Meja makan itu tetiba hening. Hanya suara alat makan yang saling beradu, atau celotehan Naomi yang cadel.
Doni mendengkus. “Itu fungsinya Ayah taruh kamu di kampus. Jadi Ayah bisa mengurangi pekerjaan. Ayah sekarang, sudah sibuk dengan pilpres. Ayah harap kamu paham.”
Gathan diam, tatapannya tajam ke arah Doni.
“Kamu menginap di sini, kan?” tanya Ibu, dia memanggil asisten rumah tangga. Noni juga berharap ini bisa menjadi penengah anak dan suaminya.
“Ya,” jawab Gathan lagi. “Aku mau ambil beberapa data yang ada di sini soal kampus.”
Ayah manggut-manggut menatap Gathan. “Apa lagi yang kamu perlukan?”
“Hanya mau riset, apa saja program kampus kita dari tahun ke tahun. Dan, satu lagi soal apartemen itu, Gathan membayar cicilan tiap bulan, jadi, Gathan beli dengan harga sama seperti pembeli lain.”
Aruna dan yang lain menatap Gathan. Lalu berpindah menatap Doni. Tidak ada tanggapan apa-apa.
“Aku sudah selesai,” ucap Gathan..
“Apa sekarang kamu berani mengkritik Ayah?” tanya Doni ketika Gathan bangkit dari kursinya.
“Dari dulu, aku selalu mengkritik Ayah,” jawabnya, lalu meninggalkan meja makan.
Naomi yang belum mengerti apa-apa, hanya bisa minta dipangku oleh papanya. Ada ketakutan dalam hatinya. Kenapa wajah Om Gathannya seperti itu?
Tidak lama setelah Gathan selesai dengan makannya, Aruna, suami dan anaknya pamitan.
“Kenapa kamu tidak menginap di sini?” tanya Ibu, seperti biasa masih memeluk Naomi.
“Besok Naomi sekolah, Bu,” jawab Aruna.
“Nanti, Sabtu ke sini lagi, ya,” kali ini Doni yang menyuruh.
“Iya, Yah,” jawab Aruna, dan suaminya kompak. Aruna melirik ke arah suaminya.
Kekompakan itu membuat Doni tertawa kecil. “Kalian ini ... Semoga Gathan cepat menyusul seperti kalian, ya.”
“Aamiin,” sahut Aruna dengan senyuman yang semringah.
Meja makan sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Ada beberapa asisten rumah tangga berlalu lalang dari meja makan ke dapur atau sebaliknya. Ibu yang meminta dibuatkan teh, atau ayah yang minta dibawakan camilan.
Setelah Aruna pulang, diskusi antara Noni dan Doni berlanjut.
“Ayah jangan terlalu sinis kepada Gathan. Sejauh ini, dia sudah berjuang dengan baik. Dia menuruti semua permintaan Ayah.”
Doni mengangguk. “Memang. Tapi, Ayah saat ini ingin Gathan bisa mengkontrol segalanya. Untuk apa semua unit usaha Ayah kalau tidak ada yang melanjutkan?”
“Suami Aruna bagaimana?”
“Ah, dia itu ...”
“Ayah sendiri yang memilihkan Yanto untuk Aruna,” potong Ibu.
“Ayah pikir, Yanto adalah orang yang kompeten, pekerja keras. Tak tahunya dia seorang penjiat.” Anak-anak Doni memang menikah karena dijodohkan. Begitu juga dengan Gathan nanti.
“Tapi, Ibu lihat akhir-akhir ini dia berusaha.”
“Ya,” jawab Doni. “Toh, Ayah tidak bisa memutus dia sebagai menantu. Lagi pula, masa, mau Ayah suruh cerai? Tidak mungkin!”
“Ayah bisa mengusulkan itu nanti,” Ibu berkataa dengan datar. Dia juga sudah muak dengan kelakuan Yanto. “Aruna masih muda. Cantik.”
“Bagaimana dengan pamorku nanti? Kamu tahu, kan elektabilitasku sedang naik. Kalau berita perceraian ini tercium media. Aku bisa hancur.”
“Tenang saja. Aku akan melakukannya dengan rapi,” jawab Noni tenang, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Bagaimana dengan Gathan. Ayahnya Vita beberapa hari lalu menelepon Ayah. Dia menanyakan keseriusan Gathan kepada Vita. Ayah tidak bsa menjawab, tapi juga tidak bisa berkata tidak kepada ayahnya Vita, Pak Jan. Dia salah satu donatur dalam kampanye Ayah.”
Ibu menghela napas, kalau sudah begini repot.
Ayah tahu kalau Ibu tidak mau banyak bicara. Tadinya, Ibu akan membiarkan Gathan mencari jodohnya sendiri.
“Coba, kamu bicara dengan Gathan. Apa maunya anak itu? Lagi pula, Ayah juga ingin melihat calon penerus Ayah. Cucu-cucu. Ayah berharap, Gathan akan punya anak laku-laki nanti.”
Ibu menatap wajah Ayah yang serius. “Baiklah, Ibu ke kamar Gathan sekarang,” ucapnya. Tanpa melihat lagi ke arah Ayah.
Yang terdengar oleh Ibu, Ayah menghela napas. Mungkin itu tandanya Ayah lega. Padahal, Ayah bisa menyimpan kelegaannya dulu. Ibu belum bicara dengan Gathan.
***
“Gathan, ini ibu! Buka pintunya, Sayang!”
Saat Noni mengetuk pintu, Gathan baru saja selesai mandi.
Gathan membukakan pintu kamarnya sambil tersenyum manis.
“Duduk, Bu,” Gathan mempersilakan begitu ibunya masuk ke dalam kamar.
“Bagaimana keadaan di kampus?” tanya ibu membuka obrolan. “Ngomong-ngomong, selamat, ya! Atas jabatan kamu. Mudah-mudahan kamu bisa mengamalkan semua ilmu yang sudah kamu dapat.”
“Terima kasih, Bu,” jawab Gathan lalu memeluk ibunya.
“Gimana Pak Soen?”
“Baik. Pak Soen usul adakan rapat besok untuk menelaah sistem yang ada di sana.”
Meski sempat jadi dekan di kampus lain, tapi, Gathan merasa perlu juga untuk mengetahui sistem yang ada di sana.”
“Anak Ibu, sekarang makin dewasa.”
“Hanya melaksanakan tugas.”
“Kabar Vita bagaimana? Kok sejak ada di Jakarta dia jarang main ke sini, si? Padahal kalian sudah lama tunangan ...”
Gathan serba salah, tadinya masih membaca beberapa surel. Begitu membahas Vita, Gathan berhenti membaca.
“Baik, Bu. Tadi dia ajak Gathan makan malam. Tapi ... udah telanjur ibu undang Gathan malam ini.”
“Ya ampun... kenapa nggak kamu undang sekalian aja? Ayah dan Ibu juga pingin ketemu.”
Dahi Gathan mengerut. “Ada apa? Siapa yang hamil?”
“Aduh, Gathan, kamu sudah bersama Vita selama lima tahun. Apakah, ayah Vita tidak pernah bertanya? Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?”
Wajah Ibu sangat serius menatap Gathan.
Gathan menggeleng, “Gathan belum kepikiran sampai sana, Bu.”
“Sampai mana memangnya? Sampai India?” canda Ibu, garing, tapi mampu membuat Gathan tertawa kecil.
“Gathan belum siap menikahi Vita,” tambahnya dengan jelas. “Tugas Gathan sebgai rektor baru akan dimulai. Dan Gathan tidak mau nanti Vita malah terlantar.”
Ibu tersenyum menatap Gathan. “Dulu, waktu ibu menikahi ayah kamu. Dia juga lagi merintis usahanya yang pertama kali. Siang—malam, hampir tidak ada waktu untuk Ibu. Tapi, ya, itu ... Ibu paham dengan situasi ayahmu.”
“Vita, kan bukan seperti Ibu. Vita adalah Vita,” jawab Gathan tegas. Lelaki itu juga tahu kalau pernikahannya hanya demi kepentingan politik. Dan Gathan tidak mau ikutan mengurusi kepentingan politik ayahnya.
Gathan mulai bosan dengan pembicaraan ini.