"Vanila late-nya satu, Bude."
"Pagi-pagi nggak mau minum yang anget-anget aja, Neng?"
Rea menggeleng ramah. Tali ranselnya yang dirangkul satu pundak ditarik, sementara tangan lain merogoh uang di dalam saku lalu ditaruh atas konter. Bersamaan saat Rea hendak mengambil minumannya, siluet yang sangat dia kenali datang.
"Bude, vanila late satu," pesan Nata yang lalu diangguki Bude Sumik, tanpa menoleh ke arah seorang gadis yang kini melempar tatapan canggung ke arahnya karena teringat kejadian kemarin.
"Nat."
Yang dipanggil membelakangi konter sambil memainkan ponsel. Rea terus melanjutkan, "Soal kemarin itu... gue minta maaf, oke? Gue cuma pengen seru-seruan aja...."
Yang diajak Rea bicara justru menempelkan ponselnya ke telinga sebelah sambil berpura-pura jalan dua langkah menghubungi temannya. Rea diabaikan begitu saja. "Lagi di perjalanan? Ohhh, oke, oke. Iya, ini gue berangkat lebih awal. Yoi, gue tunggu. Buruan." Ponsel itu kembali dimasukan ke dalam saku celana bersamaan dengan minuman yang siap saji di atas konter. "Ini, uangnya, Budeeee. Makasihhhh!"
Rea yang masih mematung dengan mulut ternganga masih tidak percaya dirinya diabaikan begitu saja, sontak mengejar langkah Nata. Apa ini namanya impas? "Woi, Nata, tungguuuu! Gue lagi ngomong sama lo! Ck."
Begitu mendengar namanya disebut dua kali, si laki-laki akhirnya menghentikan langkah. Sebenarnya baru lima langkah dari stan Bu Sumik. Dia akhirnya berbalik sambil menyeruput minumannya santai. Alis sebelahnya terangkat. "Lo ngomong sama gue?"
Rea mendekat dengan sebelah tali ransel ditarik kesal sementara tangan lain masih membawa minuman. Kini melempar tatapan juteknya di hadapan Nata. "Ya gue ngomong sama siapa lagi? Bokap lo? Dari tadi gue ngomong sama lo, manggil-manggil lo, dan lo malah asyik main handphone? Nggak ngehargain banget, sih, lo? Pura-pura nggak denger apa gimana?"
Nata berpura-pura batuk sebelum menstabilkan diri dengan gelagat kelewat santai seperti biasa. "Oke. Nih, udah." Cowok itu mendekatkan wajahnya lima senti ke wajah Rea. "Lo tadi mau ngomong apa?"
Rea sontak memundurkan langkah, tidak ingin dekat-dekat. "Gue tuh mau minta maaf sama lo soal kemaren, budeg," ulang Rea memperjelas sekali lagi dengan nada pelan, namun terdengar tidak ikhlas.
Senyum Nata melebar. "Ohhh, mau minta maaf...? Kok minta maafnya kayak... ngajakin ribut gitu, sih?"
"Ya, terus? Gue harus dengan cara apa? Harus bertekuk lutut, gitu?"
"Ya kalo itu perlu, sih, haruslah. Silakan."
Rea menahan emosi. "Katanya lo tipe cowok yang suka maafin kesalahan orang lain dan lebih suka ngajuin maaf duluan kalo ngelakuin kesalahan kecil? Padahal..." Dia bergidik geli sambil menarik kursi, duduk di sebelah satu meja dekatnya. "...dih, amit-amit." Lalu menyeruput minumannya guna meredakan emosi.
Sekarang gadis itu sudah merubah pikirannya, terserah Nata kalau dia mau pergi, Rea rela lahir batin. Karena pasti perdebatan konyol mereka tidak akan pernah habis sampai besok kalau dilanjutkan. Keadaan di kantin tidak terlalu ramai karena mereka datang masih terlalu awal.
Nata masih setia dengan senyumnya. Herannya, cowok itu justru keliatan makin tampan walaupun luka berantem kemarin masih meninggalkan bekas—pikir bodoh Rea. "Ooohh, jadi selama ini.... lo sama temen-temen lo suka ngomongin gue?"
Mampus, Rea lagi-lagi asal ceplos. Apalagi mendengar nada godaan Nata yang begitu menyebalkan membuat gadis itu rasanya ingin kubur diri saja. Baru saat Rea membuka mulut hendak beralasan, bunyi deru motor dan kehebohan seisi kantin yang tiba-tiba, menarik perhatian keduanya.
TIN TIN TIIIINN!
"AWASSSS!! AWASSS, WOIII!! MINGGIIIIR LO SEMUA!!"
Terdengar teriakan histeris beberapa siswi—bukan. Bukan karena pesona Farel, melainkan karena motornya yang menerobos kantin dalam karena hilang kendali dan membuat beberapa anak yang menghalangi jalan segera saja menyingkir. Namun saat motor itu melewati tempat Mike berdiri, tanpa sengaja spion kirinya menyerempet lengan Mike yang membawa segelas jus di genggaman membuat jus itu sontak mengenai seragam Nata di seberang.
BRAKKK!
Suasana makin ricuh begitu motor Ducati yang Farel kendarai akhirnya menabrak tembok kantin. Sudah ada dua kursi yang sudah ikut jatuh keserempet motornya. Sebagian anak ada yang menyorot adegan lain yang membuat tokoh utama kini panik karena ketidaksengajaannya. Belum sempat Mike mengucapkan maaf, Nata keburu menarik kerah seragamnya sambil menatap Mike tajam.
Otomatis Mike gemetar ketakutan. "M-maaf, Bang. Ng-nggak sengaja..."
Rea yang masih di dekat Nata pun menarik lepas kedua lengannya—yang terasa lebih besar dalam genggaman Rea—dari cengkeramannya di kerah Mike. Namun tatapan Nata masih menyorot Mike walaupun adik kelasnya itu berulangkali mengucapkan maaf sambil memohon-mohon.
"Udah, elah. Ntar gue yang cuciin seragam lo, beres," ucap Rea.
Nata meliriknya sebentar sebelum menatap Mike lagi tajam. "Tapi yang harusnya cuciin tuh dia."
"Iya, s-saya aj—"
"Biar gue aja," potong Rea kalem. Dan keliatan sekali kalau dia tengah membela adik sepupunya, tapi sampai kini belum ada yang mengetahui fakta satu itu.
"Lo belain nih anak? Dia siapa lo, sih?"
"Ck. Lagian dia juga nggak sengaja, kan? Kenapa lo emosian amat, sih? Tuh tolongin temen lo aja sana."
Nata menghela nafas. Iya juga. Kenapa dirinya emosi hanya karena seragamnya tidak sengaja terkena sedikit noda? Seisi kantin kini beralih menyorot lokasi Farel lagi yang tengah dibantu beberapa anak untuk bangun bersama motornya yang sedikit rusak di bagian depan begitu Nata mendekat juga ikut menolong.
"Thanks, Re," bisik Mike di sebelah Rea, seolah tak ingin ada yang melihat mereka.
Rea meliriknya sebentar. "Udah lo ke kelas sana," usir Rea, dan otomatis sepupunya itu mengambil langkah sedikit tergesa keluar kantin dengan segelas jus yang masih tersisa setengah karena setengahnya sempat mengenai seragam Nata.
Kepergian Mike kemudian menciptakan sorakan seisi kantin untuk Farel karena biang kerok satu itu telah membuat suasana kantin jadi rusak begitu Farel kini dirangkul Nata dan Diki menuju pintu keluar kantin. Laki-laki dengan lesung samar di pipi kirinya itu hanya cengar-cengir tak tahu malu.
•••
Motor sport merah yang Rea kenali siapa pemiliknya itu akhirnya ditemukan. Murid-murid baru saja berbondong-bondong keluar gedung sekolah akan pulang. Rea menendang-nendang motor merah itu dengan kesal seolah tengah menendang-nendang pemiliknya hingga melampiaskan segala kekesalannya pada si motor mumpung sedang tidak ada pemiliknya.
"Woi."
Begitu suara pemiliknya keluar, otomatis Rea menoleh tegang, mampus tertangkap basah.
"Lo apain motor gue?" tanya Nata setengah panik buru-buru mendekat dan mengecek kondisi motornya. Walaupun tidak ada yang lecet, tetap saja lelaki itu tidak terima dengan kelakuan Rea barusan, membuatnya menatap gadis itu sangsi.
"Gue lagi kesel sama orangnya!" Gadis itu bergegas menuju motornya tanpa menatap reaksi Nata selanjutnya. Sejurus kemudian, Rea memakai helm, dan mengeluarkan motor dari parkiran sebelum akhirnya tancap gas keluar area sekolah.
Motor yang Rea tumpangi direm sewaktu lampu merah di depan menyala. Tadi selama pelajaran berlangsung, gadis itu tidak pernah tidak meladeni Nata yang selalu mengajaknya ribut. Cowok itu suka sekali mengganggunya tidur. Ternyata di balik kejahilannya, Nata itu pelit banget kalau soal pelajaran.
Sekali Rea lirik, Nata sudah pasti langsung menutup bukunya rapat. Dan responsnya pun selalu sama, "Makanya, kalo punya otak, tuh, jangan dibuat pajangan doang. Dasar otak nggak berfungsi." Bagaimana Rea tidak merasa geram dikatakan begitu? Dan bahkan itu bukan hinaan terpedas Nata yang pertama kali, tapi untuk ke sekian kalinya hingga Rea kini merasa biasa saja mendengarnya, jadi tidak terlalu tersinggung.
Rea mendengus mengingatnya. Tepat sekali saat matanya melirik kaca spion kanan, di belakangnya persis adalah cowok yang baru saja dia dipikirkan. Lampu hijau menyala, Rea yang belum sadar pun terkejut begitu pengendara di belakangnya menyalakan klakson keras-keras. Dia mencebik kesal di balik helm full face sembari menjalankan motornya kembali.
Rea membiarkan Nata mengikutinya dari belakang—entah cowok itu memang sengaja mengikutinya, atau Reanya yang kepedean. Motor KLX itu akhirnya berhenti setengah jam kemudian di area parkiran restoran terdekat. Rea melepas helmnya hingga membuat rambutnya tergerai bebas di detik Nata juga memarkirkan motornya di area yang sama, hanya berjarak tiga motor dari motor yang Rea tumpangi.
Rea meliriknya malas. "Kayak nggak ada tempat lain aja, Mas? Harus banget ngikutin gue?"
Nata yang sudah melepas helm hendak turun itu otomatis tertawa. "Eh, lo nggak usah kegeeran sehariiii aja, bisa? Nih tempat juga umum. Bebas dong siapa aja boleh masuk, kecuali... kalau nih tempat milik nenek moyang lo."
Rea mengibas-ibaskan tangannya seakan tidak mau dengar apapun lagi dari mulut cowok itu. "Alah, udah deh, terserah lo."
Nata mendekat dengan raut tengilnya. "Cieee, ngarep banget gue temenin, yaaa? Kasihaaan. Jangan nangis, ya? Gue nggak bawa tisu soalnya." Rea keburu menepis lengan Nata begitu lelaki itu hendak akan menyentuh puncak rambutnya.
Puas mengejek dan menyadari raut terusik Rea, laki-laki itu akhirnya berlalu mendahuluinya masuk. Tapi baru dua langkah, Rea mulai meledak.
"SIAPA JUGA, SIH, YANG NANGIS?!" Baru saat jemari Rea terkepal hendak melayangkan pukulan ke tengkuk Nata saking geramnya, matanya tanpa sengaja menangkap siluet familiar dari dalam restoran.
Alis sebelah Nata terangkat saat berbalik, mendapati kepalan tinju Rea yang menggantung di udara tepat di depan wajahnya, sementara pemiliknya justru menengok ke arah lain, seolah sesuatu memaku tatapannya. "Kok berhenti?" Nata mengikuti arah pandangnya ke dalam, dan matanya langsung tertuju pada titik yang sama.
"Itu cowok lo, bukan?"
Rea tidak menjawab. Di sana terlihat ada Irfan yang tengah bersama wanita kemarin, lagi. Mereka terlihat sibuk seolah kesibukannya lebih penting daripada suasana hati anaknya hari ini. Nata mengikuti langkah Rea yang tergesa-gesa dari belakang masuk gedung restoran itu.
"Daddy."
Nata mengerutkan kening. Daddy? Lelaki itu tidak salah dengar, kan?
Irfan dan wanita itu sontak menoleh bersamaan. Irfan berdiri lebih dulu, sedikit terkejut karena kebetulan sekali bertemu anaknya di sini. "Rea? Kamu mau makan disini? Pas banget. Padahal nanti Daddy mau bawa pulang juga buat kamu." Pria itu melirik Nata terkejut, sebelum pemuda itu melempar senyum canggung ke arahnya. Irfan balas senyum ramah seperti biasa.
"Ayo silakan duduk, duduk."
Nata benar-benar tidak tahu kalau ternyata... pria yang pernah dia tolong bukanlah pacar Rea, melainkan Daddy-nya? Astaga, Nata jadi malu setengah mampus sudah menjelek-jelekkan ayah Rea ini di belakang bahwa mereka berpacaran, dan ditambah pernah juga berburuk sangka kalau selera Rea yaitu Om-Om tajir hingga menyangka gadis itu berniat memoroti hartanya, tapi ternyata dugaan Nata semuanya salah.
Satu ide tiba-tiba terlintas di otak, Rea memaksa senyum ramahnya. "Tante," sapanya, lalu dibalas satu anggukan ramah pula dari wanita itu. Dan Rea yakini wanita ini juga terpaksa.
Seorang pramusaji wanita datang mencatat pesanan dua remaja yang baru saja duduk bersebelahan. Rea dan Nata melihat-lihat menu pesanan.
"Ternyata kalian berdua saling kenal, ya? Rea kok nggak pernah cerita?"
Rea dan Nata saling tukar tatap sebentar sebelum si gadis lebih dulu menoleh bingung ke arah pertanyaan Irfan. Dia tidak mengerti, seolah ayahnya sudah kenal Nata dari lama.
"Ini sebenarnya anak yang Daddy maksud, Re. Yang pernah nolongin Daddy waktu hampir kerampokan hari itu tuh," lanjut Irfan begitu menyadari raut tanya putrinya, seolah bisa membaca pikirannya.
Rea cukup terkejut mendengarnya—tidak percaya. "Apa?"
"Daddy bahkan nggak nyangka kalo ternyata anak ini pacar kamu, toh?" Irfan menepuk bahu Nata bangga.
Lantas kedua mata Rea membulat sempurna dan langsung membalas, "Kita nggak pacaran! Dia cuma temen sebangku doang!"
"Oh?" Irfan menatap Nata lagi, terperangah. "Yang ranking satu? Yang sering kamu ceritain?"
Nata hanya menyengir, sementara Rea sudah menyembunyikan tatapannya, memijat pelipisnya tidak habis pikir dengan kelakuan Daddy-nya. Astaga, Rea malu sekali... di saat Daddy-nya blakblakan begini.
"Omong-omong... terima kasih, ya, Dek, pernah menolong saya hari itu? Saya bener-bener dibuat speechless sama kehebatan kamu ngelawan empat preman sekaligus." Irfan masih setia dengan senyum ramahnya, sebelum menepuk pundak Nata dua kali dan menurunkannya.
Pemuda itu menggaruk belakang telinganya guna mengusir kecanggungan. "Aduh...., Mas udah kebanyakan makasih, nih. Saya jadi nggak enak," cengir Nata lagi.
"Saya belum tahu, siapa nama kamu?"
"Nata, Mas."
Irfan tertawa saat Nata memanggilnya 'Mas' lagi-lagi untuk ke sekian kali. Memang dia terbiasa dengan panggilan itu, tapi rasanya aneh saja kalau yang memanggilnya adalah teman putrinya, walaupun pantas kalau disandingkan dengan wajah dan penampilan Irfan. "Nggak usah terlalu formal-formal, aja, lah. Ngalir aja, kali, ya, Nata? Kalo mau... kamu panggil saya Daddy juga nggak masalah, kok. Kan sebentar lagi kamu jadi menantu saya," ucapnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya jahil.
Nata tertawa persis saat Rea melempar tatapan rasanya ingin menenggelamkan kepalanya bersama Irfan saat itu juga sebelum mencebik, "Daddy ngomong apaan, sih?!"
"Daddy ngomong... sebentar lagi Daddy punya menant—"
"Ngaco, ih!"
Irfan dan Nata tertawa kompak, seolah puas melihat raut Rea yang tidak bisa tertebak, antara malu atau kesal.
Rea masih tidak percaya dengan fakta bahwa ternyata yang pernah diceritakan ayahnya—orang yang berbaik hati menolongnya dari preman-preman—adalah Nata?Rival abadinya? Rea yakin seratus persen, cowok itu pasti ada maksud terselubung di balik kebaikannya itu. Pasti ada apa-apanya, sangka Rea dalam hati. Tapi dia mau memikirkannya nanti lagi. Yang terlintas di otaknya saat kembali tersadar melihat Tante Ninda tengah mengelap mulutnya dengan tisu dengan gestur tenang dan gerakan elegan—adalah melancarkan aksinya. Gadis itu berdeham menarik perhatian seisi meja.
"Mohon maaf, Pak Irfan, bahas nanti lagi aja, ya, Pak? Emm... saya kayaknya harus pulang duluan," ucap Tante Ninda tiba-tiba setelah nenyisakan setengah makanannya di meja.
"Eh, tunggu, Tan," cegah Rea saat Tante Ninda hendak berdiri. "Hari ini, kan, Daddy lagi cuti? Tante juga, kan? Kok Tante sempat-sempatnya, sih, bisa bebas ketemuan gini sama Daddy? Berdua lagi. Nggak malu, yah, sama anak Tante? Emang suami Tante ke mana? Udah nggak ada?"
Pertanyaan terakhir yang kelewat tidak sopan dari Rea membuat Daddy mendelik ke arahnya. Nata tidak kalah terkejut mendengarnya. Pikirnya, berani sekali gadis ini di hadapan orang yang lebih dewasa berbicara ngawur seperti itu.
"Maafin Tante, ya, Rea. Sebenarnya ini proyek penting sekali. Jadi nggak bisa ditinggalkan," sahut Tante Ninda. Berusaha sebisa mungkin terlihat tenang walaupun dalam hati menahan kesal dengan tingkah anak itu. "Walaupun cuti beberapa hari, masih tetap dikasih pekerjaan. Ya, kan, Pak Irfan?" Wanita itu meminta persetujuan Irfan membuat putrinya terang-terangan menampakkan raut tidak suka.
"Ya terus, kenapa harus berdua?" tanya Rea jutek. "Awas, Tan, masuk angin. Tuh pakaian Tante kurang bahan kayaknya."
Mendengar itu, Nata mengalihkan pandang—menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat kalau dia tengah menahan tawa sementara Irfan hanya geleng-geleng kepala.
Memang benar, dress merah di atas lutut yang Tante Ninda kenakan itu seperti kurang bahan karena kedua lengan atasnya terekspos. Walaupun begitu, pakaian itu keliatan mahal membuat sang pemakai terlihat anggun.
Tante Ninda diam-diam menahan urat malunya, mengepalkan kedua tangan di bawah meja penuh emosi, tapi wanita itu harus sabar, seberusaha mungkin menampilkan senyum manisnya. Kalau tidak ada Irfan di sini, Tante Ninda jelas tidak akan bersikap selembut ini. "Karena, kan, sudah seharusnya menjadi tugas Tante sebagai sekretaris Papa kamu, Rea." Begitu jawabannya tanpa menanggapi singgungan Rea yang ke dua.
"Udah, udah. Rea," putus Irfan yang merasa malu dengan Ninda karena kelakuan putrinya. "Habisin semua makanannya, ya? Nanti kalo kamu mau keluar jangan malem-malem pulangnya, oke?"
Kini diam-diam Rea menggertakkan gigi saat menatap Tante Ninda tidak bersahabat. Sebuah tangan kekar menyentuh kepalan tangan Rea hangat, menggenggamnya, membuat Rea merenggangkan kepalan itu dan menoleh. Lupa kalau masih ada Nata di sampingnya. Cowok itu seperti obat penawar, mampu meredakan kekesalannya sekarang. Seolah Rea tengah membaca pikiran cowok itu lewat mata begitu tatapan keduanya bertemu.
Lalu tidak lama kemudian, keadaan meja itu menjadi hening karena keempatnya sibuk menyantap makanan masing-masing. Sesekali Irfan melempar pertanyaan kepada Tante Ninda yang bersangkutan dengan pekerjaan. Tante Ninda selalu menjawab dengan wajah yang menyebalkan bagi Rea; wajah yang dibuat semanis mungkin, seolah bisa menyihir pria mana saja.
"Mau nambah lagi nggak, Tante?"
"Oh, nggak us—"
"MBAK, DAGINGNYA NAMBAH DUA PIRING!" teriak Rea seenaknya mengangkat kelima jemari ke seorang pramusaji tanpa menunggu respons lanjutan Tante Ninda.
Wanita itu mencuri pandang ke arah Irfan, seolah mencari bantuan lewat sorot matanya. Namun nihil, Irfan sedari tadi asyik memakan makanannya—alias tidak peka. Bahkan menoleh sedikit ke arahnya saja tidak. Memuakkan.
"Tenang, Tante, udah aku pesenin lagi, kok," kata Rea dengan senyum dibuat selebar mungkin. "Yang bayar Daddy, kan, Dad?"
Daddy mengangguk sambil menggigiti dua burger. Bisa dibilang di restoran itu sedang ada promo. Itulah yang membuat meja itu dipenuhi oleh banyak makanan. Yang pasti, tentu saja, yang paling banyak memesan adalah Rea dan ayahnya. Karena mungkin bisa dibilang, Nata dan Tante Ninda seperti tamu mereka.
"Nat, kalo mau nambah lagi nggak apa-apa. Uang Daddy mah banyak. Tinggal porotin," sindir Rea santai sambil melirik Tante Ninda sinis. "Ohhh, udah biasa diporotin, kan, Dad, sama sekretarisnya Daddy?"
Sindiran-sindiran pedas Rea begitu menusuk uluh hati Tante Ninda. Bahkan Nata saja hanya diam sedari tadi, tidak ingin ikut campur karena bingung ingin membela siapa, kronologi ceritanya saja tidak tahu dan bahkan tidak tahu alasan kenapa Rea sedari tadi tampak membenci wanita itu. Jadi cowok itu hanya menoleh dan hanya balas tersenyum sambil menyantap makanannya santai.
"Saya pamit dulu." Tante Ninda berdiri selang beberapa detik kemudian, membuat alis sebelah Rea naik.
Irfan ikut berdiri. "Saya anterin, Nda."
"Biar Rea aja yang pesenin taksi buat Tante." Rea mengambil ponselnya dari saku jaket hendak memesan grab.
"Tapi, kan, tadi bareng Daddy, Re..."
"Nggak apa-apa, daripada merepotkan kalian, saya pamit dulu. Nggak perlu dipesenin, Rea, Tante bisa pesen sendiri," ucap Tante Ninda, lalu beralih menatap Irfan. "Terima kasih banyak, Pak. Permisi."
Irfan mengangguk, bersamaan saat Ninda pergi. Dan Rea memutar bola matanya malas. Lalu diam-diam menyunggingkan senyum puas, akhirnya rencananya berjalan dengan mulus.