Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.
Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.
Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin.
“Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”
“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua.
"Ayo kita makan. Kamu pasti lapar.” Ardito menggeser satu piring berisi steak yang baru saja dihidangkan ke atas meja mereka.
Seperti robot yang hanya menuruti perintah tuannya, Milea mengambil pisau dan garpu lalu mulai memotong lebih kecil daging tebal di atas piring. Dengan tatapan kosong, Milea mengisi perut.
Sampai akhirnya para tamu undangan meninggalkan tempat acara, Milea masih seperti orang linglung. Milea masih belum bisa mencerna nasib apa yang menimpanya. Dia belum tahu hidup seperti apa yang sudah menantinya di depan.
“Sebenarnya aku ingin menikmati malam ini bersamamu. Tapi sayangnya, aku harus berangkat ke Hongkong.”
Milea yang sedang duduk melamun di ruang tengah itu menoleh. Sudah tidak ada gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Berganti dengan dres panjang berwarna putih yang disiapkan oleh asisten rumah Ardito.
Milea menatap Ardito yang sedang berjalan ke arahnya. Pria itu baru selesai mandi. Wajahnya tampak segar dan rambutnya masih setengah basah. Tubuh pria itu berbalut kemeja lengan panjang dan celana panjang bahan. Keduanya berwarna hitam.
Milea terdiam ketika Ardito menghampirinya, membungkuk lalu mengecup puncak kepalanya. Wanita itu menahan napas. Milea masih tidak mengatakan apapun. Perempuan itu hanya bersyukur dalam hati karena malam ini dia tidak harus tidur bersama Ardito.
“Akan kuusahakan kembali secepat mungkin.” Ardito yang masih membungkuk di depan sang istri itu tersenyum. Tangannya terangkat mengusap pipi kanan Milea.
Milea mengerjap. Sepasang bibir wanita itu masih terkatup rapat. Bola matanya bergerak.
“Beritahu Nena apapun yang kamu inginkan, dan dia yang akan menyiapkan untukmu.” Ardito memberitahu Milea. “Rumah ini sekarang juga rumahmu, Ara.”
Milea menarik pelan, namun panjang napasnya.
“Permisi, Tuan. Mobilnya sudah siap.” Suara lain terdengar. Milea menggeser pandangan ke arah datangnya suara tersebut.
“Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Aku janji kita akan pergi berbulan madu setelah urusanku di Hongkong selesai.” Ardito mendorong kepala ke depan. Pria itu mengecup kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Menegakkan tubuh, Ardito sempat menatap lekat sang istri sebelum memutar langkah lalu mengayun kaki menjauh. Orang kepercayaannya sudah menunggu di ambang pintu.
Milea memperhatikan pergerakan Ardito menjauh. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Membelah sepasang bibirnya hingga karbondioksida lolos dari tempat tersebut.
“Pastikan ada yang berjaga di rumah. Aku tidak mau istriku keluar rumah. Tidak disaat aku tidak bersama dengannya.”
“Baik, Tuan. Semua sudah diatur.”
Milea masih bisa mendengar percakapan dua orang itu. Milea mengedip. Wanita itu menghempas punggung ke sandaran sofa begitu Ardito dan tangan kanannya berbelok lalu keduanya tak lagi terlihat.
Layar besar di depan masih menyala, dengan suara rendah yang terdengar di dalam ruangan tersebut, namun satu-satunya orang yang menghuni sama sekali tidak tertarik melihatnya.
Sambil menatap langit-langit ruangan dengan lampu gantung yang begitu berkilauan, Milea mulai mengumpulkan keping-keping kejadian yang terjadi dalam 24 jam terakhir.
Cukup lama Milea diam menatap ke atas dengan isi kepala bekerja keras sampai kemudian Milea menegakkan punggung lalu beranjak dari sofa. Dia harus mencari cara untuk bisa meninggalkan rumah besar itu. Saat Ardito tidak berada di rumah. Ini kesempatannya.
Milea berjalan cepat keluar dari ruang tengah lalu memutar kepala sebelum melanjutkan mengayun kaki menuju tangga. Milea menaiki setiap anak tangga hingga mencapai lantai dua rumah tersebut. Wanita itu membelokkan langkah kaki. Dia sudah menghafal letak kamarnya.
Milea belum berkeliling rumah besar dua lantai yang terletak tak jauh dari pantai tersebut, namun yang jelas dia sudah tahu dimana kamar tidurnya. Kamar yang sudah dihias untuk malam pertama itu.
“Nyonya.”
Terkejut mendengar suara itu, Milea menoleh sementara langkah kakinya memelan.
“Ada yang nyonya butuhkan? Tuan berpesan saya harus menyiapkan semua yang nyonya inginkan.”
“Astaga.” Milea mengusap d*da. Dia tidak tahu jika ternyata seseorang mengikutinya. “Tidak ada. Saya hanya mau ke kamar.”
“Oh ….” Wanita yang masih berumur sekitar 25 tahun itu mengangguk. “Kalau nyonya butuh apa-apa, tolong kasih tahu saya. Nyonya bisa menghubungi saya melalui telepon rumah nomor 7.”
"Dan jangan panggil saya nyonya. Panggil Milea saja." Melihat perempuan yang ia tebak bernama Nena itu menatap dirinya dengan lipatan di kening, Milea mengibaskan tangan kanan.
"Lupakan saja. Sebentar lagi juga kita tidak akan bertemu." Milea melebarkan ayunan kakinya.
"Maaf, apa maksud anda, nyonya? Siapa Milea?"
Milea berdehem sebelum detik berikutnya langsung tersenyum kaku. “Saya hanya asal bicara. Lupakan saja. Sekarang kamu bisa lanjut kerja. Saya hanya mau ke kamar,” kata Milea tidak ingin diikuti masuk ke dalam kamar.
“Baik, Nyonya.”
Milea melanjutkan ayunan kaki. Wanita itu masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar. Berbalik, Milea berjalan cepat ke arah meja di dekat ranjang. Milea mengambil ponsel yang masih dalam proses isi daya.
Milea menggulir layar ponsel, lalu mencari nomor kontak seseorang. Wanita itu menarik napas panjang, membulatkan mulut lalu menghentak hembusan napasnya. Jarinya berhenti bergerak saat menyentuh nama kontak spesial Aurora.
Milea terdiam menatap nama kontak sang sahabat. My best, adalah nama kontak untuk Aurora. Setelah beberapa saat hanya menatap nama tersebut, Milea akhirnya menekan tombol panggil. Dalam hati Milea masih berharap pertolongan dari sang sahabat.
Di Jakarta, Milea tidak punya siapa-siapa. Dia tinggal di kos, tanpa ada keluarganya. Nada sambung itu terdengar. Milea mengatur tarikan dan hembusan napas seraya menunggu. Namun, waktu terus berlalu dan panggilan itu berakhir tak terjawab.
Milea tak putus asa. Berpikir sang sahabat mungkin belum mendengar panggilannya. Milea menekan sekali lagi tombol panggil lalu membawa benda penghubung itu ke telinga kanan. Masih berdiri di depan meja, Milea menunggu dengan tidak sabar.
Milea hampir saja putus asa, dan sudah hendak berniat mengakhiri panggilan, ketika sebuah suara terdengar menggantikan nada panggil sebelumnya.
“Halo.”
“E-lias?” tanya Milea mendengar suara pria. Bukan Aurora yang menerima panggilannya. Sepasang mata Milea mendelik saat mendengar suara Aurora yang terdengar meskipun tidak begitu keras.
Yang membuat bola mata wanita itu nyaris meloncat keluar dari kelopaknya itu adalah suara Aurora yang sedang menjerit kenikmatan.
Lalu yang selanjutnya terdengar di telinga Milea adalah suara Elias yang membuat Milea jijik. Milea sudah hendak menurunkan ponsel ketika suara Aurora kembali terdengar. Dengan nada terbata karena napasnya memburu, Aurora bertanya pada Elias.
“Si-siapa, El?" Lalu Aurora tidak bisa menahan suara lenguh kenikmatan.
Dengan napas sama memburunya, Elias menjawab. “Milea, Beb.”
Di tempatnya berada--di atas ranjang, Aurora merampas ponsel miliknya yang masih berada di tangan pria yang berada di atasnya. Napas wanita itu masih memburu. Sambil menahan rasa meledak yang hampir membuatnya menjerit, Aurora membawa ponsel ke telinga kanan.
“Mil … Mile-a ….”
“Sialan kamu, Ara. Please bantu aku keluar dari rumah ini.”
“Astaga, Elias … this is so good.”
Milea kembali mendelik. “:Ara … help me.”
“Oh, God … Milea. Please, nikmati saja. Ini beneran nikmat, Mila. Ah .. selamat, Milea. Just enjoy … malam pertama kalian.”