Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid membereskan alat tulisnya dan segera pulang. Zahra harus pulang bersama Raga, karena Raga sudah memaksa Zahra hingga mengeluarkan jurus ancamannya. Zahra yang membayangkannya saja sudah ngeri, jadi ia lebih memilih untuk menuruti permintaan cowok itu saja.
"Yuk, pulang" Ajak Raga yang kini sudah disamping Zahra.
"Iya" Balas Zahra singkat.
"Keluar bareng yuk, Nad" Ajak Zahra pada Nadien.
"Lo duluan aja sama Raga. Gue mau ke toilet bentar" Balas Nadien.
"Gue temenin ya" Tawar Zahra.
Nadien menggeleng pelan. "Nggak usah, Ra. Lo udah ditunggu Raga tuh. Gue cuma sebentar kok" Ujar Nadien.
"Lo yakin?" Tanya Zahra. Nadien hanya menganggukkan kepalanya.
"Okey, lo hati-hati ya pulangnya. Gue duluan" Ujar Zahra, lalu ia mengikuti langkah Raga untuk menuju ke parkiran.
Nadien menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena banyak murid yang sudah pulang. Ia ingin ke kamar mandi terlebih dahulu karena ia sudah kebelet dari pelajaran di jam terakhir tadi.
Setelah selesai, Nadien berkaca sebentar, lalu ia keluar dari area kamar mandi perempuan.
"Olivia?" Ucap seseorang yang kini tepat di depan Nadien.
"Lo???" Nadien terkejut. Mengapa ia harus bertemu dengan orang ini lagi. Dan tunggu, cowok itu memakai seragam yang sama dengan dia? Artinyaa?
"Yaampun, Liv, aku gak nyangka kamu sekolah disini. Kok kita baru ketemu sekarang sih" Ujar cowok itu.
"Minggir, gue mau pulang" Nadien melangkahkan kakinya, tetapi langkahnya dihentikan oleh cowok itu.
"Mau lo apa sih?" Tanya Nadien dengan nada lebih tinggi.
"Aku mau balikan sama kamu. Aku masih sayang sama kamu" Ucap cowok itu, lalu ia memegang tangan Nadien dan langsung ditepis oleh Nadien.
"Jangan sentuh gue. Kita udah putus!" Balas Nadien dengan nada ketusnya.
"Nadien, lo belum pulang?" Ucap seseorang yang tiba-tiba datang.
"Eh, Ardan. Kita pulang yuk, aku udah nungguin kamu dari tadi" Ujar Nadien pada Ardan yang baru saja datang. Ia melirik Ardan dan mengisyaratkan agar Ardan bisa membantunya.
Ardan melirik sekilas ke arah cowok yang Nadien ajak bicara. "Yaudah yuk" Ardan menggenggam tangan Nadien dan mengajaknya pergi meninggalkan cowok itu.
Cowok itu menahan lengan Nadien. "Pacar kamu, Liv?" Tanyanya. Nadien melirik sebentar ke arah Ardan.
"Iya dia pacar gue" Jawab Nadien. "Yaudah, yuk pulang" Ajak Nadien kemudian diangguki oleh Ardan.
Setelah berhasil menjauh dari cowok itu, Nadien melepaskan genggaman tangannya dengan Ardan.
"Dan, makasih banget ya lo udah nolongin gue. Gue gak tau tadi harus gimana kalo gak ada lo. Makasih banget ya" Ucap Nadien. Ardan tersenyum sekilas.
"Emangnya kalo boleh tau, dia siapa?" Tanya Ardan. Wajah Nadien berubah menjadi sedikit muram seperti orang yang kebingungan harus menjawab apa.
"Kalo lo gak mau jawab juga gapapa" Ujar Ardan lagi.
"Diaa ituu, mantan gue" Jawab Nadien, ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya.
Ardan memegang dagu Nadien dan mengangkatnya sehingga Nadien tak lagi menunduk. "Lo kenapa nunduk? Lo lebih cantik kalo jutek" Ujar Ardan sedikit terkekeh untuk mencairkan suasana.
*****
Hari ini adalah hari melelahkan bagi Raga. Setelah ia mengantarkan Zahra, ia ingin segera pulang, membersihkan dirinya lalu beristirahat. Raga sangat ingin tidur kali ini. Tubuhnya sangat lelah.
Ketika Raga telah selesai mandi, ia memakai baju santainya. Ia mengenakan kaos berwarna hitam dipadukan dengan celana pendek berwarna cream. Raga segera menuju kasurnya dan merebahkan tubuhnya.
Tok.. tok.. tok
"Den, ada yang nyari aden dibawah," ucap Bi Ani sambil mengetuk pintu kamar Raga.
Sial. Padahal sebentar lagi Raga sudah bisa memejamkan matanya tetapi malah ada saja yang mengganggunya.
"Iya bi," sahut Raga dari dalam kamar. Kemudian ia beranjak keluar untuk menemui siapa yang telah menganggu waktu istirahatnya itu. Raga menuruni tangga dan melihat orang yang sedang duduk di sofa ruang tamunya.
"Hai, selamat sore Raga Pratama Setiawan. Apa kabar?" tanya orang itu.
Raga terkejut melihatnya. "Anda sudah bebas? Lalu, ada perlu apa lagi anda kemari?" tanya Raga.
"Apakah papa tidak boleh ada disini? Papa baru saja bebas kemarin. Papa kangen sama kamu," ucap orang itu yang ternyata adalah papa dari Raga.
"Masih pantes anda dipanggil papa setelah apa yang udah anda perbuat tuan?" ucap Raga tertawa sinis.
"Raga, jaga ucapan kamu. Bagaimanapun, kamu tetap anak papa," ujar Rendy Setiawan, papa Raga.
Raga tertawa lagi. "Inget ya bapak Rendy Setiawan yang terhormat. Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah menganggap anda sebagai papa saya lagi," ujar Raga memperingatkan.
"Dasar anak durhaka!! Siapa yang mengajarimu menjadi tidak sopan dengan papa?" tanya Rendy dengan nada yang meninggi.
"Tanya aja sama diri anda sendiri." balas Raga kemudian ia berbalik dan ingin menuju kamarnya karena ia ingin melanjutkan istirahatnya yang tertunda.
"Raga, dimana adikmu itu? Papa ingin menemuinya," Raga menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah papanya itu.
"Berani-beraninya anda mau mencari adik saya. Gak usah sok peduli. Mendingan sekarang anda pulang!! Dan jangan pernah kesini dan nunjukin muka anda di depan saya lagi" Usir Raga dengan kasarnya. "Pintu di sebelah sana, silahkan pulang bapak Rendy yang terhormat." ujar Raga, kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Raga melihat sekilas ke arah papanya, ternyata orang itu sudah benar-benar pergi.
Raga masuk ke kamar. Emosinya meluap, imbasnya adalah, barang-barang yang ada di kamarnya menjadi pecah dan berserakan. Ia melihat kaca, tangannya mengepal kuat. Raga meninju kaca tersebut hingga pecah. Tangannya berlumuran darah. Ia berteriak sekeras-kerasnya.
"Bajingannnnn!!" teriak Raga. Ia masih mengepalkan tangannya meskipun sekarang sudah penuh darah. Ia tak peduli, bahkan ia tak merasa sakit sedikitpun, karena baginya lebih sakit jika membahas orang-orang yang sangat ia sayangi.
Bi Ani yang sedang masak di dapur pun, berlari menuju kamar Raga. Bi Ani mengetuk pintu kamar Raga berkali-kali. Tetapi tidak ada sahutan apalagi tanda-tanda pintu itu dibuka. Bi Ani khawatir dengan kondisi majikannya itu. Raga hanya tinggal sendiri, Bi Ani memang tau apa yang membuat Raga menjadi seperti itu. Bi Ani melihat ponsel Raga yang tergeletak di meja depan ruang kamarnya. Bi Ani segera membuka ponsel Raga dan mencari kontak seseorang, lalu segera memencet tombol memanggil.
"Haloo, tolong den Raga..." ucap Bi Ani ketika telfon sudah tersambung.
"...."
"Den Raga melukai dirinya sendiri. Saya takut dia berbuat nekat. Tolong kesini," ucap Bi Ani lagi dengan bibir yang sudah gemetar.
"...."
"Terimakasih." ucap Bi Ani mengakhiri telfon itu.
Bi Ani masih setia menunggu Raga memunculkan wajahnya. Bi Ani duduk di sofa yang ada di depan kamar Raga. Ia belum tenang jika Raga masih saja teriak-teriak seperti itu.
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu rumah Raga. Bi Ani segera membukanya dan ternyata orang yang ia tunggu sudah datang.
"Raga dimana, bi?" tanya Zahra. Yaa, Bi Ani memang menelfon Zahra karena Bi Ani melihat di ponsel Raga yang akhir-akhir ini sering dihubungi Raga adalah Zahra. Maka, Bi Ani memutuskan untuk menelfon Zahra.
"Ada di kamarnya, non," jawab Bi Ani. Bibirnya masih bergetar. Bi Ani sangat takut jika Raga sudah kumat seperti itu.
Zahra langsung menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Raga, tetapi tak ada jawaban, yang Zahra dengar hanyalah pecahan-pecahan barang disana. Zahra mencoba membuka pintu kamar Raga, tetapi ternyata dikunci.
"Bi, ada kunci cadangan?" tanya Zahra kepada Bi Ani yang masih setia menemaninya.
"Ada non. Tapi memang saya nggak berani buka kamar aden," ucap Bi Ani. Lalu, Bi Ani memberikan kunci yang ada di saku dasternya itu. "Ini non" Ucap Bi Ani.
Zahra menerimanya dan segera membuka pintu kamar Raga. Pandangan yang pertama kali ia lihat adalah berantakan.
Raga masih berusaha memecahkan semua barang yang ada di kamarnya, kedua tangannya benar-benar penuh darah karena ia gunakan untuk meninju kaca berkali-kali.
"Raga cukuppppp!!!" teriak Zahra. Raga menoleh, ia terkejut, mengapa Zahra ada disini. Tetapi ia tak peduli ia tetap melanjutkan untuk memecahkan apapun yang ada disana.
"Ragaaaa stopp atau gue gak mau ketemu lo lagi!!!" teriak Zahra, kini Raga diam, ia tak lagi memecahkan barang-barangnya.
"Lo kenapa, Ga?" tanya Zahra mulai melembut, perlahan ia berjalan mendekati Raga.
Zahra mengambil tangan Raga, ia melihat betapa banyak darah disana. "Gue obatin ya" ucapnya. Raga hanya diam saja tak merespon apapun.
Zahra mengambil obat-obatan yang ada di kotak P3K di rumah Raga. Ia menuntun Raga untuk duduk di kasurnya agar ia lebih mudah untuk mengobati tangan cowok itu.
Zahra mengobatinya dengan sabar, sesekali ia melirik ke arah Raga. Raga hanya menatap kosong ke arah depan. Cowok itu seperti mati rasa. Bahkan Zahra mengobati seperti itu, ia tak mengeluh sakit sedikitpun.
"Lo kenapa sih sampai lo nyakitin diri sendiri kaya gini? Lo bisa cerita ke gue kalo lo mau. Kadang, masalah gak bisa lo hadepin sendirian. Lo harus cerita ke orang yang lo percaya untuk berbagi masalah lo. Siapa tau mereka bisa bantu," ucap Zahra, ia menutup luka di tangan Raga dengan perban, setelah selesai, pandangannya beralih ke Raga yang masih belum mau membuka mulutnya.
"Kalo lo gak bisa cerita ke gue juga gak papa. Tapi gue cuma ngasih tau, jangan lagi lo kaya gini. Jangan lagi sakitin diri lo sendiri," ucap Zahra menasehati. Raga melirik ke arah Zahra tetapi ia masih bungkam.
"Gue pamit dulu. Inget pesen gue, jangan kaya gini lagi atau gue gak mau lihat muka lo lagi," ujar Zahra kemudian ia segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Raga.
Raga menahan lengan Zahra. Zahra menoleh dan menatap Raga seolah bertanya "Ada apa,"
"Temenin gue sebentar, Ra!"
*****