Beberapa jam sebelumnya. Gaby tidak nafsu melakukan apa-apa, lelah sekali rasanya. Dan pekerjaan yang tadi belum selesai, jadi ganjalan dalam benak. Terbayang dalam pikirannya, sekolah mana saja yang akan dia masukkan ke daftar sosialisasi. Tanpa Gaby sadari, dia menghela napas, dan Dito mendengarnya. “Masalah mbaknya berat sekali kedengarannya,” Dito usil menjaili Gaby. Membuat Gaby tersenyum, lalu memijat pelipisnya. Dan sekali lagi, itu terlihat oleh Dito. “Astaga, sampai sakit kepala pula!” serunya. “Mau makan dulu, nggak?” Gaby menggeleng, “Kerjaan yang tadi belum selesai, aku jadi nggak enak ngapa-ngapain.” “Astaga, karena itu,” sambut Dito, sambil menatap jalanan ke depan. Tangannya stabil ada di lingkaran kemudi. “Memangnya apa yang belum selesai?” Dito menepi di s

