JPD 10 Drama Mobil Mewah

1011 Words
Pov Riyanti Weekend ini aku merasakan tak sabar menerima HR pertama dari Graha Tailor. Kerja kerasku dari skill yang diajarkan ibukku. Meski sedikit yang kudapat tapi aku merasa bahagia mendapat uang dengan cara halal. Aku masih terngiang-ngiang ucapan Pak Hendra yang mengatakan telah mentransfer uang sebesar yang aku minta. Tapi kenyataannya saat aku tanya adikku nominalnya 2x lipat. Setelah aku konfirm ke Pak Hendra ternyata yang transfer waktu itu adalah ayahnya, yang tak lain adalah kakek Niko, karena Pak Hendra baru memimpin meeting besar. Pantas saja kakek Niko berbuat seenaknya padaku waktu itu. Aku merasa telah berhutang pada laki-laki b******k itu. Aku berjanji dalam hati harus bisa melunasi hutang itu karena aku takut jika sampai ajal tiba tapi masih berhutang, bisa terhalang jalan masuk ke surga. "Hmm, ada yang mau traktiran nih?" Galang sudah mencoba menggodaku karena bahagia mendapat HR pertama dari Graha Tailor. "Apa sih Lang, habis ini aku mau mudik dulu nengok bapak ibu." Aku mendengkus kesal saat sahabatku itu sering menggodaku. "Wah, aku pinjam buku catatan analisis Ti. Mau tak copy ya besok ku kembalikan." Mulai lagi kebiasaan meminjam buku. Padahal Galang tidak perlu belajar juga otaknya sudah merekam pelajaran dari dosen. "Iya entar ke kosku habis ini ya, sebelum aku cuz pulang ke Magelang." Selesai ngajar les di kontrakan Mas Alfa, aku dan Galang menuju kos untuk mengambilkan buku yang dipinjamnya sekalian aku siap-siap untuk mudik. Kali ini dengan membawa segenggam harapan HR hasil part time tambahanku. Aku sudah membayangkan akan membeli buah tangan di perjalanan menuju rumah nanti. Mbak Ratih dan Dik Amar pasti seneng kalau kami berkumpul dan makan bersama meski dengan menu sederhana. Mbak Ratih dulu sempat mengambil pelatihan singkat komputer selama satu tahun. Alhamdulillah langsung bisa kerja di sebuah kantor simpan pinjam bagian operator administrasi di kota Magelang. Jadi dia kerja dilaju pulang pergi dari rumah. Hanya aku yang kos karena lebih jauh kalau harus PP Magelang pelosok sampai kota Yogya. "Ini bukunya, Lang. Jangan lupa besok sore kembalikan ya buat belajar. Seninnya ada ujian dari Pak Alfa." "Iya iya, yang takut sama si Ganteng kalau nilainya jelek," ledek Galang. "Nilaiku nggak mungkin jelek kalau belajar dulu, Lang. Awas kamu kalau nggak balikin." "Iya tenang aja. Aku yakin nilaimu pasti bagus Ti. Biar Pak Alfa tambah kesengsem. Hahaha." Galang sudah menghindar lebih dulu sebelum kupukul dengan tas bawaanku. Setelah Galang pulang aku mengirim pesan pada Amel yang baru ke salon. Aku mengabarinya kalau mau pamit pulang. Amel sepertinya baru gajian juga dari ngajar privatnya dan memilih me time ke salon potng rambut sekalian creambath. Dia sengaja kesal padaku dengan membalas emoticon karena aku tidak menunggunya selesai dari salon. Aku memang pulang lebih awal supaya tidak kemalaman naik bis. Aku berjalan menyusuri kos menuju halte. Tin tin Kulihat mobil sport yang tak asing bagiku. 'Ah iya mobil yang terparkir di kontrakan Mas Alfa, tapi siapa yang mengendarai,' pikirku. "Ri, mau kemana?" "Haa, Mas Alfa. Aku mau ke halte." Dia sudah membukakan pintu samping mobil dan menyuruhku masuk. "Mas Alfa dari mana? Ini mobil siapa? Jangan-jangan punya Mas Alfa ya?" tanyaku penuh selidik membuatnya tersenyum simpul. "Tadi habis nganterin Andi ke bandara, ya mobilnya aku yang bawa pulang nanti kalau mobilnya dicari pemilik kontrakan gimana." 'Aku percaya saja yang diucapkan Mas Alfa.' "Owh. Mas aku berhenti aja di sini. Haltenya itu di depan." Mas Alfa tetap melajukan mobil dengan santai dan tak menggubrisku yang sudah memukul lengannya dengan tas kecilku. "Mas, stop please. Kamu mau bawa aku kemana sih?" teriakku kesal karena merasa diabaikan. "Lha emang kamu mau kemana?" "Aku mau pulang ke Magelang." "Ya ayo, sekalian aku juga mau ke Magelang." "Mas Alfa ngapain ke Magelang?" "Nganterin kamu." "Apa, jangan bercanda, Mas!" Sepanjang perjalanan aku merasa canggung karena hanya berdua di mobil mewah entah milik siapa. Apa benar yang dibilang Mas Alfa kalau itu milik yang punya kontrakan. Aku memintanya menurunkanku di ujung kota Magelang arah menuju kecamatan tempat tinggalku. Dia menurut dengan syarat lain kali aku harus mau diantarnya sampai rumah. Aku pun mengangguk setuju supaya dia tak mengantarku sampai rumah. Apa kata tetangga anak gadis orang diantar pakai mobil mewah. Aku takut bapak ibuku semakin mendapat cibiran orang kalau aku kuliah bukannya serius belajar justru main-main dengan laki-laki. Saat turun dari mobil Mas Alfa sekilas aku melihat perempuan mirip Mbak Ratih naik angkot menuju arah rumahku. 'Mungkin hanya mirip saja, pikirku." Aku memang mau naik angkot itu, tapi seperti niatku di Yogya tadi aku mau membelikan buah tangan dulu di dekat tempat Mas Alfa menurunkanku tadi. "Assalamu'alaikum," sapaku sampai rumah setelah dijemput Amar pinjam motor temannya. "Wa'alaikumsalam, Yanti. Gimana kabarmu Nak. Kok semakin kurus begini. Kamu nggak makan? Kamu kehabisan uang saku?" Banyak tanya yang diberondong ibuku. Lantas aku memelukknya dengan memasang wajah gembira. Mbak Ratih dan Amar langsung menyerobot kresek bawaanku setelah memelukku. "Yanti, kamu nggak ganti parfum kan? Wangi banget sih," celetuk Mbak Ratih yang curiga. Aku pun kaget tak menyangka parfum mobil Mas Alfa menempel di bajuku. Mbak Ratih berkali-kali mengendus bajuku. "Ya ampun, Ti. Ini kan parfum mahal. Aku hafal ini parfum sama dengan yang dipakai bosku." "Serius Mbak?" Aku mulai curiga pada Mas Alfa, jangan-jangan dia membohongiku. Aku masih ingat saat hampir memeluknya untuk mencegah dia memukuli Kakek Niko. Aroma tubuhnya juga wangi sekali dan sungguh membuatku ingin mencium kembali wanginya. 'Apa parfum di tubuhnya juga golongan parfum mahal?' gumanku. "Mbak Mbak Yanti, tadi waktu aku mbalikin motor ada mobil keren melintas di depanku lho. Jarang-jarang kan ada mobil mewah masuk desa kita," ucap Amar dengan serius membuat aku tergelak. Jangan-jangan mobil Mas Alfa. "Ciri-ciri mobilnya gimana?" Amar menceritakan apa yang dilihatnya mirip dengan mobil yang dikendarai Mas Alfa tadi. Deg...hatiku semakin bergemuruh. Apa dia mengikutiku. "Kamu kenapa kawatir gitu, Ti?" "Ah nggak papa Mbak." Aku mengelak menjawab pertanyaan Mbak Ratih. Buru-buru aku masuk kamar dan mengganti bajuku. Mbak Ratih tiba-tiba menyambangi kamarku. "Jangan bohong, Ti. Aku nggak sengaja lihat kamu tadi keluar dari mobil mewah di ujung kota. Sama siapa kamu? Jangan-jangan mobil mewah yang dibilang Amar sedang mengikutimu." "Mana mungkin? Mbak Ratih salah lihat kali," elakku lagi karena masih tak percaya yang dilakukan Mas Alfa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD