Benar saja, dua puluh tujuh menit, setelah sambungan telpon dimatikan oleh Seth, Zeline sudah tiba dirumahnya. Seth yang melihat wanita ini benar-benar tak habis pikir. Segalanya dia lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan!
"Ya ampun, kamu ini kemana saja, Mama telpon gak diangkat." Ibunya menghampiri anaknya, sedangkan Seth hanya melihatnya tanpa minat.
"Maaf Ma, tadi Ine lagi rapat, makanya gak kedengeran." Ucapnya, dia memang mendengar ada bunyi telpon, tapi dia tak mengabaikannya.
"Besok kamu gak kerja lagi kan?" Mamanya bertanya dengan nada ancaman.
"Iya, besok Ine libur." Ucapnya sambil tersenyum dan melihat ke arah Seth, sedangkan laki-laki itu langsung membuang pandang karena muak.
"Ya udah, kalau begitu, kami permisi pulang dulu ya." Ucap Ibunya Seth.
"Makasih loh sudah nungguin sampe si Zeline pulang dulu." Ucap Mamanya pada Ibu Seth.
"Memang papa kemana Ma? Belum pulang?" Zeline mengerenyitkan kepalanya.
"Mereka pergi mancing ke laut." Jawab Mamanya Seth cemberut.
"Oh ... pantesan aja." Jawab Zeline, dia sangat tahu persis hobi dari papanya dan juga papanya Seth ini adalah memancing, jelas sekali mereka tak akan pulang kalau belum puas, apalagi jika sudah bersama komunitasnya sendiri, makin keki Mama nya Zeline karena hobi dari suaminya.
"Tante, kami permisi dulu." Pamit Seth pada Mamanya Zeline yang masih terlihat khawatir pada anaknya ini.
"Iya Nak Adam, terima kasih ya."
Dia lalu melengos ketika melihat Zeline, malas melihat wajahnya itu.
"Zeline tante pulang dulu ya, sepertinya dua laki-laki itu tak akan pulang malam ini, besok kamu ke rumah tante ya." Ibunya Seth memberikan tawaran pada Zeline.
"Ah?" Zeline terlihat bingung harus menjawab apa karena mata Seth melihat ke arahnya seakan membunuhnya.
"Ehm ... Iya tante, besok Ine ajak Mama kesana." Ucap Zeline.
"Okay, kalau begitu kamu istirahat ya." Wanita itu lalu memeluk Zeline dan tak lupa cipika cipiki, sedangkan Seth berjalan keluar tanpa menghiaraukan para wanita itu.
Zeline melihat Seth bersorak kemenangan dalam hatinya. Akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan syarat yang baginya jelas sangat mudah.
***
Pagi ini saat membuka matanya, Zeline hanya tersenyum mengingat kejadian semalam, memang dewi fortuma sedang berada dipihaknya saat ini.
"Ine! Kamu ini mau jadi apa sih, bangun matahari sudah tinggi, nanti rejeki udah diambil duluan sama ayam." Mamanya mengomel saat masuk kekamarnya.
"Iya Ma, namanya juga hari libur, kapan lagi mau bangun siang." Zeline berkilah.
"Subuh itu ya bangun! berdoa dulu, minta sama yang Maha Kuasa biar urusan dilancarkan. Kamu ini tidak pernah sholat apa ya?" Ucapan Mamanya yang pagi-pagi sudah memberikan kultum ini membuat setan yang lama berada dalam dirinya ikut berontak.
"Cerewet." Gumamnya pelan lalu masuk kekamar mandi, sedang Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah anaknya yang seperti ini, didalam hatinya dia merasa sangat kecewa karena tak mampu membuat anaknya menjadi orang yang taat ibadah.
"Ne, nanti kita sebelum ketempat Tante Miza, kita mampir ke toko kue dulu ya. Gak enak pergi kesana gak bawa apa-apa, soalnya kemarin dia juga sudah baik banget sama Mama, sudah ajakin Mama muter-muter sampe puas." Mamanya berkata didepan pintu kamar mandi.
"Iya Ma." Jawab Zeline singkat dengan sikat gigi dimulutnya.
Zeline hanya tersenyum saja, dia bahagia sekali saat ini, pastilah rapor triwulannya tidak buruk-buruk sekali. yah, paling tidak ada sesuatu yang bisa dia banggakan nantinya. Apapun dia lakukan asal semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Tahun ini akan menjadi sangat Indah untuk Zeline, cita-citanya hanya satu! Mencapai top position sebelum umur tiga puluh lima tahun! Top Position dalam rangkaian manajemen perusahaan. Target yang dia pasang sejak pertama kali dia bekerja ditempatnya saat ini.
***
Seth pagi ini malas-malasan untuk keluar dari kamarnya, dia merasa sepertinya hari ini akan menjadi hari yang buruk untuk dirinya. Jika memikirkan wanita itu entah kenapa dia benar-benar sangat kesal dan sangat ingin mendorongnya jauh-jauh.
Dengan cepat dia beranjak dari tempat tidurnya, dia tahu bahwa tidur setelah Sholat subuh itu tidak baik untuk kesehatan, karenanya dia segera keluar dari kamarnya dan pamit pada Ibunya.
"Bu, Aku pergi dulu ya." Pamitnya pada Ibunya yang masih santai menonton ceramah di siaran TV kabel, yang dia juga tak tahu apa, karena dia bahkan tak pernah menonton televisi.
"Mau kemana?" Tanya Ibunya.
"Ada kajian sama teman-teman." Bohong! kali ini dia berbohong lagi, dan dia sangat menyesali hal ini.
"Hati-hati Nak, Nanti usahakan sebelum makan siang pulang ya, Ibu akan menyiapkan makan siang speseial." Ucap Ibunya, jelas sekali Seth bisa menebak kenapa terjadi hal seperti itu.
"Iya Bu." Ucapnya malas, "nanti Aku usahain, tapi kalau urusan masih panjang, Aku terpaksa gak ikut acara Ibu ya."
"Oke baiklah."
Wow! tumben sekali Ibunya berbaik hati langsung mengiyakan, membuatnya jadi sedikit heran. Biasanya Ibunya akan terus memaksanya sampai dituruti oleh Seth.
"Pergi dulu Bu. Assalamualaikum." Pamit Seth sambil mencium tangan ibunya dan tak lupa mencium kening Ibunya.
"Walaikumsalam. Hati-hati dijalan, Nak."
***
Sebelum pergi ketempat Seth, Zeline membuka lemarinya, mencari kira-kira pakaian apa yang cocok dia pakai, karena jika saja dia sampai salah melakukan langkah yang tak membuat Seth senang, bisa-bisa proyek "Murah"nya bakalan gagal.
Ah, sepertinya pakaian seperti ini bisa membuat Set membungkam mulutnya, setelan santai celana jeans longgar dengan bluse motif garis-garis putih dan abu yang sedikit terlihat besar tak menampakkan bentuk lekuk tubuhnya, lebih tepatnya dia menutup aset-aset berharganya, walaupun pada dasarnya dia tak menyukai pakaian seperti ini, tapi demi misinya tak mungkin dia menentang Seth.
Memakai make up tipis, mengikat rambutnya menjadi satu dibelakang lalu menambahkan aksesoris anting kecil dan kalung dengan liontin bintang membuatnya sedikit tampak anggun walau menggunakan pakaian seperti itu. Jujur saja ini bukan gaya berpakaian Zeline.
Zeline memiliki setumpuk baju yang terbuka dan selalu bisa menapilkan aset miliknya dengan sempurna, dan bisa membuat decak kagum orang-orang yang melihatnya. Body goal impian semua kaum hawa, tinggi berisi, kulit putih bersih disertai berbagai perawatan serta wajah yang ... tak perlu berdandapun sudah sangat cantik. Mungkin juga karena Ibunya yang keturunan Arab ini membuat dia memiliki wajah yang sangat menarik. Iris Coklat tua, alis terbentuk tebal tanpa pensil alis, hidung mancung, bibir merah dan tipis. Mungkin jika tak berkerja di Bank dia bisa menjadi seorang aktris.
***
"Sudah belum dandannya? Mama udah nungguin dari tadi loh." Mamanya menghampiri kamar Zeline.
"Ini udah Ma." Ucap Zeline santai.
"Pergi sekarang?" Tanya Zeline.
"Iya ... ini juga sudah jam sepuluh lewat, lagian tadi mobil kamu sudah diantar sama supir kamu. Katanya kamu semalam mau buru-buru pulang, jadi pulangnya bareng sama teman kantor kamu yang naik motor." Ucap Mamanya.
"Oh, Iya!"Ucap Zeline lalu menepuk jidatnya, sepertinya dia menyadari sesuatu kalau semalam dia memang pulang dengan Adri, salah satu Loan Officernya.
"Terus Pak Ariznya udah pulang Ma?" Tanyanya lagi.
"Iya, begitu dia anter mobil kamu, dia pulang naik motornya, tapi tadi Mama sudah tawarin buat makan, dia gak mau, katanya mau buru-buru pulang."
"Oh, ya udah kalo gitu, dia hari libur gini biasanya istrinya itu jualan Ma, dideket rumahnya ada pasar kaget, jadi istrinya jualan disana, jual makanan buat sarapan gitu Ma." Zeline menerangkan penuh minat.
"So, kita pergi sekarang?"Dia tersenyum seperti anak kecil saat ini pada Mamanya.
"Iya sekarang anak manja, masa besok." Ucap Mamanya.
"Okay Ibu Ratu!" Dia lalu menggandeng Mamanya dan mengambil kunci mobil yang diserahkan wanita itu padanya barusan.
***
Saat tiba dirumah Seth, dia melihat sekitar, apa Seth ada dirumah atau tidak, ternyata Seth tidak ada dirumah saat ini, sebenarnya ada sedikit kelegaan di dalam hatinya, karena dia tak harus banyak bersandiwara pura-pura tersenyum pada laki-laki sombong itu.
"Ih ini apaan sih pake acara bawa-bawa makanan segala." Ibunya Seth berkata basa-basi pada tamunya ini.
"Gak masalah tante, Ine gak enak sama tante yang kemaren nemenin Mamanya Ine saat anaknya sibuk urusan kerja." Zeline berkata dengan sangat manis! Maklum saja, mulutnya ini sudah sangat terlatih untuk bicara manis didepan orang lain walaupun dalam keadaan dicaci maki, tapi kali ini dia sebenarnya tul.
"Kamu memang bener-bener deh bakal mantu idaman." Ucap Ibunya Seth sambil tersenyum melihat ke arah Mamanya.
"Idih ... tante bisa aja! belum ada Tante, belum ketemu jodohnya." Zeline berkata lancar sekali, karena dia tak pernah terpikir kalau sebenarnya orang tua mereka itu sengaja membuat mereka berhubungan, tapi orang tua mereka tak tahu kalau ternyata hubungan Seth dan Zeline itu tak terlalu baik.
"Sebentar ya, Tante telpon Adam dulu." Ucapnya.
Zeline hanya tersenyum dan mempersilahkan wanita itu melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Dam ... kamu gak pulang?" Tanya Ibunya sesaat telponnya dijawab oleh Seth.
"Bu, sepertinya ini belum selesai, Aku pulang habis Ashar ya." Suara Seteh terdengar sangat pelan.
"Ih, kamu gini banget deh, ini kan demi masa depan kamu loh." Ucap Ibunya terdengar seperti merajuk.
"Ibu ... Ibu gak boleh loh menghalangi anaknya untuk belajar, apalagi ini urusan akhirat loh Bu." Ucapnya.
"Iya ... iya. Ya udah abis Ashar kamu janji ya langsung pulang."
"Okay Nyonya Marco Adelard!" Sambungan telpon diputuskan oleh Ibunya, dia kesal karena sepertinya hari ini agak sulit untuk mempertemukan Zeline dengan Seth.
***
Tak terasa seharian ini memang cepat berlalu, sudah sangat sore dan Seth juga masih belum menampakkan batang hidungnya. Zeline jelas sekali sangat merasa lega. Dua ibu-ibu itu bercerita entah apa yang mereka bahas sepertinya bahasan tiada henti yang hanya mereka saja mengerti dan Zeline tak tertarik untuk mengikuti cerita mereka.
Zeline seharian ini tetap bekerja mengecek laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya itu, dan dia juga menelpon beberapa orang nasabahnya, jelas untuk menagih dan juga siapa tahu ada yang bisa menambahkan dananya diujung bulan untuk DOC* daripada dana menganggur di rekening giro tapi, dia tahu sebenarnya mereka juga tak tertarik karena akhir bulan jatuh itu dihari kerja, dimana artinya mereka akan tetap menggunakan dana operasional perusahaan mereka. Biasanya DOC ini dia tawarkan pada mereka yang memiliki sejumlah uang di rekening giro bank lain dan akhir bulan jatuh bukan pada hari kerja, misalnya saja hari libur atau tanggal merah sehingga bisa membuat long weekend. Saat seperti ini, biasanya akan ada beberapa pengusaha yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan sedikit keuntungan uang idle-nya untuk dimanfaatkan.
Dia hanya iseng saja, tapi biasanya kegiatan isengnya ini sering membuahkan hasil, sayangnya tidak untuk hari ini. Dia sudah puas menelpon debitur dan juga nasabahnya berbasa-basi, tapi entah kenapa mereka semua sepertinya tak tergerak hatinya dengan bujukan Zeline kali ini.
Zeline lalu menghembuskan nafasnya dengan berat, menatap layar ipadnya, sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
"Sibuk? Pusing? Makanya gak perlu kerja di Bank." Suara itu mengejutkan Zeline.
'Seth! Dia lagi.' batin Zeline.
'Tenang, aku harus tetap tenang dan sabar, tersenyumlah Zeline!' teriak Zeline dalam hati, dia lalu dengan cepat menyesuaikan kondisi wajahnya dan juga berpura-pura tenang.
"Ah ... Pak Seth sudah pulang." Basa-basi.
"Tak perlu berbasa-basi. Aku hanya ingatkan syarat yang aku berikan padamu kemarin. Jika kau menyetujuinya, aku bisa mentransfer danaku." Ucapan Seth ini membuat sisi lain Zeline bersorak-sorai.
"Tentunya Akan selalu sanggup melakukannya." Ucap Zeline cepat dan terdengar sangat tegas.
"Bagus kalau begitu, siapkan pernyataan kalau aku tak akan menerima satu rupiahpun bunganya. Kau bisa memotong biaya administrasinya tapi aku tak menerima bunganya. Atur itu untukku." Ucap Seth membuat mata Zeline berkaca-kaca karena sangat bahagia!
Apalagi yang tak membuatnya bahagia kecuali apa yang yang dikatakan Seth barusan. Kalau selama ini Nasabahnya selalu bernego bunga tinggi, tapi laki-laki yang ada dihadapannya ini, membuatnya benar-benar terperangah! Dia tak mengingkan feedback apapun dari dananya. Giro itu bunga yang sangat kecil, dan dia bahkan tak menginginkan hal itu, kemarin bahkan ada nasabahnya yang bernego untuk penempatan giro dengan bunga setara deposito, dan dia berusaha mati-matian untuk memenuhi keinginan nasabahnya ini, sekarang dia malah mendapatkan semuanya hanya dengan syarat yang mudah, apalagi kalau bukan keberuntungan.
"Make up belum terhapus sudah pukul lima lebih dan kau datang kemari sebelum makan siang. Apa kau tak laporan dengan atasanmu?" Seth berkata dengan menunjuk wajah Zeline dan membuat wanita yang sekarang berdiri di hadapanya ini kebingungan.
"Atasan?" Zeline tak mengerti maksudnya.
"Ada Zuhur dan Ashar, Kau tak melakukannya." Ucap Seth dingin lalu meninggalkan wanita itu sendiri.
Hatinya bergetar hebat setelah mendengar kalimat dari Seth barusan.
Teguran dari laki-laki itu entah kenapa membuatnya merasa tertohok. Dia bahkan sudah lama 'lupa' dengan atasan yang sesungguhnya.
***
CATATAN:
*DOC = Deposito On Call, penempatan dana dalam jumlah tertentu seperti layaknya deposito tapi hanya beberapa hari saja, jika Deposito itu pilihannya dalam bulan, yakni minimal 1 bulan, tapi Deposito On Call bisa ditempatkan biasanya 3-15 hari atau 3hari-1 bulan.