Sejak awal, Arthur memang aneh. Aku tau itu. Ia nyaris tak pernah menunjukkan emosinya. Kalau ditunjukkan pun, biasanya tipis-tipis saja. Namun kemarin Arthur berbeda. Ia jauh lebih aneh dari biasanya. Ia tampak marah. Benar-benar marah. Ia bahkan menghempas aku sampai terlempar jauh karena kekuatan telekinesisnya. Tentu saja aku terkejut. Bodoh kalau aku juga tidak marah. Jelas, aku marah. Aku kesal karena diperlakukan sedemikian rupa. Padahal apa yang kulakukan bukanlah tindakan jahat. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Aku ingin tau kenapa ia menghindari aku akhir-akhir ini. Aku ingin tau apa salahku sehingga ia bertingkah begitu. Aku ingin tau sebab ia marah dan kesal dengan kehadiranku. Aku hanya ingin bertanya begitu. Tapi ia salah mengartikan dan malah menyakiti aku. Aku t

