Arman duduk ditemani sunyi. Kata demi kata berperang dalam benaknya. Dirinya berusaha menolak semua fakta yang baru diketahui.
"Tidak mungkin Shania bisa berbuat sejauh ini," ujarnya pada diri sendiri.
Mencoba memutar ulang memori yang lalu. Arman baru merasa janggal. Semenjak bertemu tanpa sengaja dengan Shania dan menjalin hubungan, hidup Arman dan keluarga mulai membaik. Dia mendapat pekerjaan, dua adiknya mendapat beasiswa. Padahal secara nalar, mustahil untuk sekelas Ariska dan Arista yang otaknya pas-pasan bisa mendapat beasiswa.
Arman tahu selama ini Shania banyak membantu keluarganya. Sering memberinya uang meski tidak terlalu banyak, katanya untuk biaya tambahan keluarga di rumah. Namun, Arman masih belum bisa mempercayai jika Shania terlibat dalam karier dan juga masa depan adik-adiknya. Tidak, itu sangat tidak masuk akal.
"Barangkali semua hanya bualan gadis binal itu saja agar aku merasa menyesal telah melepas Shania."
Arman berdiri. Dia butuh Rivanka untuk mengenyahkan bayangan tentang Shania. Kepalanya serasa tertindih bongkahan batu. Urat-urat di permukaan pelipis tercetak jelas.
"Dia pikir aku akan percaya begitu saja? Mustahil Shania itu istimewa, dia hanya gadis biasa dan pasti ada yang mendukungnya dari belakang." Sepanjang perjalanan, Arman tak henti-hentinya berbicara sendiri.
"Aku harus mencari tahu ini semua.”
Sama halnya dengan Arman, Ziko juga sedang pusing, ruang kepalanya hanya berisi tentang Shania. Bahkan pikiran Ziko mulai ke mana-mana dan ia benci akan hal ini.
"Sial, kenapa dia terus datang ke dalam pikiranku." Ziko memukul-mukul pelan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Ziko mengangkat kepala dan melihat papanya berjalan ke arahnya.
"Kepalamu sakit? Kalo sakit istirahat dulu," ujar Emran.
"Tidak Pa," jawab Ziko malas.
"Lalu?" Emran menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak ada apa-apa." Sungguh Ziko semakin kesal dengan hadirnya sang papa. "Ada apa Papa kemari?"
"Papa sebenarnya memintamu menjemput Riko di bandara. Sopir yang menjemputnya sedang di bengkel."
"Dia kan bisa naik taksi," jawab Ziko malas.
"Kau kan tahu Abangmu seperti apa."
"Suruh saja salah satu sopir perusahaan untuk menjemputnya."
Emran mengangguk, menyetujui usulan putranya. "Benar juga."
"Kenapa dia cepat sekali pulang? Bukannya urusan di Jepang belum selesai?"
"Sudah selesai. Riko awalnya memang berniat untuk tinggal lebih lama di sana, tapi tiba-tiba ingin segera pulang. Mungkin setelah papa menunjukkan foto Shania kepadanya."
Mata Ziko seketika melotot, jujur hatinya panas mendengar ucapan ayahnya. "Apa maksud Papa?"
"Ya, mungkin Abangmu tertarik dengan Shania," jawab Emran santai.
"Sebenarnya apa yang Papa rencanakan?" Mata dengan bulu panjang yang lebat menatap curiga ke arah Emran.
"Tidak merencanakan apa-apa. Kau ini kenapa?" Ledek Emran.
"Tidak apa-apa." Ziko menyandarkan punggung di kursi. "Kalo begitu aku pamit dulu, Pa. Mau rehat sembari menikmati kopi sejenak," ujarnya sambil pergi meninggalkan Emran.
Aroma kafein menyelimuti seisi ruangan. Menggantikan hawa pengap di ruang kerja. Namun, suasana baru tidak mampu mengubah isi kepalanya. Ziko sangat benci dengan pikiran dan perasaannya saat ini.
Padahal baru pertama kali bertemu, tapi mengapa Ziko merasa terjerat dengan pesona wanita itu. Ziko menatap secangkir Americano di hadapannya. Mencoba menenangkan pikiran lewat segelas kopi. Setidaknya itu yang diharapkan oleh pria berusia 35 tahun ini.
Aroma kafein menyapa hidung dan sedetik kemudian mampu menenangkan pikiran. Ditiup terlebih dahulu sebelum diminum. Namun, sejurus kemudian Ziko tersedak tatkala netranya tak sengaja melihat seseorang yang duduk tak jauh darinya. Untung saja kopi yang diminum cepat menuju lambung. Jika tidak, bisa saja meja di hadapannya sudah basah.
"Sial. Ada apa dengan hari ini?" Gerutu Ziko. Merasa kesal karena ia harus bertemu kembali dengan Shania. Wanita yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
Sedangkan di tempat Shania berada. Wanita itu sedang melamun. Masih syok dengan kejadian yang dialami beberapa waktu lalu. Sungguh Shania belum pernah melihat tatapan Arman seperti itu, tatapan melecehkan.
"Permisi, boleh saya duduk di sini?" Suara berat menyapa gendang telinga Shania.
"Ah. Em... Silakan, Pak," jawab Shania agak terpaksa. Jelas ia merasa tak nyaman karena tiba-tiba seseorang ingin duduk di sampingnya. Apalagi pria tua yang secara terang-terangan berbicara dengan nada sensual.
"Terima kasih. Perkenalkan, saya Johan." Pria dengan perut buncit itu mengulurkan tangan setelah duduk di samping Shania.
"Em... Saya, Shania." Dengan terpaksa Shania menyambut jabatan tangan tersebut.
"Wah, nama yang indah. Cocok dengan orangnya," ujar Johan dengan kerlingan nakal.
"Terima kasih," balas Shania kikuk. Johan terang-terangan menggodanya.
"Sendiri saja?"
"Iya, Pak," jawab Shania. Dia menyesal telah membiarkan Kayla pulang terlebih dahulu.
"Kalau begitu pas sekali. Saya juga sedang sendirian." Johan mulai tak terkendali. Tangannya sangat tidak sopan saat mengelus paha Shania.
"Maaf Pak. Anda tidak sopan." Shania terkejut dan lekas berdiri. Dia dengan cepat mundur dari laki-laki hidung belang di depannya.
"Oh ayolah. Bukankah gadis muda sepertimu selalu mencari sugar daddy," ucap Johan. Wajah mesumnya sungguh menjijikkan. "Kamu mau apa? Uang bulanan untuk kuliah? Atau unit apartemen? Saya bisa kasih."
"Jaga ucapan Bapak ya!" Kali ini Shania tidak tinggal diam. Dia langsung membentak dan menunjuk Johan tepat di depan wajahnya.
Semua mata tertuju kepada keduanya. Tak terkecuali sepasang mata yang sedari tadi sudah memancarkan kilatan tajam yang siap menusuk siapa saja. Dengan langkah lebar, Ziko berjalan mendekati Shania dan langsung memeluk pinggang wanita itu.
"Ada apa sayang?" Ujar Ziko sambil mengecup pipi kanan Shania. Dia bahkan tidak canggung sama sekali saat melakukannya.
"Pak ... Pak Ziko." Johan terkejut melihat Ziko yang tiba-tiba saja muncul, terlebih memeluk dan mencium Shania dengan mesra.
"Ada apa sayang?" Tanya Ziko kembali. Matanya memandang Shania dengan lembut.
Ditatap seperti itu, membuat Shania tiba-tiba salah tingkah. Ditambah ia juga terkejut dengan kehadiran Ziko yang tidak terduga.
"Apa dia berbuat yang tidak-tidak kepadamu?" Mata tajam itu kemudian menatap lurus. Tepat di wajah Johan yang sudah pias.
Ziko ingin sekali menghajar Johan habis-habisan. Apalagi mengingat laki-laki tua bangka itu sudah sangat tidak sopan menyentuh tubuh Shania. Ada rasa terbakar yang hadir begitu saja dalam d**a.
"Pak." Shania tersentak saat tubuhnya dibawa keluar kafe. Ziko tidak melepas rangkulannya. Dia membawa Shania ke parkiran yang lumayan sepi.
Di Balik mobil, Ziko mendorong tubuh Shania hingga bersandar pada sisi mobil. Dia langsung menghadiahi Shania serangan yang tak terduga. Bibir mungil yang sedari tadi mengganggu pikiran akhirnya bisa dicicipi Ziko dengan bebas.
"Emh…!" Shania berusaha lepas dari serangan yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Jujur, dia sangat takut melihat Ziko seperti ini.
Ziko seakan tak peduli. Dia menggigit bibir Shania dan memaksa untuk masuk lebih dalam. Saat berhasil masuk, tanpa membuang waktu Ziko mengabsen seluruh titik di dalamnya tanpa terkecuali. Temperatur tubuh makin meningkat sejalan dengan gairah yang timbul, sesuatu di bawah sana sudah mendesak. Ziko tidak peduli, dia bahkan sengaja menyentuhkan miliknya ke paha Shania, agar wanita itu tahu perasaannya sekarang.
"Pak stop!" Shania akhirnya bisa bebas. Sambil terengah-engah. Dia hirup oksigen semaksimal mungkin. Tak lama kemudian, Ziko merasa pipinya terasa kebas. Shania ternyata menamparnya dengan sangat keras.
"Apa maksud bapak melakukan ini semua ha?! Bapak pikir saya wanita seperti apa?!" Shania tidak bisa menahan tangis di depan Ziko. Dia luruh ke bawah. Lelah karena sudah mendapat perlakuan yang tidak baik dari 3 pria.
Akal sehatnya baru kembali. Melihat Shania yang menangis, membuat Ziko merasa amat bersalah. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa dia bisa semarah itu melihat Johan dengan tidak sopan menjamah tubuh Shania. Bukankah dia tidak ada hak untuk marah dan berbuat seenaknya. Bahkan apa bedanya dia dengan Johan saat ini?
"Maafkan saya Nona Shania," ujar Ziko. Dia berjongkok, menyejajarkan diri dengan Shania.
"Pergi..! Saya muak melihat wajah Anda!" teriak Shania. Dia jijik dengan sikap Ziko.
Ziko tidak berbicara lagi. Dia mengikuti permintaan Shania dan pergi dengan rasa bersalah. Meninggalkan Shania yang masih terduduk lemas. Sepanjang perjalanan menuju perusahaan. Ziko terus memaki dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa menjadi pria b******k yang seenaknya memperlakukan Shania seperti itu. Dia yakin Shania akan membencinya.
"Kamu kenapa?" saat Ziko berada di lobi perusahaan. Dia bertemu dengan Riko yang juga baru sampai.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Ziko. Berlalu meninggalkan Riko.
"Hei. Adik kurang ajar, tunggu!” Riko mengejar Ziko dan mereka masuk ke dalam lift bersamaan.
"Mengapa mukamu kusut seperti itu?"
"Bukan urusanmu?!”
Alis Riko mengerut mendengar jawaban sinis dari adiknya. "Kamu ada masalah apa? Berantem dengan pacarmu?"
"Tidak."
"Lalu?"
Ziko tidak menanggapi pertanyaan Riko dan langsung keluar dari lift. Sungguh perasaannya kacau sekarang.
"Hei. Tunggu bocah tengik!" Teriak Riko ikut keluar, masih mengejar adiknya.
"Apa sih? Kenapa kau selalu menggangguku?"
"Siapa yang mengganggumu. Aku hanya bertanya."
"Terserah kau saja."
"Fix. Kau sedang ada masalah dengan pacarmu. Dengar Zik. Jangan terlalu lembek dengan wanita. Kalo dia menyusahkan tinggalkan saja, lihat aku."
"Heh. Apa bagusnya kau,” sindir Ziko.
"Jelas. Itu sebabnya aku tidak mau berkomitmen dengan wanita. Mereka hanya menyusahkan dan suka membuat pusing."
"Terserah apa katamu saja. Pergi, jangan ganggu aku!" Ziko segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Huh. Dasar kau adik kurang ajar. Mending aku mencari wanita cantik untuk melepaskan penat," gumam Riko.
Di parkiran kafe. Shania mulai tenang. Tubuhnya masih terguncang, tapi dia berusaha untuk pergi. Jujur sepertinya dia harus mendengarkan setiap nasihat dari Kayla ke depannya.