• 17 | Revan VS Nata

2131 Words
Lapangan itu luas tanpa atap, matahari sedang terik-teriknya, sinarnya bebas menerangi lapangan hingga membuat dua murid yang masih menjalani hukuman harus rela panas-panasan. Rasanya seperti mereka kembali pada masa-masa awal bertemu selain di luar sekolah. Dan kini seolah kembali ke masa itu. Bedanya, sekarang hukumannya berlari-lari mengelilingi lapangan, sementara tempo lalu hormat pada tiang bendera. Sesekali si gadis memperlambat langkah, lalu berhenti sejenak untuk mengatur pernapasannya, membungkuk dengan kedua telapak tangan bertumpu pada lututnya dan bernafas lewat mulut. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, efek berlari tanpa henti. Setelah tadi berlarian kejar waktu ke sekolah, sampai sekolah justru harus berlarian lagi memutari lapangan? Benar-benar nggak fair, pikir Rea. Tapi yang ada di dalam pikiran Rea bukan masalah dirinya sendiri. Ada hal lain yang membuatnya terperangah—cowok yang dihukum bersamanya itu sudah berlarian melewatinya beberapa kali dengan santai, seolah sudah berpengalaman. Mungkin karena efek sering dikejar-kejar polisi karena ketahuan tawuran. Dalam hitungan Rea, cowok itu sudah berlari sebanyak 20 putaran. Tidak terlihat kecapekan sama sekali, tidak seperti dirinya yang berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya. Tenaga laki-laki itu memang tidak main-main. Rea melanjutkan larinya meski baru sepuluh putaran, sementara kini cowok yang berlari di depannya kalau dihitung-hitung sudah nyaris 30 putaran—tinggal 20 putaran dirinya dibebaskan. Bersamaan saat itu, Rea merasakan perutnya bergejolak seperti ada sesuatu yang ingin dikeluarkan, kepalanya mendadak pening, dan pandangannya berkunang-kunang, mendadak tubuhnya lemas. Kedua tangannya masing-masing meremas perut dan kepala. Nata yang masih asyik berlari hingga semua kancing seragamnya terbuka, melihat Rea ambruk di depannya pun buru-buru menghampiri dengan raut panik. "Rea?" Nata berjongkok cemas, menepuk-nepuk kedua pipi Rea. Wajah gadis itu terlihat pucat pasi. Buru-buru Nata mengangkat tubuhnya ala bridal style menuju ruang UKS. ••• Aroma minyak kayu putih menusuk indera penciuman Rea. Tanpa melempar pertanyaan bodoh, dia sudah tahu kalau sedang ada di UKS. Gadis itu setengah sadar, namun belum kunjung membuka matanya. Mendengar namanya disebut-sebut, Rea harus bertahan di posisinya saat ini karena dia kenal betul suara itu. "Sadar dong, Re..." Ini tidak salah lagi, kan? Itu suara berat cowok yang sepuluh menit lalu dihukum bersamanya karena terlambat, kan? Cowok yang semalam tidak sengaja bertemu dengannya di lift rumah sakit, berbagi cerita pribadi masing-masing, dan berdebat konyol seperti biasa. Lantas Rea bertanya-tanya dalam hati, apakah cowok ini yang membawanya ke sini? Pertama, jika dugaannya benar, Rea baru menyadari kalau... cowok ini ternyata baik banget! Kedua, Rea deg-degan luar biasa. Pasalnya hanya ada mereka berdua di UKS. Nata menyadari kelopak mata Rea yang bergerak-gerak. Sepertinya gadis ini sudah sadar, tapi belum kunjung membuka mata. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Hm, Nata jadi curiga kalau Rea berpura-pura. Hening. Rea merasa cowok itu masih di sana. Gadis itu menahan untuk tidak membuka matanya. Aroma minyak kayu putih yang membuat Rea ingin terus mengendusnya sudah hilang berganti dengan hembusan nafas pendek-pendek yang dirasa makin mendekat ke wajahnya. Jantung Rea berpacu makin cepat. Nata memiringkan senyum dan berkata pelan, "Pura-pura, ya?" Rea langsung membuka mata, bangkit, dan mengerang pelan. Tapi belum sempat beranjak dari brankas, kedua bola matanya membulat sempurna begitu pula dengan Nata yang masih mencondongkan badan mendekati wajah Rea—tapi justru gadis ini bangkit spontan hingga wajah mereka saling bersentuhan. Yang lebih parahnya lagi, bibir mereka saling menempel. Hening sesaat. Nafas mereka tertahan di paru-paru. Nata merasakan jemari Rea yang memegang kedua lengannya perlahan-lahan diturunkan. Gadis itu langsung menjauhkan wajahnya lebih dulu dan berpaling menahan malu sampai ubun-ubun, sementara Nata perlahan menegakkan tubuh, mengambil nafas, dan mengatur detak jantungnya. Antara malu, canggung, dan tidak percaya. Sial. Nata masih tidak menyangka dengan apa yang barusan terjadi padanya pun menyentuh bibir dengan satu jari telunjuk. First kiss? Rea mengambilnya? Gadis ini... tidak sengaja, kan? Ruangan itu masih hening. Keduanya masih sama-sama bergeming. Sama-sama canggung. Ada tiga hal yang memenuhi benak Rea hingga membuatnya makin panik luar biasa. Pertama, Nata diam saja, apakah dia marah? Kedua, Rea berani sumpah, dia sama sekali tidak sengaja melakukan hal itu. Catat: tidak sengaja, dan tidak pernah menduga kalau dia bangun bisa menciptakan kejadian konyol seumur hidup seperti tadi. Ketiga, bagaimana Rea menghadapi cowok ini nanti? "Lo udah enakan?" Suara Nata memecah hening dan menambah kecanggungan Rea. Gadis itu menelan ludah, mengangguk tanpa suara tanpa menoleh, masih berpaling ke samping. Dia tidak berani menatap cowok itu— "Nih, minum dulu." —tapi sepertinya cowok itu biasa saja, terdengar dari nadanya bersuara seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya. Nata menyodorkan segelas air mineral dari bawah kolong brankas yang baru saja ditusuk sedotan. Rea menerimanya, masih menghindari kontak mata. "Gue ke kelas duluan, lo nggak apa-apa, kan? "Hm, makasih." Rea berusaha mengusir jauh-jauh kejadian gila beberapa menit lalu. "Kalo masih ngerasa nggak enakan... tidur aja. Ntar gue yang izinin nggak apa-apa." Perhatian banget! "Hm, udah lumayan mendingan kok." "Kayaknya lo tadi nggak sarapan," tebak Nata. Vokalnya terdengar lugas, tidak seperti Rea yang masih menahan gugupnya. "Gue udah beliin bubur tuh. Dimakan, ya?" Nata menunjuk sekotak mika putih di atas nakas. Rea mengangguk. "Oke, makasih." Gadis itu menyeruput airnya, berusaha melakukan aktivitas apa saja selain membuat kontak mata dengan Nata. Senyum Nata terangkat sebelum akhirnya mundur perlahan, berbalik, dan berjalan menuju pintu kaca buram, menggesernya, dan menutup kembali setelah keluar ruangan. Meninggalkan senyap dalam ruangan itu. Setidaknya sampai pekikan heboh Rea terdengar. Perlahan gadis itu menaruh air sisanya di atas nakas sebelum membaringkan diri, menutup kepalanya dengan bantal dan memukulnya gila-gilaan. "AAHHH! GUE PASTI UDAH GILA!!" Dia melirik bubur pemberian Nata sekilas lalu mendesah lagi sambil menendang-nendang angin hingga seprai putih dan selimut garis-garis biru-putih yang ditidurinya berantakan. Kepalanya yang pening kini tambah pening karena dipukul-pukul oleh kedua tangannya sendiri. "Woi, penghuni UKS! Mau taruh di mana muka g****k gue, ha?!" Rea mendongak, menatap langit-langit UKS, seolah langit-langit itu bisa menjawabnya. Lalu menoleh ke kanan-kiri seolah bertanya pada penghuni di sana, sebelum Rea menyembunyikan kepalanya dan menendang-nendang angin lagi seperti orang berkelainan jiwa. Beruntung UKS itu sepi. Kalau ada yang menyadari dirinya saat ini, mungkin dikiranya Rea kerasukan atau mungkin akan mengira Rea sudah gila sungguhan. ••• "b**o kata gue, teh." "Hahahaha!" Rea, Zara, dan Karin terbahak-bahak setelah kembali menceritakan kejadian konyol di kelas tadi. Singkatnya, di saat seisi kelas sedang serius-seriusnya mengerjai Pak Joko yang tengah mengajar untuk membuatnya pusing karena murid-muridnya berpura-pura tidak paham, justru Audrey yang paling polos dan cerdas itu membantu menjelaskan dengan raut serius. Dan sekarang mereka bertiga membahasnya lagi. Cukup lama mereka bersenda gurau sambil menikmati cemilan makan siang di kantin, tiba-tiba Banu menghampiri meja mereka dengan nafas tersengal-sengal seperti baru saja dikejar-kejar anjing liar. Cowok itu membungkuk dengan kedua telapak tangan bertumpu pada lutut. "Rea... hosh... Rea." Otomatis penghuni meja kompak menolehkan ke sumber suara. "Re, gawat, Re... cowok lo... hosh..." Laki-laki yang kini tanpa rambut seolah baru dicukur itu berusaha mengatur pernapasannya, sementara Rea dan yang lain menunggu lanjutan cowok itu penasaran. "Tenang, Nu, tenang... tarik nafaaas." Karin menginterupsi Banu untuk menarik nafas. Dengan bodohnya cowok itu mengikuti. "Tahan, Nu, tahan! Jangan dibuang! Mubazir!" canda Zara, lalu tertawa diikuti lainnya, sementara Rea hanya meringis geli. "Ada apa, sih, Nu?" tanya Rea sambil mengerutkan kening. Banu mengarahkan telunjuknya ke luar kantin. Masih dengan wajah panik. "Itu! Cowok lo! Berantem! Di lapangan sama anak IPS!" Rea bergeming saat ketiga temannya mendadak heboh, berdiri bersamaan. "Gawat, Bu negara! Ayo, samperin Bapak negara dalam bahaya!" Rea mendongak menatap Karin yang berusaha menarik tangannya paksa. "Apa, sih? Ya biarinlah," ujarnya tak acuh. "Kalo mati, gue layat. Tenang aja." Dengan santainya Rea berucap demikian sambil menyeruput jus alpukatnya. Padahal anak-anak lain yang mendengar berita Banu tentang Nata, kini berbondong-bondong ke lapangan karena penasaran hingga tersisa beberapa orang saja di kantin. Banu menganga paling lebar. "Buset, Re, tega bener lo sama pacar sendiri," sahutnya tidak habis pikir. Apa gunanya dia berlari-larian demi menyampaikan sebuah berita jika pada akhirnya tidak dihargai? Rea benar-benar teman sekelasnya yang paling kejam! "Ini Nata, Re. Nata. Cowok lo," tekan Zara. "Lo sama Nata sebenarnya memang pacaran nggak, sih? Sana samperin kalo pacarnya lagi ribut! Lerai, Re, lerai!" "Kasihan pacar lo." Anak-anak lain di kantin itu ikut mendesak Rea. "Care dikit, lah." Mendengar kalimat sensitif teman-temannya, Rea langsung menyahut, "Dia bukan pacar gue," ceplosnya. "Apa!?" Begitu Rea tersadar atas ucapannya barusan, dia buru-buru bangkit. Rautnya sengaja diubah panik agar teman-temannya tidak semakin curiga. "BERCANDA—YA AMPUN! COWOK GUE!" Begitu teriakan histerisnya keluar, Rea pun berlari kencang menuju lapangan yang kini sudah sangat ramai, diikuti yang lain. Karena siapa yang akan menyia-nyiakan tontonan gratis? Bukannya ada yang memisah untuk melerai, justru banyak yang mendukung, mengompori, bertepuk tangan heboh. Juga ada saja yang mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel yang siap di tangannya. Wajah tampan Revan dan Nata sudah babak belur satu sama lain. Terlihat sudut bibir Nata sudah robek mengeluarkan darah dan lebam di pelipis kanannya. Tapi bahkan nasib Revan lebih parah dibanding Nata. Laki-laki itu dipukuli habis-habisan oleh Nata tanpa diberi kesempatan untuk membalas sedikit pun. Padahal Revan hanya memukul dua kali, tapi efeknya mampu membuat Nata membalasnya berkali-kali lipat. Nata di sana terlihat ganas, seperti bukan Nata yang Rea kenal. Keduanya terlihat kelelahan satu sama lain, tapi Nata tidak mau mengalah sebelum Revan meminta maaf karena sempat memancingnya. Nata benar-benar mengerikan. Ini adalah hari pertama Rea bisa menyaksikan di depannya sendiri, bagaimana sifat asli Nata keluar. Ya, akhirnya setelah berminggu-minggu sekolah di sini, Rea baru bisa melihat dan membuktikan sendiri gosip mengenai Nata, yang membuat cowok itu jadi populer. Perut Revan diduduki Nata—terlihat benar-benar sudah terlihat tidak berdaya. Cowok itu terbatuk-batuk. Nata menarik kerahnya dengan gerakan lemas, seolah tidak menyerah walaupun sudah kelelahan. Baru saja kepalan tangannya nyaris mendarat mulus lagi di wajah babak belur Revan, suara seseorang yang terdengar sangat familiar di telinganya menahan satu kepalan Nata yang menggantung di udara. "NATAREL! STOP!" Netra kecoklatan miliknya kemudian beradu dengan netra gelap yang indah milik Rea yang terlihat panik membelah kerumunan. Beberapa murid juga memandang ke sumber suara. Semua orang menjadi saksi keberanian seorang Andrea Wulandari menggiring paksa cowoknya berdiri keluar kerumunan. ••• "Awwh! Sakit, b**o!" Bentakan itu tidak membuat nyali Rea jadi ciut, justru gadis itu mengerang kesal. Mungkin kesal karena dua hal. Pertama, kejadian yang menurutnya kekanakan di lapangan tadi. Kedua, dalang kejadian tadi membuatnya harus jadi suster dadakan sementara Nata. Bukannya berterima kasih diobati, cowok itu justru memarahinya. Dan bukannya meminta maaf, Rea justru makin menekankan kompresnya di luka lebam Nata. Diperlakukan seperti itu, Nata mengerang tajam tidak terima sambil berusaha menghindar. "Kalo nggak ikhlas mending lo ke kelas aja." "Buat apa, sih, lo berantem kayak tadi? Lo nggak bohong sama perkataan lo yang katanya mau berubah itu, kan?" desis Rea sambil membanting kompresnya. "Atau lo sengaja, ya, biar dapet perhatian satu sekolah?" Nada itu terdengar makin tinggi dengan raut berapi-api. "Sengaja biar dicap keren? Sengaja biar keliatan sangar dan ditakuti? Sengaja lo—" "Kenapa?" potong Nata tidak kalah tajam. "Gue nggak nyuruh siapapun ngehalang-halangin gue kayak tadi. Buat apa, sih, lo dateng? Mau caper sama gue, ha? Atau mau caper sama murid-murid lain? Atau mau caper sama pacar lo, si Devon itu?" Nata merubah rautnya. "Ohhh, atau lo suka sama si Revan, mau caper sama dia juga? Mau nikung Desti?" Rea menggerakkan gigi, tidak habis pikir dia malah dituduh-tuduh balik seperti itu. Sebenarnya, Nata masih menyimpan emosi dan dendam kesumat terhadap Revan yang mengajaknya ribut tadi. Dan tiba-tiba saja ada yang menghalanginya meluapkan emosi. Bagaimana dia tidak tambah emosi dengan orang yang menghalanginya balas dendam? Orang itu Nata cap sebagai pengacau. Tidak peduli kalau orang itu adalah Rea sekali pun. Ice bag yang Rea gunakan untuk mengobati Nata barusan, ditaruh di telapak tangan cowok itu paksa, lalu gadis itu berdiri. "Gue nggak nyangka bisa-bisanya lo nuduh gue kayak gitu." Kini nadanya terdengar tenang. "Lo pikir gue mau buang-buang waktu narik lo tadi? Kalo bukan karena kabar dari orang dan paksaan dari temen-temen, ogah gue." Rea mengeluarkan kata-kata terpedas agar cowok itu merasakan juga apa yang tengah dirasakan. "Yaudah kalo begitu, ngapain dibantu?" "Kalo bukan karena sandiwara lo—" "Kenapa? Lo masih mau ngungkit sandiwara itu? Kalo lo mau selesai, yaudah. Selesein di sini. Gue juga nggak berharap lo setuju waktu itu jadi pacar pura-pura gue." Kalimat itu keluar tanpa diminta, seolah mengalir begitu saja, mungkin karena efek emosinya belum reda. Spontanitas Nata saja. Rea menunjuk wajah Nata. "Lo tuh cowok paling ngeselin yang pernah gue kenal!" Kemudian gadis itu berbalik, dan bergegas menuju pintu UKS. Menggesernya sedikit kasar untuk keluar. Tanpa mereka sadari, ada yang merekam perdebatan keduanya diam-diam di brankas lain yang tertutupi korden putih. Keduanya tidak tahu saja kalau UKS itu ada seseorang, dan seseorang tersebut menyeringai mendengar perdebatan sensitif mereka terekam di ponselnya. Nata bisa melihat pemilik punggung mungil itu mengepalkan kedua tangan. Nyeri di wajahnya belum sepenuhnya reda. Matanya kemudian beralih menatap ice bag yang tadi sempat Rea beri. Apa tadi perkataannya terlalu menyinggung perasaannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD