"Itu. Pengacaranya yang keliatan paling muda itu. Tolong kalian lakuin apa saja. Kalo perlu bunuh dia. Pokoknya jangan sampe ngebiarin dia berhasil bantu si Cahyo itu. Lakuin segala cara biar dia nggak bisa hadir di persidangan. Saya nggak mau kalo sampe Cahyo menang karena pengacaranya, bisa ancur bisnis saya. Mengerti kalian?"
"Baik, Bos."
"Mengerti, Bos."
"Beres, Bos."
"Bos Bram tenang aja. Pasti kita bisa ngatasinnya. Bos tinggal terima beresnya saja kok."
"Ini bayaran kalian." Pria paruh baya dengan jas kantoran itu menyerahkan amplop coklat tebal kepada salah satu preman dari empat orang. "Separuhnya lagi nanti saya tambahin kalau semuanya clear," lanjutnya.
Empat preman itu mulai berpencar menaiki kendaraan masing-masing, menjalankan aksi setelah menerima bayaran. Mengikuti mobil Irfansyah—yang merupakan pengacara Pak Cahyo.
Singkatnya, Pak Bram dan Pak Cahyo adalah saudara yang tidak akur. Problematikanya, Pak Bram kalah saing dengan bisnis Pak Cahyo hingga memfitnah Pak Cahyo korupsi, menghalalkan segala cara agar Pak Cahyo geser dari perusahaan. Mengetahui Pak Cahyo memanggil seorang pengacara korporat top ibukota, dia menggunakan cara licik lagi agar pengacaranya itu tidak bisa hadir di persidangan sehingga dia menang.
Irfan baru sadar kalau ada yang mengikutinya beberapa menit setelah mobilnya menjauh dari kantor. Wajahnya terheran-heran ketika melihat dari kaca spion ada dua motor yang ditunggangi dua pria masing-masing mengikutinya dari belakang. Sekali itu, Irfan pun menambah kecepatan laju mobilnya. Dia sedikit menyesal karena memilih jalan sepi saat hendak menuju persidangan. Sesekali melirik arloji, waktunya setengah jam lagi, tapi Irfan masih stuck di sini. Terjebak oleh empat preman yang memaksanya menghentikan mobil di depan dengan kaca mobil yang digedor-gedor.
Irfan yang keras kepala pun dihalangi jalannya oleh mereka hingga dia refleks mengerem dadakan. Belum sempat ayah Rea itu menghubungi polisi, mendengar ancaman preman-preman hendak menghancurkan mobilnya itu, otomatis Irfan memilih angkat tangan sembari membuka pintu mobil—mengikuti instruksi preman-preman itu karena tidak mau mati konyol di sini. Irfan lebih sayang nyawa dibandingkan harta benda, seperti mobilnya.
Irfan sebenarnya bisa saja melawan preman-preman itu, tapi dia keburu dikepung dan sejurus kemudian tanpa aba-aba, mereka memukulinya bergantian sana-sini, terutama pada kelemahannya—perut. Perutnya dipukuli habis-habisan paling banyak. Otomatis pria itu tidak bisa berbuat apa-apa selain tumbang lemas sambil terbatuk-batuk parah memegangi perutnya, bersandar pada pintu mobil. Mendadak nafasnya sesak—susah diatur, perutnya terasa sangat sakit, babak belur sana-sini membuat Irfan tidak bisa apa-apa selain memohon...
"A-ambil saja. Ambil saja mobil s-saya... jangan b-bunuh saya..."
Para preman saling melempar senyum penuh kemenangan. Padahal mereka tidak butuh mobil, atau benda berharga apapun si target, tapi yang mereka mau adalah menghilangkan nyawanya. Tepat saat preman-preman itu hendak beraksi lagi, seorang pengendara yang masih mengenakan seragam sekolah berteriak, "WOI, BERHENTI!!"
Otomatis para preman itu menoleh nyaris bersamaan, termasuk Irfan walaupun menolehnya pelan-pelan karena tak kuasa menahan sakit di sekujur tubuhnya. Laki-laki yang lebih muda darinya itu menantang empat preman. Irfan bisa menyaksikan bagaimana preman-preman itu maju melawan satu anak sekolah. Firasatnya tidak enak. Tapi dia hanya bisa diam saja tanpa berbuat apa-apa.
Suara-suara pukulan terdengar memuakkan telinga. Pria itu terlihat cemas, tak kuasa lagi menyaksikan seorang anak sekolah dikeroyok empat preman sekaligus. Tapi semenit kemudian, rautnya berubah tercengang tidak percaya—betapa jagonya pemuda itu menghabisi empat preman sekaligus dalam waktu singkat sampai para preman itu lari pontang-panting, buru-buru menuju motor masing-masing. Tatapan Irfan masih takjub pada pemuda yang kemudian menghampirinya itu. Siapa sangka, ternyata ada yang lebih jago darinya. Pria itu menelan ludahnya. Amis darah. Sebenarnya Irfan juga bisa melawan, tapi tenaganya tidak cukup.
"Mas? Masnya nggak apa-apa? Mau saya antar ke rumah sakit?" Anak sekolah itu berjongkok, menatap Irfan cemas. Pemuda itu diam-diam tertegun karena merasa tidak asing dengan wajah, dan mobil yang Irfan sender. Kalau tidak salah ingat... pernah melihatnya di restoran bersama Rea. Ini pacar Rea, bukan? Waduh, gue jadi nggak enak ketemunya di situasi begini, ucap Nata dalam hati.
"Saya nggak apa-apa," geleng Irfan sambil berusaha mengatur nafasnya agar lebih teratur. Sebenarnya Irfan tidak bisa menahan rasa sakitnya, tapi dia harus hadir di persidangan. "Saya benar-benar nggak apa-apa."
"Saya bantu berdiri, Mas." Pemuda itu membantu Irfan berdiri dengan merangkulkan satu lengannya ke bahu lebar cowok itu dan mengangkatnya pelan-pelan.
Tatapan Irfan fokus pada wajah laki-laki itu, tubuh jangkung, dan seragam tanpa atributnya. Ketidakadaan atribut di seragamnya membuat Irfan penasaran, pemuda ini anak sekolah mana? Belum sempat Irfan mengucapkan sesuatu, laki-laki itu keburu berpamitan.
"Kalo begitu saya pamit duluan, ya, Mas?" ucapnya berpamitan dengan sopan, sebelum memastikan kondisi Irfan lagi, "Masnya beneran nggak apa-apa saya tinggal?"
"Enggak apa-apa. Kamu tenang aja." Irfan juga buru-buru karena tidak mempunyai waktu lagi. "Terima kasih, Dek. Saya nggak tahu lagi harus membalasnya dengan cara apa." Irfan menggeleng, masih sedikit syok. "Kalo nggak ada kamu... saya nggak tahu nasib saya selanjutnya."
Laki-laki itu tersenyum ramah. "Kebetulan aja, kok, Mas. Baru pulang sekolah lewat sini. Emang daerah sini rawan, Mas. Besok lagi hati-hati kalo mau lewat sini."
"Kamu sekolah di mana?"
"Abipraya," jawabnya seraya memakai helm full face. "Duluan, Mas. Mari." Dia mengangguk sekali dengan sopan untuk berpamitan terakhir kali.
Tatapan Irfan masih sepenuhnya fokus pada gerak-gerik laki-laki itu sampai pergi meninggalkannya bersama motor sport merah yang dikendarai laki-laki itu.
•••
"Hosh... hosh..."
Sepatunya dilempar ke sembarang arah, Rea bernafas lewat mulut sambil melangkahkan kakinya sangat cepat menuju dapur.
Satu detik saja, Mike hampir meneguk minumannya, tapi seorang gadis menyebalkan yang baru saja pulang, berlari-lari ke dapur seperti orang dikejar-kejar hantu, langsung merampas minuman dari tangannya, lalu seenaknya meneguknya tanpa permisi. Mike melotot. "Resek! Itu milik gue!" Cowok itu berusaha merebut minumannya waktu tegukan Rea belum habis hingga gadis itu jadi susah meneguk setengahnya karena Mike ngotot menarik balik minumannya. Akhirnya terjadi rebut-rebutan segelas jus jeruk.
"Punya gue!"
"Gue dulu yang neguk!"
"Gue yang bikin!"
"Gue yang minum belum diterusin!"
"Balikin, nggak!?"
"Wleee!"
"Lo ambil lagi sana, ah!"
"Nggak! Enak aja lo!"
"Awas jauhin tangan lo, Mike, gue belum selesai minum! Dehidrasi, nih!"
"Enak aja lo! Gue juga haus!"
Keributan itu mengundang Irfan yang baru saja pulang langsung melangkah ke dapur dengan langkah cepat. "Ada apa ini ribut-ribut?" Dia pusing karena baru saja terkena musibah di jalan untuk menghadiri persidangan. Apesnya, ternyata sidang itu ditunda, Pak Cahyo sudah menghubungi Irfan tapi tak kunjung dapat balasan. Dan sekarang... dia dipusingkan lagi dengan drama anak-anaknya?
Kebisingan keduanya membuat gendang telinga Irfan rasanya mau pecah. "Udah, udah stop. Daddy bisa bikinin lagi."
"Tuh, lo mau dibikinin yang baru! Ini punya gue!"
Rea semakin melotot. "Ini udah bekas gue!"
"Gue masih nggak rela punya gue lo rebut!"
Mike dan Rea berebut minuman seperti anak kecil yang tidak rela mainannya diambil. Irfan mendekat, berusaha merebut segelas jus itu untuk melerai keduanya. Karena direbut kuat Rea dan Mike hingga Irfan kalah, minuman itu akhirnya tumpah mengenai wajah dan pakaiannya sebelum akhirnya—
Pyarrrr.
—terdengar suara pecahan gelas memuakkan telinga.
Mike dan Rea otomatis membulatkan mata dan mulut, terkejut setengah mampus sementara Irfan masih bergeming memejamkan mata, antara dia ingin marah atau sabar di tengah keheningan.
Rea yang pertama kali berteriak panik begitu Irfan tiba-tiba jatuh terduduk. "Dad, Daddy kenapa??" Seketika Rea menyesal. Dia bahkan baru menyadari ayahnya babak belur.
Irfan memegangi perutnya yang masih terasa nyeri karena musibah beberapa jam lalu. Mike mengambilkan segelas air putih untuk Irfan. Dan Rea membantu ayahnya minum. Kedua anak yang baru saja membuat kekacauan dapur itu memapah Irfan duduk di sofa. Membiarkan pecahan gelas yang hancur berkeping-keping berserakan di lantai. Karena kondisi Irfan lebih penting sekarang.
"Om sakit?" Mike juga baru menyadari ada bekas lebam di wajah Irfan dan sedikit bekas darah di bawah hidungnya.
"b**o lo, Mike... Daddy dipukulin! Lo mikirin apa, b**o?" Rea kembali menatap cemas ayahnya. "Rea anter ke rumah sakit, ya, Dad?"
"Biar Mike bantu."
Irfan menggeleng-geleng pelan, keliatan lengah. "Enggak usah... Daddy cuma butuh istirahat aja. Sebenarnya tadi... sebelum Daddy menghadiri persidangan... Daddy sempat mau dirampok."
"Apa?"
"Apa?"
Pertanyaan terkejut itu keluar bersamaan dari mulut Mike dan Rea.
Irfan menggeleng. "Nggak, mereka kayaknya nggak mau ngerampok Daddy," ralatnya sambil memejamkan mata sebentar, memikirkan sesuatu. "Mereka cuma mau ngehabisin Daddy. Nggak tahu apa motifnya, dan... untungnya ada anak laki-laki yang satu sekolah sama kalian nyelametin Daddy."
Rea dan Mike saling tukar pandang sebelum menoleh ke arah Irfan lagi, mendengarkan lanjutan ceritanya.
"Dia jago banget. Bisa ngelawan empat preman bertubuh besar-besar, sementara dia hanya satu orang, loh, Mike, Rea. Bayangin. Bahkan dia nggak luka sama sekali setelah para preman nyerah dan pergi."
Mike terperangah tidak percaya. "Wahhh, siapa, ya, Re, kira-kira?" Laki-laki itu menoleh ke sepupunya.
"Daddy sempet nanya namanya? Ciri-cirinya?" Rea memilih bertanya langsung kepada Irfan daripada menjawab pertanyaan Mike yang tidak bisa dia tebak jawabannya.
Irfan tampak berpikir sebentar. "Tingginya kayaknya 180 lebih, terus ganteng, keren kayak Daddy, tapi rambutnya acak-acakan. Motornya sport merah, nggak hafal platnya Daddy. Pake helm full face hitam. Sopan banget, lah, anaknya pokoknya."
Rea mengerjap, sebelum mendengus geli dan menatap ke arah Mike. "Nggak mungkin si maniak sinting Nata itu, kan....?"
Mike mengedikan bahu. "Kenapa tiba-tiba lo kepikiran kalo itu bukan dia?"
"Emang dia bisa berperilaku sopan?"
Irfan tidak tahu siapa nama yang disebut-sebut Rea, jadi dia hanya diam sambil menahan nyeri di perutnya. Tak lama kemudian, bunyi ponsel Rea di saku mengalihkan perhatian ketiganya. Gadis itu buru-buru memencet tombol hijau sebelum menempelkannya ke satu telinga.
"Halo?"
"...."
"APA?!" Teriakan Rea mengejutkan Mike dan Irfan yang membuat mereka penasaran dengan ekspresi Rea yang kelewat panik. "O-oke, oke. Gue ntar malem ke sananya, ya? Soalnya belum beres nih, kerjaan rumah. Terus mau ngurusin bokap gue abis kena musibah."
"..."
"Iya, ntar gue kabarin. Dah!"
Telepon akhirnya ditutup sepihak oleh Rea.
"Kenapa, Re? Siapa yang telpon? Kamu kok keliatan panik banget?"
"Karin. Katanya Zara masuk rumah sakit. Telinganya kemasukan lebah. Harus dioperasi."
"Hah? Kok bisa?"
Rea mengedikan bahu. "Dad, pokoknya Daddy harus periksa ke dokter, ya? Mike, bantuin."
"Bentar... Kak Zara kok bisa kemasukan lebah?" tanya Mike, kepo.
"Ck. Anaknya kadang ceroboh dan banyak tingkah, sih. Mungkin pas lagi main curhat-curhatan sama lebah..." Pel di celupkan ke ember yang sudah berisi air berbusa oleh Rea seiring kalimatnya terdengar, "...lebahnya lagi bicara nanggepin curhatannya, dia nggak denger, makanya telinga si lebah didekatin ke telinga Zara, supaya dia bisa denger lebih jelas—"
Sebuah kain lap kotor dilempar mengenai wajah Rea, memotong cerita ngelanturnya. "Ngaco cerita lo," tukas Mike.
Rea tidak terima wajah cantiknya di lempari lap kotor itu pun menggeram kesal. "Ya lagian pake nanya!" Dia berniat membalas perbuatan Mike dengan menjadikan pel sebagai alat pukul.
Mike lantas menghindar, tapi Rea tidak mau menyerah terus memukuli Mike dengan pel. "AMPUN, RE, AMPUN!"
Tidak terlalu keras, tapi mampu membuat Mike ketar-ketir. Rea itu tidak main-main kalau soal pukul-memukul. Padahal Rea tidak mungkin sesadis itu apalagi sampai membunuh sepupunya.
"NGGAK BAKAL GUE KASIH AMPUN!"
Irfan di sana memijat pangkal hidungnya pasrah menghadapi kedua remaja yang mulai berulah. "Ya Allah, apa lagi ini....? Kutuklah mereka jadi tuyul saja."
•••
Rea buru-buru masuk gedung Rumah Sakit Permata setelah baru saja turun dari taksi online. Langkahnya terburu-buru waktu memasuki lift. Menekan nomor 27. Tadi, sebelum berangkat ada drama yang membuat Rea lama-lama ingin kabur saja, atau berlama-lama di rumah sakit agar terbebas dari pancingan keributan adik sepupunya dan cekcokan ayahnya yang tadi sempat meminta Mike mengantarnya. Jelas Rea menolak. Yang ada di tengah-tengah jalan sudah meminta untuk diturunkan karena terus berdebat.
Lift berdenting, membuyarkan lamunan Rea. Perlahan pintu terbuka. Langkahnya maju keluar. Rea terlalu terkejut untuk bereaksi. Objek pertama yang ditangkap matanya waktu pintu lift terbuka adalah seorang lelaki familiar yang mengenakan celana pendek selutut warna kulit dan kaos hitam berdiri semeter di depannya. Kedua ibu jari dimasukan ke saku celana. Rea tidak berkedip sama sekali. Gadis itu menelan ludah, ganteng banget, gila.
Alis satu orang itu terangkat waktu menyadari dirinya ditatap begitu lama. "Lo bisa minggir?"
Rea tersadar. "Eh." Kepala gadis itu di gelengkan, berusaha membuang jauh-jauh pikiran anehnya. Tidak, ini benar-benar Nata; pacar settingannya di sekolah.
Alih-alih membuka suara lagi, justru Nata membalikan badannya. Merubah niat naik lift dan memilih berjalan menaiki tangga darurat. Lantas Rea mengerutkan kening. Kenapa cowok itu memilih tangga darurat? Bukannya tadi sudah di depan lift? Langkah gadis itu refleks mengikuti langkah Nata yang terburu-buru menaiki tangga darurat. Dia penasaran, kenapa cowok ini buru-buru? Siapa yang dijenguknya?
Nafas gadis yang memakai dress di atas lutut dibalut cardingan itu terengah-engah saat nyaris sampai di tangga teratas yang menghubungkannya dengan roftoop.
"Nata, kita ini mau main kejar-kejaran, siapa yang sampai duluan ke atas?" Tangan gadis itu memegang palang besi tangga putus asa. "Lo buru-buru kirain mau jengukin seseorang..."
Suara itu memancing langkah Nata untuk berhenti. Cowok itu berbalik. "Siapa yang minta lo ngikutin gue?" Dingin, datar, dan tajam.
Sadar dengan kelakuan bodohnya, Rea merutuki diri sendiri. Matanya menatap ke samping, canggung, malu. Bodoh. Sangat bodoh. Padahal tidak ada yang memintanya mengikuti cowok itu, dan dia juga tidak tahu kenapa dengan bodohnya mengikuti cowok ini? Bukannya tujuan awal Rea itu menjenguk sahabatnya?
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Nata berdecak dan lanjut naik ke atas hingga sampai di rooftop. Sepi dan menyeramkan. Namun, remang-remang lampu roftoop mampu membuat Rea bisa melihat siluet Nata memunggunginya dengan jelas. Rea mendekati cowok itu sampai di pembatas atap.
Gadis itu bisa melihat pemandangan indah di depannya; papan iklan, jajaran gedung-gedung pencakar langit, kendaraan-kendaraan di jalan raya, dan lampu-lampu semuanya tampak indah. Seolah Rea ingin terus berada di sini menikmati keindahannya. Tapi bukan itu tujuannya naik. Dia menyadari ekspresi dingin Nata yang tidak seperti biasanya.
"Eh, Nata. Lo kenapa, sih?"
Terlihat kalau Nata sedang tidak baik-baik saja. Karena biasanya cowok itu mengajaknya ribut setiap bertemu.
"Apa bener kalo seorang ibu lebih sayang anak bungsu daripada anak sulung?" tanyanya, entah kepada Rea atau dia tengah bermonolog. Kedua tangan Nata menyangga palang besi pembatas. Kepalanya didongakan ke atas, langit sedikit berawan. Rembulan tertutup setengah awan. Sepertinya cuaca sedang mewakili perasaannya sekarang. "Buktinya gue enggak tuh," lanjutnya.
Tadi sebelum keduanya bertemu, tujuan awal Nata ke rumah sakit adalah menjenguk kakaknya yang dirawat. Wajahnya panik waktu tahu saudaranya itu drop. Sebelum membuka pintu kamar rawat, di balik kaca pintu, dia bisa melihat betapa ibunya begitu mengkhawatirkan anak sulungnya. Tangisnya pecah memenuhi ruangan. Seolah tidak rela anak tercintanya pergi di pangkuan Tuhan. Bahkan telinga Nata sempat mendengar ibunya berbicara sendiri kalau beliau rela menggantikan posisi anaknya kali ini, asalkan anak bungsunya itu sehat-sehat saja.
Kedua tangan Nata mengepal. Bahkan dia sendiri tidak pernah dicium kening atau dikhawatirkan selama tujuh belas tahun ini. Terbesit rasa cemburu memenuhi uluh hati. Sesak, sedih, kecewa, marah, semua bercampur aduk jadi satu mengingat masa lalu yang masih terus menghantuinya. Nata menertawai dirinya sendiri yang haus kasih sayang dari seorang ibu. Dari dulu ibunya tidak pernah memedulikannya. Seolah Nata bukan siapa-siapa. Seolah memang dari dulu Nata bukan siapa-siapa di rumah itu. Sampai akhirnya dia memilih hidup sendiri karena satu insiden.
"Bullshit kalo ada yang bilang semua ibu sayang sama anaknya. Buktinya... gue nggak pernah ngerasain rasa sayang itu. Dulu waktu SD, gue ngasih tahu ke nyokap kalo gue rangking satu. Gue tunjukin nilai-nilai gue. Tapi semua bukti dan usaha gue, seolah nggak ada artinya di mata dia. Sedangkan anak pertamanya, dipuja-puja. Gue sama dia tuaan dia, lebih cerdasan dia, lebih dewasa dia. Dia segalanya. Dia begitu sempurna di mata semua orang. Bahkan, giliran dia juga rangking satu, dia dibangga-banggain ke tetangga-tetangga, ke temen-temennya." Seolah Nata tidak sudi mengganti kata 'dia' dengan embel-embel 'kakak gue'.
Rea mendengarkannya.
"Dulu gue sayang banget sama dia. Tapi waktu ada insiden dimana gue yang dituduh penyebab dia kecelakaan, rasa sayang nyokap ke gue seolah emang nggak ada. Gue dikucilin di sekolah... di rumah... Semua temen-temen gue nggak ada yang berani deket-deket gue. Katanya, gue anak pembawa sial, udah nyebabin dia kecelakaan. Yang lebih bodohnya lagi, dia nggak belain gue pas gue disalah-salahin di depan nyokap. Padahal jelas-jelas dia yang salah. Gue juga telat nolong. Gue yang tinggalin dia. Gue nggak jaga dia. Dan gue dituduh penyebab kecelakaannya."
Nata tertawa. Seolah di balik tawanya menyimpan banyak luka. "Kadang dia tuh keras kepala. Keras kepala itu yang bikin gue jadi nggak disayang sama ibu. Keras kepala itu yang bikin dia kecelakaan."
Nata terus lanjut bercerita. Rea hanya menjadi pendengar, diam-diam merasa tidak tega dan cerita-cerita itu mengena di hatinya, dan tidak tahu harus membalas dengan apa, tapi sepertinya Nata hanya butuh didengarkan saja.
"Saat gue sakit, nyokap nyuruh pembantu buat ngerawat gue. Sementara dia sendiri? Sibuk. Sekarang kalo gue yang sakit... nggak ada yang ngerawat karena gue hidup sendiri. Tapi nyokap selalu TF uang. Tapi gue nggak butuh itu, Re. Sementara sekarang di RS ini, saudara gue yang sakit, nyokap sampe segitunya. Dulu waktu gue juga sakit berminggu-minggu, dia apa kabar?"
"Nat..." Jemari Rea bergerak menggenggam telapak kasar tangan Nata yang menyangga pada palang besi. Seolah hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menguatkan hatinya.
"Kadang gue mikir, sebenarnya gue ini anak kandung ibu gue sendiri apa bukan, sih?" Nata sama sekali tidak punya gambaran kenapa dia menceritakan rahasianya dengan gamblang kepada gadis yang baru saja dia kenal, tapi kata-katanya seolah mengalir begitu saja. Apa adanya.
Rea menelan ludah. Gadis itu berusaha mencari kebohongan dari sorot mata Nata. Tapi tentu saja tidak ada. Karena cerita-ceritanya nyata. Nata yang bercerita, tapi seolah Rea ikut merasa sakit yang dirasakan cowok itu. Cowok biang onar di sekolah yang terlihat baik-baik saja di depan, tapi ternyata semuanya dia tutupi dengan senyum sok cerianya di hadapan teman-teman. Segalanya yang dimiliki dalam diri Nata adalah bakat, kekayaan, dan kebebasan. Hanya satu yang kurang; kebahagiaan.
"Natarel, kenapa lo cerita semua ini ke gue?"
Nata menoleh. Netra keduanya saling menumbuk. Ada sorot bingung dari Rea. Seolah Nata bisa membaca pikiran Rea kalau gadis itu mungkin berpikir, dia hanya orang asing di kehidupan Nata, lantas kenapa Nata menceritakan semuanya kepada gadis itu?
"Karena... lo satu-satunya orang yang bisa diajak cerita."