14. Meant To Be Loved 2

1548 Words
Mandi air hangat bikin aku dan Ryn jadi tidur nyenyak. Kami baru bangun waktu Mom mengetuk pintu dan menyuntikkan sarapan untuk Ryn. Katanya tinggal beberapa kali lagi sampai pencernaan Ryn terbiasa makan biasa lagi. Setelah aku selesai mandi, Ryn mau minum air putih hangat yang kuberikan walau hanya seteguk. Kuharap ini awal yang baik. Kami langsung pergi ke bukit sesudah sarapan. Rencananya, kami akan menginap beberapa hari di sana. Yang dimaksud bukit itu adalah Bjork Hill yang berseberangan dengan Hollywood Hill. Kalau sungguhan menyeberang dari Holywood Hill ke Bjork Hill sih bakal memakan waktu berjam-jam karena dipisahkan hutan, cottage, dan tempat hiburan di lembahnya. Dibandingkan Hollywood Hills yang heboh dikunjungi orang-orang, tempat ini sepi dan lebih banyak tanamannya. Drey pernah bilang kalau bukit ini miliknya, entah sungguhan atau hanya kelakarnya saja. Yang jelas, nggak pernah ada orang lain selain kami di situ. Di puncak bukitnya ada kabin atau rumah kayu yang dipakai untuk beristirahat. Kalau kabin orang lain biasanya bentuknya sederhana dan di bagian dalamnya memang hanya untuk beristirahat dari berburu atau bertani. Tapi, kabin Drey lebih mirip vila. Bangunan dua lantai itu terbuat dari kayu dan kaca tebal. Di bagian samping ada kolam renang dan jacuzzi. Pekerja yang merawat rumah itu tinggal di pondok terpisah yang lebih kecil. Mereka dua keluarga indian ramah yang pintar membuat daging panggang berempah. Drey dan Mom membawa peralatan kemah. Sepertinya kami akan kemah di dalam hutan. Nggak seram, kok. Hutannya sudah ditata dengan bagus. Di tengah hutan itu ada lapangan terbuka yang sudah lengkap dengan tungku api unggun, keran yang tersambung ke tanki air, dan kolam buatan. Yah, cocok untuk anak kota yang nggak tahu cara tinggal di hutan seperti kami. Ryn menolak masuk mobil waktu melihat Caleb di dalam mobil. Kucoba meyakinkan dia kalau aku akan menjaganya. Kira-kira ima belas menit kami cuma saling peluk di pinggir garasi. Saat Archie sukses menghabiskan biskuit gandumnya, baru Ryn mau masuk mobil. Selama di perjalanan juga dia memelukku seperti guling. Berkali-kali mom mengulurkan tangan untuk memegangnya biar nggak menjerit. Caleb sampai harus menutup wajahnya dengan hoodie biar nggak kelihatan. “Lain kali kalau lahir lagi minta wajah yang lebih tampan sepertiku,” kata Archie sambil menepuk bahu Caleb. “Nggak baik membuat gadis takut seperti itu.” Aku pengin mengubah anak itu jadi setir mobil rasanya. Perjalanan ke kabin lancar sekali. Drey mengebut sesuai batas kecepatan maksimal. Nggak banyak orang yang berlibur ke bukit pada musim dingin. Mereka berlomba-lomba ke pulai di daerah tropis yang bisa mencokelatkan kulit mereka. Kalau di Indonesia, kulit putih bersih menandakan tingkat ekonomi yang tinggi, di sini kulit cokelat yang membuatmu dikagumi. Semakin cokelat kulitmu, bahkan pada musim dingin, berarti kamu punya uang untuk berlibur ke daerah tropis atau melakukan sun tan di salon ternama. Caleb dan Seraphine menatap kabin dengan penuh kekaguman. Walau masih belum mau banyak bicara, Seraphine tersenyum lebar melihat dekorasi kabin yang nyaman. Drey memasang karpet buatan tangan di lantai, Cofee table kayu dan sofa-sofa besar yang nyaman untuk ruang keluarga. Perapian yang ada di ujung ruangan juga sudah nyala. Di meja ada teh panas dan kue-kue hangat yang disiapkan sebelum kami datang. Drey mengajak Mom bertemu dengan penjaga rumah. Mereka membiarkan kami berkeliaran di rumah itu. Seraphine memilih duduk di sofa paling dekat perapian sambil mengusapkan pipinya pada selimut wol rajut yang dibuat Sophia. Caleb, memandang kolam renang di balik jendela kaca besar., sedang Archie tersenyum puas dengan tangan di dalam saku celana, seolah yang dikagumi oleh teman-temannya ini adalah hasil karyanya. “Bagaimana? Bagus, kan?” katanya bangga. Kutendang p****t kecilnya waktu mengantar Ryn ke sofa terdekat. “Kuadukan ke Mommy kalau kamu berani menyombongkan yang bukan milikmu.” “Kamu kan bisa ngomong aja. Nggak usah nendang,” katanya dalam bahasa Indonesia. “Aku mau lihat kamu nangis,” kataku sambil mengajak Ryn duduk. Aku capek jalan sambil memeluk dia begini. Sebenarnya, anak itu sudah mau menangis. Tapi, sepertinya dia malu. Jadi dia merapatkan bibir dan menjauh dari kami. Seraphine mengikutinya setelah meletakkan tas di dekat perapian. Caleb berbalik padaku. “Kalian punya segalanya,” katanya sambil nyengir. Kubalas cengirannya dengan senyum nggak nyaman. “Drey yang punya segalanya. Aku cuma numpang.” “Dia memberikannya padamu, kan? Uhm ... kamu mau tetap di sini? Aku mau ke luar.” Ryn mencengkeram tanganku, melarangku pergi. “Aku di sini saja. Kalau kamu mau main layang-layang, ada di belakang. Terbangkan Archie sekalian.” Dia tertawa. “Cool! Aku ke luar,” katanya sebelum berjalan cepat ke tempat yang kutunjuk tadi. Sepertinya, dia benar-benar antusias dengan tempat ini. Dari jendela kuperhatikan dia membawa layang-layang burung biru dan merah. Dua anak kecil itu mengikutinya di belakang. Sebelum menerbangkan layang-layang, Caleb berpaling dan melambai padaku. Nggak jauh dari mereka, Drey dan Mom pacaran. Drey tidur di pangkuan Mom sambil memainkan rambut Mom. Ini pemandangan yang paling kusuka. Semua orang mendapatkan kesenangan mereka. Kalau bukan karena Ryn, aku pasti sudah berlarian bersama mereka. “Ryn, kita keluar yuk. Di luar seru. Kita bisa main layang-layang jayak waktu itu.” Kucoba melepaskan kepala Ryn yang menempel di bahuku. Anak itu menatapku seperti anjing yang dibuang. “Sebentar saja. Kita bisa berenang kalau kamu nggak mau main layang-layang. Kamu suka berenang, kan?” Dia mengangguk. Kutarik tangannya untuk ganti baju renang. Dia tersenyum waktu melihatku jatuh saat memakai baju renang. Aduh, anak ini! Masa aku harus jatuh terus biar dia tersenyum? Saat berjalan ke kolam renang, dia terus memegang pinggangku seperti nggak bakal bisa lepas. Apalagi waktu kami berpapasan dengan salah satu pekerja yang membersihkan bagian samping rumah. Dia merapatkan pelukannya. Pada awalnya, dia sudah bisa tertawa waktu masuk ke kolam renang. Kami bermain di dalam air sampai matahari jadi panas sekali. Mom pasti uring-uringan kalau melihat kami karena kami nggak pakai sunblock. Kata Mom kulit bule lebih sensitif dan bisa bikin terbakar. Tapi, siapa peduli sama kulit terbakar kalau sudah seru begini. Mom sama Drey sudah ada di alam mereka sendiri, kan? Lalu, caleb dan Archie datang. Mereka tertawa dengan suara keras. Seraphine menjerit di belakang mereka. Begitu dekat kolam, Caleb mengangkat Archie yang berteriak liar. “TURUNKAN AKU!” Mendengar jeritan Archie, Ryn merapat padaku. Saat Caleb menggendong Archie dan melompat ke kolam, Ryn menjerit. Saking kerasnya jeritan ini, burung-burung di hutan sampai terbang. Kolam renang jadi seperti medan perang. Drey datang dan langsung melompat ke kolam untuk mengambil Ryn. Setelah sampai di pinggir, Drey mengangkat Ryn yang berontak dan menyerahkan pada Mom. Dengan cepat, Mom memeluk Ryn. Mereka berguling di lantai. Mom melingkarkan kaki ke tubuh Ryn seperti memakai guling. Mereka begitu sampai Ryn nggak menjerit lagi. Drey, Caleb, aku, Archie, dan seraphine berdiri berjajar di sisi kolam yang lain. Kami semua basah, terengah, dan kebingungan. Drey menoleh kepadaku. “Claire, ganti baju. Ambilkan handuk untuk Ryn dan Mom.” Aku mengikuti perintah Drey. Kelihatannya Caleb merasa bersalah. Dia mengucapkan sesuatu pada Drey waktu aku pergi. Bukan salah dia sebenarnya. Ryn memang sedang dalam masalah seperti itu. Seharusnya memang aku mengajaknya ke tempat yang bisa menghindari Caleb. Mungkin, Ryn butuh waktu untuk bertemu dengan orang lain selain keluarga. Saat Ryn sudah baikan, Mom memberinya obat yang disemprotkan ke bawah lidah beberapa kali. Melatonin. Di kemasannya dikatakan obat ini merupakan suplemen berisi hormon melatonin yang membuat penggunanya jadi tenang sampai ketiduran. Hormon ini sebenarnya diproduksi alami oleh tubuh saat manusia tidur nyenyak untuk regenerasi sel dan menenangkan saraf. Sekarang, Ryn membutuhkan melatonin di dalam botol untuk membuatnya lebih tenang. Begini penjelasan Mom yang dikatakannya sambil membelai Ryn sampai ketiduran. Sudah cukup siang saat kami memutuskan ke luar kamar. Caleb, Archie, dan Seraphine ada di ruang keluarga waktu kami lewat. Aku memaksakan senyum waktu pandanganku bertemu dengan Caleb. Mom mengajakku ke ruang kerja. Drey sudah ganti baju. Kelihatannya dia baru selesai menelepon seseorang. Setelah kami masuk, Drey mencium Mom dan mengucapkan terima kasih pada kami berdua. “Dokter telah melakukan pemeriksaan fisik secara intensif pada Ryn. Namanya visum,” jelas Drey. “Dari hasil visum, mereka menemukan bekas kekerasan pada tubuh Ryn. Bekas-bekas kekerasan ini tidak wajar dialami oleh anak seusia Ryn. Dokter terus melakukan pemeriksaan.” “Dia kenapa? Dipukuli?” tanyaku bingung. Aku membayangkan ada yang memukuli Ryn sampai dia jadi gila. Mungkin juga dia di-bully habis-habisan sama anak lain. Anak sekarang kan anarkis sekali. Cewek-cewek terlalu banyak nonton film perang sampai jadi barbar. “Tidak, Claire,” kata Drey setelah menarik napas panjang. “Dokter-dokter itu sepakat ini bukan hanya kasus pemukulan atau penganiayaan biasa.” “Terus, kenapa dia?” desakku nggak sabar. Drey membuka tangan yang menutupi wajahnya dan memandangiku. Setelah beberapa menit begitu, dia baru mengatakan, “Dokter menemukan tanda kekerasan di k*********a. Dia ... mengalami ... kekerasan seksual. Perkosaan.” Astaga! Ryn?! “Si-siapa yang berani begitukan dia?” Drey membasahi bibir dan menggeleng. “Kami tidak tahu, Claire. Steve ada di Jakarta untuk membicarakan ini dengan Karin. Kami berharap bisa menemukan informasi di sana.” Drey mengusap bahu Mom yang mennagis sebentar, lalu melanjutkan, “Sebenarnya Heath sangat bisa diandalkan dalam hal ini, tapi aku khawatir mengatakan ini padanya. Kondisi keluarganya sedang dalam titik yang buruk.” Jadi? Pelakunya bebas begitu saja? Setelah menghancurkan Ryn, pelakunya bebas begitu saja? Drey menatapku lagi, tatapannya nggak berdaya. Ekspresi mata yang jarang sekali kulihat dari Drey. “Sekarang, cuma kamu yang bisa mencari tahu siapa yang melakukan itu padanya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD