Aku pernah menjadi sebuah raga tanpa nyawa -Erlan- * “Erlan! Iih malah ngelamun! Erlan, kamu kenapa sih malah bengong jam segini? Gak kesambet kan? Kamu kenapa bibirnya maju, monyong gitu?” guncangan di tubuh Erlan membuat lelaki tampan itu mengerjap beberapa kali dan tersadar apa yang tadi terlintas di otaknya ternyata hanyalah khayalan semata. Eeh eeh, jadi yang tadi aku kecup tadi itu hanya khayalanku semata? Bukan bibir asli Renatta? Apakah alam bawah sadarku sesungguhnya menginginkan gadis ini? “Erlan?! Haloo, kamu kesambet ya? Aku bacain ayat kursi ya, a'udzu billahi minas syaitanir rajimi..” Renatta menggoyangkan tangan ke kanan kiri agar Erlan meresponnya. Tiba-tiba Erlan menangkap tangannya, “apa-apaan sih Renatta?” “Lagian kamu malah melamun, pasti gak dengar aku bilang

