Harusnya aku fokus pada latihan. Waktu kami terbatas, tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal lain yang tidak penting. Sayangnya perkataan Arthur membuatku terguncang. Mau tak mau, senang tak senang, aku memikirkannya seperti b*****h gila. Katanya ia menyukaiku, tapi kenapa? Buat apa ia menyukaiku? Apa yang ia suka dariku? Sadar tak sadar pertanyaan-pertanyaan di kepalaku itu membuatku susah berkonsentrasi pada hal-hal lain. Tentu saja rasanya tidak nyaman. Kalau bisa, sudah ku lepas otakku dari rongga kepala. Biar aku tak perlu memikirkan Arthur dan kata-kata bodohnya lagi. Aku seharusnya tak terganggu oleh apapun untuk saat ini. Tujuanku jelas, aku cuma ingin menyelamatkan nenek dan ibu kemudian hidup tenang sampai aku mati nanti. Aku tak ada waktu untuk perasaan-perasaan sejenis roma

