Seperti biasa Harvey sudah bernyanyi pagi-pagi buta. Bahkan ada yang tingginya mencapai langit-langit itu bisa ia capai dengan mudah. Seolah-olah kita suaranya memang dipersiapkan untuk bernyanyi dan siap digunakan kapan saja. Meski aku mendengarnya bernyanyi setiap hari, rasanya tetap menakjubkan buat aku. Kali ini juga aku menemaninya. Duduk di samping air terjun sambil menikmati sarapanku. Diiringi dengan lagu dari Harvey. Namun akhir-akhir ini Harvey bernyanyi dengan cukup putus asa. Seolah bernyanyi adalah tekanan buatnya, bukan suatu kebahagiaan lagi seperti dulu. Salah itu adalah kewajiban, bukan kesukaan. Seperti kali ini, setelah bernyanyi ia malah terduduk lemas di sampingku. Seperti kehilangan semangat hidup. Padahal bukan begini Harvey yang aku kenal pertama kali. Harve

