Episode 2 : Kevin Mendadak Berubah

1439 Words
“Kev, ini contoh hasil undangan pernikahan kita. Untuk tintanya menurutku tetap seperti ini saja, perpaduan warna emas dan silver, sesuai kesepakatan kita. Sementara, untuk ornamennya aku lebih milih bunga kamelia daripada mawar. Kamu tau, kan, arti bunga kamelia? Aku ingin kita juga begitu—selalu bersama bahkan sekalipun kematian telah mengakhiri kehidupan kita. Dan karena hari H tinggal satu bulan lagi, kita harus tentuin mau pake warna pokok yang apa biar bisa disebarin secepetnya. Te-rus ini—” “Ndy, aku mau ngomong serius.” Windy mendongak tanpa mengubah keadaan tubuhnya yang masih condong di hadapan Kevin. Raut pria bermata biru di hadapannya terlihat serius tapi lesu. “Ada masalah?” Kevin mengulum bibir, kemudian menggigitnya erat seiring helaan napas yang diembuskannya pelan melalui hidung. “Kamu sakit?” Tangan kanan Windy meraba kening Kevin. Kevin meraih tangan kanan Windy, kemudian menurunkannya seiring tatapannya yang menjadi semakin jauh. Kedua mata Kevin menepis tatapan Windy. Itu juga yang membuat dahi Windy menjadi berkerut samar. “Maaf, Ndy … aku nggak bisa.” “Apanya yang nggak bisa? Syuting film kemarin gagal? Kata kamu masalahnya udah beres? Apa kamu harus ke Bandung lagi buat ngontrol jalannya syuting?” Kevin mengerjap, menelan ludah pelan, kemudian menatap gadis bermata bulat di hadapannya. Kedua mata itu masih sendu dan menatapnya penuh keteduhan. “Aku nggak bisa ngelanjutin semua ini.” Kebas. Nyawa Windy seolah dicabut paksa pada saat itu juga. Bahkan sekalipun hanya bercanda, baginya apa yang Kevin katakan barusan terasa menyakitkan. Seulas senyum menghiasi wajahnya sesaat kemudian kendati beberapa detik sebelumnya, ia sempat kehilangan ekspresi. “Jangan bercanda berlebihan, Kev. Apa yang kamu katakan barusan bikin aku sakit, tau. Ya udah, deh..., kalau udah beres ngurus undangan, kita jalan-jalan. Tapi kita fokus dulu, ya. Soalnya dari butik juga udah ngabarin, kalau jas sama gaun kita udah jadi, tinggal—” “Ndy aku serius!” Windy kembali kebas, kemudian mendongak. Aliran darahnya seolah memanas seiring kinerja pemacu kehidupannya yang dirasanya melemah. “Udah dibilangin bercandamu keterlaluan malah diulangi!” rengeknya dengan suara sengau dan nyaris menangis.  “Aku serius, Ndy. Aku nggak bisa melanjutkan semuanya. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Dan persiapan pernikahan ini memang tidak seharusnya dilanjutkan!” “Kev….” Windy tergagap. Tubuhnya seperti disengat aliran listrik ketika melepas punggung tegap yang semakin jauh meninggalkannya dengan rasa tidak percaya. Ini tidak mungkin. Pasti ia hanya sedang berdelusi bahkan bermimpi buruk. Kalaupun memang nyata, pasti Kevin juga hanya bercanda! “Ndy, kalian kenapa? Ndy? Kok malah bengong?” Guncangan di tangannya menyadarkan Windy bahwa ia tidak sedang berdelusi atau bermimpi. “Kevin hanya bercanda, kan?” Benak gadis berwajah oriental itu masih dipenuhi pertanyaan sehingga tidak menggubris kalimat tanya temannya itu. “Sebenarnya apa yang terjadi?” “To….”  “Udah jangan diam aja, Ndy! Cepat kejar Kevin dan minta kejelasan ke dia! Masa jadi aneh gini? Kalaupun niatnya cuma bercanda juga udah kelewatan!” Tampang Windy terlihat sangat bingung. Gadis itu bahkan menggeragap cukup lama sebelum merapikan contoh undangan yang sempat dibahas dengan Kevin. Ia memasukkan undangan itu pada tas yang disambarnya dari kursi sebelah, kemudian bergegas sembari mendekap erat tasnya, menerobos semua penghuni kafe yang menghalangi langkahnya. Tak peduli bila hampir semua mata menjeratnya dengan tatapan aneh, terlebih suasana memang sedang ramai. Linangan air mata yang telah mengurai cerita membasahi pipi, dan ia biarkan begitu saja. Braak! “Aw…!” Erangan lirih terdengar bertubrukan dengan suara Windy ketika gadis itu tidak sengaja menabrak sesosok bertubuh bidang yang jelas jauh lebih tinggi darinya. Windy segera membungkuk sembari meminta maaf tanpa memastikan kondisi korban kekacauannya.  “Ya!” seru pria muda yang Windy tabrak. Windy tak acuh, ia bergegas mengejar Kevin. Sayangnya, mobil Kevin sudah tidak ada di tempat parkir dan justru ia dapati melintas pada jalan seberang. Tak mau ketinggalan, gadis bertubuh semampai itu segera berlari menuju tepi jalan dan menyetop sebuah taksi yang dimintanya mengejar kepergian mobil Kevin.  “Pria itu ... sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah sebelumnya semuanya baik-baik saja. Kenapa mendadak berubah arah?”  Windy segera merogoh tas dan mendapatkan ponsel dari sana. Tanpa menunggu lama, jemarinya langsung bekerja, melakukan panggilan pada kontak bernama Kevin. Satu, dua, bahkan hingga sambungan berakhir, usahanya tidak mendapatkan hasil. Pun ketika ia kembali melakukannya, hasilnya tetap nihil. Kenyataan itu juga yang membuatnya semakin tidak tenang. Bahkan tas yang ia letakkan dalam pangkuan sampai terjatuh. “Aduuh….” Windy hampir jongkok untuk merapikan isi tasnya, dan ia tidak sengaja mendapati kedua mata sopir taksi menatapnya penuh tanya melalui kaca spion. Untuk beberapa saat Windy memang terlihat kikuk sebelum kembali tak acuh karena telanjur bingung memikirkan perubahan Kevin.  Ketika gadis itu akhirnya tak mampu mengendalikan isak tangis lantaran Kevin tak kunjung memberikan respons, sopir taksi yang tidak banyak bicara itu mengangsurkan sekotak tisu kepadanya. Windy yang tersedu berangsur menarik beberapa helai tisu sesaat sebelum mengucapkan terima kasih. ***Sandy Agusta Rahman terpaku, tidak percaya ketika melihat sosok yang menabrak sampai membuat tubuhnya terhuyung. Seorang gadis bertubuh semampai dan berambut panjang hitam yang indah dengan wajah ... hatinya menjadi berdesir hangat hanya karena mengingat sosok tadi. Sekalipun hanya sekilas, ia meyakini bila nama gadis tadi, “Win-dy?” Bibirnya gemetar ketika berkata, “Masa, sih?”  Ia mencongak dengan dahi yang menjadi berkerut samar. “Windy ada di Jakarta?” Pria muda berwajah oriental itu ditawan bingung. Hingga ketika seseorang menabrak punggungnya dari belakang dan tubuhnya kembali terhuyung, ada sedikit angin segar yang langsung ia dapatkan.  “Aduh, ma-af!” “Eh…, Tit-to?” “Hah, Sand-Sandy!” Keduanya terjebak dalam senyum lepas sesaat, lalu saling melepas pelukan erat. Sesekali, tangan mereka juga menepuk punggung bahkan melayangkan tinju ringan pada pundak dan d**a satu sama lain.  “Ya ampun, Sand. Kamu makin keren aja! Pasti istri kamu udah banyak, ya?” “Hahaha, kamu bisa aja, To! Kesannya aku ini apaan!” “Lah, pas SMA saja semua cewek cantik dan keren kamu pacari. Apalagi sekarang dengan tampilanmu yang…?” Tito menatap takjup penampilan lawan bicaranya. “Gaya Sandy jadi keren banget kayak oppa-oppa kantoran di drama Korea. Apalah aku yang hanya begini, otomatis bisa langsung ngeblur dan tambah jauh dari jodoh kalau nekat deket-deket sama dia!” batinnya. Sandy tertawa getir bercampur geli membalas setiap pujian Tito. Teman SMA-nya itu tidak banyak berubah. Masih bawel sekaligus lucu. Kenyataan yang membuatnya mudah mengenali. Terlebih bila melihat t**i lalat cukup besar yang letaknya persis di bawah bibir bawah wajah berparas manis itu.  “Oh, iya, ngomong-ngomong, kamu…?” “Aku masih jomlo, Sand. Bahkan mungkin bentar lagi bakalan dapet sertifikat dari MURI! Tap-tapi kalau kamu memang mau nyariin aku jodoh, aku tetap siap menampung, kok! Kamu ada kenalan cewek cantik yang masih jomlo? Tapi yang setia dan siap diajak hidup susah, ya!” “Hahaha, ya ampun, To. Kamu ini lucunya nggak ilang-ilang!” “Jangan gitulah, Sand. Aku masih normal. Nanti kamu cinta lagi, muji-muji aku terus!”  Sandy menekap mulut menggunakan tangan kanan. Pria muda gagah bergaya formal itu meyakini bahwa perutnya akan semakin sakit bila tetap bersama Tito. Padahal tujuan utamanya bukan untuk itu, melainkan menanyakan kabar seseorang dari masa lalu yang sedang ia cari. Sesosok gadis yang menabraknya beberapa menit lalu sebelum pertemuannya dengan Tito, membuatnya menaruh harapan lebih.  “Wi-Windy?”  “Iya. Gimana kabar dia, To? Kamu masih berteman baik sama dia, kan?” Tito berdeham kaku. Dehaman penyimpan keresahan. Pria muda yang sempat bersama Windy saat di dalam kafe itu menjadi terdiam. Ia mengerling, seolah-olah menaruh curiga pada sosok rupawan nan gagah di hadapannya.  “Jangan salah paham, To. Aku nggak akan nyakitin dia lagi. Aku menyesal dan ingin minta maaf.” Wajah Sandy memelas. Kendati demikian, pria muda berwajah manis di hadapannya tak kunjung memberinya balas. Bibir tipis yang selalu menghasilkan banyolan lucu itu terkunci sangat rapat sekalipun sesekali membuka dan berakhir dengan desahan. “Tapi aku juga udah lama nggak komunikasi sama Windy, Sand.”  Dahi Sandy berkerut samar. Kecewa menjadi satu-satunya ekspresi yang menguasai wajahnya. *** “Semua yang terjadi selama ini hanya kekeliruan, Ndy. Terlalu rumit bila aku harus menjelaskan kepadamu kenapa aku melakukan semua ini. Intinya, mustahil ada pernikahan ketika aku tidak merasa yakin dalam hubungan kita.”  “Sudah kukatakan bila bercandamu keterlaluan, tapi kamu malah mengulanginya.” Windy terisak. “Ndy, please.” Suara Kevin memelan dan terdengar parau. “Kita tidak bisa menikah, dan itu merupakan keputusan terbaik. Lupakan semuanya, Ndy!” Kevin berbalik begitu saja dan memasuki apartemennya tanpa menghiraukan Windy, bahkan sekalipun gadis itu sibuk mengetuk pintu apartemennya. “Kev, sebenarnya kamu kenapa? Kev, buka pintunya, kita harus bicara…! Kev!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD