"Akhirnyaaaa ayah dan bunda ya Jak bisa ketemu lagi, in shaa Allah bersama lagi, penantian lama kita membuahkan hasil, aku memang nggak berhenti berharap Jak," ujar Sena sambil merebahkan badannya di kasur.
"Jangan kita ganggu dulu, Jak, biar aja mereka berdua dulu," ujar Sena lagi.
"Tapi aku kawatir Nira balik ke sini lagi, gangguin ayah sama bunda ntar bang, kalau tiba-tiba muncul,"ujar Ejak.
"Loh emang dia tadi ke sini?" tanya Sena kaget.
"Yaaaa abang, kata si Nira udah janjian sama abang, gimana sih kok lupa, kebanyakan ceweknya sih," Ejak menahan senyumnya.
Sena mendengus kesal melihat wajah Ejak.
"Dia yang nyuru aku ke butiknya, aku baru ingat, bukan janjian Jak," saut Sena.
"Duh baaang tadi bajunya nakutin," ujar Ejak lagi.
"Hheeyyyss dah biasa Jak, pasti kamu takut karena kelihatan kalau dia nggak pake bra kan?" ujar Sena sambil tertawa.
"Nggak takut bang, sungkan aja lihatnya," jawab Ejak menahan senyumnya dan terdengar tawa Sena.
"Iya juga sih, soalnya mata kita lihatnya ke situuuu aja ya Jak?" ujar Sena masih saja tertawa, Ejak hanya tertawa pelan.
"Dari sekian cewek yang ngejar aku, emang dia yang paling berani Jak, kadang aku ngeri takut aku khilaf Jak, pernah kan dia ke kosan pas kamu kuliah dan aku belum berangkat, nekat banget dia nerobos masuk, dorong aku dan nyiumin aku, kalau nggak kebayang wajah bunda dah selesai tuh orang, bajunya pas ya gitu itu Jak yawdah jadi keras Jak punyaku, untung aku orang baik, nggak aku apa-apain dia," Sena tertawa dengan suara keras. Ejak hanya gelemg-geleng kepala sambil tersenyum.
"Pasti abang nikmatin juga," ujar Ejak pelan.
"Yaaah beberapa detik Jak," sahut Sena bangun dari duduknya dan menyugar rambutnya dengan jarinya.
"Alah paling kamu ya seandainya dicium ya gitu juga Jak, apalagi sono yang nyerang duluan, eh Jak kamu pernah ngebayangkan berciuman?" tanya Sena tiba-tiba sambil menatap wajah adiknya yang memerah.
"Pertanyaan kok aneh gitu sih bang, ah nggak aku nggak mau jawab," sahut Ejak.
"Alaaah paling ngebayangin nyium Livi kaaan?" suara tawa Sena semakin keras.
"Abaaang, abang juga kan?" tanya Ejak berusaha menghindar dari tatapan kakaknya.
"Nggak, kan lebih suka kamu ke dia dari pada abang," jawab Sena.
"Abang jujur apa nggak sih bang?" tanya Ejak menatap wajah Sena serius.
"Serius Jak, kan kamu yang suka duluan ke Livi, cinta kamu lebih besar ke dia daripada aku, sabarlah, berusahalah Jak," ujar Sena menatap wajah adiknya yang terlihat ragu.
Livia mendengar semua pembicaraan keduanya yang kebetulan pintu kamar tidak tertutup dengan hati perih, Livia sadar jika dibandingkan dengan wajah bule Nira yang papanya orang Spanyol, ia tidak ada apa-apanya, ia tidak punya keberanian untuk bertingkah aneh-aneh pada Sena, paling hanya memeluk, dan semakin sakit dadanya saat Sena mengatakan lebih besar cinta Ejak dari pada Sena. Livia melangkah ke luar melewati pintu samping menuju toko roti dengan membawa beberapa bajunya.
****
"Aku balik ke hotel dulu ya Devi, atau kamu mau ikut?" tanya Nanta menatap wajah Devi yang tiba-tiba memerah.
"Mas, secara negara kita masih sah suami istri karena kita tidak pernah bercerai dan tidak mengurus perceraian ke KUA tapi secara agama kita sudah bercerai, karena mas tidak menafkahi aku secara lahir dan batin selama dua puluh tahun, jika kita akan bersama lagi maka secara agama kita harus menikah lagi, makanya aku nggak bisa ikut ke hotel mas, lagian aku... aku masih takut, aku ragu kita bisa bersama lagi," ujar Devi pelan dan Ananta kaget.
"Kamu nggak mau kita balik lagi, setelah sekian tahun terpisah?" tanya Ananta terlihat cemas.
"Aku takut, aku takut ibu dan adikmu," ujar Devi melihat Nanta dengan wajah menahan tangis dan suara parau, Ananta meraih kepala Devi ke dadanya.
"Maafkan aku yang terlambat tahu segalanya, aku baru tahu dari para pembantu setelah kamu pergi bagaimana perlakuan ibu dan adikku saat aku tak ada di sisimu, aku pahami ketakutanmu, tapi aku sudah hidup sendiri, aku jauh dari mereka," ujar Nanta terdengar membujuk Devi.
"Tapi selama ibu hidup maka kita harus tetap meminta restunya mas, saat kita akan menikah lagi secara agama," ujar Devi.
"Tak perlu, aku sudah terlalu luka," ujar Nanta melepaskan pelukannya.
"Aku nggak mau mas jadi durhaka pada ibu," ujar Devi.
"Allah lebih tahu apa yang ada di hati kita," ujar Nanta lirih, lama mereka terdiam akhirnya Devi membuka pembicaraan.
"Atau mas ikut aku aja ke toko, biar tahu apa yang menjadi penopang hidup kami, kita ke dua toko roti yang nantinya akan dikelola Ejak dan Sena," ajak Devi yang diiyakan oleh Nanta.
"Bentar aku panggil Sena dan Ejak," Devi beranjak ke kamar anaknya.
****
Berempat mereka menuju toko dengan mengendarai mobil yang biasa dibawa Devi saat ke toko.
Nanta melihat dengan kagum toko yang dikelola oleh Devi, meski tidak terlalu besar tapi terasa nyaman bagi pembeli atau penikmat roti karena ada beberapa tempat duduk bagi para pembeli yang ingin menikmati roti dan minuman di sana.
"Kamu mengelola sendiri dua toko rotimu?" tanya Ananta sambil matanya mengelilingi desain interior khas Bali.
"Dulu sama ibu angkatku saat ia masih hidup, sekarang bersama Sena dan Ejak," sahut Devi.
"Kamu nggak kekurangan modal Devi,karena aku dengar akan buka satu cabang lagi?" tanya Ananta lagi.
"Nggak, aku dapat warisan dari ibu angkatku, aku sudah menolak sejak awal, tapi saat anaknya mengurus semua surat-surat warisan, aku tak bisa menolak," jawab Devi lagi.
"Aah ya, aku nggak bisa ngapa-ngapain lagi untuk kalian," ujar Ananta menatap Devi, Sena dan Ejak bergantian.
"Ayah tetaplah ayah kami, meski tidak membantu secara finansial, keberadaan ayah saat ini sudah segala-galanya bagi kami," ujar Sena sambil tersenyum.
"Ajak ayahmu duduk Sena, Ejak, mama mau ke pantry sebentar, liat-liat aja," ujar Devi.
Saat ketiganya sedang asik berbicara dan menikmati lezatnya roti buatan koki mereka, tiba-tiba masuk seorang laki-laki berwajah khas Amerika latin.
"Duh Jak pasti nyari bunda nih orang, nggak kapok-kapoknya ditolak bunda," ujar Sena menggaruk-garuk kepalanya, Nanta terlihat menatap tajam wajah laki-laki yang melangkah ke arah mereka.
"Sena, mamamu ada?" tanya laki-laki yang masih terlihat tampan meski usianya tidak muda lagi.
"Bunda sibuk di pantry om Carlos, tadi bilang jangan diganggu, maaf saya nggak bisa manggil bunda, karena sekarang jam sibuk bunda," ujar Sena memberikan alasan.
"Ah yaaa tidak apa-apa, berikan ini pada mamamu, besok saya akan kembali," ujarnya sambil mengangguk sopan pada Sena, Ejak dan Nanta lalu melangkah ke luar. Sena menatap buket bunga besar dihadapannya dengan wajah geli.
"Ayah jangan kaget, ada dua orang model gitu yang dekatin bunda, kekeuh banget, ini masih mending cuman ke tokooo aja, ada yang satunya lagi suka nekat ngajak kencan bundalah, ke rumah malam minggu lah, iya kan Jak?" Sena tertawa dan Ejak hanya mengangguk sambil tersenyum, dari balik pintu Devi mengamati semua kejadian sambil menghela napas berat.
"Ayah hanya kawatir jika kalian memulai perkuliahan, gimana bunda kalian kalau ada orang seperti itu ke rumah kalian?" tanya Nanta kawatir.
"Bunda sudah biasa ayah, dia tahu cara ngadepin orang-orang aneh itu," ujar Sena tersenyum lebar.
****
"Aku balik ke rumah dulu ya mas," ujar Devi saat mengantar Nanta ke hotel tempat dia menginap. Nanta meraih tangan Devi, menatap wajahnya dengan kawatir.
"Aku takut kamu tertarik pada laki-laki itu Dev, aku kawatir melihat laki-laki yang mencarimu ke toko roti tadi, bertahun-tahun aku berharap ini terjadi, aku tidak bisa membayangkan sendainya kamu benar-benar lepas dari aku," ujar Nanta dan Devi berusaha melepas tangannya yang digenggam Nanta, dan menoleh ke mobil, anak-anaknya menunggu di sana. Devi menghela napas pelan.
"Mas, jika aku mau sudah sejak dulu, sudahlah tidak usah dibahas, akuuu, aku juga masih berpikir tentang kita, aku masih belum berpikir apakah kita bisa kembali apa tidak," ujar Devi yang membuat Nanta terkejut dan menarik Devi dalam pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan Devi, jangan tinggalkan aku," suara Nanta mendadak tercekat dan hampir hilang ditenggorokannya.
****