• 5 | Kunci Motor

1943 Words
"Budeee Mik, saya es jeruk peras satu, ya," pesan Rea saat sampai di stan seorang ibu penjual beberapa jajanan yang sudah seminggu menjadi langganan, biasa di panggil Bude Sumik oleh warga sekolah. Ibu-ibu yang sudah beruban itu mengangkat jempol dari balik stan. Tak lama kemudian, segelas es berwarna oranye ditaruh di atas etalase kecil yang berisi beberapa jajanan murah harga seribuan. Setelah membayar dan mengambilnya, Rea berniat kembali ke bangku panjang yang sudah ditempati kedua sahabatnya. Tampak mereka cekikikan sambil menikmati cemilan masing-masing. Entah apa yang dibicarakan, Rea sepertinya ketinggalan zaman. Tanpa sengaja, saat melangkah, kaki jenjang gadis itu tersandung oleh tali sepatunya sendiri yang tidak terikat sebelah. Sontak isi es yang dibawanya setengah tumpah hingga mengenai wajah seseorang yang melintas. Cowok itu lantas memejamkan mata bersama langkahnya yang dihentikan, merasakan wajahnya terasa dingin. Air jeruk turun mengaliri kemeja putihnya. Mata Rea membulat sempurna bersama mulutnya yang terbuka lebar, sebelum dibekap oleh kedua tangannya sendiri. Banyak pasang mata yang tak kalah terkejut melihat kejadian itu hingga kantin mendadak hening sejenak. Gelas plastik berisi es jeruk yang masih utuh—sama sekali belum diminum itu juga sedikit mengotori lantai. Lelaki itu mengeraskan rahangnya saat menatap gadis yang sudah tidak asing lagi di depannya persis seperti menahan amarah. "Gue nggak sengaja," ucap Rea tanpa menoleh. "Sorry." Pandangannya menatap ke sekitar. Seolah menghindari tatapan laki-laki yang mungkin sebentar lagi akan meledak itu. "Ngomong tuh tatap orangnya langsung. Bukan malah natap lantai. Emang tuh lantai bisa ngomong, apa? Tuh lantai sama gue juga gantengan gue, kali." Mendengar kalimat terakhir cowok itu, otomatis kepala Rea diangkat. Mata keduanya bertemu beberapa saat. "Gue minta maaf, Natarel," ulang Rea kalem, sebelum kembali sedikit tidak ikhlas. "Puas lo? Minggir." Rea mendorong d**a Nata menyingkir walaupun dia memilih jalur jalan lain untuk kabur. Pemuda itu bergegas melepas kancingnya dari kancing teratas yang sudah terbuka dua dengan gerakan tergesa-gesa. Membuat para cewek seisi kantin yang menyaksikan langsung memekik heboh. "Woi." Begitu suara Nata keluar lagi, Rea menghentikan langkah, dan berbalik. Rea tersentak karena Nata tiba-tiba melemparinya kemeja setengah basah tadi dan dengan sigap cewek itu menangkapnya. "Cuci." Mulut Rea setengah terbuka sewaktu menyadari Nata tanpa seragam, hanya menyisakan kaos oblong hitam polos sedikit sempit hingga membentuk lekukan tubuhnya yang atletis. "Kenapa? Nggak mau?" Rea mengerjap dua kali. Gadis itu masih belum mau membalas. "Mau HP lo balik, kan? Kalo enggak, yaudah. Nggak usah dicuci." Tanpa repot-repot menunggu responnya, Nata segera melengos pergi dari kantin. Nggak usah dicuci, katanya? Lantas buat apa dia melemparnya kepada Rea? Di detik sosok itu sudah menghilang, terdengar suara pekikan histeris lagi dari luar kantin. Mata Rea menurun, menatap seragam OSIS tanpa atribut yang kusut dan bernoda. Pemiliknya meninggalkan jejak air es di ujung sepatu Rea yang talinya masih belum terikat, juga menyisakan jejak sepatu yang basah menambah kekotoran lantai. Merasa masih menjadi pusat perhatian, Rea menelan salivanya, sebelum pergi keluar kantin juga, berniat membersihkan seragam itu di kamar mandi. "Gila, ya? Rea bermasalah banget sama Nata. Tuh cowok pasti nggak bakalan tinggal diem hari ini doang. Kita harus jagain Rea, Rin. Dia kayaknya dalam bahaya." "Ck. Biarin." Zara melotot. "Enak banget lo ngomong gitu?" Karin menghela nafas tenang. "Nata nggak mungkin kali sakitin cewek. Palingan juga ngomel-ngomel doang. Lagian tadi Rea salahnya nggak sengaja, kan? Kalo sengaja pun, kita juga jangan ikut campur. Lo tenang aja. Gue kenal mereka, kok, walaupun mereka baru saling kenal." "Gue jamin mereka jodoh." Zara menggerakkan tangan berlagak seolah sedang meramal ke pintu masuk kantin yang baru saja melenyapkan punggung Rea. "Siapa?" "Siapa lagi? Rea sama Nata, lah." Tawa Zara dan Karin meledak. ••• "Mana-baju-gue." Rea tidak mau tahu dengan tiga kalimat membentuk suku kata yang keluar dari mulut Nata itu kalimat tanya, atau kalimat seperti hendak menagih tagihan listrik. Mungkin kesempatan satu ini bisa dia gunakan agar ponselnya kembali. "Mana dulu HP gue?" Rea menagih balik. Senyum kemenangan, Rea pendam dalam hati. Alis sebelah Nata terangkat sewaktu bergantian menatap telapak tangan yang diulurkan dan yang mengulurkan. "Lo nyari kesempatan?" Rea tidak menatap cowok di depannya sewaktu membalas, "Ya kalo lo nggak mau seragam lo balik, sih, yaudah," ucapnya santai. Tanpa bertanya, Nata tahu kalau Rea sedang mencari kesempatan di kalimat ancamannya. "Lo pikir gue mau ngembaliin ponsel lo dulu sebelum lo ngembaliin seragam gue?" Laki-laki itu mendengus. "Gitu cara lo? Murahan." Akhirnya kalimat itu berhasil membuat Rea menoleh dan mendelik tidak terima. Tatap keduanya bertemu, seolah ada api yang saling bertabrakan, lagi. Satu ide gila tiba-tiba saja terlintas beberapa detik di otak Rea. Matanya melirik salah satu saku celana abu Nata yang menampakkan sedikit gantungan kunci. Kunci motor. Kemudian, selanjutnya adalah kabur setelah Rea berhasil merampas kunci motor Nata dalam satu gerakan cepat. Laki-laki itu baru tersadar dua detik berikutnya setelah meraba saku—tidak ada kuncinya, yang berarti dirampas. Tidak ingin tinggal diam, Nata akhirnya mengejar gadis itu setengah panik. Cewek nekat ini mungkin saja bisa melakukan berbagai cara agar barang kesayangannya kembali. Dan yang pasti, bisa saja Rea melakukan hal nekat lain termasuk membuat pelaku yang mengganggunya menderita. Seperti Nata. Mereka sampai di rooftop. Nafas Rea terengah-engah, tapi Nata tidak. Laki-laki itu mendekat ingin merebut kembali kunci motornya. Rea menghindar dan menyembunyikan kunci itu di belakang pinggang. Sewaktu sampai di dekat palang pembatas atap, cewek itu mengangkat kunci motor ke udara persis kalau kunci itu dilepaskan, kemungkinan pasti bisa jatuh ke bawah—atau kalau Rea melempar jauh ke depannya akan terlempar jauh entah ke mana. "Gue lempar." "Coba kalo berani." Bukannya takut, Nata justru makin merasa tertantang. Dan hal itu sama sekali bukan misi Rea untuk mendapatkan ponselnya kembali. "Berani nggak?" tanya Nata dengan nada meremehkan. "Nggak berani, kan? Lo pikir gue bodoh?" Laki-laki itu mempertipis jarak. Rea menelan ludah. Tatap keduanya lagi-lagi bertemu dalam jarak dekat. "Kalo lo lempar, mana mungkin gue ngembaliin ponsel lo, kan? Jadi itu cuma ancaman lo doang, kan?" Nata mendekatkan wajahnya. Untuk sesaat, nafas Rea tertahan. Sejurus kemudian, gadis itu akhirnya sadar bahwa dia ditipu oleh tatapan sihir Nata ketika Nata berhasil mengambil kunci motornya balik, dan kabur. Sial. ••• "Lo mau bawa gue kemana, sih? Mau culik gue, ya?!" Yang terlintas dalam benak Rea sekarang adalah keselamatan nyawanya. Jadi dia terpaksa melingkarkan lengannya erat ke sekeliling pinggang Nata begitu lelaki itu ugal-ugalan mengendarai motornya. Mungkin cewek-cewek sebelumnya yang pernah dibonceng Nata, tidak ada yang sebawel Rea saat dibonceng ngebut ugal-ugalan dan bisa merenggangkan nyawa karena Nata tidak ragu menyelip truk yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. "Coba kasih tahu, apa keuntungannya gue nyulik lo?" Rea tidak menjawab. "Please, deh! Gue, kan, udah minta maaf sama lo! Masa lo tega mau bikin gue mati muda?!" Kedua bola mata Rea membulat sewaktu gang jalan rumahnya kelewat. "WOI, JALAN RUMAH GUE KELEWAT! ITU TUH—ARRRGHHH! SIALAN, KALO MAU MATI JANGAN NGAJAK-NGAJAK—ARRRGHHH, WOI, PELAN-PELAN!!" Gadis itu panik setengah mampus saat Nata menambah lajuan motornya. Dia mengguncang brutal kedua bahu Nata. Nata tidak memedulikan Rea yang menggoyang-goyangkan helm full face-nya brutal hingga kepalanya pening dan kefokusannya dalam berkendara terganggu. Tapi bukannya menurut memelankan lajuanya, cowok itu justru menambah kecepatan. Lalu tersenyum penuh kemenangan di balik helm begitu menyadari kepanikan Rea makin bertambah dan pegangannya pada pinggang mengerat. Awalnya, Rea kira Nata bakal mengantarnya sampai rumah, tapi ternyata justru mereka sampai di sport center setengah jam kemudian. Nata melepas helm begitu motor terhenti di parkiran, sebelum melirik jahil belakangnya. "Udah, meluknya?" Refleks Rea menarik kedua tangannya dengan nafas memburu. "GILA LO! SENGAJA, YA?!" Nata hanya membalas dengan cengiran. Dahi Rea berkerut menatap area sekitar. "Ngapain ke sini?" "Katanya mau ngelakuin satu syarat dari gue biar HP lo balik? Yaudah, tungguin gue di sini sampe selesai." Laki-laki itu menurunkan standar motor, menggantung helm di spion, dan turun. "Gue mau futsal. Tuh, udah pada nungguin kaptennya." Mata Rea mengikuti arah telunjuk Nata yang menunjuk teman-temannya sebentar. Benar, sudah ada ramai para cowok menunggu. Nata melempar ransel seenaknya kepada Rea, untung gadis itu dengan sigap menangkapnya walaupun sedikit tidak siap. Alis sebelah Nata terangkat. "Lo nggak mau turun?" Rea menyumpah serapahi Nata dalam hati, dan semoga saja ini yang terakhir kali. Kalau bukan karena barang berharganya, Rea tidak akan mau diajak satu motor dengan cowok itu. Berbeda kalau dibawa pulang, atau minimal ditraktir ke restoran mahal. Padahal dalam imajinasinya, gadis itu akan seperti di drama-drama, diculik, pingsan, sadar-sadar sudah ada di tempat mewah dan didandani secantik mungkin, lalu ditawari barang-barang mewah atau makanan apa saja sesuai keinginan. Lalu diajak pangeran ke sebuah pesta—oke, stop norak dan berekspektasi tinggi kalau pada akhirnya jatuh sendiri. Gadis itu melepas helm yang dikhususkan untuk penumpang oleh Nata persis saat laki-laki itu membuka jaket, lalu kaosnya. Otomatis mata Rea yang meliriknya seketika panik fase awal—tapi, ternyata laki-laki itu memakai kaos lagi di dalamnya. Kaos tipis tanpa lengan. Lelaki itu sudah menggantinya di sekolah sebelum mengajak Rea ke sini. Baru saat Nata membuka ritsleting celana abunya, kedua mata Rea otomatis ditutup dengan kedua telapak tangannya. Nata yang meliriknya pun menahan tawa. Ternyata, laki-laki itu memakai celana lagi di dalamnya. Sinting, kan? "Otak lo udah nggak suci kayaknya. Perlu gue cuciin nggak?" Gadis itu meliriknya tajam setelah tersadar dan menurunkan tangan. "Nggak. Terima kasih atas tawarannya." Nata tersenyum sambil menarik celananya sampai lepas. "Awas kalo lama," tuding Rea sambil melipat kedua lengannya di d**a. Nata melempari Rea lagi dengan celana dan kaos, serta mengalungkan dasinya yang sudah diikat rapi ke leher Rea. Entah sejak kapan cowok itu membawa dasi tanpa pernah memakainya. Gadis itu hanya mengernyit jijik dan berlagak muntah sewaktu mengangkat celana Nata di depan dengan kedua jari. "Jorok banget, sih, lo?" Kaos oblong dan celana itu lalu dilempar ke atas jok belakang motor Nata. Nata geleng-geleng. "Andrea... Andrea. Padahal, banyak cewek ngantre pengen nyium bekas keringat gue, justru lo doang nih yang jijik." Nata benar, baru kali ini ada yang menolak bekas Nata mentah-mentah. Padahal di sekolah banyak gadis yang sering menawarkan diri untuk mengelap keringatnya, atau membawakan air setelah olahraga, tapi Nata menolak semua. Lokernya pun terdapat banyak buket-buket, setangkai bunga, cokelat, surat-surat cinta murahan yang menurutnya tidak penting. Namun tidak ada yang terang-terangan mengakui perasaannya langsung karena masih sayang nyawa. "Inget, HP lo nggak bakal balik kalo lo kabur." Laki-laki itu berkedip sebelah ke arah Rea genit sebelum melambaikan tangan seiring larinya menuju teman-temannya yang sudah banyak berkumpul dengan senyum puas. Rea dijadikan asisten penjaga barang-barangnya. Dengan berat hati menerima pasrah demi mendapatkan ponselnya kembali. "Punya mantra apa lo, Nat, sampe bisa bikin tuh cewek takluk?" Tawa ledekan Jacky meledak diikuti tawa yang lainnya. Senyum Nata terangkat sebelah, sinis. "Jaminan ada di HP-nya." "Lah, belum lo balikin?" Ryan yang merangkul bahu Jacky ikut menimpali. "Kayaknya ada yang bikin Nata tertarik ke tuh cewek. Yaa, nggaaak, siiih?" Laki-laki dengan lesung samar di pipi kirinya itu melirik jahil teman-temannya menggoda Nata. Yang lain bersiul dan saling tertawa meledek. "Lumayanlah tuh cewek. Bening, man." "Kalo gue di posisinya Nata udah gue sikat langsung, coi." "Kalo diliat-liat dari jauh, sih... iya, emang nggak kalah cantik sama mantan-mantan lo tuh, bro." "Wah, bisa dong lo manfaatin juga? Ye, nggak?" "Udah, udah, jadi sparing nggak, nih?" Nata memilih tidak merespons ledekan-ledekan konyol teman-temannya yang lain. Akhirnya dia bersama teman-temannya ikut bergabung untuk sparing dengan para cowok futsal dari SMA lain yang juga teman mereka. Sementara Rea duduk di tribun penonton yang sepi. Hanya ada dirinya dengan ditemani dua ransel yang dirangkul dan ditenteng berat. Perutnya keroncongan, dia menatap tengah lapangan, permainan sudah dimulai. Beberapa menit berikutnya, mata Rea semakin memberat untuk terjaga saat menonton permainan futsal itu sendirian dan berakhir terlelap dengan posisi; tempat duduk dijadikan sebagai tempat tidur, ranselnya dijadikan bantal, dan terakhir, ransel Nata dijadikan guling.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD