Tio
Guys besok gua bawa mobil ya
Tio
Pada ke rumah gua aja, motornya taro di sini, biar berangkat dari sini
Azwin
Gak tau rumah lu bang, dimana?
Tio
/share location
Tio
Ini ya bby
Yumna
Okeoke
Sonya
Mau jam berapa emang otwnya?
Bunga
Mau ikutan tapi tidak bisa:( semangat semua..
Sonya
Semangat juga dirimu @Bunga
Tio
Semangat mbak mawar @Bunga
Tio
Jam berapa kira-kira?
Tio
Jam 9 aja lah ya
Azwin
Oke bang
Tio
Btw bawa beras berapa liter Win?
Azwin
Gak tau liternya bang, pokoknya 3 karung
Tio
Wkwkw yaudeh, lu bawa mie instan berapa kotak? @Sonya
Tio
Oh iya, Dimas juga mau ikut
Sonya
Enam kotak
Tio
Kalau bawa galon sekarang kira-kira gimana?
Azwin
Emang gak lumutan bang?
Yumna
Gausah, ini aja ntar bingungkan siapa yang mau angkut
Tio
Kalau lumutan keknya gak bakalan deh, kan soalnyakan sepuluh hari lagi kita ke sono
Tio
Tapi iyasih, gak ada yang mau angkut
Tio
Yaudah segini dulu aja berarti
---
Setelah bayar dan ngebalikin helm ojol, Yumna langsung mendekat ke arah Tio dan Azwin yang lagi duduk di teras rumah Tio. Mobil dalam keadaan menyala dan terbuka. Keliatan karung beras di dalemnya.
"Kak Sonya belum dateng?"
"Lagi di jalan." kata Tio.
"Bang Dimas?"
"Sepuluh menit lalu bilangnya sih otw."
Terus Yumna langsung duduk di sebelah Azwin yang nyimak obrolan singkat dia dengan Tio. Gak lama, Azwin malah fokus ngobrol sama Yumna
"Aih.. Sedap bener ini gua nyamuk."
"Bang lu mah.." kata Yumna. "Masih pagi elah gak usah ngadi-ngadi."
Tio ketawa terus dia remes-remes pundak Azwin. "Win kok bisa suka sih sama dia? Dia kan galak anjir."
Azwin cuman terkekeh aja sedangkan Yumna rasanya mau caci maki ketuanya ini. Kayak udah bodo amat gitu mau dia kakak tingkat atau sederajat.
Lagian di mata Azwin sekarang, Yumna gak galak kok. Dia cuman tegas aja, itu juga kalau emang sesuatu gak berjalan semestinya.
Tiba-tiba muncul sebuah mobil mewah berwarna putih mengkilat terus terpakir di depan rumah Tio. Keluar Sonya sama cowok ganteng dengan pundak yang lebar.
"Anzay sama pacarnya." kata Tio sebelum bantu ngebawa kotak Mie instan.
"Apa kabar bang?!" sapa Tio ke David.
"Baik-baik.. Mantaplah ketua komunitas terkini." katanya sambil angkat empat kotak, "Ini gua taro di mana nih kotaknya?"
Ngeliat interaksi tiga orang di sana, Yumna ngomong, "Itu ganteng bener dah Bang David... Kadiv PSDM tiga tahun lalu."
Azwin ketawa, "Dadanya lebar banget.. Cowok sejati." Kata cowok itu sebelum menghampiri Tio yang lagi bawa dua kotak mie.
Yumna ketawa ngedenger perkataan Azwin, cewek itu langsung berdiri dan nyamperin Sonya yang lagi jalan ke arahnya.
Setelah semua kotak udah tertata rapi di bagasi mobil Tio, David langsung pamit.
"Ya udah gua pulang dulu.. Semangat kalian, kalau ni orang bertingkah, tabok aja." canda David sambil nunjuk Tio.
Azwin sama Yumna ngangguk-ngangguk sambil ketawa.
"Hati-hati guys, babe aku pulang ya."
"Iya hati-hati ya." sahut Sonya.
"Yo Ti.. Yo kalian." Setelah itu David langsung balik ke mobilnya dan pergi.
"Udah ganti mobil aja anjir.. Kemaren perasaan jes dah." kata Tio setelah kepergian Jin.
"Iya, itu tiga bulan lalu baru ganti." respon Sonya yang udah duduk di sebelah Yumna.
"Anjir keren juga. Usahanya lancar berarti ya bang David."
"Ya gitu.. Itu baru mau buka cabang di Sulawesi katanya. Doakan ya guys."
"Aamiin.." sahut Azwin sama Yumna bersamaan.
"Omg, lucu banget kalian berdua. Semakin cocok."
Niat hati bersikap baik karena nge aminin malah dikatain.
Daripada makin menjadi, Yumna lebih memilih diem sesuai kesepakatan dia dengan Azwin beberapa waktu lalu.
"Abis lulus kawin berarti lu?" tanya Tio.
Sonya langsung ketawa, "Amin dah ye.. Tapi gua juga mau kerja dulu lah anjir. Emak gua mana ngebolehin langsung nikah.. Btw ini tinggal si Dimas?"
Baru aja diomongin sebuah motor besar ala pembalap muncul. Pemiliknya tidak lain dan tidak bukan adalah bang lebah alias Dimas. Cowok itu buka helmnya, terus nanya, "Ini taro mana motornya?"
"Situ aje situ." kata Tio.
Setelah Dimas markirin motor gedenya, dia langsung turun sambil benerin rambutnya. Sebelah tangannya nentengin plastik indomaret, sebelahnya lagi benerin jaketnya. Terus cowok ini berjalan nyamperin orang-orang yang duduk di teras rumah Tio.
"Lama banget buset." kata Sonya.
"Maafkan aku kak Son.. Salahin orang ini nih." kata Dimas sebelum ngasih plastik indomaret ke Yumna.
"Kok kita gak dikasih?!" tanya Sonya pas liat Yumna yang ngeluarin sebuah magnum dari plastik tersebut.
"Ih! Kok cuman satu doang?! Sama struknya lagi, mau pamer ya?!" tanya Yumna.
"Kakak, dedek, satu-satu ngomongnya.. Pertama, gua ngutang magnum ke ini ratu lebah, kedua, ntar ye, kalau langsung lima, bangkrut gua, biar lu tau tuh harganya mahal."
"Anjir. Ya udah kurang empat berarti." kata Yumna terus berdiri.
Azwin dari tadi ketawa aja ngeliat interaksi kakak-abang dan Yumna. Karena ketawa adalah jalan ninja Azwin kalau lagi ngumpul sama kating dan gak tau harus ngomong apa.
"Ya udah guys.. Doa dulu deh kita." Kata Tio.
Setelah berdoa, mereka pun langsung masuk ke mobil Tio. Posisi saat ini adalah Dimas di sebelah Tio yang nyetir, dan Azwin-Yumna-Sonya di mobil bagian belakang.
"Bang nanti ngangkat berasnya gimana dah?" tanya Dimas.
"Satu orang satu karung." jawab Tio.
"Hah? Oh gua paham.. Lu satu karung, Azwin satu karung, kak Sonya sama Yumna satu karung juga."
"Lambemu." kata Sonya. "Ogah gua."
"Berat anjir." kata Dimas.
"Ditarik sayang." kata Tio.
"Iya.. Sonya sama Yumna aja yang narik ya. Berat banget njir bang." tubuh Dimas berputar, ngeliat Yumna yang lagi asik makan magnumnya, Azwin yang lagi ngeliat pemandangan, dan Sonya yang lagi main hp."
"Pantes aja ini anak diem aja, emang harus disumpel es krim biar gak banyak protes." kata Dimas nunjuk Yumna.
"Iya, kurang empat magnum lagi ya tan." Kata Yumna cuek.
"Tan apaan?"
"Lebah jantan."
"Anjir gua kira bekantan."
"Mirip." sahut Yumna lagi.
Dimas ngasih death glare, terus teriak, "APA?!"
"Aih.. Serem bener." sahut Yumna pakai nada mengejek.
Tio, Azwin sama Sonya ngakak.
"Nanti Sonya sama Yumna sama-sama bawa tiga kardus mie." kata Tio. "Ini ke kanan apa kiri?"
"Kiri bang." jawab Azwin.
"Akhirnya Azwin ngomong." respon Tio masih fokus ke kemudi. "Win ngomong dong."
"Tuh kayak Azwin dong.. Ngomongnya sesuatu yang penting doang."
"Lu anjir yang dari tadi banyak ngomong dan mengeluh." kata Tio ke Dimas.
"I like your style deh bang Tiwai!" kata Yumna.
"Heh, udah gua beliin es krim harus belain gua!" kata Dimas.
"Beda.. Inikan hutang!" kata Yumna.
"Biarin aja gak gua beliin lagi."
"Biarin aja nanti pas di akhirat, gua gak mengikhlaskan es krim tersebut, sehingga lu gak bisa masuk surga."
Dimas ngomel, sedangkan seisi mobil ketawa.
"Asli.. Kenapa sih ngakak banget, gua kira lu jadi kadiv bakal marah-marah doang kerjaannya." kata Tio. "Gua kira cuman pimpinan aja yang bisa ngebully anak ini soalnya bacot dan galaknya luar biasa."
"Gak pak, gua jadi kadiv juga terbully."
"Lagian gak jelas." Yumna ngelap bibirnya make tisu, terus ngomong, "Kerjaannya ngomel-ngomel doang tapi suka gak jelas gitu loh ngomelnya. Untung gua, Jamie sama kak Joyce bisa ngalahin."
"Emang laknat semuanya." kata Dimas. "Udahlah, gak usahh ngomongin gua, Azwin gimana nih sama Yumna, kok lu mau sih Win? Gua aja tipe-tipe begini aja dibully.. Lu apalagi ya."
"Gak lah, Azwin mah gak banyak ngomong dan bertingkah kek lu bang." Sahut Yumna.
"Oh, itu yang bikin Yumna suka ya?!" kata Sonya tiba-tiba.
Gak gitu maksudnya. Yumna rasanya mau nabok kakak cantik di sebelahnya ini.
"Cie! Cie! Uhuy!" Tio menjadi orang yang paling berisik saat ini, disusul oleh Dimas.
Azwin cuman ketawa aja karena bingung mau respom apa, sampai Tio tiba-tiba nanya setelah sempat berisik, "Win, Yumna galak gak kalau lagi sama lu?"
"Gak.. Baik kok." kata Azwin, terus ketawa-tawa.
"Anzayani! Cuman Azwin seorang kayaknya yang dibaikin Yumna."
"CIEEE!"
"UHUY!"
Ini isi mobil isinya lima orang doang tapi berasa puluhan orang. Meuni gandeng pisan.
"Oh gua tau.. Kan Azwin kayak malaikat polos gitu yang senyam-senyum aja kerjaannya, nah Yumna bagaikan setan penjaganya yang siap ngebacotin siapa aja yang gangguin Azwin."
"Anjim." celetuk Yumna.
"Anzayani, pasangan surga dan neraka." sahut Tio.
"Jadi saling melengkapi gitu ya." Sahut Sonya sambil ketawa-ketiwi.
Kali ini Yumna ngaku kalah sama bacotan mereka, soalnya takutnya kalau dia kebanyakan ngomong, Azwin malah terganggu karena ini kakak-abang pasti makin ngatain.
"a***y diem doang ini dedek-dedek! Berarti resmi nih?!"
Kimping.. Serba salah.
"Win, apa sih yang lu sukain dari Yumna?" kata Tio tiba-tiba, ngebuat suasana mobil langsung hening.
Semua orang kecuali Yumna ngeliat ke arah Azwin, nunggu cowok itu ngomong.
Entah kenapa Yumna kok deg degan tapi mukanya dia setting biasa aja sambil ngeliat ke arah jalan depan.
"Apa Win apa?!" kata Dimas gak sabar.
Azwin diem terus ngelirik satu persatu orang.
Bengong sebentar. Habis itu dia siap-siap ngomong.
"MmMMMmm..."