Bab 4 : Pertanyaan Keramat

1627 Words
Lagi dan lagi.. Pertanyaan yang pada orang yang sama..  'Kapan nikah?'  *** Pagi yang indah untuk jiwa yang tenang. Ya, aku kira ungkapan itu yang aku dapatkan pagi ini. Namun ternyata aku salah sebab pagi ini di ruang makan, keluarga kecil Shakila duduk tenang di kursi mereka masing-masing. Aku menghela napas, apa lagi ini? Kemarin saja di acara reuni sekolahku aku sudah kehilangan mood dan sekarang aku kembali harus di hadapkan dengan suasana canggung bersama adik kandungku sendiri pada saat moodku belum kembali baik.  Namun begitu melihat wajah bahagia bunda dengan senyuman yang henti keluar dari bibirnya membuatku mau tak mau ikut tersenyum, ini adalah mimpi bunda juga amanah almarhum ayah. Bunda akhirnya sadar akan kehadiranku pun tersenyum lembut. "Sini Sayang, kita sarapan bersama," ajak bunda padaku, otomatis ajakan bunda mengalihkan kegiatan Shakila yang sedang menyuapi Aqidah dan Arash sedang menikmati sarapannya pun terhenti.  Mereka melihat kearahku secara bersamaan, Shakila langsung kikuk sedangkan Arash tetap santai seperti biasa walau aku tahu dalam hatinya ia juga sedang kikuk sama seperti istrinya. Aku tersenyum tipis kepada mereka dan di balas senyum canggung, akupun memilih duduk di depan Shakila duduk.  Aku mengambil nasi goreng untuk sarapan pagi ini, karena ini hari minggu aku akan ke kantor seperti biasa. Ya, di kantor WO milikku hari minggu tetap buka. Jadinya tak ada waktu untuk weekend bersama keluarga, apalagi kalau musim-musim pernikahan seperti bulan ini. Kadang kantor WO aku akan tetap kerja tanpa hari libur sama sekali, dan itu ada juga keuntungan buatku hari ini. Tanpa harus ada alasan menghindar untuk weekend bersama keluarga.  Aku mengunyah dengan santai, begitu pun dengan bunda dan Aqidah namun tak bagi Shakila dan Arash. Dari itu aku buru-buru menyelesaikan makanku, begitu habis aku pamit kepada bunda.  "Bun, aku berangkat sekarang ya." Aku sudah berdiri dan mencium tangan bunda, ketika mendengar suara Aqidah.  "Auntie Sha, mau ke mana?" tanyanya dengan aksen cadel.  Aku tersenyum lalu menjawab, "Auntie mau kerja dong, Aqidah." Bibir mungilnya mengerucut lucu. "Kok kerja sih, kan Aqidah datang ke sini karena mau main sama Auntie." Aku menahan senyum geli karena ulah Aqidah, bunda malah terkekeh sedang papa dan mamanya hanya tersenyum tipis.  Aku memasang wajah menyesal. "Maaf ya, Sayang. Auntie janji sabtu depan kita main bersama, oke?" janjiku pada keponakanku yang manis ini. Ketika Aqidah menganggukkan kepala kemudian melanjutkan makannya dan aku tersenyum lega, aku pun kembali pamit ke bunda dan juga pada Aqidah, Arash, dan Shakila.  "Kalau gitu aku pergi dulu ya, Bun."  Bunda tersenyum. "Hati-hati di jalan ya." aku mengacungkan jempolku lalu beralih pada keluarga kecil Shakila.  "Aku pergi dulu, ya." Mereka mengangguk kompak, aku segera berlalu meninggalkan meja makan menuju halaman depan tempat di parkirnya mobil kesayanganku.  Akhinya setelah perjalan selama dua puluh menit tanpa kena macet, aku sampai juga di kantor yang aku bangun dengan usahaku sendiri. Hari minggu memang Jakarta bebas macet karena biasanya warga ibukota akan pergi ke Puncak untuk liburan bersama keluarga masing-masing. Aku berjalan memasuki kantor, dan menyapa beberapa pegawaiku. Di kantor ini berlantai tiga, di mana lantai satu itu tempat lobby, resepsionis dan juga pantri tempat istirahat pegawai, lantai dua adalah kumpulan baju pengantin wanita dan pria hasil dari design-ku beserta ruang untuk meeting dengan klien-klienku, dan lantai tiga adalah ruanganku beserta tempat musolla untuk sholat para pegawai. Begitu sampai ke lantai tiga, aku melihat Ainun sudah duduk di meja kerjanya dengan beberapa berkas yang ada di tangannya. Aku mendekat perlahan, suara heels menggema di lantai ini makanya dengan cepat Ainun mendongak lalu berdiri menyambutku.  "Selamat pagi, Bu."  Aku tersenyum. "Selamat pagi juga, Ai." Lalu masuk ke dalam ruanganku, tanpa aku suruh Ainun mengikutiku. Begitu aku duduk.  Ainun langsung membacakan agendaku hari ini. "Hari ini jadwal Ibu lumayan padat, ada tiga klien yang minta bertemu namun di tempat yang berbeda," Sebelum melanjutkan Ainun terlebih dulu menarik napas, "jam 11.00 klien kita yang bernama Bu Veronica ingin bertemu di restoran Jepang karena ia ingin membahas tentang souvenir yang akan dia pakai nanti, jam 1.20 siang Ibu Rani ingin bertemu di cafe milik Kakaknya untuk membahas hotel mana yang akan mereka sewa, dan jam 3.20 sore Mbak Vara ingin bertemu di kedai kopi milik calon suaminya untuk membahas daftar menu apa saja yang akan mereka inginkan di acara resepsinya." Tutupnya.  Aku mengangguk mengerti berkata,"Yaudah, kamu boleh keluar. Kasih ingat saya kembali setengah jam sebelum jam temu di mulai." Ainun mengangguk. "Baik, Bu." Tanpa menunggu jawabanku, Ainun segera keluar dari ruanganku. Aku sukanya cara kerja Ainun, tepat dan tangkas. Awal aku mengenalnya saat kami tak sengaja bertemu di event wedding ia adalah salah satu MUA di sana, jangan salah dengan Ainun. Kalau ia make-up wajah orang hasilnya akan sangat luar biasa. Namun karena jenuh dengan kerjaannya itu, ia malah mengikutiku kerja yang pada saat itu masih ragu-ragu untuk membuka wedding organizer sendiri, namun karena dukungan dari bunda dan juga bantuan dari Ainun aku berhasil membuka WO ini sampai sukses. Akhirnya Ainun buka kelas MUA untuk yang mau belajar dengan gaji yang ia tabung selama bekerja padaku, namun ia tak lantas keluar dari sini. Aku kemudian melanjutkan pekerjaan kembali sembari menunggu meeting bersama klien di luar. *** Akhirnya meeting dengan klien bernama Veronica selesai juga, hampir sejam kami membicarakan souvenir yang ingin ia pakai untuk resepsi nanti. Dari sekian banyak yang aku rekomendasikan, ia akhirnya memilih mug kecil untuk di jadikan souvenir di acaranya nanti.  Setelah kesepakatan kami selesai, ia mengajak aku makan siang bersama. Veronica adalah seorang putri dari pengusaha besar, ia di jodohkan dengan salah satu anak pengusaha juga. Bisa kalian bayangkan bagaimana nanti acara pernikahan mereka di selenggarakan, pastinya semua serba mewah dan elegan sesuai karakter dari kedua mempelai.  Aku mengendarai mobilku menuju ke cafe tempat klienku yang lain bernama Rani, ketika memasuki cafe aku memandang sekeliling interior-nya khas anak gaul sekali. Terbukti banyak anak-anak sekolahan juga anak kuliahan yang menjadi pengunjung, aku datang lebih cepat sepuluh menit dari jam kami janjian, karena Rani belum terlihat, aku lebih dulu memilih duduk di meja bagian ujung dekat pintu.  Aku kembali membuka iPad yang selalu aku bawa kalau lagi di luar bertemu dengan klien, saking asyiknya aku sampai tak sadar seseorang memanggil namaku begitu semangat.  "Shalu." Aku mendongak begitu mendengar namaku di panggil. Aku tersenyum tipis begitu melihat tante Vina, kalian tahu? Tante Vina ini adalah sepupu bunda yang sangat cerewet dan kepo akut. Mama Tante Vina dan ayahnya bunda itu saudara kandung, kakekku itu kakak tertua setelah mamanya tante Vina. Sedangkan bunda yang anak tunggal jadinya beliau sangat dekat sepupu-sepupunya.  "Tante Vina," sapaku sambil menyambutnya dengan berdiri lalu mencium tangannya, tante Vina tersenyum manis namun aku tahu di balik senyumannya itu ada banyak pertanyaan di kepalanya yang siap-siap beliau keluarkan sebentar lagi.  "Kamu ngapain di sini, Sha? Kencan ya?" tanyanya, tuh kan apa aku bilang tante Vina belum apa-apa sudah tanya-tanya yang aneh. Padahal aku belum duduk kembali di kursiku. Aku mencoba tersenyum walau dalam hatiku sudah jengkel sekali. "Aku mau meeting, Tan. Kebetulan klien aku minta janji temu di cafe ini," jelasku mencoba sabar. Aku kembali duduk dan tanpa kata izin padaku beliau malah duduk di depanku dengan santai. "Oh... Kirain kamu kencan di sini," katanya pura-pura polos namun wajahnya nampak curiga padaku. "Oh iya, kabar bunda kamu gimana?" tanyanya lagi, aku menghela napas lelah. Aku kira setelah menjawab pertanyaan beliau akan pergi namun ternyata aku salah. "Alhamdulillah, baik kok, Tante."  Tante Vina kemudian memasang wajah sedih atau mungkin pura-pura sedih. "Syukurlah, Mbak Desy itu sering curhat sama Tante kalau dia ingin melihat kamu juga segera menikah seperti Shakila yang kini bahagia dengan keluarga kecilnya. Namun kayaknya kamu belum ingin menikah, padahal kamu udah matang dalam segi usia dan karir. Apalagi yang kamu cari sih, kamu nggak kasihan lihat bunda kamu terus-menerus mikirin kamu apa?" Jujur aku mulai jengah dengan tingkah tanteku ini, apa maksudnya coba beliau berkata seperti itu. Bunda sering curhat padanya? Yang benar saja. Bahkan bunda baik-baik saja selama ini, sungguh tanteku ini pandai sekali berkata-kata. Setelah Shakila menikah setiap ada acara keluarga pasti semua keluarga bundaku akan bertanya dengan pertanyaan yang sama yaitu 'kapan nikah?' Berbeda dengan keluarga almarhum ayahku yang terbilang sangat santai, adik ayah ataupun para sepupu ayah yang lain. Ya, almarhum ayah hanya dua bersaudara. Adik perempuan yang bernama tante Nana, namun sekarang beliau ikut suaminya tinggal di Lampung.  Melihat aku masih terdiam, akhirnya tante Vina kembali berkata, "Kapan kamu akan menikah, Sha?"  Tuh kan, kalau memang mau bertanya dengan pertanyaan itu kenapa beliau malah bertele-tele bahkan memakai nama bunda sebagai alasan. Namun demi kesopanan aku memilih menjawab pertanyaannya yang tak penting itu. "Kapan-kapan, Tante," jawabku enteng. Mendengar jawabanku, tante Vina malah berkata kembali, "Kamu tuh ya setiap di tanya kapan nikah, pasti jawaban kamu selalu begitu. Kalau memang kamu belum punya calon, Tante bisa bantuin cari calon suami yang cocok untuk kamu."  Aku mengepalkan kedua tanganku yang ada di atas pangkuanku, menahan geram pada tanteku yang satu ini. Ya Allah, beliau tidak berniat menjodohkan aku, kan? Kalau itu memang tujuannya, aku pastikan itu tak akan pernah terjadi selamanya.  "Hai... Maaf aku datangnya telat." Aku dan tante Vina menoleh ke samping kanan, ternyata klienku yaitu Rani sudah datang.  Aku tersenyum lalu berdiri menjabat tangannya dengan hangat. "Nggak papa kok, saya nggak terlalu jenuh sebab ada Tante saya yang dengan senang hati menemani," Aku beralih menatap tante Vina. "Makasih, Tante Vina. Udah nemenin aku, bukannya tadi Tante bilang kalau Om Rafael udah menunggu di rumah, kan?" tanyaku sambil menatap tante Vina dengan lekat, memberi kode padanya agar segera berdiri dan pergi dari meja ini sebelum beliau melakukan hal yang lebih dahsyat lagi di depan klien aku.  Untungnya tanteku tersayang mengerti dan segera berdiri, walau wajahnya terlihat memerah menahan amarah. Kemudian berbalik pergi meninggalkan meja tanpa pamit ataupun tersenyum. Rani terlihat menatapku dan tante Vina yang sudah menghilang dari pintu cafe secara bergantian dengan pandangan bingung. "Rani, mari kita mulai meeting-nya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD