Bab 22

1940 Words

Sama-sama kehilangan Tidak perlu repot-repot naik kepuncak gunung bila ingin melihat cahaya keindahan. Karena bila aku berhasil menghapus tangismu dan menggantinya dengan senyuman sudah seperti cahaya surga yang Tuhan ciptakan. Fatah diam mencermati segala apa yang terjadi dihadapannya. Sang istri, Sabrin, masih meringis kesakitan sembari memegang perutnya. Bibirnya pucat, dan berkeringat dingin dapat Fatah lihat dari wajah Sabrin. Terburu-buru Fatah menghampiri dan terkejut melihat adanya darah yang membasahi ranjang mereka. "Astagfirullah al'adzim. Kamu kenapa sayang?" "SAKIT..." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Sabrin. Lalu dengan cepat Fatah membopong tubuh istrinya keluar dari kamar. Mama yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Sampai-sampai semua orang yang berada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD