Apa Kabar Kamu, Sayang

1580 Words
Telah lama kami tidak bertemu Tak pernah kudengar berita tentangmu Apa kabar kamu, Sayang?  Apa kabar kamu, Sayang? Aku bisa terus mendoakanmu walau tak kudengar berita tentangmu Apa kabar kamu, Sayang?  Apa kabar kamu, di sana? Armada-Apa Kabar Kamu Sayang .  .  . "Mas ... Mas Hazmi kenapa?" tanya Dokter Ridho ragu sekaligus cemas, melihatku tersungkur di sudut ruang operasi. Aku menggeleng pelan, melepaskan liur untuk membasahi tenggorokan keringku. "Keluarga pasien sudah menunggu Dokter." Seorang perawat persetujuan kami. Aku menatap Dokter Ridho. Memberi kode lewat anggukan dagu. Juniorku cepat tanggap, ia segera pergi tugasku untuk menjelaskan persyaratan pasien Aku bersyukur Dokter Ridho yang begitu mengerti ada di sisiku saat seperti ini. Sebenarnya ia ke sini hanya untuk mengantarkanku yang dipindahtugaskan. Dokter Ridho pulang kemarin sore, tetapi karena akses jalan ditutup, ia menerima kepulangannya. Masih kuingat dengan baik, enam bulan yang lalu. Saat kondisiku terpuruk oleh kecelakaan dan kepergian Shinta, Dokter Ridho adalah salah satu residen junior yang setia mendampingiku. Ia banyak menolongku dan menjadi tempat persembunyianku. Satu hal yang kusuka darinya, ia tak banyak bertanya. Tak perlu penjelasan. Dokter Ridho akan mendengar jika saya bercerita. Dan tetap diam di sisiku saat aku belum siap membuka suara. Sementara kompilasi semua orang memaksaku percaya bahwa Shinta sudah tiada, Dokter Ridho satu-satunya orang yang menerima keyakinanku. Aku yakin terima orang-orang salah. Mereka pasti menang. Shinta tidak mati. Ia hanya bersembunyi di suatu tempat. Shinta tidak mungkin mencurangiku. Ia tidak mungkin pergi meninggalkan diriku dengan luka separah ini. "Aku balik dulu, Mas," pamit Dokter Ridho sambil menepuk bahuku. Kepalaku mengangguk, senyum tipis kuhamparkan. "Terima kasih banyak atas bantuannya," lirihku setulus hati. Beberapa saat setelah dokter Ridho berlalu, aku berdiri. Berjalan dengan langkah terhuyung. Lututku seperti tak bertempurung. Lemas. Energiku benar-benar terkuras. Sesekali kutumpuhkan tanganku pada dinding lorong rumah sakit. Dinding yang kuyakini lebih banyak mendengar doa paling ikhlas, daripada dinding rumah ibadah. Aku tersenyum getir sambil menyeka wajah. Akhirnya aku mengerti mengapa ayah mengirimku ke sini. Beliau sengaja menempatkanku di rumah sakit daerah yang kekurangan dokter bedah, agar aku mau memegang pisau bedahku lagi. Bagi sebagian dokter residen di-rolling ke kabupaten atau ke rumah sakit jaringan di daerah, adalah masa yang paling dinantikan. Di sini kami lebih dihargai sebagai dokter spesialis. Bahkan ilmu kami pun lebih bermanfaat. Selain itu, para residen yang ditugaskan ke daerah juga mendapat gaji, meskipun tidak penuh. Jauh berbeda dengan apa yang kami alami saat berada di rumah sakit pendidikan. Para residen seperti bebek, tenaganya diperah tanpa upah. Bahkan karena sangat banyak peserta PPDS, tak jarang kami berebut pasien untuk memenuhi tugas. Jam di dinding ruang perawat menunjukkan jarum yang bergerak menuju angka empat. Kuputuskan untuk kembali ke ruanganku. Oh iya. Rumah sakit ini menyediakan kamar pribadi untukku. Meskipun tidak terlalu besar, namun kamar yang dilengkapi kamar mandi dalam ini lebih homey daripada kamar residen di rumah sakit pendidikan. Di sana, kami diberi ruangan dengan satu ranjang bertingkat, sementara peserta PPDS lebih dari enam. Bisa dibayangkan bagimana cara kami istirahat di sana. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, perutku terasa lapar. Dari bingkai kecil jendela yang tingginya lebih 30 sentimeter di atas kepalaku, dapat kulihat hujan masih setia mengguyur kota ini. Aku malas keluar, tapi aku yakin tak bisa bertahan tanpa makanan. Ruanganku ternyata dekat dengan pintu belakang rumah sakit. Setelah berjalan ke depan beberapa puluh meter lalu belok kanan, aku menemukan pintu kecil. Lebih dekat daripada aku harus berjalan ke IGD untuk menuju pintu masuk depan. "Dokter Hazmi," sapa Dokter Lendra ramah, ketika aku membuka kembali dari observasi lingkungan. Dokter Lendra adalah kepala IGD di rumah sakit. Terus terang aku baru bertemu beliau dua kali selama tiga hari tiba di Probolinggo. Dokter Lendra menepuk bahuku kemudian melempar senyum lebarnya. "Saya sudah mendengar kehebatanmu. Bahkan di hari pertama kerja, kamu mencetak score dengan melakukan sebuah operasi besar. Bravo," puji Dokter Lendra terdengar berlebihan di telingaku. "Saya tidak sehebat itu, Pak." Aku merendahkan diri sesopan mungkin. "Yah, seperti inilah penyakit padi yang berisi, selalu merunduk." Perkataan Dokter Lendra hanya kutimpali dengan senyum kecil. "Dokter Hazmi suka kopi? Kebetulan di samping rumah sakit ini baru saja dibuka kafe keren, seperti kafe yang ada di kota-kota. Yuk, saya traktir kopi, itung-itung penyambutan pribadi dari saya." Tawaran yang sulit ditolak. Bukan karena kopinya, tapi karena orang yang mengajakku ini adalah orang yang akan menentukan kemaslahatan hidupku selama bertugas di rumah sakit ini. Kepalaku mengangguk setuju, kami berjalan bersama menuju tempat yang Dokter Lendra bicarakan. Sebuah bangunan baru di antara ruko-ruko lama, menyambut kedatangan kami. Ada papan nama bertuliskan "Pabrik Kafe" berwarna putih, menjuntai indah di sisi depan atapnya. "Nama yang unik, bukan?" tanya Dokter Lendra yang tampak antusias. Aku mengangguk sebagai jawaban, terus terang tempat seperti ini yang kucari. Tanpa ragu aku melangkahkan kaki, mengekori langkah Dokter Lendra memasuki kafe tersebut. "Selamat datang," sapa seorang pelayan yang sedang mengelap kaca, ramah. Interior kafe sepertinya mengusung konsep minimalis. Ruangan yang tampak asri karena adanya tanaman hidup di beberapa sudut. Bingkai berisi gambar yang tertempel pada dinding lumayan memanjakan mata. Lantainya terbuat dari susunan kayu unik memberi kesan hangat. Paling aku sukai, bagian depan kafe ditutup dengan kaca transparan, sehingga kami bisa melihat ramainya jalanan sembari menyesap kopi. "Ternyata di daerah ada juga tempat sebagus ini, ya?" Komentarku menuai anggukan mantap dari Dokter Lendra. "Kafe ini baru buka dan satu-satunya di kecamatan sini. Tempatnya mewah, nyaman, ada internet gratis. Juga...," dokter Lendra menurunkan volume suaranya sambil memberi kode lewat kerdipan mata, "ada barista yang cantik." Aku tertawa geli menyaksikan tingkah genit beliau. Sementara Dokter Lendra mengguncang bel lonceng yang ada di meja kasir. Seseorang muncul dari balik sekat. "Silakan, mau pesan apa?" sambutnya ramah dengan wajah yang seolah berpendar terang di mataku. Ya Tuhan. Tubuh mungil kurus dibalut kaus hitam dan celana jeans terang, sangat kasual. Rambut ikalnya sebahu. Mata bulat dengan pupil yang besar menyorotkan pandangan penuh binar. Senyum lebarnya yang tulus, semakin membuat tubuhku gemetar. Wajah itu.... Aku tergeming sesaat. Mencoba meyakinkan apa yang baru saja netraku tangkap. Aku mengucek mata dengan punggung jari telunjukku. Sekali lagi. Beberapa kali, hingga Dokter Lendra menatapku aneh. Tak kuhiraukan tatapan anehnya, karena apa yang kulihat saat ini jauh lebih aneh dari apapun. Aku menatapnya lagi. Lekat-lekat. Semakin lekat. Ya Tuhan, mata itu, tulang pipi itu, hidung itu, bahkan bibirnya? Bagaimana mungkin? Aku masih khusyuk dalam keterkejutan. Takjubku tak sanggup dijelaskan dengan kata-kata. Wajah itu, Engkau mengizinkanku melihat lagi wajah itu, Tuhan? Apakah ini ganjaran karena aku tidak lari dari operasi tadi? "Shinta?" lirihku masih dengan tatapan tak teralihkan ke wajahnya. Barista itu sepertinya bingung dengan perilakuku. Dokter Lendra sempat menyikut siku lenganku, sementara si barista mirip Shinta menyodorkan buku menu ke hadapanku. "Emm ... maaf, Mas. Di sini tidak menjual kopi Shinta, adanya Espresso, Ristretto, Cafe late, Cappuccino---" "Kami bisa baca buku menu kok, Mbak," potong Dokter Lendra seraya mengangkat tangannya. Dokter Lendra bertanya, kopi apa yang ingin kupesan, tapi karena tidak mendapat jawaban dariku yang terus mematung. Akhirnya beliau memesankan minuman yang sama dengannya untukku. Sementara aku tetap mematung, memerhatikan barista itu meracik dua cup double shot espresso dengan apiknya. Tak kusangka Dokter Lendra akan menyeretku ke salah satu kursi, agar aku berhenti menguliti perempuan di hadapan kami dengan tatapanku. "Di Jakarta enggak ada ya, yang seperti ini?" ledek Dokter Lendra hanya kubalas gelengan ringan. "Wahh, pantas saja Dokter Hazmi kesambet." Tidak kupedulikan celotehnya, perhatianku tak lepas sedikit pun dari barista yang sungguh menyerupai Shinta. "Tolong panggil Hazmi saja kalau di luar rumah sakit." Aku meminta Dokter Lendra berhenti memanggilku Dokter, panggilan itu membuatku terbebani. "Saya baru dengar dari Dokter Tan, kalau kamu cucu Dokter Adnan." "Ah, tolong perlakukan saya sama seperti yang lain." Dokter Lendra terkekeh sejenak. "Ooo, itu sudah jelas. Jangan khawatir, Hazmi. Mau kamu cucu Dokter Adnan, mau kamu cucu Jokowi, saya pasti memperlakukan kamu seperti yang lain. Kecuali di luar urusan pekerjaan, hehe." Aku hanya tersenyum tipis untuk menghargai dokter Lendra. Sepanjang obrolan santai kami, hanya sesekali aku memandang wajah beliau. Tidak sopan, mungkin itulah yang beliau pikirkan tentangku. Atau mungkin beliau akan menganggapku sedang kena pelet barista kafe ini. Terserahlah. "Nak Hazmi sudah punya pacar atau istri?" tanya dokter Lendra sambil membenarkan kaca matanya. Aku sedikit terkejut. Arah pembicaraan ini pasti perjodohan. "Saya sudah punya calon, Pak," jawabku mantap. "Oh sudah punya calon. Wajar sih, mustahil banget pria ganteng, gagah, dan cerdas sepertimu masih sendiri." Dokter Lendra mengolok halus. Jempol tangan kanannya mengurut dagu dengan brewok tipis. "Kalau sudah ada calon, mbok ya jangan pecicilannya." Astaga. Kepala IGD satu ini julid banget. Rupanya dia mengamatiku yang terus menerus memperhatikan barista kafe. "Residen bedah memang terkenal playboy dan mata keranjang. Saya tidak heran kalau ka-" "Anda salah paham, Pak!" "Haha, sudahlah. Saya harus menarik paksa kamu, biar bola matamu tidak lompat dari katupnya." Jujur saja, sampai sesi ngopi kami hampir berakhir, aku masih belum rela melepaskan pandanganku darinya. Dokter Lendra sampai menarik paksa lenganku, supaya aku mau keluar dari kafe tersebut. Saat akan keluar, aku dan dokter Lendra berpapasan dengan barista yang memiliki wajah mirip Shinta. "Ehhh, maaf. Boleh tahu siapa nama kamu?" Pertanyaanku mencelos begitu saja. Dia menatapku sengit untuk sesaat. Seperti tidak suka. "Tolong beritahu nama Anda, Nona. Biar sejawat saya bisa tidur nyenyak malam ini," canda dokter Lendra membuat wajah kaku gadis itu sedikit melunak. "Arum." Ia menjawab singkat kemudian berlalu. Ah, namanya Arum. Apa mungkin Shinta kehilangan ingatan sehingga mengidentifikasi dirinya sebagai Arum? Atau jangan-jangan Arum ini saudara kembar identik Shinta? Ah tidak mungkin. Entahlah, aku harus mencari tahu. Jujur saja, pertemuanku dengan sosok Arum membuatku bahagia sekaligus bingung. Kamu di mana Shinta? Apa kabar kamu, Sayang? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD