tuh demen banget, ya, sama film kayak begituan? Bikin ngantuk." Yang dimaksud Nata adalah film romance karena setelah mereka berdua menonton film horor tadi, Rea mengajaknya menonton film romance. Rea menepuk pelan satu bahu Nata. "Enak, tahu. Kalo yang nonton orangnya nggak pernah romantis kayak cowok di filmnya mah, lain cerita." "Lo nyindir gue?" "Dih, siapa bilang? Lo ngerasa? Dasar, ngatain gue baperan, padahal aslinya situ yang baperan." Motor itu berhenti saat lampu merah di depannya menyala. "Lagian, ya, kalo lagi diajak nonton tuh jangan molor mulu kerjaan lo," sambung Rea. "Filmnya juga nggak ada yang seru. Bikin ngantuk semua. Horornya juga kagak ada serem-seremnya." "Alah, giliran diajak tawuran aja semangat lo." Rea sempat melirik beberapa pedagang kaki lima di trotoar seberang sana hingga membuatnya lagi-lagi mengguncang bahu Nata. "Eh, mampir situ, dong..." Nada memohon Rea terdengar sedikit manja di telinga Nata. "Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" Rea mencubit keras pinggang Nata membuat cowok itu mengerang dan sempat menarik perhatian pengendara lain. "Iyeeee, siap, Tuan Putri," desahnya, menyerah. Belum sempat menerobos lampu hijau yang sudah menyala, motor itu diputar balik menuju beberapa stan pedagang kaki lima di trotoar dekat alun-alun. Keduanya memutuskan makan di salah satu pedagang bubur ayam. Tentu saja, sebuah perdebatan kecil tidak luput dari keduanya. Nata yang menginginkan bakmi bakar, justru Rea memaksa bubur ayam. Awalnya tidak ada yang mau mengalah, hingga akhirnya Nata kewalahan sendiri dan memilih mengalah saja karena cewek baginya susah diajak mengalah. Gadis dengan rambut yang baru dicepol asal menunjukkan leher putihnya itu mengeluarkan ponsel dan mulai membuka kamera. "Kita harus poto buat buktiin ke semua orang kalo kita tuh beneran pacaran," ucap Rea. "Btw, jangan salah paham dulu. Tadi tuh di sekolah udah mulai ada yang curiga sama gue." "Curiga gimana?" Rea sibuk dengan kameranya. "Ya curiga aja.... kenapa kita nggak pernah jalan bareng. Keliatan, kan, kalo kita nggak kayak orang lagi pacaran beneran?" Nata hanya membalas 'oh' sebelum matanya mengikuti arah mata Rea yang tertuju pada kamera ponselnya. "Smile, dong!" Nata menurut, tersenyum ke arah kamera. Rea menjepret beberapa gambar mereka dengan berbagai ekspresi dan gaya berbeda-beda. "Ihhh, gue terlalu cantik, ya? Ntar pada ngiri gimana? Mau ulang, nggak? Eh, tapi sayang kalo dihapus.... gue cantik banget soalnya...." Nata geleng-geleng kepala geli. "Ck. Ternyata lo narsis juga." "Kalo lo hari itu nggak koar-koar di kantin, ogah hari ini gue kencan sama lo," ceplosnya, tanpa sadar. "Lah? Bukannya kita lagi bolos? Lo nganggepnya kita kencan, yaaa?" senyum Nata jail. Rea merutuki ucapan bodohnya. Jemari kanannya menarik beberapa lembar tisu di meja depannya dan menempelkannya di jidat Nata di seberang meja hingga kepala laki-laki itu ikut terdorong. "Kalo ditanya orang, ya jawabnya gitu aja. Kalo di hadapan gue, anggep kita cuma jalan-jalan biasa." Nata mengerucutkan bibir, meraih, lalu meremas tisu itu. "Iye, Mak." Pesanan datang, mengakhiri pertengkaran keduanya. Lalu Rea dan Nata larut menikmati bubur ayam masing-masing sore hari itu. Langit berubah menjadi jingga. Tinggal menunggu kurang dari sepuluh menit matahari akan beristirahat setelah menemani bolos mereka, dilatar belakangi suara-suara obrolan-obrolan ringan beberapa pengunjung, klakson-klakson di jalan raya, denting-dentingan piring dan sendok di meja-meja. "Noh, liat." "Apaan?" Rea menghentikan aktivitas makannya, lalu mengikuti arah pandang Nata pada seorang ibu hamil yang tidak diberi kesempatan duduk untuk makan. Kemudian ada salah satu cewek seumuran mereka menegur berani seorang pria paruh baya yang tadi seenaknya mendahului ibu hamil itu duduk. Padahal tadinya tempat duduk hanya tersisa satu itu. "Bapak nggak kasihan sama ibu ini? Dia lagi hamil, Pak. Bapak ngertiin dong. Ngalah, kek." "Wah... anak kecil zaman sekarang kayak gini, ya, kelakuannya sama orangtua? Diajarin sopan santun nggak kamu sama orang tua?" "Bapak juga nggak sopan sama ibu ini! Nggak ngaca?!" "Ehm." Rea terkejut tiba-tiba Nata sudah di sana. Sejak kapan? Laki-laki itu menaruh kedua telapak tangannya ke meja pria paruh baya tadi yang sempat menarik perhatian semua pengunjung. Kemudian mencondongkan tubuhnya untuk bersitatap dengan pria itu. "Dek, Bapak ini juga lagi hamil," ucap Nata kepada cewek di belakangnya yang tadi sempat menegur pria itu. Cewek itu hanya ber-'hah' b**o—tidak mengerti. Saat bapak-bapak itu tersinggung dengan perkataan Nata dan hendak membalas, Nata keburu melanjutkan, "Liat, perutnya kegedean." Beberapa pengunjung otomatis tertawa mendengar kata-kata Nata yang keluar cukup keras. "Bentar lagi mau lahiran!" lanjut Nata, sengaja mengheboh-hebohkan suaranya. Semuanya tertawa kecuali Nata dan pria itu. "Kurang ajar!" tegur pria itu marah. "Anak nggak diajarin sopan santun!" Menahan malunya, si bapak akhirnya beranjak pergi sambil menenteng tasnya dan mendengus. Tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang dan dipermalukan bocah setengil Nata. Kemudian, Nata mempersilakan ibu hamil yang membawa makanan tadi untuk duduk di bekas tempat duduk pria tadi, dibantu cewek tadi. Tanpa sadar, perlakuan Nata yang mencairkan suasana tadi, membuat senyum Rea mengembang. ••• "Jahat lo, Re. Jalan nggak ngajak-ngajak." "Yeee, gimana, sih, Rin? Orang lagi kencan juga. Mau jadi setannya lo?" "Iya, nih. Ya, nggak bisa diganggu, lah." "Ya elah... gue bercanda doang, kalek! Biasa aja dong lo pada!" Rea tersenyum menyaksikan perdebatan kecil teman-temannya. Entah apa yang akan terjadi jika saja bom itu meledak dan membuat semua orang menjauhinya. Rea tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi semua orang kalau sandiwaranya ketahuan. "DORRRR!!" "ASTAGFIRULLAH!!!" Karin, Zara, dan Audrey sontak tertawa lepas menyaksikan reaksi Rea yang terlonjak kaget nyaris jatuh dari kursinya, ditambah sebagian pasang mata di kantin memerhatikan mereka karena mejanya baru saja digebrak-gebrak heboh Karin sambil ngakak. "Mampus, makannya, jangan bengong aja lo," peringat Zara, masih dengan tawa puasnya. "Baru jadian tuh traktir kita. Traktir." Gadis itu menggerakkan jemari seperti menagih utang kepada Rea. "Iya, baru jadian bukannya seneng juga. Kebanyakan mikir lo. Pajaknya mana, elah," timpal Karin. Rea menghela nafas, berusaha mengatur detak jantungnya karena efek dikejutkan tadi. "Pesen aja sesuka kalian." Zara dan Karin bersorak riang. Disusul Audrey, ketiganya kompak mengunjungi deretan stan jajanan sesuai keinginan masing-masing. Karena Zara sedang antusias uang jajannya hari ini utuh dan mendapatkan makanan gratis, dia bersukarela sebagai pelayan Rea. Mempersilakan sahabatnya itu untuk menunggu agar dia bisa memesankan untuknya. Tak lama kemudian, cewek itu kembali sambil membawa nampan berisi beberapa makanan dan minuman miliknya dan milik Rea. Zara menaruh semangkuk bakso dan jus strawberry kesukaan Rea setelah menaruh makanannya di meja mereka. "Ini baksonya. Udah paling pedes sedunia." "Thanks." "Ra, ini jus lo. Ini cemilannya Karin. "Yoi, thanks." Keempatnya kini larut menikmati makan siang masing-masing sambil mengobrol hal-hal random seperti biasa. "Gue masih bener-bener nggak nyangka, loh, Rea jadian sama Natarel," ucap Audrey di tengah santapannya. "Ini bener-bener berita mengejutkan. Apalagi Rea, kan, notabenya anak baru di sini?" Karin menyeruput jus mangganya sebelum membalas, "Namanya juga cinta, Drey, datangnya tiba-tiba. Ya, nggak, Re?" Karin beralih menatap Rea dengan kedua alis dinaikturunkan. Rea menyisipkan anak rambut di pelipis yang menghalangi matanya untuk menoleh. "Haha, iye." "Lo beneran cinta sama Nata, Re?" Rea menahan untuk tidak tersedak karena dilempari pertanyaan kasual semacam itu oleh Zara. Apa jadinya jika bakso pedas itu tersedak? Tenggorokan pasti akan bermasalah. Ketiganya menatap Rea menanti jawaban. Rea yang mengusap mulutnya dengan tisu, lalu menoleh. Merasa dirinya diperhatikan seperti itu, akhirnya memilih untuk mengangguk saja. "Ciak..., sejak kapan?" "Eh, pantesan tuh waktu Rea baru masuk nanyain Nata mulu, ya, nggak, sih?" goda Zara diikuti tawa kedua temannya. Rea sangat tidak nyaman dengan suasana kali ini. Kenapa teman-temannya jadi membahas hubungannya dengan Nata, sih? Rea jadi merasa berdosa membohongi banyak orang. Tapi mau bagaimana lagi? Satria datang tiba-tiba bergabung dengan membawa jus mangganya. "Hai, guys. Gabung, boleh?" Entah kenapa senyum Audrey mendadak luntur saat itu juga menyadari kehadiran cowok itu tengah mengambil satu kursi plastik dari meja lain dan duduk di sebelah Rea. Audrey bangkit. Ketiga temannya memperhatikannya bingung setelah memberi izin Satria bergabung. "MAU KE MANA, DREY?!" Tidak ada jawaban. Teriakan Zara diabaikan. Mi bekas Audrey di atas meja masih tersisa setengah, sementara jus jambunya masih utuh. Dia terlihat kesal, entah kenapa. Membuat teman-temannya saling tukar pandang bingung. Tidak pernah Audrey bersikap seperti ini kepada mereka. Jadi, otomatis mereka menoleh ke arah Satria karena pasti penyebabnya ada di cowok itu. Satria memperhatikan punggung mungil itu pergi pun ikut beranjak, sebelum berpamitan kepada ketiganya dan berlari sambil berkali-kali memanggil nama Audrey. "Kok Audrey tiba-tiba main pergi gitu, sih? Ada apa?" "Ada masalah sama Satria, kali?" Karin meletakkan sendok dan garpunya dengan satu helaan nafas. Seolah hendak mengungkapkan sebuah fakta. "Kalian nggak tahu?" Zara dan Rea kompak menggeleng. "Satria tadi nembak Audrey," jelas Karin, membuat Zara dan Rea menoleh kompak berseru kaget, "Apa?!" "Audrey marah." Karin mengedikan bahu. "Soalnya, kan, mereka udah bertahun-tahun sahabatan dan tetanggaan. Audrey nggak mau ngerusak persahabatan mereka kalo malah berujung musuhan. Jadinya, ya... gini." "Cinta emang rumit, ya?" "Emang bener kata orang, cewek sama cowok nggak mungkin bisa sahabatan doang. Pasti salah satunya nyimpen perasaan." Mulut Rea mengunyah berubah pelan, memikirkan kalimat Zara barusan. ••• Rea membasuh wajahnya berkali-kali sampai air itu berpusat di dagu, gadis itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Merasa ikatan rambutnya kurang rapi, dia melepas ikatannya, menjadikan ikatan itu sebagai gelang, lalu menyisir rambutnya dengan jemari. Saat sedang sibuk menyisir, dirasa sebuah tangan lain mengambil alih menyisir rambut Rea dari belakang. Gadis itu langsung mengangkat wajah terkejut menatap pantulan cermin, menyadari seseorang berdiri di belakangnya. Tatapan keduanya bertemu di pantulan cermin. Sejurus kemudian, Rea berbalik, menatap orang itu horor. Otomatis rambutnya tergerai bebas lagi begitu terlepas dari jemari cowok itu. "SINTING, SETAN LO NGAGETIN GUE!" Nata menyengir. "Takut banget, yaaa?" "Lagian lo tuh ngapain, sih, di toilet cewek?!" "G—" "Biasanya, cowok kalo di toilet cewek tuh mau ngapain lagi kalo nggak ngintip?!" Rea menekan kata terakhirnya dengan nada sindiran. "Dasar mesum." Nata tersenyum kecut. Sepertinya ada yang salah dari kata-kata gadis itu. "Lo kayaknya rabun, deh. Perlu gue anter ke dokter mata?" Kedua mata Rea membulat tidak terima. Cowok itu dengan wajah kecut menunjuk label toilet di atas pintu utama. Otomatis Rea mengikuti arah telunjuknya, lalu menggumam terkejut. "Toilet cowok?" gumamnya heran, tapi terdengar jelas di telinga Nata. "Berarti... gue salah dong...?" Matanya menunduk ke lantai, seakan-akan bertanya keada diri sendiri. Rea merasakan semburat merah menjalar sampai telinga, dan dia menahannya agar tidak kentara. Sedetik kemudian, dia mendongak, berubah menatap Nata galak. "ALAH! BILANG AJA LO MAU NGETAWAIN GUE, KAN?" "Lo tuh—" "Huh!!" Satu hentakan kaki memotong ucapan Nata. "Sini, balikin nggak iket rambutnya?!" "Dasar, lo yang salah, lo sendiri yang marah. Gue sumpahin, hidung lo bolong." "Lo tuh banyak bacot. Udah, siniin! Mana?" Nata mengelak waktu Rea hendak merebut paksa ikat rambut itu dari genggamannya. Gadis itu menatapnya kesal karena Nata mengangkatnya tinggi-tinggi. Huh, mentang-mentang dia tiang, dan Rea kurcaci, begitu? Tapi Rea tidak menyerah mengambilnya hingga punggung Nata menabrak dinding. Nata tertawa puas menyaksikan Rea melompat-lompat di depannya dengan satu tangan memegang pundak Nata sebagai bantuan, sementara tangan lain berusaha mengambil ikat rambutnya sampai gadis itu terengah-engah. Di detik Rea berhenti sejenak mengatur nafasnya sambil menatap Nata yang juga menatapnya dengan jarak lima senti di depannya, seorang cowok masuk dan terkejut. "Eh, kalian mau ngapain di toilet?" Rea menoleh, lalu mundur. "b******k, nggak usah salah paham lo." Dia menatap cowok itu garang. Cowok itu terkejut. Saat tatapannya bertemu dengan Nata, akhirnya dia memutus kontak berbalik lagi. Tidak mau mencampuri urusan dua batu. "Biar gue yang ngiket rambut lo." Netra Rea menumbuk netra coklat gelap itu selama beberapa detik sebelum tersenyum kecut berusaha sabar. "Kenapa nggak dari tadi, Mas Nata?" Lalu bertanya meledek, "Tapi... emangnya lo bisa?" "Nggak percayaan banget, sih, lo sama gue? Sini." "Sini aja." Rea membalikan badannya, dan maju menatap cermin. Merasakan kembali jemari Nata menyisir rambutnya. Kemudian mengikat rambutnya dengan telaten. Entah kenapa saat merasakan rambutnya disentuh cowok ini terasa sangat nyaman dan berangan-angan agar waktu berhenti agar Rea bisa merasakan momen ini selamanya. "Done." Rea meraba kunciran kuda hasil tangan Nata sambil melihat pantulan cermin. Terlihat Nata tersenyum saat ikut menatap cermin. "Cantik," bisik Nata, membuat otak Rea membeku. "Gue ke kelas duluan, ya?" putus Nata. Kini Rea berhadapan dengan Nata. "Yaudah, sana. Ngapain pake izin segala?" "Kan izin dulu... biar lo nggak nyariin." Rea pura-pura berlagak muntah. "Siapa juga yang mau nyariin lo? Ntar di kelas juga ketemu." "Nggak mau bareng?" Rea mendorong-dorong tubuh Nata keluar toilet. "Nggak! Udah sana, ah!" "Gue rasa... elo, deh, yang mau berbuat mesum." "Kok bisa?" "Dasar, otak lemot." Rea melotot. Ada dua hal yang baru menyadarkannya. Pertama, dia masih di toilet cowok, dan kedua, Nata mengingatkannya. Sungguh, dia malu luar biasa, dan akhirnya Rea menutupi rasa malunya dengan memaksa Nata keluar lagi. "Oke, kata pacar gue nggak boleh bolos. Soalnya udah mau kelas 12. Dadah, Sayang." Nata melambaikan tangannya setelah mengucapkan kalimat konyol itu. Rea tidak tahu kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ditambah kata 'pacar gue' dan panggilan 'sayang' dari mulut Nata, itu sangat mengusiknya. "Cowok gila." ••• Pulang sekolah, Rea naik angkot. Tumpangan setiap dirinya tidak tahu akan naik apa lagi karena motor kesayangan Irfan dan dirinya masih di bengkel. Ingin sekali numpang Mike. Tapi apa kata satu sekolah nantinya? Bisa-bisa dia ikut kena sial. Di dalam angkot, Rea menahan mual karena tidak terbiasa dengan bau-bau campuran seperti muntahan orang, bau-bau keringat, apalagi ada yang membawa ayam jago dalam angkot. Ditambah tempatnya sangat sempit hingga Rea jadi tidak leluasa untuk gerak barang sekali saja. Saat hampir sampai di gang rumahnya, gadis itu memilih untuk turun setelah mengucapkan, "Kiri." Akhirnya, dia bisa bernafas lega bisa bebas menghirup udara segar. Langkahnya dilanjutkan menuju jalan kompleks perumahan. Setidaknya sebelum matanya menangkap sebuah jajaran motor di depan warkop dekat gang rumahnya. Matanya menyipit, berusaha menajamkan penglihatannya waktu menangkap salah satu motor yang tidak asing. Memori beberapa hari yang lalu berputar, di mana Rea menunggu Nata membelikannya minum, saat cowok itu hendak menyebrang, dari kejauhan ada sebuah motor yang sama persis dengan motor ini melaju cepat seperti sengaja ingin menabraknya, lalu Rea berlari menyelamatkannya, dan matanya sempat mengamati motor pengendara misterius itu. Ya, Rea ingat sekali bentuk motor Ducati hitam itu. Memang kalau dinalar, di seluruh Indonesia tidak mungkin hanya memproduksi satu motor seperti itu. Tapi instingnya tidak pernah salah tebak. Sebuah ide gila muncul waktu Rea datang menunjuk-nunjuk motor itu dengan senyuman licik penuh siasat tersembunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD