• 18 | Bakmi Iblis

2651 Words
Rasa nyeri dan ngilu dicampur rasa amis darah masih Nata tahan hingga cowok itu membuka pintu kelas dan melenggang masuk. Matanya menatap seisi ruangan yang sudah dipenuhi murid-murid yang berisik. Yang paling berisik dan rusuh siapa lagi kalau bukan teman-temannya? Pantas saja, karena sekarang free class, jadi tidak heran mereka mau melakukan kerusuhan apa saja. Dan sudah tidak mengherankan lagi kenapa teman-teman Nata dari kelas lain berada di sini. Kedatangan Gavin, Ryan, dan Abi, ditambah Jacky dan Farel—yang resmi menempati kelas itu—menambah kericuhan kelas sekaligus meramaikan suasana. Nata geleng-geleng kepala melihat mereka menjahili Fadhlan yang tengah terlelap dengan posisi mengenaskan. Wajah Fadhlan sudah tidak bisa disebut rupa manusia lagi hingga membuat para cewek yang melihatnya menutup wajah horor, dan sebagian tidak peduli karena ini bukan kejadian yang pertama kali sementara sebagian cowok cekikikan menyaksikannya. Bagaimana kelas tidak heboh? Fadhlan diusili terus tapi tidak bangun-bangun seperti orang mati, bedanya ini masih bernafas. Kebisingan kelas juga tak mampu membuatnya terusik sedikitpun. Kancing seragamnya sudah terbuka semua hingga dia telanjang d**a dan di d**a bidangnya menampilkan coret-coretan spidol bergambar kutang karya para biang rusuh: Farel dan Jacky, ditambah Ryan dan Abi yang ikut-ikutan. Farel memainkan air liur Fadhlan dengan pensil. Alih-alih membuang pensil itu, justru Farel mendekatkan pensil itu main-main ke semua orang di sekitar hingga mereka berlarian menghindar. Abi yang pertama menyadari kehadiran Nata yang berjalan ke arah mereka di meja pojok belakang. "Wohoho, ada bapak negara yang baru sampe, nih. Dari mana aja, Pak negara? Apa kabar?" ledeknya, riang seperti biasa. "Wah, kenapa tuh muka? Habis kepentol tembok, ye?" tebak Jacky ngasal. "Itu mah habis berantem sama Revan, blok," sahut Farel. "Ketinggalan zaman lo." Perdebatan konyol teman-temannya tidak Nata hiraukan begitu tatapannya tertuju pada satu titik di mejanya yang ditengahi empat orang. Gadis yang menarik perhatiannya terlihat serius membaca novel, sesekali menanggapi teman-temannya yang tengah bercengkrama sambil cekikikan dan saling pukul gemas. "Nih orang lagi mimpi apaan, dah? Pules amat tidurnya." Pertanyaan heran Gavin datang membuat atensi Nata teralihkan lagi. "Wih, mantap-mantap tuh kayaknya." Tebakan ambigu Jacky membuat gelak tawa yang lain pecah, kecuali Nata yang hanya mendengus geli. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri mejanya yang dihuni Rea dan Zara—berhadapan dengan Audrey dan Lauren. "Ehm." Ketiga gadis menoleh, tapi tidak dengan Rea karena dia kenal betul dengan pemilik suara itu. Pemilik suara yang membuatnya badmood karena tuduhan-tuduhannya. Dan pemilik suara yang membuatnya meninggalkan ruang UKS seusai mengobati luka-lukanya walaupun belum selesai sepenuhnya. "Sorry, gue ganggu kalian." Zara menanggapi jenaka dengan raut riangnya. "Gwenchana, gwenchana. Mau ngomong serius sama Rea, ya?" Cewek itu langsung mengaduh keras-keras ketika mendapati tendangan di betis oleh perbuatan gadis di sebelahnya. "Yaudah! Kita mojok, ya, Re!" Tanpa menunggu persetujuan dari Rea yang pastinya tidak akan disetujui, ketiga gadis itu buru-buru saling seret menuju meja kosong. "Re." Rea hanya melirik sangsi teman-temannya tanpa sudi menatap orang yang memanggilnya. "Re, gue..." Mungkin ini saatnya laki-laki itu harus mengeluarkan kata-kata setulus mungkin sebagai jalan terakhir dia berdamai dengan gadis itu. "Gue mau...." Belum sempat Nata melanjutkan ucapannya, Rea keburu berdiri. "Woi, elo," tunjuknya, mengarah lurus ke cewek yang bertahi lalat di pipi kiri, dan berambut keriting— menatap Rea ragu-ragu sambil menunjuk dirinya sendiri bodoh, memastikan kalau dia yang ditunjuk Rea. "Lo duduk di tempat gue." Lama tidak ada respon dari Fara yang malah linglung, Rea membentak, "CEPETAN, g****k!" Dibentak galak seperti itu, mau tidak mau Fara beranjak ketakutan sambil buru-buru membawa tasnya ke tempat Rea, dan Rea merampas tasnya. Sebelum menuju kursi sebelah Audrey, dia sempat sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Nata. "Guys, ngantin," ucapnya sambil menaruh tas di depan Audrey. Nata kemudian menghela nafas getir menatap keempat punggung gadis yang beriringan keluar kelas. Dia diabaikan begitu saja. Tanpa bertanya, dia sudah tahu. Nata sudah tahu gadis itu marah karena kejadian di UKS tadi. Jangankan memaafkannya, menoleh sedikit pun tidak. Gavin menepuk bahu Nata, seolah prihatin. Lelaki itu baru saja duduk di meja samping Gavin. "Lagi ada masalah sama Rea?" Nata tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya masih sendu ke arah pintu. "Nah, gini nih resiko punya cewek. Kudu banyak ngalahnya. Mending kayak gua, jomblo bahagia." "Yeee, Jupri. Elo mah, emang kurang laku. Orang pas-pasan gini," ledek Farel membuat gelak tawa yang lain tercipta lagi-lagi, kecuali Jacky yang menjitak Farel tidak terima. "Btw, gue ada pertanyaan penting nih, pertanyaan penting," kata Jacky dengan raut serius, membuat mereka perlahan mulai tertarik. Ruangan itu yang tadinya berisik, sekarang sedikit lebih tenang mendengar suara Jacky yang terlihat serius. Abrigas baru saja bergabung. "Apaan, apaan?" "Lu kalo mau mati, maunya dikubur, apa digradasi?" Mata Jacky menyorot Abrigas serius sambil membuang bungkus ciki ke depannya sembarangan. Abrigas mengelus dagunya, berpikir. Farel yang menggambar-gambar di belakang buku Fadhlan berhenti sejenak. "Kalo gue digradasi, sih. Soalnya jadi hemat tempat gitu, kan? Kan Jadi abu gitu, ya?" sahut lelaki itu dengan polosnya. Bisa dibilang kebanyakan murid di sini banyak yang berbeda agama, tapi rasa saling hormat dan toleransi tetap ada. "Iya, kan? Kalo lo, Nat? Lo maunya dikubur apa digradasi?" "Gradasi apaan?" Nata ikut penasaran juga dengan menampakkan kerutan di dahi. Cowok itu membuka dua kancing seragamnya karena kegerahan hingga keliatan sedikit kaos oblong putih di dalamnya. "Yang dibakar jadi abu," tanggap Farel. "Bukan gradasi, gila," tukas Gavin sembari membasahi bibirnya dengan lidah sendiri. Dahi Abrigas berkerut ke arah Gavin. "Ya terus apa dong?" "Fermentasi." Farel menyengir hingga membuat kedua matanya menyipit. "Tape lu difermentasi?" "Bukan fermentasi, b**o!" tukas Satria sambil membenarkan kacamatanya. "Ejakulasi kali." Abi ikut menambahi sambil nyengir. "Ealah, t***l, tolol." Ryan tidak habis pikir dengan topik unfaedah para curut itu. Lelaki itu berpura-pura memijat pelipisnya frustasi menghadapi ketololan teman-temannya. "Lah, terus apaan yang bener, anak pinter?" "Kremasi!! g****k lo semua!!" Ada jeda sebelum akhirnya terdengar gelak tawa yang meledak memenuhi ruangan itu. Menciptakan keramaian di jam kosong terakhir, karena pada dasarnya otak manusia seperti mereka berlima diletakkan di lutut. ••• Dengan malas Rea melangkahkan kakinya masuk gedung kafe setelah mendapati pesan dari teman-temannya yang mengajaknya nongkrong di sana. Tapi... yasudahlah, mungkin berkumpul dengan teman-temannya bisa mengembalikan mood yang sempat Nata rusak. Dahinya berkerut sewaktu melihat ke meja yang ditempati Zara dan Karin, bukan hanya ada duo sahabat itu, tapi di sana juga sudah ada Jacky dan Farel. Entah apa yang diobrolkan sampai mereka terbahak-bahak. Rea disambut lambaian tangan antusias dari Zara dan Karin serta atensi dua cowok di sana saat gadis itu baru saja memesan minuman. "Lagi pada ngobrolin apaan, sih?" tanya Rea basa-basi sambil duduk di single sofa untuk bergabung menengahi meja. Jacky dan Farel menyengir canggung. "Ah, ini, Re, anu..." Rea mengabaikan ketidakjelasan Jacky. "Kalian semua janjian?" "Kebetulan aja kok, Re," jawab Farel. "Kebetulan tadi ada Zara sama Karin, jadi kita gabung ke sini. Ngobrolin pelajaran," cengirnya beralibi. Mata Rea menyipit curiga. "Ngobrolin pelajaran apa mau PDKT-an?" Mereka sontak menyengir bersamaan. Raut curiga Rea terlihat lucu, kontras dengan raut tengil mereka berempat. "Nih, nih. Biar dingin kepala lo." Zara menggeser jus alpukat kesukaan Rea yang masih tersisa setengah. "Jangan hati lo aja yang dingin." Rea lantas menyeruputnya sedikit. "Btw, Jack, Rel, kenapa Nata tadi mukulin Revan?" Akhirnya dia buka suara membahas topik lain. "Denger-denger, sih, si Revan mancing duluan ," tanggap Jacky kalem. "Nata tuh nggak mungkin ngelawan orang kalo nggak ada yang ngelawan duluan." "Dan Nata nggak suka kalo disinggung masalah keluarga," sambung Farel. "Jadi si Revan nyindir-nyindir Nata duluan, Nata nggak terima, akhirnya mereka berantem?" Pertanyaan Zara mengafirmasinya. "Kasihan tahu, Revan babak belur parah dibandingin si Nata." "Ya coba kalo lo di posisi dia, gimana perasaan lo? Nggak terima juga, kan?" sedot Farel. Rea lagi-lagi memasang wajah seberusaha mungkin dibuat agar tidak keliatan terlalu penasaran. "Emangnya keluarga Nata kenapa?" Mereka terdiam, belum ada yang berani menjawab sebelum Farel mengangkat kelima jarinya menyambut kedatangan manusia yang baru saja memasuki kafe. Perhatian yang lain otomatis mengikuti arah pandang cowok itu. Dari arah pintu, terlihat ada Gavin, Abi, Ryan, dan Nata yang baru saja sampai. Sinting, baru saja dibicarakan langsung muncul. Astaga, jangan sampai dua curut ini memberitahu orangnya bahwa Rea sedari tadi menanyai masalah cowok itu. Tanpa sadar jemari Rea mengepal begitu keempat cowok itu mendekati meja mereka. Saat Rea berdiri hendak pamit, Zara menahan lengannya, menyuruhnya untuk duduk kembali dengan paksa. "Eh, Bos, lo duduk di kursi Rea aja, oke?" Jacky memanggil Gavin. "Re, lo sama Nata duduk di sana, ya?" Lalu telunjuk Jacky mengomando teman-temannya ke arah meja pojok dekat lokasi mereka saat ini. Dahi Rea berkerut tidak terima. "Lo ngusir? Yaudah, mending gue pulang aja." "Jangan!" Zara dan Karin bersamaan menahan Rea yang lagi-lagi berdiri. "Lo jangan ngehindarin Nata gitu dong, Re," ucap Jacky langsung ke inti. "Sebaiknya kalo kalian punya masalah rumah tangg—" "Eak, masalah rumah tangga nggak tuh?" Jacky memukul keras-keras bahu Farel karena memotong ucapannya duluan, dan yang dipukul hanya mengaduh pelan sambil nyengir ketengilan. "Diem dulu, monyet!" Lalu pandangannya kembali serius saat menatap Rea sebelum melanjutkan, "Kalo lo sama Nata lagi punya masalah, sebaiknya selesein dulu baik-baik. Biar nggak makin rumit tuh percintaan kalian." "Nah, tumben lu bijak, Jup?" Jacky merasa bangga pun menepuk d**a kirinya dua kali. "Anaknya siapa dulu? Pak Bejo." Yang lain tertawa. Rea melirik Nata sebentar dengan malas. "Jadi kalian sengaja?" Zara memaksa Rea duduk tenang di kursinya, sementara Jacky memaksa Nata duduk berhadapan dengan Rea. Kemudian Farel mengomando yang lain duduk masing-masing di lokasi yang sudah disediakan. Tatapan Rea masih sepenuhnya tidak terima ke arah sahabat-sahabatnya. Nata mencekal pelan pergelangan lengannya begitu Rea ingin kabur, membuat gadis itu menatapnya tidak bersahabat dan menarik tangannya. "Gue mau ngomong bentar sama lo." "Buruan." "Duduk." Lantas Rea mengerutkan kening. "Tinggal ngomong doang apa susahnya, sih?" "Ya duduk dulu, nggak enak kalo sambil berdiri gini." Rea menepis tangan Nata yang hendak menyentuh tangannya lagi. "Nggak usah pegang-pegang," desisnya jutek seperti biasa. Kemudian gadis itu duduk dengan malas. "Gue habis ini mau pulang. Cepetan, lo mau ngomong apa?" "Gue minta maaf." Ungkapan yang terdengar tulus, yang seharusnya diucapkan Nata dari tadi di UKS, membuat Rea melipat kedua lengannya di d**a. Menunggu kelanjutan cowok itu tulus sekali lagi atau tidak sama sekali, dan dia akan segera pergi dari sini. "Gue tahu perkataan gue bikin lo tersinggung, gue kebawa emosi, jadi gue—" "Lo tahu nggak?" Kedua mata Rea menatap tajam mata sendu Nata. "Semua orang tuh bisa marah. Bukan lo doang yang bisa marah. Gue bukan malaikat yang nggak punya sifat pembenci. Lo pikir semua orang takut sama lo? Kalo lo bener-bener benci sama gue, gue juga bisa kok lebih benci sama lo." "Lo marah sama gue?" Pertanyaan yang cukup retoris. Gadis itu muak, tapi ada rasa tidak tega juga melihat ekspresi Nata yang kelihatan merasa bersalah. Maka dari itu dia memalingkan wajah—seberusaha mungkin untuk tidak merasa goyah. "Gue harus ngelakuin apa dong biar lo maafin gue?" "Lo mau gue maafin?" Begitu pertanyaan itu dilempar balik, tatap keduanya dipertemukan untuk kesekian kali. "Gue mau lo makan bakmi level tujuh sekarang juga. Berani, nggak?" Nata mengerjapkan mata. "Serius lo?" "Ya kalo lo nggak berani, sih..., nggak usah juga nggak apa-apa." Nada itu sengaja ditinggikan dan terdengar sangat meledek. "Karena pengecut kayak lo yang berusaha terlihat keren udah biasa gue lihat di drama-drama dan cerita-cerita yang udah gue baca, padahal aslinya mental cupu, kan? Jadi... ya, gue maklumin, serta ikut prihatin, ya?" Rea berpura-pura memasang wajah kasihan. Nata menahan keinginan untuk membalas sindiran Rea yang mengajak ribut, meledeknya dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan. Membuat teman-temannya yang lain tertawa di seberang sana menyaksikan. Daripada dia dihantui rasa bersalah, dan harga dirinya dijatuhkan seorang cewek di depan teman-temannya, mau tidak mau Nata menyetujui tantangan itu. Kini keduanya tidak duduk di tempat yang dikosongkan teman-temannya, namun memilih tempat lain di bangku panjang dan duduk bersebelahan. Rea mulai menyebutkan pesanannya sewaktu seorang pramusaji datang. Nata mengerutkan kening dan menahan kegemasanya saat Rea tidak menyebutkan minuman. Tadinya Nata kira gadis di sebelahnya ini lupa, tapi ternyata memang sengaja ingin menjebaknya. Sial, bahagia di atas penderitaan orang lain ini namanya, ucap Nata dalam hati. Rea terlihat tidak sabar ingin menikmati pesanan karena makanan pedas-pedas adalah favoritnya. Bakmi level 7 di kafe ini benar-benar sudah yang paling iblis rasanya. Tapi, bagaimana dengan Nata yang sebenarnya merasa keberatan ditantang seperti itu? Duh, mampus... kenapa gue setuju-setuju aja, sih? Gue, kan, nggak kuat pedes, batin Nata lagi-lagi berpura-pura menampilkan raut biasa saja, padahal dalam hatinya gelisah. Beberapa menit berikutnya, dua mangkuk pesanan mereka datang. Rea melirik Nata sambil menyeringai. "Kalo ntar lo mau pesen minuman karena nggak kuat, nggak apa-apa kok, nggak usah dipaksain." "Kata siapa? Gue kuat kok." Rea menyenggol bahu Nata, masih dengan raut meremehkan. "Seriuuusss?" "Udah, deh, lo nggak usah ngerendahin gue mulu." Nata—si paling antidiremehkan jelas tidak mau terkalahkan apalagi ini seorang cewek yang menantang. "Serius nggak mau pesen minuman? Ini mbaknya belum pergi, loh, " tawar Rea sekali lagi. Bukan tawaran, lebih tepatnya ledekan. Jujur, Rea merasa puas menyadari raut lain dari Nata, padahal mereka belum memulai makan bakmi iblis itu. "Serius, Rea sayang—aww! Sakit, kok dicubit, sih?" Rea mengabaikan ocehan Nata, sebelum tersenyum aksa ke arah pramusaji wanita. "Nggak jadi minumannya, Mbak." Setelah kepergian pramusaji itu, Rea mulai mengaduk-aduk bakminya, kemudian menyuapkannya ke mulut dengan sumpit. Sementara Nata, dia bahkan baru mencium aroma pedas bakmi itu saja lambungnya serasa mau copot, apalagi kalau dia memakannya? Cowok itu buru-buru menyuapkan bakmi ke mulutnya sewaktu dilirik Rea dengan senyum remehnya. Nata menahan mati-matian rasa yang baru sesuap saja sudah membuat mulutnya terbakar. "Hmmmm, enak banget," seru Rea dengan riang sambil melirik sampingnya yang menahan kepedesan. "...ya, nggak, sih, Nat?" "Iya." Nata memaksa cengiranya keluar di saat mulutnya berusaha menyerap angin masuk meredakan kebakaran di mulut. Sudah tiga kali suap, Nata sudah keliatan kepedasan. Kedua tangannya mengepal di sisi semangkuk bakminya yang hampir habis lalu menggesek-gesek kedua lengannya di meja—tidak tahan. Lelaki itu butuh air. "Udah nggak kuat?" tanya Rea yang awalnya itu hanya sebuah pertanyaan ledekan, tapi kini berubah panik sewaktu menyadari ekspresi Nata terlihat tersiksa. "Lo oke, Nat? Mau minum?" Cowok itu menggeleng sambil meremas perutnya dengan mata yang dipejamkan dan dibuka, bolak-balik menatap Rea. "Lambung gue... sshhh—sakit bengat, Re... Gue... gue alergi pedes." "HAH?! ALERGI PEDES?! KOK LO NGGAK NGOMONG, SIH, KALO LO ALERGI PEDES?!" Rea berdiri panik sambil memanggil teman-temannya yang lain. Mereka pun berbondong-bondong menghampiri meja Rea dan Nata dengan raut panik juga menyadari Nata yang tiba-tiba kepalanya jatuh di atas meja—tidak sadarkan diri dengan bunyi memuakkan. "NATA!" "NATA!" "DIA KENAPA, RE?!" "NATA LO APAIN? HAH?" Rea menyeka rambutnya ke belakang, frustasi. "Gue nggak tahu kalo dia alergi pedes, guys! Tadi gue iseng ngerjain dia buat makan bakmi level 7... Gue bener-bener nggak tahu apa-apa sumpah!" Zara dan Karin mengguncang panik tubuh Nata diikuti Jacky dan Gavin bergantian membangunkannya. Sementara yang lain saling tukar pandang bingung. Pasalnya, baru kali ini mereka mengetahui apa alergi Nata. Padahal sebenarnya mereka tahu banyak kelemahan Nata, tapi yang satu ini... benar-benar kejutan mengerikan. Alergi pedas? Nata tidak pernah memberitahu mereka. Bahkan mereka juga baru mendengar ada orang yang alergi semacam itu. "Aduh... gimana ini, dong...? Gue khawatir nih kalo dia kenapa-kenapa gara-gara gue..." Rea rasanya mau menangis karena semua ini ulahnya. "Bawa ke RS aja," saran Karin yang masih panik. Tiba-tiba ada pergerakan dari Nata membuat semua mata fokus ke arahnya. "Gue nggak apa-apa," ucapnya pelan. "Nggak usah ke RS. Gue cuma kepedesen aja." Rautnya sedikit pucat. Mereka menghela nafas lega. "Alhamdulillah!!!" "Lo yakin, Bro?" Farel memastikan dengan khawatir. Nata balas mengangguk dan tersenyum tipis. Rea yang paling lega di antara teman-temannya karena awalnya takut kena marah orang-orang terdekat Nata, termasuk kalau saja orangtuanya tahu semua ini perbuatannya, bisa-bisa dia mati muda. Tatapan tenang lelaki itu kini tertuju pada Rea. "Jadi... lo sengaja isengin gue?" Ditodong pertanyaan itu, membuat Rea makin ketar-ketir. Diam-diam merutuki mulutnya yang asal ceplos tadi. Harusnya dia tadi bisa, kan, beralibi seperti, "Gue nggak tahu, dia tiba-tiba pingsan kepedesen"—dan tidak usah mengakui kalau dia yang mengisenginya seperti ini. Itu artinya sama saja Rea cari mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD