FAM 12 Sweet (Wolf)

2606 Words
MALAM besok adalah gerhana bulan dan Flora tidak memikirkan waktunya untuk tidur. Kondisi kepalanya terlalu gelisah dan memikirkan banyak hal yang mungkin akan terjadi besok. Jangankan untuk tidur di ranjang yang tidak nyaman itu, Flora bahkan tidak tenang duduk saja dan berakhir mondar-mandir di depan jendela. Ditatapnya bulan yang besok akan menentukan nasibnya ke depan. Kalau meminta itu berarti sesuatu, semoga besok bulan tidak menjadi gerhana. “Aku harus menyiapkan rencana untuk gerhana bulan nanti. Aku tidak boleh terlihat seperti keledai yang terima saja sudah dibohongi selama ini. Dia harus jera dan meminta ampun,” gumamnya memukul-mukul kepalan tangan ke telapak tangan yang lain, berapi-api. “Gerhananya besok, tapi aku sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang kuinginkan. Aku hanya mendengarkan Mega Wolf itu.” Sampai sekarang, dia masih bingung harus percaya siapa. Tidak masuk akal untuk percaya pada Mega Wolf begitu saja walau semua yang dikatakannya dapat diterima. Flora juga tidak mungkin percaya begitu saja pada Damian yang telah menyembunyikan dan menculiknya. Tak ada jaminan kalau Mega Wolf itu juga baik padanya. Di ujung sana, mansion terlihat bercahaya terkena sinar bulan yang sangat cerah. Flora tidak bisa menilai indah sama di antara kedua mansion itu, yang jelas keduanya sama-sama mewah—dan mungkin kuno. “Haruskah aku percaya padanya?” Andai dia membawa penghapus dengan lebar di kedua sisinya, Flora akan menuliskan satu sisi untuk Damian dan satu sisi untuk Mega Wolf. Apa pun yang nanti berada di atas saat mendarat, Flora tidak akan ragu lagi memilihnya. Andai. Dia meninju udara, kesal sekali. “k*****t. Aku bahkan tidak tahu siapa yang sedang berada di pihakku dan siapa yang benar-benar menipuku. Mom, aku merindukanmu dan Flair. Huh, tak ada foto satu pun yang kupunya. Aku telah menjadi gadis yang hilang, tetapi terlalu tua untuk dikirim ke Neverland.” “Tinggal satu malam lagi dan aku akan tahu harus melakukan apa.” *** Gawat. Bahaya. Fatal. Sudah pagi dan Flora tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti malam. Belum tahu pada akhirnya siapa yang akan dipercayai, si Alpha menyebalkan atau Mega Wolf misterius. Flora tidak bisa mengingat satu pun judul film atau novel yang menggambarkan situasi terjepit harus memilih begini. Sempat terpikir untuk tidak keluar sampai malam apa pun yang terjadi. Hanya perlu mendorong lemari ke balik pintu dan mengunci jendela, tidak akan ada yang menerobos. Paling tidak saat orang-orang itu tidak berubah jadi serigala atau makhluk apa pun yang kekuatannya berkali-kali lipat. Pilihan ini sama sulitnya seperti memilih ikut Taylor ke pesta pantai atau ikut Dave menonton pertandingan basket. Suara berisik di luar kamar mengurungkan niat Flora untuk mengurung diri. Begitu keluar, beberapa omega sedang berlalu lalang memasangkan ini, membersihkan itu, atau membawa beberapa barang. “Ada apa ini? Kenapa kalian tampaknya sibuk sekali?” tanya Flora pada Xavior. Tidak terlihat Damian di mana pun. “Malam ini gerhana bulan, Luna. Kami memiliki tradisi khusus dan memerlukan persiapan.” “Apanya yang spesial dari gerhana bulan? Aku bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk melihatnya. Aku terlalu takut dengan ancaman Dave kalau mataku akan buta jika melihatnya secara telanjang.” Xavior terkekeh. Manusia dan segala takhayulnya itu banyak sekali, sama banyaknya dengan semua wanita yang meliriknya menggoda jika berjalan-jalan di dunia manusia. Untungnya tidak muncul tanda apa pun dari wanita-wanita itu, Xavior tak akan tahan apabila salah satu dari mereka merupakan mate-nya. “Alpha ada di balkon jika Luna mencarinya,” ujar Xavior melenceng jauh dari topik sebelumnya. “Untuk apa juga aku mencarinya? Tidak ada urusan.” “Apa Luna tidak ingin tahu apa yang dilakukan Alpha untuk gerhana bulan nanti? Bukankah Luna ingin piknik?” Flora mengedik tak acuh. “Dia yang bilang bisa melakukannya sendiri. Aku akan menunggunya nanti malam saja.” “Alpha pasti senang jika kau menemuinya terlebih dahulu.” Xavior membungkuk padanya sebelum pergi, menunjuk dengan dagu ke belakang Flora. Oh, di sana letak balkonnya dan seseorang berdiri membelakangi mereka. Damian. Lagi-lagi dia mengenakan pakaian coklat keemasan, entah memang semua pakaiannya berwarna sama atau memang dia hanya memiliki satu. Kalau saja mereka bertemu dengan cara lain, pria seperti Damian sangat sayang untuk dilewatkan, bahkan Flora tak masalah harus mengejarnya lebih dulu. Sayangnya, tidak begitu. “Kenapa juga dia harus senang? Dave bilang jika aku seorang yang mengganggu,” gerutu Flora. “Uh, menggelikan. Aku sudah setua ini dan sekarang malah memikirkan kencan, bukannya bekerja. b******n ini membuatku lupa umur.” Antara terpaksa dan tak tahu harus apa, Flora menghampiri pria itu ke balkon. “Sedang apa?” “Tidak ada, hanya memantau.” “Kau tahu, tak usah menganggap serius ucapanku tentang piknik saat gerhana bulan. Xavior bilang kalian memiliki tradisi, aku tak ingin mengganggu. Lagi pula ini hanya gerhana bulan, aku akan bisa melihatnya lagi.” “Gerhana kali ini berbeda, Flora. Kali ini sangat spesial.” “Apanya yang spesial dari gerhana bulan? Air jadi surut dan para duyung mati kekurangan air?”  “Tidak. Ini spesial bagi kami.” Flora mengangguk-angguk. Tidak tahu apa maksudnya, tetapi dia tahu siapa kami yang dimaksud. Ya, manusia serigala. Mungkin juga termasuk makhluk lain, putri duyung contohnya. “Aku lupa kapan terakhir kali melakukan kencan atau makan malam di luar dengan seseorang. Jadi, jangan terbebani dengan itu. Aku ini hanya perawan tua yang tak laku, terlalu biasa untuk bersaing dengan gadis Albany yang lain,” ujar Flora sadar diri. “Seingatku kau pernah menyebut kalau kau itu gadis cantik dan laku.” “Hei, mengatakannya secara langsung hanya akan menyakiti harga diriku. Tapi oke, aku memang membual—sedikit.” Damian terkekeh. Tak pernah berharap lebih bahwa Flora akan mengobrol santai dengannya seperti ini, Damian sangat bahagia bisa dekat dengan mate-nya. “Menurutku kau jauh lebih cantik dari semua orang yang pernah kutemui.” Flora berdecih. “Jangan bergurau. Tidak pantas untuk orang menyebalkan sepertimu.” “Benar, kau tak akan percaya bahkan jika aku serius.” “Di mana keluargamu? Apa hanya Xavior yang kau punya?” “Mereka berada di pack lain, terpisah denganku. Aku sempat mengunjungi mereka kemarin dan juga pamanku.” “Saudara?” “Sudah tiada.” “Aku turut berduka cita,” gumam Flora tidak menyangka. Dia kira orang setangguh pria itu kuat karena belum pernah merasakan kehilangan, tetapi mungkin karena kehilangan itu dia memaksa dirinya menjadi kuat agar tidak kehilangan lagi. “Jadi, Xavior?” “Dia teman sekaligus Betaku. Kau tahu, seperti seseorang untuk kubagi segalanya.” “Ahh, semacam sekretaris?” “Mungkin.” Damian menoleh dan menghadapkan tubuhnya pada Flora. “Dan kau, kau melupakan tentang dirimu sendiri.” “Apa? Aku? Kenapa harus ada aku?” “Pertanyaanmu salah. Bagaimana bisa tidak ada kau?” Bedebah sialan. Pintar sekali menggoda wanita dengan kata-kata murahannya. Flora penasaran apakah hanya dia yang mendapatkannya atau Damian juga melakukannya pada wanita lain. Kalau Flora hanya salah satunya, maka tidak akan ada alasan lagi untuknya memikirkan kebaikan Damian. Bahkan dia lupa kebaikan apa yang Damian lakukan untuknya. “Umm, aku ingin ke perpustakaan.” Flora berjalan buru-buru menjauh, tetapi Damian menahan tangannya dan memblokir jalan wanita itu. “Kenapa ke sana? Apa kau tak ingin berkeliling?” Ingin dia katakan kalau pergi ke perpustakaan bukan untuk membaca buku, tetapi menjauhinya. Ayolah, dia akan diejek pecundang jika benar mengatakan itu. “Haruskah? Apa penyihir itu akan menyesatkanku lagi?” “Tidak akan jika bersamaku.” Damian menggenggam lembut lengannya, lalu berseru pada semua omega, “Tinggalkan kami sendiri!” Semua omega yang sibuk tersebut menghentikan kegiatan dan membungkuk, lalu pergi meninggalkan lorong yang panjang itu. Padahal hal itu sangat tidak perlu, seharusnya mereka yang mencari tempat lain, bukannya mengusir orang-orang yang sedang bekerja itu. “Bisa kau ceritakan tentang dirimu?” pinta Damian. “Kenapa harus aku lagi? Bagaimana denganmu?” “Aku tidak yakin apakah ada yang bisa kuceritakan. Tidak ada yang menarik.” “Mustahil. Kau bisa ceritakan tentang sekolah atau pengalaman memalukan, tidak ada remaja yang lepas dari pengalaman seperti itu. Contohnya, aku pernah melakukan tarian perut di depan teman-teman kampusku hanya karena aku meneguk banyak alkohol. Kalau Taylor tidak merekamnya, pengalaman paling memalukan yang kuingat hanyalah terjebak dengan kejahilanku sendiri. Ayolah, tidak ada yang perlu disembunyikan.” Damian terdiam. Tanpa bisa dicegah, muncul satu-satunya kenangan yang akan selalu terbayang bagai baru terjadi kemarin, bahkan beberapa detik yang lalu. “Hanya satu ingatan yang tak akan pernah bisa kulupakan.” “Apa itu?” “Kematian kakakku,” gumamnya. Damian meremas lengan Flora yang digenggamnya. “Flora, kau harus berjanji tidak akan berhubungan dengan Eiden.” “Eiden? Siapa dia?” “Seseorang yang kau sebut sebagai Mega Wolf. Dia yang membunuh kakakku.” “Tunggu, tunggu.” Flora melepaskan genggaman Damian dan mengangkat kedua tangannya, mundur menjauh. “Aku tidak mau terlibat dalam apa pun urusan kalian berdua.” “Dia tidak akan peduli. Kau terikat denganku dan itu artinya dia juga akan menargetkanmu.” “Kalau begitu lepaskan aku. Jika kau tak ingin aku terluka, lepaskan aku.” “Aku ... aku tidak bisa,” ujar Damian lemah. Sorot matanya terluka, rapuh, dan memohon di saat yang bersamaan membuat Flora merasa tidak enak. Wanita itu mengajaknya duduk di sebuah bingkai jendela, memperhatikan ke luar. Ya, ke mana saja asal tidak bertubrukan dengan Damian yang masih menatapnya—dengan tatapannya yang masih sama. “Kau tahu sesuatu? Orang tuaku bercerai saat aku masih berusia sepuluh tahun di mana saat itu aku sangat benci dengan perceraian. Selama seminggu aku kesulitan tidur karena mendengar tangisan Mom setiap malam. Aku juga tidak akan bisa melupakannya dan selalu keberatan jika Mom bilang dia berkencan dengan orang lain. Aku tidak mau hal yang sama terulang lagi dan tanpa sadar aku sangat egois. “Suatu malam aku melihat Mom melihat foto keluarga dan menangis lagi. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, yang jelas dia membutuhkan orang lain untuknya sendiri di saat dia ada untukku dan Flair. Sejak saat itu aku tidak melarang, aku jadi lebih berhati-hati dan memastikan Mom tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Mungkin aku tidak sepintar kutu buku di kelas Matematika, tetapi aku bisa menjaga diri. Mom bahkan sudah bosan mendengarku berkelahi dengan Travis atau Kyle di taman bermain, melibatkan kekerasan. Aku ini gadis Albany yang liar, Damian.” Damian menggeleng. “Dia bukan tandinganmu,” gumamnya terdengar khawatir. “Tapi tandinganmu. Maka kau harus berjanji tidak akan menyakitiku dan akan selalu menjagaku, bagaimana pun caranya.” Flora tidak berniat melakukan apa pun, tetapi tangannya terangkat sendiri dan menyodorkan jari kelingking. Astaga, itu sangat kekanakan, bahkan Damian menatap jarinya selama beberapa saat. Baru saja Flora—malu—hendak menariknya kembali, Damian sudah menahannya dan mengaitkan jari kelingking. “Tentu, aku berjanji.” ‘Ada apa ini? Kenapa kami jadi akur? Ingat, Flora, dia manusia serigala dan orang yang menculikmu! Seharusnya kau pelintir tangannya, bukannya malah membuat simpul janji!’ Sisi waras Flora berteriak, tetapi dia bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Pasti ada yang sedang memantrainya. Pasti ada yang sedang mengambil alih tubuhnya. Flora malu pada dirinya sendiri yang bertingkah seolah lebih muda lima belas tahun dari usianya sekarang. Damian sialan itu malah tersenyum manis sekali. “Kau malaikat penjagaku sekarang.” *** Langit mulai dihiasi semburat jingga yang kelak menyongsong datangnya kegelapan di angkasa. Kali ini, langit terlihat lebih terang bahkan walau matahari mulai tenggelam di ujung sana. Suasananya sangat terasa di mana para manusia serigala menyiapkan perayaan yang datangnya dirasakan cukup lama. Eiden ada di sana lagi, memperhatikan dengan teropongnya. Sejak dia tahu kegunaan barang buatan manusia tersebut, tak ada hari tanpa mengawasi musuhnya dari atap. Walau tak begitu banyak yang bisa dilihat, tetap saja rasanya ada yang tak lengkap jika Eiden tidak mengawasi. Seolah dia takut ada perubahan atau rencana besar yang sedang disusun Damian di seberang sana. “Gerhana bulan. Apa kau sudah merencanakan sesuatu, Alpha?” “Apa aku pernah tidak merencanakan sesuatu?” “Damian bukan tandinganmu sama sekali. Dia bahkan hanya mengandalkan otak pintar Betanya, sedangkan kau merencanakannya sendiri. Kau membuatku merasa tidak dibutuhkan, Alpha,” keluh Jaiden. “Aku akan selalu membutuhkanmu. Kenapa juga aku menjadikanmu Beta jika tidak membutuhkannya? Bahkan Alpha butuh seseorang yang sangat dia percayai.” Eiden masih mengawasi dari balik teropongnya, tidak melepaskan sedikit pun gerakan Damian yang juga sedang melakukan sesuatu di atap. “Aku tidak percaya kau mau menjadikanku Beta mengingat dulu bagaimana perlakuanmu padaku,” gumam Jaiden. Ya, bisa dibilang, dia tidak dipersiapkan menjadi Beta seperti umumnya para Beta dan Alpha kebanyakan. Hanya beberapa bulan setelah bertemu, Eiden menunjuknya begitu saja menjadi Beta, sementara ada orang lain yang sudah dipersiapkan. Eiden bilang Jaiden lebih pantas dan memiliki cara berpikir yang sama dengannya, lebih cocok dibanding calon Betanya terdahulu. Dan yang pasti jika dengannya, Eiden tidak akan sebanding dengan Damian dan Betanya. “Itu sudah berlalu, Jaiden. Aku melihat potensimu dan meski kita tidak kenal sejak kecil, kau tetap lebih baik dibanding calon Beta sebelumnya. Kau sama sepertiku.” “Dan untuk itu, seharusnya kau lebih mengenal dirimu sendiri, Alpha,” gumam Jaiden misterius. Dahi Eiden mengernyit, menyodorkan teropongnya pada sang Beta. “Jaiden, apa yang sedang dilakukan si payah itu di ujung sana?” Jaiden menerimanya dan melihat ke seberang. Alpha dari Supermoon Pack itu sedang melakukan sesuatu dan mengelilingi atap. Apa pun itu, Damian tampak senang. “Entahlah, Alpha, dia sedang melakukan sesuatu dengan sebuah tali yang panjang dan tipis. Dia membuang-buang waktunya.” “Kau tidak tahu apa yang bisa dipikirkannya, Jaiden. Kami tumbuh bermusuhan sejak kecil dan berusaha saling mengalahkan jika ada kesempatan bertemu, aku benci mengakui kalau dia bukan musuh yang mudah.” “Kau dan kemampuanmu sendiri bukan tandingannya, bahkan kau bisa bertahan tanpa bertukar shift dengan Eirth.” Jaiden mengernyit aneh. “Kau tidak mau mengusulkan wolf-mu untuk mengganti namanya? Aneh sekali diucapkan.” “Biarkan saja, dia menyukainya.” “Kakak!” Keduanya menoleh serentak. Eiden menyembunyikan teropongnya, jaga-jaga siapa tahu Eveline menginginkannya. Dengan senang hati akan dia beri, tetapi tidak sekarang. Dia masih membutuhkan alat tersebut untuk memantau. “Ada apa, Eve?” Eve datang dengan wajah cemberut dan langkah gontai. “Malam ini akan sangat berisik ya, ‘kan? Satu lagi malam yang sangat melelahkan. Aku ikut merasa gelisah, tetapi tidak berubah sama sekali.” Eiden mengacak-acak rambut adiknya gemas. “Itu karena meski kau half, di dalam darahmu kau tetaplah makhluk immortal. Aku akan meminta Moon Goddes memberikanmu wolf atau mungkin kekuatan makhluk lain.” “Tidak perlu. Menjadi half werewolf saja sudah menyusahkan, aku tak ingin memiliki setengah lagi dari makhluk apa pun,” dengus Eve. “Tak akan ada yang tahu, malam ini bisa jadi berarti sesuatu.” Di belakang sana, atap mansion Supermoon Pack tampak bercahaya, terutama di pinggirannya. Cahaya itu bukan dari obor atau cahaya buatan penyihir rumah. Cahayanya lain, lebih terang dan lebih indah. “Cahaya apa di seberang sana, Eiden?” tanya Eve. “Entahlah. Musuh kita sedang bermain-main sebelum aku mengambil nyawanya.” “Aku tak ingin ada yang mati di antara kalian. Tidak bisakah kita berdamai saja?” “Kau lupa apa yang dia lakukan, apa yang keluarganya lakukan pada kita? Dia membunuh mate-ku, Eve, belahan jiwaku. Untuk apa aku hidup jika bukan untuk membalaskan dendam?” “Tapi kau juga membunuh kakaknya. Apa kau tidak berpikir kau juga kejam?” Eiden mendengkus, berbalik membelakangi adiknya. Emosinya bisa menjadi berantakan seketika jika membahas mate-nya yang sudah tiada. “Pergi ke kamarmu dan jangan keluar malam ini.” “Terserah. Aku juga tidak ingin terlibat,” decak Eve mengentakkan kakinya saat pergi, menunjukkan kalau dia marah. Eiden jarang marah padanya, tetapi akan langsung memusuhinya jika Eve membalas tentang perdamaian dua pack. “Jaiden, ayo mulai mengatur rencana besar untuk menghancurkan musuh kita.” Jaiden tersenyum lebar—miring. “Siap, Alpha. Dengan senang hati.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD