Selain pada keluarga, orang yang akan menerima kita apa adanya adalah sahabat sejati..
***
Aku sudah sampai di kedai ice cream milik kakak sepupu Eno, oh iya aku bahkan belum memperkenalkan sahabatku. Ya, aku punya dua sahabat dari SMA sampai sekarang yang masih setia bersamaku. Namanya adalah Ameno Subakti dan Ummi Kalsum, mereka berdua sangat tahu diriku begitu pun juga dengan aku yang sangat tahu tentang mereka berdua.
Eno sekarang bekerja sebagai sekretaris Direktur di salah satu perusahaan Jasa pengiriman barang yang terbesar di Jakarta sedang Ummi bekerja sebagai manajer di perusahan kosmetik kecantikan, kami menyebut diri kami adalah tiga serangkai.
Ketika aku melihat kedua sahabatku duduk, aku segera menghampiri mereka yang sudah sibuk berbicara sambil cekikikan tak jelas.
"Hai, gels," sapaku begitu aku duduk di samping Ummi, mereka kompak menoleh kearahku lalu membalas. "Hai, Sha." Aku mengedarkan pandanganku pada kedai ini, konsep interior kedai ice cream ini sangat keren walau tempatnya lumayan besar untuk ukuran kedai.
"Kedai ini punya siapa, No?" tanyaku.
"Udah gue bilang ini punya Kakak sepupu gue kan tadi di telepon."
Aku terkikik geli. "Maaf, No. Gue nggak terlalu dengar tadi lo bicara di telepon."
Eno mendengus sebal. "Ya gimana mau ingat, lo kan abis dari rumah mantan b******k lo itu."
Wajahku berubah masam, di ingatkan kalau adik iparku sekarang adalah mantan pacarku dulu membuatku merinding setiap mendengarnya. Bukannya apa-apa, aku hanya tak enak kalau sampai di dengar Shakila dan bunda, terutama bagi bunda karena rasa bersalah itu sampai sekarang masih mengikuti beliau.
Sedangkan Ummi melotot pada Eno yang sudah berbicara kasar di depan umum, jangan salah Ummi bukan namanya saja yang alim tapi juga sifat dan kelakuannya. Di antara kami memang hanya Ummi yang berhijab, jangan salah Ummi itu di besarkan dari keluarga yang taat agama, makanya setiap salah satu dari aku atau Eno berkata kasar pasti setelah itu kami berdua akan dapat ceramah panjang darinya.
"Astagfirullah! Eno, udah aku bilang kan jangan berkata begitu. Apalagi di tempat umum begini, bagaimana kalau ada anak-anak yang mendengar kata nggak sopan dari kamu. Pasti mereka akan mengikutinya juga, anak kecil kan cepat menangkap daya ingat yang di dengar dari orang dewasa."
Benar, kan? Baru saja aku bilang begitu Ummi sudah mengeluarkan ceramahnya hingga membuat Eno memutar bola matanya lalu menyela kelanjutan kata-kata yang segera akan di keluarkan oleh Ummi. "Ya.. Ya.. Ya!! Maafkan mulut gue yang kelepasan berkata tadi ya, Ibu ustadzah." Ummi langsung melengos sebal sedangkan aku tertawa pelan melihat perdebatan antara Eno dan Ummi. Kejadian kayak begini sudah aku lihat sejak mengenal mereka berdua.
"Eh! Lo jangan ketawa saja, jawab pertanyaan gue tadi. Ngapain lo bisa kesasar di rumah mantan lo?" tawa aku berhenti ketika Eno kembali melontarkan pertanyaan tentang Arash dan Shakila.
"Emangnya gue salah, kalau gue main ke rumah adik gue sendiri."
Eno berdecak. "Salah lah, sebentar lo malah nggak bisa move on lagi."
Aku tersenyum geli mendengarnya. "Ya ampun, gue udah kapan taun kali udah move on." Ummi yang terdiam sedari tadi membenarkan.
"Iya, benar banget. Lagian itu udah lama berlalu kok, jadi buat apa juga di ingat-ingat."
Eno mencibir lalu menatapku. "Yakin udah move on?" tanya Eno padaku. Aku mengangguk yakin, "Tapi kenapa lo sampai sekarang masih sendiri?" tanyanya kembali.
Aku terdiam, memang benar setelah aku putus dari Arash delapan tahun yang lalu aku masih sendiri sampai sekarang. Bukan karena apa, Arash adalah cinta dan pacar pertamaku, ketika Arash mengkhianati aku dengan adik kandung aku sendiri aku seperti tak percaya lagi dengan namanya cinta. Itulah alasan aku sekarang memilih untuk sendiri dulu.
Tersenyum, aku menatap Eno di depanku yang sedang membalas menatapku juga. "Ya, belum ketemu yang cocok saja."
"Bukan belum ketemu yang cocok, tapi karena lo trauma dengan namanya pria. Iya, kan?" aku menundukkan kepalaku tanpa membalas pernyataan Eno yang memang sangat benar.
Elusan pada bahu kiriku terasa hangat, siapa lagi kalau bukan Ummi yang melakukannya. Aku mendongak melihat Ummi dan Eno bergantian lalu aku tersenyum lemah, hanya pada mereka aku memperlihatkan sisi lemahku. Aku bukannya tak mengikhlaskan hubungan Arash dan Shakila, jujur aku sudah ikhlas dengan semuanya namun ada kalanya aku juga merasa takut untuk memulai lagi sebuah hubungan percintaan.
"Kamu harus percaya, Sha. Jauh di belahan dunia ini pasti ada satu orang yang di ciptakan untuk kamu, menyayangi dan mencintai kamu dengan segenap hatinya. Seperti nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai Khadijah, dan Romeo yang rela mati karena Juliet. Itulah namanya jodoh sejati." Aku tersenyum lebar pada Ummi.
"Iya benar, Sha." Eno mengelus tanganku yang berada di atas meja, "Kamu harus yakin dan percaya lagi akan cinta." Aku beralih menatap dan tersenyum pada Eno. Lihat, hanya mereka yang aku punya sekarang dan aku sangat bersyukur bisa mengenal mereka, itu kan yang namanya sahabat sejati. Mereka akan ada di saat aku merasa bahagia dan bersedih.
"Makasih gels, hanya pada kalian gue bisa cerita apa saja. Menutup ketidakpercayaan diri gue dari Bunda dan Adik gue, lo tahu kan. Gimana Bunda gue selalu menatap gue dengan bersalah setiap kami abis dari rumah Shakila dan Arash." mereka mengangguk sambil tersenyum.
"Sama-sama, Sha." Ummi memelukku dari samping, Eno tak mau kalah juga akhirnya pindah dan duduk di samping aku dan ikut memelukku. Kami berpelukan dengan aku berada di tengah, aku tersenyum dalam hati. Aku sangat menyayangi kedua sahabatku ini.
***
Aku tiba di rumah selepas magrib, sewaktu nongkrong bersama tiga serangkai bunda meneleponku berkata tak usah aku menjemputnya karena Arash akan mengantarkan pulang. Aku sih tak masalah malah aku tak perlu kembali ke rumah Shakila yang akan menimbulkan rasa canggung antara aku, Shakila, dan Arash.
Begitu sampai ke kamar, aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sudah lengket akibat beraktivitas di luar seharian. Aku keluar dengan handuk putih yang melingkar ke tubuhku, menuju ke lemari untuk berpakaian. Aku memilih baju piyama katun lengan pendek dengan celana panjang bermotif bunga matahari, ketika aku selesai berpakaian aku yang berbalik langsung terkejut melihat bunda sudah duduk di tepi ranjangku.
Aku tersenyum lembut melihat bunda dengan cepat menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Bunda ngagetin tahu nggak, ngapain Bunda ke sini?" tanyaku sambil memeluk lengan bundaku dengan sayang, bunda menepuk pelan kepalaku.
"Bunda mau ngajak makan malam, Sha."
Aku mendongak. "Bunda masak apa?"
Bunda tersenyum lembut. "Pokoknya semua makanan kesukaan kamu deh."
Aku langsung berdiri dan membawa bunda bersama, aku dan bunda berjalan beriringan turun ke lantai 1 tepatnya ke meja makan. Sesampainya di sana aku langsung duduk di kursi di susul bunda duduk di sampingku, kami makan dalam keheningan. Selalu begini dari dulu, aku dan bunda selalu makan berdua saja kalau di rumah. Jangan tanya kemana Shakila, karena dari dulu adikku itu tak pernah makan di rumah.
Makanan di piring sudah habis, aku yang bersiap mengangkat piring bekas makananku di tahan oleh suara bunda.
"Piringnya nggak usah di bawa ke dalam, Sha, biar bunda saja. Kamu istirahat gih, kan besok kamu kerja juga."
Tersenyum, aku berkata. "Nggak papa kok, Bunda kan udah masak buat aku. Jadi kan yang cuci piring biar aku saja."
Bunda tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, aku mengambil bekas piringnya lalu membawanya ke dapur untuk di cuci. Selesai dengan semua pekerjaan dapur telah selesai aku menghampiri bunda yang sedang duduk di sofa di ruang keluarga, bahkan tak bisa di katakan keluarga karena ruangan ini sangat dingin tanpa adanya kehangatan keluarga.
Aku duduk di sebelahnya, hal itu membuat bunda duduk tersenyum lembut kembali menatap ke layar TV seperti menerawang. Seperti sedang berpikir, sebelum berkata.
"Bunda rindu sama keluarga kita dulu, Sha." Aku menoleh kearah bunda, walau aku tak melihat dengan jelas namun aku tahu mata bunda berkaca-kaca. Segera saja aku memeluk bunda dari samping, "Bunda rindu sama Ayah, kamu, dan juga Shakila. Walau dulu waktu Ayah meninggal, Shakila masih di dalam perut tapi keluarga kita sangat bahagia. Waktu tahu Bunda hamil Shakila, Ayah pernah bilang ke Bunda. Kalau anak kita sudah lahir, Ayah mau kasih nama Shakila. Kamu tahu, kan? Nama Ibu namanya Shakila. Dia akan menjadi anak yang kuat seperti Ibu, dia akan menjadi kebahagian kita. Namun selang berapa Ayah kamu pergi untuk selamanya dan Ayah kamu sempat bilang ke Bunda kalau kita harus menjaga keluarga kita tetap utuh namun yang terjadi keluarga kita malah..." Bunda tak bisa melanjutkan perkataannya bahunya bergetar pertanda bunda sedang menangis, hal itu sontak membuatku mengeluarkan air mata juga.
Aku paling tak bisa melihat bunda menangis, maka dari itu lebih baik aku yang sakit daripada bunda aku yang sakit. Bunda melepas pelukan kami lalu menatap padaku. "Berjanjilah, Sha, kamu akan membuat keluarga kita kembali hangat seperti pesan almarhum Ayah."
Aku tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalaku berkali-kali membuat bundaku tersenyum di antara air matanya, aku mengangkat tanganku untuk menghapus air mata yang mengotori wajah bunda.
"Aku akan melakukannya, Bun, aku akan berusaha membuat keluarga kita kembali hangat seperti harapan almarhum Ayah."
bunda kembali memelukku kali ini sangat erat, aku pun membalasnya tak kalah erat. Sekarang tujuanku adalah membahagiakan bunda terlebih dahulu, apapun yang beliau inginkan aku akan berusaha mewujudkannya. Sebab hanya bundaku yang aku punya sekarang.
***