FAM 10 Investigation

2904 Words
PERLU diketahui, Flora cukup bangga tidak ada cetakan hitam di bawah matanya mengingat bagaimana semalam dia tidak tidur, bahkan mendorong laci yang super berat itu untuk memblokir pintu. Setelah itu semua, dia masih tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Mega Wolf kemarin saja mudah sekali memanjat ke jendelanya, itu berarti orang-orang itu, maksudnya makhluk-makhluk itu juga bisa. Di film katanya kekuatan manusia serigala itu berkali-kali lipat dibanding manusia biasa, lihat saja bagaimana Jacob merusak berbagai hal dengan mudahnya. Ya walaupun film itu hanya karangan, pasti ada yang pernah melihatnya asli. Terutama kalau mereka memang makhluk asli—seperti sekarang ini. Ya, berkat Mega Wolf itu ketenangannya hancur tak bersisa. Flora juga mulai memikirkan tentang penyihir yang dibicarakan Damian atau para omega itu, membayangkan tiba-tiba ada di belakang layaknya hantu. Semua ini terlalu memusingkan untuk diterima tiba-tiba. Sekitar tengah malam, barulah Flora sadar bahwa tidak seharusnya dia menunjukkan kelemahannya. Mereka tidak akan menyangka kalau Flora sudah tahu, dan sampai itu terjadi dia masih aman dari apa pun niat jahat mereka. Flora harus bisa memanfaatkannya. Oleh karena itu sesuai rencananya, sebelum mereka tahu kalau Flora sudah tahu, dia tidak akan terlihat takut. Ya—setidaknya tidak akan ada yang melihat ke bawah lututnya yang gemetaran di bawah meja makan. Flora menatap Damian tajam dan menuntut membuat pria itu merasa tidak nyaman. “Kenapa kau menatapku begitu?” “Kenapa kau tidak makan bersamaku? Makan sendirian di saat ada banyak orang itu tidak enak sama sekali.” Flora melirik satu per satu omega dan warior yang ada di sana, mengembalikan tatapan tajamnya pada Damian. Damian berdeham. “Aku tidak terbiasa makan bersama seseorang.” Mendengar itu, Flora mendorong piringnya dan bersedekap d**a. “Kalau begitu kau bisa makan duluan. Aku akan menunggu. Aku ingin lihat bagaimana cara orang-orang di sini makan.” Damian menahan diri untuk tidak me-mindlink Xavior atau Sean yang juga ada di sana, akan terlihat memalukan dan lemah bagi seorang Alpha meminta bantuan untuk hal sepele seperti ini. “Tentu saja tidak jauh berbeda sepertimu.” “Kalau begitu, apa yang harus kau takutkan?” Ada yang berbeda sejak kemarin, Damian merasakannya. Apa mungkin Flo masih marah soal Dane yang menyusup ke kamarnya? Apa manusia memang sangat emosional dengan hal-hal seperti itu sampai harus memusuhi berhari-hari? Ah, jika dia werewolf, Damian akan mengajaknya bertarung dan melihat siapa yang lebih banyak terluka atau menyerah. Sayang, kemarahan mate-nya kali ini salah dirinya juga. Damian tidak mampu menahan Dane mengambil alih dan dia juga tidak mampu menjelaskan pada Flora. Sang Alpha berdiri membuat Xavior dan Sean ikut berdiri. Hanya Flora yang masih duduk dengan tatapan tajamnya mengikuti pria tersebut. “Xavior, apa jadwalku hari ini?” tanya Damian. Dikarenakan kemampuan berpikir Xavior yang logis, semua perjalanan Damian sebagai Alpha diatur olehnya. “Kau ingin mengunjungi Alpha Apolo?” “Ah, benar juga. Itu akan memakan waktu seharian.” Damian mengangguk-angguk, tidak mengacuhkan Flora yang terlihat kesal di sudut matanya. “Siapkan warior, kita akan pergi sebentar lagi.” “Tanpa makan?” celetuk Flora menghentikan langkah Damian. “Aku bisa makan kapan saja, di mana saja,” balas Damian dengan nada rendah, menahan emosi. “Kau kesal?” Damian berbalik, berkacak pinggang dengan tatapan yang tidak bisa ditahan. “Menurutmu? Kenapa kau sangat memancing emosiku?” “Apa yang salah dari makan? Aku hanya ingin kita makan bersama. Bukankah itu sangat wajar?” “Tidak untukku,” desisnya. “Xavior, siapkan semuanya.” Tidak mau terhentikan lagi, Damian mengambil langkah-langkah lebar meninggalkan ruang makan. Entah sudah berapa hari dia tidak makan pagi karena mengkhawatirkan Flora akan jijik—atau takut. Cara makan manusia serigala tidak bisa tenang sama sekali, terutama jika sudah disajikan daging. “Tak kusangka hubunganmu dengan Luna sangat mengkhawatirkan, Alpha,” ujar Sean. “Aku tahu. Aku juga tidak menyangka akan menjadi begini. Apa memiliki mate manusia memang sulit?” “Karena itulah kita harus menemui Alpha Apolo benar, ‘kan?” Damian mendesah, mengusap wajahnya gusar. “Kuharap aku mendapatkan sesuatu setelah perjalanan yang jauh. Seperti tidak menyerah misalnya.” “Menyerah? Apa yang sedang bicara denganku ini Alpha Damian? Kau terdengar seperti omega tua yang ingin menjalani kehidupan biasanya. Astaga, bahkan membayangkannya saja sudah geli.” Xavior terkekeh. “Oh ya, kau ingin memerintahkan warior untuk mengawasi Luna?” Di luar mansion, Damian mendongak tepat ke arah jendela di mana Flora menetap untuk sementara. Seingatnya, mereka memang tidak pernah akur sejak hari pertama, bahkan Flora lebih sering bersama dengan Xavior. Dia menggeleng keras, Sial, jangan cemburu pada betamu sendiri. “Haruskah? Lagi pula dia tidak akan bisa ke mana-mana. Jangan biarkan dia merasa ditahan atau semacamnya.” *** Sekembalinya dari acara makan pagi—yang tidak usai—para omega mengantarkannya ke perpustakaan sebagaimana keinginannya. Dibanding berdiam diri di kamar, siapa yang tahu apa yang bisa ditemukannya di perpustakaan dengan buku sebanyak ini. Informasi tentang manusia serigala mungkin. Tidak peduli ada omega yang menunggu di luar sana, Flora menahan pintunya dari dalam agar bisa tenang sekejap. Tidak akan ada yang mendobrak, ‘kan? Setidaknya kaca jendela itu tidak terbuka. “Werewolf? Tentu saja. Semuanya jadi masuk akal sekarang. Serigala waktu itu bukan serigala murni, tetapi salah satu orang di rumah ini,” gumamnya mencari sebuah buku bertema manusia serigala. Seharusnya ada minimal satu buku seperti manusia menulis buku tentang dirinya sendiri. Harus ada yang mengabadikannya, terutama saat miliaran orang tak percaya eksistensi mereka. Walau Flora tak yakin—dan tak berharap—mereka akan muncul secara terang-terangan. Contohnya saat dia mendapatkan pekerjaan itu, harus berkendara berjam-jam ke kota lain karena memang tidak banyak orang yang mau melakukannya. Picik. “Aku tidak menyangka ada tempat seperti ini di belahan bumi mana pun. Sama seperti Atlantis yang tak pernah terbukti adanya, tetapi bisa saja memang ada tempat seperti itu. Hanya saja belum ditemukan.” Ditariknya dari rak, sebuah buku yang judulnya cukup mewakili rasa penasaran yang tak bisa dijabarkan. Pancaragam Manusia Serigala, lengkap dengan gambar serigala sebagai titik utama. “Setidaknya bahasa mereka bisa aku mengerti, entah bagaimana caranya.” Flora tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang tidak nyata atau hanya mitos selain pada Harry Potter dan Twiligt. Minimal dia tidak setertarik itu sampai mau membaca buku tanpa gambar yang sangat dibenci anak-anak. Sekarang, entah kenapa setelah membaca bab awal dari buku, mungkin semua makhluk mitologi tidak lahir begitu saja dari halusinasi seseorang. Mereka nyata, bahkan mungkin termasuk unicorn atau naga. Walau Flora tidak mengerti konsepnya yang membuat mereka sangat tersembunyi, tetap saja membuktikan tak ada yang tidak mungkin. “Tunggu. Serigala?” Flora teringat sesuatu. “Berarti serigala di danau waktu itu bukan ingin menerkamku, dia menolongku. Apa dia itu Damian?” “Astaga, kenapa aku harus terjebak dalam keadaan aneh seperti ini, sih? Manusia serigala? Aku bahkan tidak begitu percaya dengan adanya Slenderman bisa-bisanya aku berakhir di sini.” “Kenapa juga Damian harus merahasiakannya coba? Apa benar kata Mega Wolf waktu itu kalau dia tidak berniat memberitahuku? Butuh waktu, butuh waktu, menyebalkan sekali. Memangnya kenapa aku harus butuh waktu lama hanya untuk mendengarnya?” “Manusia serigala. Berarti dia sama seperti Jacob Black di Twilight. Andai aku lebih tertarik pada film fantasi seperti itu, mungkin aku akan tahu beberapa hal tentang Damian.” Flora bisa gila jika yang bisa dia lakukan hanyalah menebak semuanya. Dia tak segila itu untuk menanyakan pada Xavior atau para omega di depan sana apa yang sedang terjadi atau apa alasannya diculik ke sini, tetapi tidak ada tanda kejahatan sama sekali. Sial. Andai dia bisa menelepon 911 untuk menjemputnya pulang di mana pun ini berada. *** Seperti yang sudah dijelaskan Datian sebelumnya, perjalanan ke rumah pemukiman Apolo memerlukan banyak waktu dan melewati banyak pack. Damian harus mengambil rute yang lebih jauh untuk cari aman tidak melewati pack yang bersekutu dengan Eiden. Dan sepanjang jalan itu, Dane terus saja menggerutu banyak hal dan memaksa Damian tetap terjaga di dalam sana. Wolf itu menyalahkan Damian tentang Flora dan membuang-buang waktu dengan menempuh perjalanan jauh ini. Akan lebih bagus jika menandai Flo sekarang dan mereka bisa mulai dari sana. Karena satu dan lain hal, Damian benar-benar berharap bisa mengganti Dane dengan Rex, wolf Xavior yang tampaknya sangat penurut. Rumah yang terbuat dari kayu tersebut tidak begitu besar, tetapi cukup luas untuk hunian seorang diri. Apolo hanya menjadi rakyat biasa yang membantu anggota inti pack mengelola bahan makanan dan beberapa tugas khusus mengingat dulu dia juga pernah menjadi seorang Alpha. “Halo, Paman.” Pria yang umurnya tidak jauh dari Dation tersebut menyambut rombongan, merapikan penampilannya. “Ah, Damian. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Ayahmu sudah mengatakan kalau kau akan berkunjung dalam waktu dekat, jadi aku menyiapkan beberapa makanan untukmu, kalian semua yang datang.” Di dalam sudah terhidang beberapa potongan besar daging mentah di atas meja kecil, tetapi ada juga yang tampak matang kecoklatan. Damian tersenyum tipis. “Tidak perlu repot-repot, Paman.” Hanya Damian, Apolo, dan Xavior yang ada di ruangan itu. Sedangkan Sean dan yang lainnya ada di ruangan di luar sana, menikmati makanan sebagaimana perintah Damian. Perjalanan mereka tadi sangat panjang, pasti melelahkan walau wariornya memang sudah terlatih. Terdapat beberapa benda yang asing, kemungkinan besar peninggalan mendiang mate Apolo dari dunia manusia. Guci, hiasan bunga, atau baju yang menggunakan jahitan rumit. Terasa sekali ‘manusianya’ di rumah ini. Apolo menuangkan ramuan yang sama dengan sajian Dation. Kebiasaan keluarga. “Jadi, kudengar kau mendapatkan mate seorang manusia. Benar begitu?” “Ya. Mungkin kau bisa memberiku beberapa saran penyesuaian? Flora cukup membingungkan di saat tak ada satu pun wolf yang mendapat mate manusia di pack,” keluh Damian. “Moon Goddes juga pasti sudah merencanakannya. Hanya mereka yang biasa bepergian ke dunia manusia yang akan mendapatkannya.” ‘Dengar, Xavior, kau juga ada peluang mendapatkan mate manusia,’ ejek Damian melalui mindlink. ‘Jika sampai itu terjadi, aku tidak akan protes. Aku bisa mengikuti caramu. Selama mate-ku belum bertemu, aku masih berharap mendapat mate dari sejenisku.’ Apolo berdeham membuat keduanya kompak membuka mata. “Sudah mindlink-nya?” Xavior membungkuk. “Maaf, Alpha.” “Itu hal wajar melakukan mindlink antara Alpha dan Beta. Banyak pembicaraan serius dan rahasia yang hanya kalian yang tahu.” Apolo mendorong teko ramuan tersebut pada Damian dan Xavior, menyuruh mereka minum juga. “Jadi, apa yang ingin kau tahu?” “Terlalu banyak, aku sampai bingung harus memulai dari mana. Tapi, Paman, apa tidak apa-apa membahas ....” Damian tak sanggup menyelesaikan ucapannya, tetapi mereka semua paham apa maksud pria tersebut. Mate Apolo, Karen, sudah cukup lama meninggal—saat Apolo masih menjadi Alpha dan wanita tersebut menjadi Luna. Damian bersaksi sendiri betapa saat itu Apolo tidak bisa menerima kepergian Karen dan menyalahkan dirinya sendiri sampai berniat ingin bunuh diri. Dia bahkan terang-terangan menantang para rogue untuk melawannya. Sebagai kakak, Dation yang maju lebih dulu ingin menenangkan adiknya. Apolo tidak sedang dalam kondisi bisa mengganggu, membangunkan wolf Dation dan mereka bertarung sengit. Damian sampai menangis karena tak mau kehilangan ayah atau pamannya melihat keduanya saling serang seolah pilihannya hanya menang atau mati. Apolo terkekeh pelan. “Tidak apa-apa. Meski aku tidak akan bisa melupakan Karen, bukan berarti aku harus selalu bersedih. Sebuah keajaiban aku masih bisa hidup sama sekarang, bahkan saat mate-ku sudah tak ada.” Pria itu memulai penjelasannya. “Ada banyak perbedaan antara manusia dan werewolf, Damian. Aku pun mengalami kesulitan saat dulu bertemu dengan Karen. Kami sangat berbeda dan saat itu aku cukup temperamen. Butuh waktu lama agar dia mau menerimaku. “Mereka tidak suka darah atau daging mentah, harus yang matang dan berasa. Kau tahu rasa manis yang kita rasakan dari daging mentah? Mereka tidak akan bisa merasakannya. Mereka mendapatkan rasa manis dari suatu bumbu bernama gula. Ya, ada banyak bumbu yang sangat mereka sukai.” “Ah, bumbu. Itu yang ditanyakan Luna saat makan,” ujar Xavior mengingatkan Damian. “Di dunia manusia, serigala hanyalah hewan liar yang tidak bisa bicara. Sama seperti kuda yang berbeda dengan Centaur, semua Centaur di sana hanyalah kuda. Mereka tidak berdampingan dengan makhluk-makhluk yang ada di sini. Jadi, mereka yang lebih kesulitan dibanding kita menerima mereka.” Kilau mata Apolo berbinar-binar, membayangkan masa-masa indahnya dengan sang mate. “Ya, Flora juga terheran-heran saat pertama kali melihat Phoenix.” “Mereka senang hal-hal romantis, seperti seikat bunga atau sebuah makanan bernama coklat. Para manusia wanita senang dipuji. Mereka bepergian dengan kendaraan beroda, seperti alat untuk membawa barang bawaan dari dunia manusia. Cara makan kita berbeda. Di dunia manusia, tidak ada istilah mate. Mereka bisa menikah dengan siapa saja, bahkan beberapa kali.” Xavior menggeleng-geleng tak percaya. “Bagaimana manusia bisa hidup dengan banyak mate? Apa mereka tidak puas hanya dengan satu orang yang dicintai seumur hidup?” “Mereka juga tidak tahu dengan yang namanya Moon Goddes atau penyihir rumah. Mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri. Itu merupakan nilai tambah bagimu. Kau harus menunjukkan kalau dia bisa mengandalkanmu dalam kondisi apa pun sehingga dia tidak akan bisa pergi,” jelas Apolo. Kening Damian mengerut. “Benarkah? Flora selalu mencari kesempatan untuk kabur. Aku harap itu benar-benar bisa berhasil.” Akan tetapi mengingat bagaimana tingkah Flora, mungkinkah dia memerlukan suatu bantuan? Ah, selain melibatkan diri dengan putri duyung. Damian tak mau Flora membutuhkannya hanya di saat bahaya karena itu berarti ada risiko jika Damian tak bisa menyelamatkannya. Dan itu artinya jika Flora menerimanya, hanya karena balas budi. “Kau tahu? Untungnya Karen tidak pernah mencoba melarikan diri walau tahu aku bukan manusia,” ejek Apolo. “Lalu bagaimana dengan mark, Paman? Apa kau langsung menandainya?” “Kesalahanku yang tak bisa bersabar, aku langsung menandainya di hari ketiga aku membawanya paksa ke sini. Hal yang sangat bodoh. Dia jadi menjaga jarak dan tidak mau bicara padaku dalam waktu lama. Kau sendiri bagaimana?” “Aku belum menandainya karena khawatir dia akan menjauh. Beberapa waktu lalu juga Dane hampir saja menandainya dan dia masih marah sampai sekarang.” “Kau melakukan hal yang benar. Lebih baik tandai saat dia sudah mengerti tentang dirimu.” Damian tersenyum penuh kemenangan walau wolf-nya tidak bisa melihat. “Kau dengar itu, Dane?” ‘Jangan banyak bicara. Ingat, aku sedang marah padamu. Kau pulang nanti jalan kaki sana.’ “Sudah menemukan mate, masih saja merajuk. Kalau Flo memiliki wolf juga, mungkin dia akan malu memiliki mate emosional sepertimu.” Apolo menepuk-nepuk bahu Damian dengan tatapan bangga dan penuh harap. “Paman percaya kau bisa melakukan hal yang lebih baik daripada hal yang gagal paman lakukan pada Karen. Jangan gagal, jangan sampai kau kehilangan dia, Damian. Kau tidak akan bisa menahan rasanya kehilangan mate.” Damian bungkam beberapa saat, tak menyangka Apolo akan mengatakannya. “Sudah cukup aku kehilangan Dasha. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika aku harus kehilangannya juga.” *** “Kau di sini sejak pagi?” Flora terlonjak kaget, kemudian menutupi wajahnya dengan buku. Astaga, bisa-bisanya dia ketiduran di perpustakaan, saat hari sudah hampir malam begini. Langit di luar sana sudah berotasi menjadi langit gelap. Dia tidak siap karena baru membaca sedikit tentang buku itu, tetapi kemudian percaya diri saja berbekal cerita-cerita yang diingatnya tentang manusia serigala di film. Dia menaruh bukunya, melirik Damian berani. “Kau pikir aku bisa melakukan apa lagi? Jangan lupa, aku terkurung.” Damian menatap buku-buku di rak yang paling dekat dengannya, sadar kalau semua buku di sana setidaknya berkaitan dengan manusia serigala atau pack. “Kau ... tidak membaca buku macam-macam, ‘kan?” “Apa maksudmu buku macam-macam?” tantang Flora. “Oh, kuperhatikan kau banyak tertarik dengan manusia serigala, ya? Apa kau salah satu penggemar Twilight?” “Ya.” Diam-diam Flora berdecih. Dia bertaruh berkaca pada betapa tidak modern tempat ini, Damian tidak pernah melihat atau bahkan tahu filmnya seperti apa. “Kau pernah dengar sesuatu seperti mate? Aku sangat penasaran. Sebenarnya mate Jacob itu Bella atau Renesmee ya? Aku tidak ingat. Sebelum Renesmee lahir, Jacob tampak mencintai Bella. Jadi, apakah dia punya dua mate? Apa bisa bekerja begitu?” Flora melirik Damian, menilai ekspresi yang sulit dia baca. “Tidak, mate hanya ada satu.” “Bagaimana bisa kau tahu?” “Hanya pernah baca buku tentang itu.” “Kalau begitu, apa artinya mate bagi manusia serigala ya? Apa sama seperti pacar yang bisa main-main dan ditinggalkan setelahnya?” Damian menelan ludah. Matanya menggelap, tetapi bukan merah—bukan karena Dane ingin mengambil alih. “Mate berarti segalanya.” “Benarkah?” Flora menyeringai, tertarik dengan ekspresi dan jawaban Damian yang tak terduga. “Tapi ‘kan manusia serigala itu hanya fantasi. Mereka tidak nyata sama sekali. Jadi, bisa saja aku mengatakan jika mate mereka lebih dari satu.” “Mereka nyata,” tegas Damian kemudian menambahkan, “Aku yakin mereka nyata.” Flora mengedikkan bahunya, mengambil buku tadi dan meletakkan di tempat yang seharusnya. Ya, di mana saja bisa. “Aku tidak berharap banyak. Tidak ada yang pernah melihat mereka.” Mereka berhadapan, berjarak beberapa senti saja. Walau Flora mengetahui jika pria di depannya ini bukan manusia, anehnya dia tidak merasa dalam bahaya. Pria itu tetap seperti Damian, si Alpha menyebalkan. Bukannya seseorang yang tertarik dengan daging dan darahnya. “Damian, kau mau melihat gerhana bulan? Itu pasti akan sangat romantis seperti hari Valentine. Kita bisa piknik di bawah cahaya bulan di atap.” Gerhana bulan, saat semua makhluk immortal akan berubah ke wujud aslinya selama bulan tertutup oleh bayangan bumi. Momen tersebut hanya sebentar, tetapi kemudian para wolf akan gelisah dan mengambil alih sisa malam. Apakah itu saat yang tepat untuk mengatakan pada Flora jati dirinya? Damian tersenyum manis. “Tentu, aku mau.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD