Telat

986 Words
"Ta, jangan di tutup dulu atuh!!" teriak Oji sembari berlari untuk menuju ke arah gerbang yang sebentar lagi akan di tutup rapat oleh Agatha. "Telat mulu lo," sewotnya yang akhirnya membukakan lagi pintu gerbang. "Besok-besok l telat lagi, gak akan gue bukain!" Oji nyengir lebar. "Siap bu ketua, aing akan selalu ingat," ucapnya sembari memberi hormat pada Agatha. "Cepatan sana masuk," perintah Agatha yang di angguki oleh cowok itu. Agatha menghela napas. "Ta," panggil Tesa, yang sedari tadi menemani Agatha menjaga gerbang. Agatha menoleh. "Apaan?" Tesa nyengir lebar. "Gue ada mapel bu Niken nih, gue boleh duluan gak?" "Btw, gue juga ada mapel pak Aryo biasa aja tuh," timpal Agatha. Tesa menggaruk belakang kepala. "Masalahnya ada tugas yang mesti di kumpul, sedangkan gue ...." "Belom ngerjain," sela Agatha yang di angguki oleh cewek itu. Tesa tersenyum lebar sebagai jawaban. "Yauadah sana, tapi besok-besok nggak lagi," ucap Agatha. "Beneran nih?" Agatha mengangguk malas. "Yaudah gue duluan ya," pamitnya yang tanpa menunggu jawaban dari Agatha langsung lari gitu aja. Agatha diam di samping gerbang sekolah sembari memandang buku yang ada di tangannya dengan serius. Buku tersebut berisi daftar nama siapa saja orang-orang yang telat setiap harinya. Agatha tak habis fikir ketika melihat nama satu orang ada di setiap lembar kertas yang artinya ia selalu telat datang. "Yah gue telat," desah seseorang yang menganggetkan Agatha dari keterdiamannya. Sontak cewek itu mendongakan kepalanya. "Lo!" baru saja Agatha membaca namanya di buku, kini orangnya sudah ada di hadapannya. Mario nyengir lebar. "Iya ini gue, calon masa depan lo," sahutnya sembari tersenyum lebar. "Daripada sekolah lo mending di bawa ke RSJ aja deh, gue takut orang-orang pada ketular penyakit saraf elo." "Ntar lo kangen sama gue lagi," ucapnya dengan tampang tengil. "Najis!" sahut Agatha spontan yang di balas dengan suara tawa yang berderai. "Bukain dong, Yang," ucap Mario setelah menghentikan tawanya. "Bukain? Lo fikir sekolah ini punya nenek moyang ...." "Bisa di bilang kakek gue donatur di SMA ini," sela Mario. Agatha menggeram menaham amarah, ia lupa kalau silsilah keluarga Mario adalah kaya 7 turunan. "Serah elo," ketus Agatha. "Mending lo pulang aja sana, pintu gerbang juga udah di tutup sejak ...." Agatha melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "15 menit yang lalu." "Kalo gue pulang yang jagain elo siapa?" "Gak usah lebay, gue bukan siapa-siapa elo," ketus Agatha sembari melipat kedua tangannya. "Yakin? Kan kita udah pacaran." "Sejak kapan?!" Agatha memelototkan matanya. "Sejak 2 hari yang lalu tepat jam 11.23 WIB, hayo pasti lupa tanggal jadian kita?" Mario menaik turunkan alisnya. "Sinting!" "Ayo dong, Yang. Bukain gerbangnya, nanti guru-guru nyari gue gimana?" "Kok jadi maksa?!" "Buk ...." "Yah, kak udah gak bisa masuk ya," sela seorang cewek dengan muka piasnya sembari berdiri di samping Mario. Agatha sontak saja melihat ke siswi tersebut. "Nama lo siapa?" "Regi kak," sahutnya. "Bentar gue cek dulu," Agatha langsung saja melarikan matanya ke buku yang sedari tadi ia bawa dan mencari nama Regi di antara para siswa yang pernah telat. Dan hasilnya, tidak ada. "Oke, lo boleh masuk," ucap Agatha pada Regi, karena ini baru pertama ia telat jadi masih di beri keringanan. "Tapi jangan telat lagi ya," ucap Agatha. Regi tersenyum girang kemudian menunggu Agatha yang tengah membuka gerbang. "Makasih kak," ucapnya dan masuk dengan enteng ke dalam area sekolahan. Agatha mengangguk dan cewek itu langsung berlari tunggang langgang. "Eh, eh! Lo ngapain masuk!" bentak Agatha tak terima melihat Mario yang berusaha masuk ke dalam gerbang, untungnya Agatha dengan cekatan kembali menutupnya. "Lo kok pilih kasih sih, Yang. Cewek tadi lo biarin masuk, sedangkan gue yang notabennya pacar lo malah gak dibolehin," rutuknya. "Dia itu baru kali ini telatnya, lah lo kan tiap hari telatnya," tutur Agatha. "Ya tetep aja, lo gak boleh ngebeda-bedain tiap individunya." "Sok idelalisme lo!" "Ya udah gue janji ini kali terakhir gue telat, besok-besok gak akan lagi," ucap Mario. Mata Agatha memincing. "Beneran?" Mario menganggukan kepalanya. "Kalo lo ngulangin lagi, lo bakal ngapain?" "Cium lo," sahut Mario cepat dengan cengiran lebarnya. Agatha melotot dan lantas saja jari telunjuknya mendarat di jidat Mario dan mendorongnya ke belakang. "Gue lagi serius!" "Lo fikir gue bercanda," sahut Mario. "Lo gak boleh masuk kalo gitu!" "Yahhh, kok gitu. Iya deh iya, gue serius gak akan telat lagi," ucap Mario pada akhirnya. Setelah menimbang-nimbang akhirnya dengan berat hati ia mulai membuka kunci gerbang dan mendorongnya pelan. Mario dengan entengnya masuk begitu saja. "Awas aja kalo besok elo telat lagi," ancam Agatha. Mario nyengir lebar. "Makannya biar gue gak telat, berangkatnya bareng." "Mimpi sana lo!" "Kok mimpi sih? Gue ngajak berangkat bareng, biar gak telat lagi." "Itu sih enak di elonya," ketus Agatha. "Tap ...." "Udah deh mending elo enyah dari hadapan gue, sana!" Agatha mendorong punggung Mario agar segera berlalu dari hadapannya. "Dadah Sayang," Mario melambaikan tangannya pada Agatha yang di balas dengan kernyitan jijik oleh cewek itu. Mario tertawa puas sedangkan Agatha harus menahan sabar. 30 menit setelah bel jam pertama tadi berbunyi, akhirnya Agatha memutuskan untuk kembali ke kelas. Dan, setelah sampai ternyata gurunya gak ada dong. Enak banget kan? "Pak Aryo kemana, Din?" tanya Agatha pada Dina. Dina yang lagi sibuk main handphone mengedikan bahu tanda tidak tahu. "Sandiiiii, siniiin pulpen gue!" teriak Siska dengan suara membahana di seluruh penjuru kelas. "Yailah pinjem bentaran doang," sahut Sandi sembari menghindari dari kejaran Siska. "5 pulpen gue ilang, dan alesan lo selalu sama!" hardik Siska. "Pelit amat sih lo, kan bisa beli lagi." "Lo bilang gue pelit?" Siska menatap tak percaya pada Sandi. "Kalo gue pelit, lo gak akan gue pinjemin pulpen!" "Gue mau nyal ...." "Kenapa sih maneh sama maneh teh berisik aja, gue yang lagi konsen tidur jadi ke ganggu kan," protes Oji dengan tampang kesalnya. "Salah lo lah, ngapain tidur di dalam kelas," celetuk Agatha. Oji meringis pelan, intinya kalau Agatha sudah bersaba lebih baik umat yang lainnya diam mengalah dari pada kena imbasnya. "Tuh dengerin," celetuk Sandi. "Mending kayak gue, ngerjain tugas." "Tugas pala lo! Lo ngerjain pr di sekolah anjir," sewot Siska. "Yailah sewot mulu lo, dari pada sewot mending batuin gue kerjain pr." "Enak aja! Lo fikir gue sudi!" Sandi nyengir. "Ya udah kalo gak mau bantuin kerjain, bantuin pinjemin pulpen aja juga gak papa. Pulpen gue abis." "Abis? Sejak kapan lo punya pulpen, setiap nulis lo juga selalu pinjem pulpen ke orang lain." "Jan buka aib juga kali sista." "Nama gue SISKA!" Sandi tertawa lebar yang di ikuti oleh para siswa lainnya. Ya ini lah kelas Agatha, 12 IPA 3. Banyak bet orang yang bermulut bacotnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD