Perbincangan

1583 Words
“Jadi gini Pak De, Bude. Kali ke sini mau mewakili Joko yang katanya mau bicara sama Pak De dan Bu de tapi ngak berani katanya,” ucap Alan yang bertamu ke rumah joko bersama Ucup. “Loh, kenapa harus minta diwakili kamu segela sih Lan. Jok, kamu itu ya sama orang tua kok kayak sama orang lain begitu,” sahut ibunya Joko. “Emang Alan yang nawarin diri duluan buat ngomong sama Emak sama Bapak,” jawab Joko ringan. Bapak dan ibunya Joko saling melirik satu sama lain. “Emang mau bicara apa sih Lan?” lanjut bapaknya Joko. “Gini Pak de Bu de, yang soal rencana perjodohan Joko sama Ani. Kan katanya Joko dia belum mau menikah Pak De, tapi dia ngak berani buat nolak permintaan Bu De sama Pak De, begitu,” lanjut Alan. Ibunya Joko tidak menjawab, hanya saling memandang dan berpikir satu sama lain terlebih dulu. “Izinkan kami bicara ke dalam sebentar ya Lan, Cup,” ucap ibunya Joko mengajak bapaknya joko masuk ke dalam bilik yang mereka sebut kamar. Selang beberapa saat saat Alan dan yang lain mengobrol Pak De dan Bu de pun keluar dari kamar. “Baiklah Nak Alan, Nak Joko dan Ucup. Pak De dan Bude sudah berunding, dan kami telah sepakat untuk membatalkan perjodohan antar Joko dan Ani,” ucap ibunya Joko. “Alhamdulillah,” ucap Alan dan Ucup serentak. Joko tidak terlalu memperhatikan percakapan tersebut. Ia sibuk main game offline karena kalau mau main game online sudah tidak ada sinyalnya lagi. “Ya sudah kalau begitu Buk, saya sama Ucup permisi dulu,” Ucap Alan mengukir senyum yang diartikan berbeda oleh kedua orang tua Joko. “Yah, kalah lagi deh. Kalah mulu deh perasaan,” ucap Joko reflex kerana main game ofline saja bisa kalah. Semua mata jadi tertuju sama Joko yang bicaranya gede sekali di tengah malam yang sepi. Karena rumah mereka berjauhan, maka hanya terdengar suara jangkrik dan binatang yang suke berbunyi lainnya pada malam hari. “Pantes belum mau menikah,” ucap ibunya Joko melirik sinis pada anaknya. “Ya sudah kalian pulang gih udah malem. Bawa senter ngak? Nanti ke injek binatang liar lagi,” tanya Bapaknya Joko. Mereka hidup di kelilingi hutan, tentunya banyak hewan liar seperti ular dan yang lainnya. “Ini HP ada senternya Buk,” ucap Alan menunjukkan ponsel kentangnya. Ponsel teman-temannya jauh lebih bagus dari punya dia. ponsel Alan ia beli seken dan sudah jauh ketinggalan jaman. “Oh iya, sekarang udah canggih ya. Jadi ngek perlu bawa senter kemana-mana seperti dulu,” jawab bapaknya Joko. “Ya sudah kami permisi ya Pak,” Ucup menyalami orang tua Joko, Alan mengikuti gerakan Ucup. “Iya.” “Assalamu’alaikum,” ucap Ucup dan Alan yang sekarang jauh lebih sopan kerena mereka sudah mengaji. “Wa’alaikum salam,” jawab kedua orang tua Joko. Sedangkan Joko masih saja sibuk main di tempat duduk yang terbuat dari bambu, yang dibikin ayahnya saat mereka baru menbangun tempat tinggal dulu. “Ngak nyangka kita bisa semudah itu membatalkan perjodohan itu Lan. Gwa kira tadi bakalan perang dingin dulu sama orang tuanya Joko,” ucap Ucup ketika perjalanan pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. “Gwa juga ngak nyangka Cup. Alhamdulillah sekali.” Tempat tinggal Alan sampai terlebih dulu dan ladang tempat tinggalnya Ucup bersebelahan dengan ladang yang di kelola oleh orang tuanya Alan. Mereka di sini menanam sayur, semua modal di tanggung oleh pemilik lahan. Mereka akan diberikan uang setiap minggunya dan itu dianggap hutang. Karena mereka mengelola ladang system bagi hasil. Jadi selama belum panen maka mereka berhutang pada pemilik lahan dan modal. Setelah panen mereka akan menghitung hasil panen dan pembagiannya baru di potong hutang dari keluarga masing-masing. Jika baru tanam benih mereka membutuhkan beberapa bulan untuk panen, namun jika sudah panen maka akan penan terus selama berbulan-bulan, kemudian bibit lama di buang dan menanam bibit baru. Untuk bibit baru tidak perlu lagi memberikan pupuk pada tanah, karena masih tersisa pupuk lama yang bisa mereka nanami dua kali penanaman. Setelah dua kali penanaman maka ada penggemburan tanah lagi dan diberikan pupuk kembali. Setelah diberikan pupuk pada tanaman maka mereka menunggu selama berminggu-minggu baru bisa menanam biabit sayur yang sudah di cemai di tempat lain terlsbih dulu. Yang di indah berupa anak tumbuhan yang masih kecil-kecil. ** Keesokan harinya orang tua Ucup datang menemui orang tuanya Alan setelah paginya mereka menemui orang tuanya Joko. Oleh orang tuanya Joko di arahkan untuk menemui orang tuanya Alan setelah sepakat perjodohan itu di batalkan. Rupanya orang tua Joko salah anggapan. Mereka mengira kalau Alan yang sebenarnya mau menikahi Ani, bukan Joko. Mereka mengira jika Ani dan Alan barangkali sudah ada hubungan sejenis pacaran tanpa mereka ketahui, makanya Alan berani menemui orang tua Joko demi meminta perjodohan itu dibatalkan. “Oh,.. begitu Buk. Iya nanti kami bicarakan dulu ya Pak. Nanti kami bakalan temuin Bapak kalau semua sudah sepakat,” jawab ayahnya Alan. Alan baru pulang dari memetik sayur saat kedua orang tuanya Ucup hendak pulang. Mereka tidak bisa berlama-lama di sana karena harus mengejar memtik timun yang sudah pas untuk di petik. Nanti kalau tidak selesai hari ini timun bisa ketuaan dan pembali dari kota tidak mua lagi menerimanya. Biasanya panen mentimun bisa berton-ton sekali panen. “Kami permisi ya Buk, takut kesorean belum selesai nanti pembelinya udah pada pulang lagi.” “Iya Buk,” sahut ibu dan Bapaknya Alan. Alan yang baru pulang heran melihat orang tua Ucup ada di tempat mereka, karena biasanya mereka sibuk bekerja. Kedua orang tua Ucup tersenyum pada Alan, Alan pun membalas senyuman itu. “Ada apa Buk? Ada hal penting kah yang mereka tanyakan?” tanya Alan sepulangnya orang tua Ucup dari rumahnya. “Masuk dulu, ada yang ingin kami bicarakan!” ajak bunya Alan. ** “Kok gitu sih Buk, kanapa jadi Alan yang mau dijodohkan?” Alan langsung terperanjat kala orang tuanya menceritakan niat kedatangan orang tua Ali ke tempat tinggal mereka. “Alan, bukannya kamu sendiri yang minta perjodohan Joko dan Ani di batalkan?” tanya ayah Alan heran saat Alan jadi terperanjat kaget. “Iya Pak, tapi bukan berarti Alan yang mau menikahi Ani,” Alan menjelaskan dengan lantang. “Alan kamu jangan berbohong sama Bapak dan Ibuk, kamu suka kan sama Ani?” tanya orang tau Alan lagi. “Suka sih suka Pak, masak Alan benci siih. Tapi Alan hanya suka sebagai kakak dan adik Pak, ngak mau sampai menikah.” Alan duduk kembali pada tempat duduk yang terbuat dari bambu. “Alan, kamu salah mengartikan perasaan kamu. Kamu bahkan berani menemui orang tua Joko demi membatalkan perjodohan itu. Artinya dalam hati kamu, kamu itu ngak rela Ani menikah sama Joko,” jawab ibunya Alan yang juga ngotot dengan pemikirannya. “Pak Alan hanya ngak mau mereka yang di bawah umur menikah, mereka tidak akan bahagia Pak. itu sebabnya Alan berani menemui orang tuanya Joko, bukan karena Alan menyayangi Ani dan sebagainya. Bukan begitu Pak Buk,” Alan berusaha terus menjelaskan. “Begini saja Nak, kami tunggu kamu berpikir terlebih dahulu untuk memastikan perasaan kamu. Selanjutanya jika kamu sudah benar-benar matang dalam berpikir barulah kita temui orang tuanya Ucup dan membicarakan soal ini lagi,” Bapak Alan mencari jalan yang menurutnya lebih bijak. “Baik sekarang atau nanti Pak, keputusan Alan tetap sama. Alan belum mau menikah,” ucap Alan tegas. “Kita lihat bagaiumana keputusan kamu nanti ya,” ucap ayahnya Alan yang merasa tidak yakin dengan perkataan putranya sekarang. ** Alan menemui ucup guna ingin menjelaskan duduk permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi ketika Alan hendak menghampiri Ucup, Ucup telah menatapnya dengan sinis terlebih dulu. Sebelum akhirnya Ucup menjauh dari tempat nya sekarang. Ia mau berpindah karena tahu Alan ingin menghampirinya. “Cup, Cup denger dulu Cup. Kok lu jadi kayak anak kecil begini sih,” Alan mengejar ucup di tengah ladang sayur yang di sekeliling mereka bergelantungan buah mentimun. “Gwa ngak perlu sahabat munak kayak lu Lan. Lu janji bakal bicara sama orang tua Joko soal perjodohan mereka kan. Kenapa sekarang Lu yang malah mau menikahi Ani. Semua ini hanya akal-akalannya Lu kan Lan. Gwa akui lu memang cerdik Lan,” ucup marah-marah sama Alan namun tangannya tetap memetik mentimun. Mereka harus bergegas untuk pemetikan hari ini dan mengantarnya ke desa setempat agar bisa di jual pada orang kota yang setiap harinya akan datang ke sana namun mobilnya tidak masuk sampai ke dalam hutan. Para pengelola sayur lah yang akan mengantar ke luar hutan pakai motor butut mereka. “Cup ini di luar dugaan gwa. Gwa juga ngak nyangka kalau orang tuanya Joko malah beranggapan beda dari maksud kita tempo hari,” Alan mencoba menjelaskan namun Ucup tidak menanggapinya dengan serius. “Kalau lu memang serius buktikan. Tolak perjodohan itu sekarang juga. Nyatanya lu dan orang tua lu bakalan terima kan?” Ucup menatap Alan dengan amarahnya. “ Gwa udah bicara sama orang tua gwa Cup, dan gwa udah nolak. Tapi mereka mau membicarakn itu nanti. Tenang saja Cup, gwa ngak bakal nikahin Ani kok,” Alan menjawab dengan mantap, namun dipandangan Ucup itu hanya sebuah kata-kata busdyit semata. “Gwa ngak perlu bacot lu Lan,yang gwa butuhkan bukti keseriusan dari omongan lu yang katanya lebih tahu dari pada orang lain,” sindiran pedas terucap dari bibir tipis Ucup. “Oke, oke gwa bakalan buktiin.” Alan kembali ke ladang mereka dan kembali bekerja memetik sayur dan mengantarnya ke desa setempat. Kali ini Ucup yang biasa barenga dengannya mengantar sayur ke desa tidak terlihat. Ucup memlilih agar tidak berbarengan dengan Alan. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD