Sebuah Kepercayaan

1006 Words
Tania membuka pintu mobilnya, untuk menginjakkan kakinya di halaman rumahnya sendiri, rasanya sulit. Ia duduk diam, menatap ke depan dengan tatapan yang kosong. Ini tentang apa yang akan ia katakan pada ayah dan ibunya. Ia mulai cemas. Ia khawatir dengan apapun yang mungkin ayahnya akan tanyakan, terlebih lagi ia tidak berpamitan tadi pagi. Belum sempat Tania masuk rupanya ibunya sudah datang menyambutnya, ia berdiri tepat di hadapan Tania. "Mah?" "Iya sayang. Kenapa kamu kaget banget, kayak ngeliat hantu aja," timpal ibunya. "M-mamah ngapain disini?" Tania menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. "Lho? Kok kamu nanyanya gitu? Kayak ga boleh aja mamah ada disini." Tania langsung menggeleng, "bukan gitu mah. Aku cuma kaget aja ngeliat mamah tiba-tiba keluar gitu." Ibunya tersenyum, "yaudah. Ayo masuk, Desi bilang kamu hari ini jaga malam ya? Mamah udah siapin baju kamu sama semua barang-barang yang bakalan kamu bawa ke rumah sakit." "Iya, makasih ya mah. Maaf kalau Tania suka ngerepotin." Ibunya mengusap puncak kepala Tania dengan lembut, "gapapa sayang. Mamah bisa ngertiin kamu." Tania dan ibunya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sambil sesekali bercanda, saat hendak menaiki anak tangga, Ayah Tania tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya. "Kamu darimana?" tanya Ayah Tania. Tania berhenti, ia menoleh menatap ayahnya dengan tatapan yang cemas, "aku... aku tadi ada urusan, Pah. Makanya aku buru-buru tadi." "Sampai di apartemen?" timpal Ayahnya lagi. "Apartemen? Oh iya, tadi aku ke apart temenku." Tubuh Tania benar-benar gemetar, ia lagi dan lagi berbohong. "Udahlah, Pah. Tania buru-buru ini, mau mandi. Mau berangkat kan sayang?" "Iya, Mah." "Kamu kerja hari ini? Masuk jam segini? Kamu ga usah berangkat, papah mau bicara sama kamu, mau ngomongin banyak hal sama kamu, terutama tentang masa depan kamu," timpal Ayahnya. "Enggak bisa, Pah. Aku harus tetep masuk, ga boleh enggak. Papah tau kan gimana posisi aku di rumah sakit? Aku ini sebagai tenaga perawat, aku ga bisa lalaikan tanggung jawab aku dong," balas Tania tidak percaya. Ayah Tania mendekat, "kamu ngomongin soal tanggung jawab di hadapan papah, tapi kamu lupa satu hal bahwa kamu itu punya sebuah kepercayaan yang kami kasih ke kamu, tapi kamu rusak kepercayaan kami. Kamu sadar ga sih apa yang kamu lakuin sekarang itu baik apa enggak??" "Pah, kamu ini ngomong apa sih sama anakmu. Jangan kayak gitu, Anakmu bukan orang seperti itu." Ibunya menatap Tania dengan tatapan penuh kecemasan dan kekhawatiran. Ia tau bahwa Tania saat ini merasa tidak nyaman. "Kamu terlalu memanjakan anak kamu ini sampai dia berani berbuat seperti itu." Tania menunduk, ia sendiri bingung tentang apa yang telah terjadi. "Pah!!" Ibunya menatap Ayah Tania dengan tatapan kesal karena tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. "Tania kamu ga usah dengerin apa kata papah kamu ya nak, mendingan kamu masuk kamar terus siap-siap, oke?" Tania mengangguk mengiyakan, "aku masuk dulu Mah, Pah," tukas Tania. Tania berbalik, lalu kembali naik ke atas tangga. "Bilang sama laki-laki itu buat dateng ketemu Papah besok. Papah mau lihat gimana orangnya, Papah mau tau gimana dia. Kamu jangan berhubungan sembunyi-sembunyi di belakang Papah, Tania." Ucapan Ayahnya membuat Tania merasa sangat resah. Bagaimana bisa hal ini sampai bocor ke telinga ayahnya? Padahal selama 5 tahun terakhir ia mencoba untuk menyimpan hal ini dengan rapat-rapat, tapi kenapa harus ketahuan? Tania tidak menghiraukan perkataan ayahnya, ia tetap melenggang masuk ke dalam kamarnya. Saat tiba di kamar, hal pertama kali yang ia cek adalah ponselnya. Ia menghubungi Desi, yang tau segalanya. Dan kata ibunya mereka sempat berbincang tadi. Tania takut kalau hal ini diketahui oleh Ayahnya dari Desi. Tut tut tut. "Halo?" ["Iya, hai."] "Kamu dimana?" tanya Tania. ["Di rumah sakit lah. Dimana lagi?"] "Des, aku mau nanya sama kamu." ["Oh yaudah, mau tanya apa?"] "Kamu tadi ketemu sama Mamah dan Papah aku, ya?" tanya Tania langsung ke inti pembicaraan. ["Enggak, kan aku di rumah sakit, dan aku belum balik. Terus gimana aku bisa ketemu sama Mamah dan Papah kamu?"] Tania terdiam. ["Emang sih, tadi Mamah kamu ngehubungin aku buat nanya kamu dimana soalnya kamu katanya pergi dari rumah tuh pagi-pagi banget, dia mikir kamu ke rumah sakit, ada kondisi darurat. Terus yaudah kita ngobrol-ngobrol dikit."] terang Desi dari balik sambungan telepon. "Aku tadi ketemu Reyn. Dan kamu tau, Papah aku tau kalau aku itu ke apartnya dia. Terus Papah aku minta aku buat ketemuin Reyn sama keluarga ku. Gimana nih?" Tania mulai bingung. Ia juga merasa takut dan cemas. ["Ya bagus dong. Kenapa kamu harus takut gitu? Itu artinya Papah kamu ngasih lampu ijo buat hubungan kalian."] "Bagus apanya, Des. Kamu tau kan Reyn itu belum siap. Gimana nantinya? Aku aja habis berantem sama dia. Aku bener-bener pusing banget tau, gak! ["Kalau menurut aku nih ya mendingan si Reyn kamu temuin aja sama keluarga kamu. Ini tuh awal yang bagus Tania. Sebuah peningkatan buat hubungan kalian. Sekarang itu tinggal gimana kamu ngebujuk Reyn buat ketemu sama papah kamu."] "Ish ga bisaa." ["Sekarang apa lagi sih masalahnya? Toh semuanya udah tinggal kalian ketemu aja. Jangan dibuat ribet, Tan. Kamu mau terus-terusan pacaran sama orang yang ga bisa ngasih keseriusan buat kamu? Kamu mau terus-terusan di gantung? Kenapa kamu nggak coba sih? Kali aja Papah kamu itu seneng sama Reyn karena mereka kan juga sama sama pengusaha, punya pikiran yang sama. Kamunya aja yang mikir terlalu jauh."] ucap Desi menasehati. "Desi, ini tuh bener-bener ga mudah tau. Kamu jelas tau kalau Reyn itu non muslim dan Papah aku gamau aku jalin hubungan sama yang beda keyakinan. Aku takut banget, aku sama sekali belum siap nerima hal ini." Tania mulai frustasi. Ia sangat takut dengan kejadian terburuk yang mungkin saja terjadi. ["Jangan mikirin itu dulu. Tenang aja, calm calm. Temuin aja mereka dulu sebagai bentuk usaha kamu sama Reyn, urusan papah kamu terima atau enggak itu terakhir deh."] "Gimana kalau enggak, Des?" timpal Tania, ia mulai cemas. ["Ya kalau enggak mau gimana lagi? Masa kalian mau kawin lari?"] Tania menghela nafas kasar, situasi ini adalah situasi yang benar-benar tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia kini terjebak, dan yang bisa mengeluarkannya hanyalah dirinya sendiri. Sekarang ia harus berpikir gimana ia mempertemukan Reyn dan Papahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD