Aku, Waktu dan Kalian.
Kata hampir semua orang di dunia, membuat perempuan jatuh cinta adalah dengan cara membuatnya tertawa namun ketika dia tertawa aku lah yang dibuatnya jatuh cinta lebih gila.
Seminggu sudah berlalu setelah acara reuni itu. Semua menjadi kembali seperti semula. Fatah sibuk dengan segala urusan rumah sakitnya, sedangkan Sabrin disibukkan dengan sang putra Syafiq yang begitu hyper aktif.
Ada saja hal yang dilakukan oleh bocah laki-laki yang belum genap berusia 3 tahun. Kadang orang-orang yang berada disekitar Syafiq dibuat sakit kepala dengan tingkah nakalnya.
Apalagi sekarang ini Syafiq begitu gemas melihat perut besar yang selalu Umi bawa kemana-mana. Sering kali Syafiq bertanya pada Sabrin apa isi dari perut itu.
Lalu ketika dengan sabar Sabrin menjelaskan apa isinya, Syafiq semakin tidak sabar ingin melihat adik bayi yang akan keluar sebentar lagi.
"Syafiq..." teriak Sabrin. "Jangan nakal dong nak. Kamu mau buat Ammah Umi sakit?" buru-buru Sabrin menarik tangan mungil Syafiq saat putranya itu dengan seenaknya memukul-mukul perut Umi seperti drum.
Sedangkan Umi yang perutnya di jadikan mainan oleh Syafiq, nampak biasa saja. Dia merasa lucu dengan tingkah ajaib Syafiq. Entah dari siapa sifat bocah laki-laki itu menurun.
Sudah bisa dipastikan bukan Fatah yang menurunkan sifat nakal itu.
"Syafiq dengarkan ibu, jangan nakal ya sayang. Nanti dedek di dalam perut Ammah sakit gimana." Nasihat Sabrin. Dia menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Syafiq.
Kedua mata bulat milik Syafiq mengerjab-ngerjab bingung. "Ndak boleh ya bu?"
"Gak boleh sayang. Syafiq kan tahu Allah gak suka anak nakal. Nanti kalau Syafiq nakal terus Allah benci sama Syafiq gimana?"
"Ndak. Ndak.. Syafiq ndak nakal bu." Rengeknya manja. Dia berjinjit untuk meminta digendong oleh Sabrin.
"Syafiq udah besar ibu gak mau gendong." Sabrin berbalik meninggalkan Syafiq yang sudah ingin menangis.
"Ibuuu.." tangisnya semakin kuat.
Memang sepertilah kehidupan Sabrin setiap hari, hanya Syafiq yang mengisi hari-harinya. Kadang dia merasa iri dengan keluarga yang lain sering sekali memiliki waktu bersama dengan pasangannya. Sedangkan dia, kemana-mana hanya Syafiq yang menemani.
"BUUUUU..." Teriak Syafiq semakin keras. Namun terus saja diabaikan oleh Sabrin.
Ibu muda itu tengah menyiapkan masakan untuk makan malam. Walau bukan dirinya lah yang memasak semua menu itu, tapi setidaknya ada sedikit bantuannya sebagai menantu di rumah ini.
Mama Fatah sebagai ibu mertua Sabrin, tidak pernah menuntut ini dan itu kepadanya. Sebagai sosok mama mertua, perempuan paruh baya itu terlalu baik dan penyayang. Dirinya seperti ibu kandung untuk Sabrin.
Tapi tetap saja, Sabrin sadar posisinya saat ini di rumah orang lain. Tidak boleh terlanjur terlena dengan kenikmatan. Bukan berarti semua yang dilakukan Sabrin hanya untuk menjilat sang mertua, dia ikhlas dengan sangat membantu bibik yang bertugas di rumah itu. Sabrin akan selalu ingat nasihat Fatah kebaikan mu memang tidak akan ternilai berharga dimata orang lain. Tapi setidaknya bila kamu melakukan kesalahan suatu saat nanti, kamu pernah melakukan kebaikkan yang tak ternilai itu.
"Rin, itu Syafiq kenapa?" tanya mama. Perempuan lanjut usia ini baru saja kembali dari kamarnya setelah menyelesaikan sholat Ashar sore ini. Lalu saat dia mendengar tangisan Syafiq, dia segera mencari dimana cucunya.
"Biarin aja ma, nakal Syafiqnya."
"Ibu.." teriak Syafiq lagi. Dia terabaikan oleh Sabrin sampai-sampai tubuhnya terus saja berguling-guling dilantai. Merengek minta diperhatikan.
Padahal tak jauh dari tempat Syafiq menangis, ada Umi yang sedang duduk santai sambil mengusap perut besarnya. Dia hanya tertawa melihat tingkah Syafiq kala sedang merengek seperti ini. Biasanya Fatah yang akan datang mendiamkan Syafiq ketika Sabrin enggan untuk berdamai dengan putranya. Tapi saat ini Fatah tidak ada diantara mereka. Maka sudah bisa dipastikan Syafiq akan terus menangis sampai bocah laki-laki itu lelah dengan sendirinya.
"Sana diamkan dulu. Biar mama yang melanjutkan."
"Biarin aja ma, tanggung sedikit lagi. Sabrin mau Syafiq berubah ma. Dia itu bukan bayi lagi. Sudah sekolah masih aja cengeng."
"Sabrin.. Sabrin. Kamu mendidik keras putra mu yang berumur kurang dari tiga tahun agar tidak cengeng lagi. Dia mana paham Rin. Anak seumuran Syafiq yang dia tahu, makan, main, tidur sama nangis saja. Untuk kebutuhan lain otaknya masih berusaha mengenali secara perlahan." Jelas Mama.
Sabrin mencuci sayuran yang baru saja dia selesai potong. Dia diam tapi tidak dapat dipungkiri pikirannya selalu Syafiq yang memenuhi.
"Kamu bisa mempercayai dirimu dapat berubah menjadi lebih baik. Tapi mengapa kamu tidak mempercayai putra mu sendiri. Percaya padanya, dia akan mengerti apa yang kamu jelaskan." Tegas Mama.
Pikiran Sabrin berkecamuk, sang mama benar berkata demikian. Tapi rasa egoisnya hadir diantara pikiran baiknya.
Syafiq adalah putranya maka hanya dia yang tahu bagaimana merawat dan mendidik putranya itu.
"Assalamu'alaikum.." dari ambang batas pintu, Fatah pulang dengan wajah lesu. Jas dokter ia sampirkan dibahu. Rambutnya terlihat acak-acakkan sedangkan dikedua matanya terdapat kantung mata yang terlihat menghitam.
Selama 2 hari ini dia tidak pulang kerumah. Ada kejadian dirumah sakit yang membuatnya tidak bisa kembali pulang.
Lalu kini saat dia bisa pulang, tangisan Syafiq lah yang menyambut kepulangannya.
"Assalamu'alaikum mas." Sabrin mendekati Fatah lalu mencium punggung tangan Fatah. Sebelah matanya melirik kearah Syafiq yang masih duduk di lantai dengan tangis yang mulai mereda.
"AYAH..." Rengeknya manja. Tubuh kecilnya bangun menghampiri Fatah yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Fatah tersenyum sembari membuka sepatunya. Dia tahu Syafiq pasti rindu akan kehadiran dirinya.
"Ayah belum bersih-bersih sayang. Jangan dekat-dekat. Ayah banyak kumannya." Peringatan Fatah tidak di hiraukan Syafiq di terus mendekat dan meraih kaki Fatah yang tengah duduk.
"Bu, Syafiqnya di jauhkan dulu. Ayah belum mandi." Tegasnya.
Walau Sabrin sedikit menggerutu, dia menjauhkan Syafiq dari Fatah yang sudah berlalu masuk kedalam kamar.
Tangis Syafiq yang tadi sudah reda, kini mulai lagi terdengar. Nama Fatah lah yang terus saja diteriakkan oleh Syafiq. Mungkin Syafiq merasa kecewa dengan Fatah yang mengabaikannya.
"Kamu kenapa sih sayang? Hari ini nangis terus?" tanya Sabrin. Dia menarik tubuh Syafiq lalu di jepitnya diantara kedua kakinya yang sedang duduk. Ibu jari Sabrin mengusap lembut air mata Syafiq yang tidak henti-hentinya keluar.
"Ibu.." rengeknya kembali. "Aaaaaaa.." teriaknya semakin keras. Entah apa yang ditangisi Syafiq sore ini. Sifat manja dan ingin dimengerti bocah ini mulai kembali keluar.
"Syafiq kenapa? Laper? Mau makan, iya?" kepala Syafiq menggeleng kemudian dia menyelusupkan kepalanya itu ke perut Sabrin. Mengusap semua sisa-sisa air matanya pada tubuh ibunya itu.
Kadang anak kecil seusia Syafiq menangis bukan hanya karena meminta sesuatu barang. Namun dia hanya butuh sedikit perhatian dari kedua orang tuanya. Karena dari perhatian kecil, dia tahu bagi kedua orang tuanya dia sangat berharga.
"Sini ibu bisikin." Ucap Sabrin. Dia mendekatkan mulutnya pada telinga Syafiq, namun saat sudah dekat Sabrin membisikkan dengan kata-kata aneh seperti orang yang sedang berkumur tidak jelas.
Tangis Syafiq yang tadi sangat keras kini sudah berganti dengan gelak tawa bahagia. Syafiq merasa geli dengan bisikkan Sabrin pada telinganya. Sedangkan Sabrin tersenyum penuh bahagia, membuat anaknya tertawa bisa menularkan kebahagiaan kepadanya juga.
"Woo. SYAFIQ JELEK WOO. Habis nangis ketawa makan gula jawa." Ledek Umi.
"Ibuuu." Rengeknya lagi. Tidak terima di ledek oleh Umi.
"Gula jawa enak Dek. Manis." Kekeh Sabrin.
"Ndak mau buuu.."
"Bilang dong, Ammah, jangan godain Syafiq terus dong."
"Ammah jangan dong." Ucap Syafiq mengikuti perkataan Sabrin.
Tapi bukan Umi namanya bila dia akan berhenti hanya karena permohonan itu. Tangan jahilnya kini mencolek-colek pipi Syafiq yang sangat tembam itu.
"IIHHHH.. ibuu."
"Mi, jangan gitu. Kalau nangis terus nanti malem tidurnya mimpi."
"Abis Umi gemas kak lihat anak kecil nangis. Apa nanti Umi akan kayak gini juga gak ya sama anak sendiri?" kekehnya membayangkan bagaimana kelak anaknya nanti.
"Jangan dijahili terus lah anak mu nanti."
"Mudah-mudahan gak kak." Kekeh Umi. Matanya melirik kearah Fatah yang baru saja selesai mandi. Kakak laki-lakinya itu terlihat lebih segar.
"Hai boy." Fatah menggendong tubuh Syafiq. Dia menerbang-nerbangkannya ke udara seperti sebuah pesawat.
Di sana Syafiq tertawa senang atas perlakuan ayahnya. Setelah tadi mendapat kekecewaan setidaknya Fatah menggantinya dengan interaksi yang bila dilihat orang lain hanya hal biasa saja. Tapi tidak untuk Fatah dan Syafiq.
"Mas, kamu temani Syafiq dulu. Aku mau lanjut di dapur lagi." Pinta Sabrin.
Fatah hanya mengangguk dan kembali bermain dengan Syafiq. Menggelitiki perut Syafiq hingga ia meminta ampun kepada Fatah untuk melepaskannya. Namun ketika Fatah sudah melepaskannya, Syafiq berbalik menyerang Fatah dengan menggelitiki menggunakan jari-jari kecilnya.
Fatah berpura-pura merasa geli dan menyerah kepada Syafiq.
"Ayah minta ampun dulu.." rengek Syafiq. Jemari kecilnya menyelusup masuk kedalam tshirt untuk menggelitik bagian tubuh Fatah.
"Ayah minta ampun Dek."
Syafiq terkikik geli menatap ayahnya dengan wajah bahagia. Kali ini dia merasa menang melawan sang ayah padahal dia tidak tahu bila ayahnya yang mengalah untuk dirinya saat ini.
Kini dia sudah berada dalam pelukan Fatah sembari jari tangannya mengusap lembut rahang ayahnya itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Assalamu'alaikum.." Hari sudah hampir gelap ketika sosok Hans pulang. Tubuh besar laki-laki itu langsung mengisi salah satu kursi kosong diruang tamu. Bibir Hans mencibir saat melihat interaksi Fatah dan Syafiq di sekitarnya. Rasa iri pasti ada dalam hatinya. Namun dia segera tepis semua itu karena sebentar lagi anaknya bersama Umi akan hadir.
"Wa'alaikumsalam. Baru pulang?" Fatah mengamati sosok iparnya itu yang kini tengah menatap Umi sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya mas, jalanan Jakarta macet total." Kekehnya. "Tapi kapan Jakarta gak macet? Cuma dalam mimpi." Sambungnya.
Hans langsung pergi pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya sudah tidak bisa menawar lagi untuk dibersihkan. Dibelakang tubuh Hans, Umi berjalan mengikuti suaminya itu.
Lalu kini tinggal lah Syafiq dan Fatah yang masih setia bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa ayah dan anak. Kadang mereka berdua tertawa keras sampai-sampai Sabrin dan mama yang berada di dapur hanya bisa menggelengkan kepala.
"Syafiq bahagia banget diperhatikan ayahnya." Kekeh mama.
"Yah begitu lah ma. Hanya diwaktu-waktu seperti ini aja mas Fatah bisa berinteraksi sama Syafiq. Kadang aku jadi kasihan sama Syafiq. Usia yang seharusnya bisa bersama-sama ayahnya, dia hanya habiskan bersama aku." Sabrin merasa sesak didada. Waktu yang sudah terlewat tidak bisa diulang kembali. Tapi semakin dia menjerit akan suara hatinya kepada Fatah, maka keputusan mutlak yang selalu dia terima.
Suami itu bertugas mencari nafkah.
Selalu itu yang menjadi jawaban dari Fatah. Jadi untuk yang satu ini dia hanya bisa sabar.
"Bicarakan baik-baik dengan Fatah. Mama yakin dia mau mendengar apa yang kamu rasakan."
Sabrin mengangguk sekilas sembari mengusap air matanya yang sudah menetes. Air mata yang sejatinya adalah luka dalam diri yang sulit hilang saat ini entah kapan bisa hilang.
***
Di ruang makan, malam ini semua berkumpul seperti biasa. Sebisa mungkin satu hari dalam seminggu papa mengajarkan kepada anak-anaknya untuk dapat berkumpul ketika acara makan malam. Hanya untuk sekedar berkomunikasi atau bertatap muka.
Karena sejatinya semakin dewasa seorang anak, apalagi ketika anak sudah berkeluarga maka waktu bertemu untuk kedua orang tuanya akan semakin sedikit. Padahal dulu saat sang anak masih kecil, orang tua adalah tempat sang anak kembali dan mengadu akan kerasnya dunia.
Oleh karena itu, papa tidak ingin moment itu hilang. Baginya Fatah dan Umi walau semua sudah berkeluarga tetap menjadi anak kecil baginya. Untuk terus diperhatikan dan diingatkan bila sudah melenceng dari agama. Bukannya memang seperti itu tugas sebagai orang tua. Mendidik dan mengarahkan putra putrinya untuk menjadi manusia yang baik dimata agama maupun di mata masyarakat.
"Dek, makannya yang benar. Berantakan begini, kena baju ayah itu." Nasihat Sabrin pada Syafiq yang tengah asik menyuapi nasi beserta lauk ke mulutnya sendiri.
Setiap makan bila ada Fatah, maka tubuh kecilnya akan duduk diatas pangkuan sang ayah. Dan kini semua makanan itu berserakan di atas baju dan celana Fatah.
"Hey boy, dengar tidak apa kata ibu."
"Iya ayah." Sahutnya pelan.
"Nduk, kamu kan psikolog. Kalau sifat aneh kayak Syafiq itu wajar gak?" karena semuanya tadi kembali diam, mama mulai mengeluarkan cara ampuhnya untuk membuat putranya paham.
Ketika pertanyaan itu keluar, Fatah dan Sabrin saling beradu pandang lalu melihat kearah mama yang tersenyum penuh arti ke arah mereka.
"Sifat yang mana ma? Pukul-pukul barang kedinding? Atau yang takut sama air? Atau yang cengeng." Kekeh Umi.
"Semuanya. Menurut mu masih wajar gak?"
Umi nampak berpikir, lalu melirik jahil kearah Fatah dan Sabrin yang tengah menunggu dirinya menjawab.
"Kalau boleh jujur nih ma, sifat Syafiq agak aneh. Masa semua benda yang mengeluarkan bunyi di pukul-pukul ke dinding. Belum lagi yang dia takut air. Mungkin kalau masalah cengeng itu kembali ke pribadi anak masing-masing. Tapi bagi Umi, anak seumur Syafiq bisa begini karena lingkungannya."
"Maksud mu? Dia mencontoh gitu?" tanya Sabrin penasaran.
"Salah satunya itu, bisa juga karena perhatian dari orang tuanya kurang maka dia mencari cara lain agar orang tuanya hanya terfokus padanya." Kekeh Umi. Dia sempat melirik wajah Fatah yang diam membisu disamping Sabrin.
"Duh masa iya begitu sih Mi? Aku khawatir banget kalau sampai besar dia begini." Sabrin mulai terlihat panik untuk mengatasi hal aneh dalam diri putranya. "Gimana dong mas?"
"Gimana apanya? Masalah Syafiq begini? Menurut mas hal wajar dia begitu. Karena anak kita terlalu ingin tahu atas apa yang dia lihat."
"Bahasa sekarangnya kepo, mas." Sahut Hans.
"Nih ya Kak Sabrin, Umi pernah baca disalah satu buku. Anak laki-laki justru sangat butuh bimbingan dari Ayah, apalagi untuk memberikan batasan-batasan prilakunya." Jelas Umi. Sebelum melanjutkan dia kembali menatap Sabrin yang sudah berhasil termakan kata-katanya saat ini.
"Yang benar kamu?"
"Iya. Pernah ada penelitian menyebutkan pentingnya permainan fisik, seperti bergulat antara ayah dan anak laki-lakinya. Permainan ini membantu anak laki-laki mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi dan perilaku, serta mengenali dorongan emosi orang lain. Saat mengalami perubahan fisik menjadi remaja laki-laki atau pria dewasa sekali pun, anak laki-laki masih butuh bantuan ayah. Dari ayahnya, anak laki-laki ingin belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab." Jelas Umi. Memang benar apa yang dijelaskan Umi pernah dia baca disalah satu buku, namun penyampaian yang berlebihan seperti ini memang dia sengaja lakukan.
"Itu dengarkan kamu mas, Umi bilang anak laki-laki butuh kehadiaran ayahnya. Bukan ayah yang sibuk dengan bisnis dan kerjaannya." Sindir mama.
Fatah menarik nafas lelah, sejak awal pertanyaan mama dia tahu akan berakhir dimana. "Mas Itu kerja ma, bukan main-main. Jangan sama kan pekerjaan mas dengan Hans atau papa. Mas ini menjual jasa bukan mengelola sesuatu seperti papa dan Hans lakukan. Mas ini melayani masyarakat. Nyawa ma taruhannya bila mas salah-salah dalam bertugas. Tidak seharusnya mama begini sama mas, sebagai orang tua mama harusnya mendukung mas sepenuh hati. Dan mengerti kurangnya kehadiran mas dalam tumbuh kembang Syafiq bukan karena main-main tapi karena mas mengabdi untuk kesehatan masyarakat." Jelasnya.
Sabrin menjadi tidak enak hati dengan suasana seperti ini. Dia sedang mencoba ikhlas Fatah tidak memiliki waktu luang untuk keluarganya. Tapi dalam hatinya tidak pernah terbesit akan kejadian perselisihan ini.
"Mama gak mau kamu membuang waktu kebersamaan bersama Syafiq dengan segudang pelayanan mu untuk masyarakat." Kesal mama.
Melihat anak dan istrinya berselisih paham, papa barulah membuka suaranya.
"Sudahlah, ma. Kamu tidak bisa memaksakan Fatah selalu ada untuk istri dan anaknya. Dia juga mengemban tugas berat dalam menafkahi anak istrinya. Mama kan tahu sendiri manusia itu tidak bisa adil. Walau terlihat bagi Fatah dia sudah berusaha adil untuk keluarga dan pekerjaannya, namun tetap saja pihak keluarga merasa kurang. Mama juga tidak seharusnya mengatur Fatah untuk begini begitu, dia juga sudah mengerti Ma apa tugasnya dalam rumah tangga." Nasihat Papa Hadi.
"Lalu untuk mu Mas, papa bukannya ingin ikut campur dengan pekerjaan mu dan bisnis rumah sakit mu. Papa hanya bisa memberikan sedikit masukan, bila memang dengan kedua tangan mu tidak bisa di kendalikan coba percaya pada orang lain. Papa rasa ada banyak orang-orang disekitar mu untuk kau andalkan. Jika kamu memberikan kepercayaan kepada yang lain untuk mengelola rumah sakit mu. Mungkin waktu mu dengan keluarga akan sedikit bertambah.
Jadi setidaknya pekerjaan mu aman, keluarga mu nyaman dan bahagia." Tutup Papa Hadi dengan senyuman.
"Iya pa, Fatah paham. Akan Fatah pikirkan kembali." Sahutnya seraya mengusap punggung tangan Sabrin. Istri cantiknya itu menoleh padanya lalu tersenyum kepada Fatah seperti mengartikan bila dirinya akan selalu ada untuk Fatah.
"Pikirkan baik-baik mas, tidak ada yang mampu mengembalikan waktu yang telah terlewati." Nasihat mama kembali.
***
Langkah kaki Fatah terhenti saat memasuki kamarnya bersama Sabrin. Ruangan itu terlihat begitu gelap tanpa suara.
Setelah makan malam tadi, Sabrin memilih untuk berdiam diri dikamar dengan alasan menemani Syafiq mengerjakan tugas sekolahnya.
Sedangkan Fatah sendiri sibuk dengan beberapa tetangga yang datang untuk memeriksakan diri kepadanya. Dia memang bukan dokter umum, namun banyak dari tetangga yang tinggal disekitar rumah datang kepada Fatah bila merasakan tidak enak badan.
Fatah dengan baik melayani mereka semua, serta memberikan obat yang memang mereka butuhkan. Karena seringnya hal ini terjadi, membuatnya menyediakan beberapa obat yang sering dibutuhkan. Seperti paracetamol dan obat-obat generik lainnya.
Obat-obat ini memang hanya sekedar digunakan untuk penolong sesaat bila terjadi emergency. Tapi ketika penyakit yang setelah di obati oleh Fatah tidak kunjung membaik, maka Fatah akan memberikan surat rujukan kerumah sakit.
"Ai.." panggilnya ketika dapat dia lihat tubuh Sabrin yang tertidur dengan tubuh mungil Syafiq disebelahnya.
Fatah menarik nafas dalam, dia sudah sangat paham apa arti dari semua sikap Sabrin saat ini. Merajuk dan menghindarinya adalah senjata andalan yang sering Sabrin gunakan.
Kadang Fatah merasa lelah harus terus menerus memaklumi sifat Sabrin. Namun bila seperti ini terus kapan Sabrin akan berubah?
Dengan perlahan Fatah berbaring di atas ranjang sembari terus mengamati wajah Sabrin. "Sayang. Kamu sudah tidur?"
Wajah Sabrin diusap lembut oleh Fatah. Sebelah tangannya lagi ia gunakan sebagai bantalan kepalanya. Tubuh tegapnya berbaring mengadap Sabrin dengan Syafiq sebagai pemisah diantara mereka.
"Hmm." Kedua mata Sabrin terbuka. Dia ternyata telah ketiduran tadi. Menunggu Fatah datang sungguh membosankan. Maka setelah membantu Syafiq mengerjakan tugas sekolahnya, Sabrin menidurkan Syafiq sembari tubuhnya ikut berbaring disebelahnya. Tapi ternyata dirinya ikut tertidur pula.
"Sudah mengantuk?"
Sabrin menggeleng lemah. Dia mengusap lengan Fatah pelan. "Sudah selesai semuanya?" tanya Sabrin.
"Maaf ya sayang. Ternyata benar apa kata mama, mas terlalu sibuk tanpa memikirkan kalian. Mas selalu berpikir kalian merasa cukup akan kehadiran mas selama ini. Tapi nyatanya kalian butuh lebih dari itu."
Sabrin tersenyum kearahnya, namun bukan senyum seperti ini yang Fatah ingin lihat. "Mas ingin dengar sesuatu, cerita perandaian untuk mu dimasa yang akan datang."
"Apa itu?"
"Suatu saat nanti, ketika usia mu mungkin sudah seperti papa, kamu akan selalu terbangun disepertiga malam. Duduk di atas sajadah mu, tidak untuk berdoa atau bersujud kepadaNya. Memandang jauh kedepan dalam keadaan redup kurangnya cahaya. Pikiran mu seakan kosong. Hanya sekelebat bayangan masa lalu yang melintas dihadapan mu, membuat mu ingin tersenyum, tertawa dan berteriak kesal karena mungkin dalam masa lalu itu hadir putra kita yang menjadi tokoh utamanya.
Lalu dalam diam kamu memanggil dirinya yang tak kunjung mendekat kepada mu. Kamu ingin terus meraihnya, mendekati tubuhnya untuk kamu rengkuh dalam pelukan mu tapi sayangnya kamu tidak mampu. Kemudian tanpa kamu sadari, kedua mata mu meneteskan air mata. Dengan refleks punggung tangan mu yang akan hadir disana menghapus jejaknya. Karena hatimu bahkan yang lain pun tahu semuanya sudah tidak sama lagi.
Tidak ada waktu yang berjalan mundur, tidak ada menangis tanpa sebab dan tidak mungkin kamu paksa semuanya untuk berpura-pura seperti dulu padahal kenyataannya dulu pun tidak ada hal yang bisa kamu ingat atas apa yang pernah kamu lakukan untuk kami." Tutup Sabrin.
Kali ini dia tidak akan menangis seperti kemarin-kemarin. Selain air matanya sudah terasa mengering, Sabrin juga tidak ingin menyiksa Fatah akan air mata yang pernah ia keluarkan.
"Ai.."
"Sstt. Sudah lah" potong Sabrin. "Aku hanya melakukan perandaian tadi. Singkat kata cuma lagi mimpi." Kekeh Sabrin.
Lama keduanya diam, sebelum Fatah mengeluarkan kata yang membuat Sabrin bingung.
"Terima kasih Ai.."
"Untuk?" walau gelap di dalam kamar ini, Fatah tahu Sabrin tengah menatapnya bingung atas ucapan terima kasihnya.
"Untuk air mata yang tidak menetes dikedua mata mu malam ini. Tapi aku tahu hati mu menjerit kesakitan." Ucapnya sendu.
Tangan besarnya menggenggam tangan Sabrin dengan erat. Jari-jari mereka saling bertautan seakan enggan untuk terlepas.
"Mungkin bagi mu aku hanya seorang pencinta yang buruk. Membuat mu menangis berulang kali, namun tetap saja diam tak bergeming. Mungkin pagi dan siang hari diriku dimiliki semua masyarakat yang membutuhkan ku. Tapi percayalah Ai, malam hari seperti saat ini aku adalah milikmu. Bukannya seperti ini memang makna menikah yang sesungguhnya Allah inginkan dari umatnya. Saling berbagi segala yang dirasakan, saling mengasihi dan saling memahami. Bagi ku setiap harinya dalam penikahan ini kita akan selalu mendapatkan pembelajaran baru. Karena itu mas mohon pada mu, lengkapi diri mas yang tidak sempurna ini."
Sabrin tak tahan dengan air mata yang sejak tadi ia bendung. Pada akhirnya dia kalah lagi dengan tetesan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Mas.." panggilnya lirih. "Aku bersyukur karena mencintai mu sebagai imam hidup ku. Cinta yang memang sudah dikisahkan oleh Allah untuk kita berdua. Tolong mas, jangan ditanya seberapa besar rasa cinta ku saat ini hingga nanti. Jika kau ingin tahu seperti hal nya bila bumi tidak pernah lelah berputar mengeliling matahari dan hujan tidak akan pernah marah pada awan karena dijatuhkan berkali-kali, maka seperti itulah perasaan ku kepada mu." Isak Sabrin.
Ia bangkit lalu berjalan kearah lemari besar dalam kamar itu. Mengambil sesuatu yang memang sejak lama ia siapkan untuk hari ini.
Hari dimana statusnya berganti sejak 4 tahun lalu.
"Buat mas. Semoga mas suka. Bukan hadiah berlebih, aku hanya ingin mas membawa ini kemana pun mas pergi. Kalau yang sudah kita punya kan terlalu besar untuk dibawa-bawa." Kekeh Sabrin.
Ia sudah mengambil posisi duduk disamping Fatah. Tangannya masih terulur kearah Fatah yang diam tak bergerak.
"Apa ini?"
"Buka lah." Fatah menyalakan lampu tidur disampinganya. Dia menatap Sabrin sebelum membuka kotak berwarna biru muda itu.
Lalu ketika isi kotak tersebut telah dapat dia lihat, sudut bibirnya tersenyum lebar kearah Sabrin.
"Dipakai ya mas. Anggaplah ini hadiah atas kesungguhan mu membimbing ku selama ini. Ralat, maksud ku selama 4 tahun ini. Aku harap dengan hadiah ini kamu tidak akan pernah lupa dengan kami."
Fatah mengangguk, dalam hatinya merasa begitu bahagia atas hadiah yang diberikan oleh Sabrin.
Hanya sebuah mushaf kecil yang bisa di saku kan tapi sangat berarti untuk Fatah. Ternyata istrinya begitu mencintai dirinya. Sampai hal terkecil pun untuk menyambungkan dirinya dengan Tuhan sangat diperhatikan oleh Sabrin.
"Terima kasih sayang." Sebuah doa dan ciuman hangat Fatah berikan untuk Sabrin. Dia berharap semoga tidak hanya tahun ini Sabrin tetap disampingnya. Namun tahun-tahun berikutnya dia akan berharap akan hal yang sama sampai ia menutup mata.
Jangan bertanya dimana letak kebahagiaan dalam hidup. Nyatanya itu hanya lah terletak dalam sebuah keromantisan. Romantis dalam berpikir dan proses dalam perjalanan hidup dengan berbagai rintangan. Karena setelahnya akan ada pelajaran yang kau dapat dari keromantisan itu.
-----
continue