TWENTY EIGHT

2004 Words

Oh, itu dia! Bidadarinya. Duduk di satu-satunya kursi yang berada di tengah panggung kecil dengan sebuah gitar akustik di pangkuannya. Betapa Arga  merindukan gadis itu. Sudah satu minggu ia menahan diri untuk tidak menghubunginya. Sudah tujuh hari ia menelan rasa rindunya pada Wanda hanya untuk kelancaran rencana briliannya. Arga  sengaja mendiamkan Wanda selama satu minggu dan memfokuskan diri pada pekerjaanya agar dapat menyusun rencananya. Ya, Arga berencana untuk melamar Wanda. Malam ini. Di tempat hiburan ini. Tempat di mana Arga  bertemu dengan gadis cantik bersuara lembut dan merdu tersebut untuk pertama kalinya. Jujur dari lubuk hati terdalam, sesungguhnya Arga  benar-benar tersiksa. Rasanya sangat menyakitkan sekali. Ia sungguh-sungguh merindukannya. Merindukan suara indah W

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD