______________________________________________
WhutsApp
Tante Luna
Canyol:
Tante maaf aku baru bisa bales chat tante karena kemaren sibuk..
Oh iya Ini kontak Anna tante
Anna
08**-****-6101
Tante Luna:
Iya gapapa nak Canyol,
maaf merepotkan kamu ya,
maaf juga tante mengganggu kamu
Terimakasih banyak ya,
kalo nggak tante bingung harus minta tolong sama siapa lagi
______________________________________________
Jelas ngerepotin, bikin gue gelisah semaleman karena ulah keponakannya! Arrgghh!
______________________________________________
Canyol:
Engga kok, Tan. Enggak ngerepotin sama sekali
Sama-sama tante :)
Tante Luna:
Nanti kalo ada apa-apa bilang aja ke tante ya,
sekali lagi makasih ya nak Canyol
Chanyeol:
Siap tante hehe
Iya sama-sama tan :)
Read
______________________________________________
Semoga aja Tante Luna nggak ngontak-ngontak gue lagi dan urusan gue sama cewek itu bener-bener end.
Udah nggak tau lagi muka gue mau taroh dimana kalo ketemu dia gara-gara kemaren. Malu banget pokoknya sampai cewek itu ingat yang kemaren.
Gue udah was-was kalo ketemu dia dikampus, gue mesti sok-sokan nggak terjadi apa-apa diantara kita. Kita? Nggak, maksudnya gue sama dia bukan kita.
Gue semaleman ngumpat nggak jelas kalo ingat dia, entah gue malu atau nggak sudi, yang pasti detak jantung gue nggak normal inget kejadian itu.
Dasar badgirl sialan!
Sesampai gue di kampus, gue langsung menuju kantin nyamperin teman-teman yang udah duluan disana. Gue nggak kepikiran sama sekali bakal ketemu dia disini.
Gue hampir aja keselek sama ludah gue sendiri liat dia natap kearah gue. Kalo mata tu pisau, udah kebelah badan gue kayaknya. Tajem banget.
Berarti dari tadi dia ngeliat gue dong?
Shit!
Dia berdiri dari duduknya terus jalan kearah gue, IYA KEARAH GUE. Alamak! gue mesti apa? Mana matanya nggak lepas dari gue lagi.
Awalnya gue mau sok acuh nggak terjadi apa-apa, tapi ini kenapa badan gue kaku banget! Gue yakin muka gue sekarang kayak lagi jelasin ke dia kalo ada sesuatu diantara kita.
Plis! Jantung gue!
...
Entah mau mulai dari mana, Anna ingin bertanya pada cowok tinggi di depannya ini, ia perlu penjelasan semuanya. Anna menghela nafas dengan kasar dan memecah keheningan.
"Ngapain di apartemen gue?" Nada rendah Anna yang menahan emosi sambil menunduk memegang tulang hidungnya.
"H--hah?" Jawab Canyol gagap.'b******k! Ketahun banget gue gugupnya.' Umpat Canyol dalam hati.
"Lo kemaren ngapain ke apartemen gue?!" Mata Anna beralih menatapnya tajam.
"Oke, gue yakin itu cuma hayalan mabuk gue, ya kan? Yang kemaren itu bukan lo kan? Gue udah gila kayaknya." Sambung Anna meyakinkan dirinya sendiri sambil menunggu jawaban 'iya' dari Canyol.
Lawan bicara menghela nafas kasar sembaring menetralkan detak jantungnya. "Kalo iya kenapa? Kalo bukan kenapa? Yang pasti dalam bayangan lo itu bukan gue juga kan?" 'Nah loh kenapa kedengerannya gue kayak ngegas?'
Keheningan mulai menghampiri mereka, raut wajah Anna yang tajam menusuk, sekarang berubah jadi sendu. Entah kenapa setiap mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Ansel, ia seketika lesu untuk lanjutin perdebatan mereka.
Anna bingung mau jawab apa, dan bodohnya waktu itu emosinya malah naik nggak terima kalo cowok itu bukan Ansel. Ia malah tetep mencium cowok itu dan memperdalam ciumannya.
Anna langsung memalingkan badannya lalu menatap rumah-rumah kecil dari kejauhan yang menyatu dengan langit biru.
Melihat itu, Canyol jadi bingung. 'Gue salah ngomong?'
"Seharusnya lo minta maaf sama gue karena... ah, udah lah lupain. Orang kayak lo kayaknya nggak bakal minta maaf." Canyol mengibaskan tangannya ke udara dan berniat meninggalkan Anna sendirian disana.
"Maaf," pelan Anna, tapi masih bisa terdengar oleh Canyol. Bikin kakinya terhenti lalu menoleh pada Anna yang masih memunggunginya.
"Kalo punya masalah diselesaiin. Jangan mabuk-mabukan begitu, emang dengan cara gitu masalah lo selesai?"
"Eh iya, jangan bunuh diri disini ntar arwah lo gentayangan bikin orang takut satu kampus." Sambung Chanyeol dan ngelanjutin langkahnya menuju tangga buat turun.
Entah apa yang bikin Chanyeol ngelontarin kata-kata itu ke Anna, yang pasti udah bikin Anna cukup kaget, lalu senyum miris mendarat dibibirnya.
Anna masih dalam posisinya berdiri memandang setiap sudut matanya, menelusuri langit yang menggambarkan ketenangan, Anna menghembuskan nafasnya.
"Emang gue mesti pakai cara apa buat nyelesain semua masalah gue? Nggak, paling nggak hilang dari pikiran gue." Gumam Anna sambil memeluk dirinya sendiri karena hembusan angin yang lumayan kencang.
...
"Kenapa nggak langsung ke ruangan gue aja?"
"Eh kakak, gue lagi pengen nyari udara segar dulu, baru ke ruangan lo." Senyum kecil Anna ke Dokter Alex.
Sebenernya jarak umur mereka itu 15 tahun, dokter Alex yang nggak mau dibilang 'om' sama Anna. Jadilah Anna manggilnya kakak biar lebih terdengar akrab, alasanya karena ia belum punya istri.
Begitulah kalo seorang dokter udah asik sama dunianya sendiri--melayani pasien dengan sepenuh hati,pasti lupa sama masalah pribadinya, salah satunya mencari pasangan hidup. Tapi untungnya sekarang Alex sudah punya pacar seorang suster yaitu asistennya sendiri.
Anna kesini buat cek bulanannya. Sebenarnya, salah satu alasan Anna pindah ke Indonesia itu karena mengikuti Alex. Tujuan Alex juga melanjutkan pendidikannya di Inggris dua tahun yang lalu, dan Anna mengikutinya pindah ke Inggris.
Karena Anna nggak tau harus bagaimana mengurus dirinya yang sakit ini. Jadilah ia meminta pada kedua orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di Inggris.
Anna mengetahui penyakitnya tepat di hari kelulusan SMAnya, karena saat itu Anna merasa ada yang aneh dengan menstruasinya. Ia sudah mengadu keluhannya pada orang tuanya, tapi mereka selalu beralasan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Orangtua Anna sudah berpisah saat ia duduk dibanggu SMP kelas tiga, dengan alasan mereka tidak saling mencintai lagi satu sama lain.
Sekarang orangtuanya udah punya keluarga masing-masing dan tanpa disadari, mereka menelantarkan Anna walaupun fasilitas selalu dipenuhi oleh keduanya. Tapi Anna masih bisa bersyukur ada Tante Luna, Gina dan Sehun yang selalu ada menemaninya dimasa-masa sulitnya.
Semenjak penyakitnya dinyatakan positif, Anna mulai menghindari Tante Luna. Ia ingin orangtuanya tahu tentang penyakitnya dan pasti mereka akan memberi perhatian lebih pada Anna hanya karena kasihan tapi yang dibutuhkan Anna bukan itu, ia hanya membutuhkan kasih sayang yang tulus.
"Ada keluhan lagi nggak bulan ini?" Tanya Alex sambil menggiring Anna duduk di kursi taman rumah sakit.
"nggak ada, cuman kemaren kambuh lagi karena lupa minum obat." Anna menatap orang-orang sekitarnya yang berbaju pasien dengan infus di tangan mereka.
"Diinget, An. Jangan lupa minum obatnya kalo udah tanda-tanda lo mau datang, mending kalo di mall atau di kampus banyak orang bisa nolong. Kalo dijalan lo lagi nyetir sendirian kayak kemaren siapa yang nolong?" Oceh Alex. "Makanya bawa terus obatnya kemana-mana, biar nggak repotin orang-orang." Sambung Alex memandang Anna prihatin.
Alex sudah seperti kakaknya sendiri bagi Anna. Dari semua orang yang dekat dengannya, hanya Alex yang tau penyakitnya yang ia derita. Anna meminta Alex untuk merahasiakan penyakitnya yang tergolong parah itu.
Anna nggak mau ditatap kesihan oleh orang-orang sekitarnya. Iya, Anna sangat membenci dikasihani.
"Udah, ayo! Priksa lagi kali aja penyakitnya udah hilang." Gurau Anna sambil berdiri. Candaan itu nggak bikin Alex ikut tertawa malah menatap Anna dengan wajah prihatin.
"Makanya jangan lupa minum obatnya, biar ilang ludes penyakitnya." Hibur Alex sambil mengacak rambut coklat Anna.