Sebuah Gengsi

1054 Words

Rea mendengus kesal, kedua tangannya menggenggam erat setir mobil yang dingin, mencoba menyalurkan emosi yang mendidih dalam dirinya. Ponselnya masih tergeletak di kursi penumpang, bergetar keras setiap kali panggilan masuk. Setelah sekian lama ia biarkan, akhirnya dengan gerakan berat ia meraih ponsel itu dan menekan tombol hijau. “APA YANG KAU LAKUKAN DARI TADI!” teriak suara melengking Nyonya Nara, nyaris membuat gendang telinga Rea pecah. Perempuan itu bahkan tak memberi jeda, seakan lupa bahwa Rea yang ia hadapi sekarang bukanlah Rea yang dulu—bukan lagi gadis yang bisa ia bentak sesuka hati. “Aku sudah menelponmu hampir lima puluh kali! Kenapa baru kau jawab sekarang?!” suara Nyonya Nara masih meninggi, penuh emosi. Rea menarik napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak langs

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD