Putus

1061 Words
Hari ini angin malam terasa begitu sangat dingin. Aku duduk di kursi taman rumah, menatap langit dengan tatapan yang penuh harap. Entah apa yang semesta rencanakan untukku, aku hanya bisa berharap yang terbaik saja, untuk diriku sendiri dan juga orang orang yang berada di sekitarku yang tentu teramat aku sayangi. Tok tok tok!! Suara pintu kamarku yang di ketuk terdengar, aku langsung menoleh terlihat gagang pintu yang dibuka. "Mamah?" "Kok kamu belum tidur sayang? Udah larut banget loh. Kenapa? Apa ada masalah di Rumah Sakit?" tanya Mamah dengan suaranya yang teramat lembut. "Tania gak ngantuk, Mah. Tania cuma lagi banyak pikiran, ya masalah kerjaan lah." Ia duduk tepat di sebelahku lalu menatapku dengan tatapan sendu, "kamu pasti lagi capek banget ya? Dari abis kamu pulang kerja tadi Mamah bisa liat kamu lagi banyak pikiran banget, apa ini ada hubungannya sama papah kamu?" Aku terdiam, ini sama sekali menyangkut soal papah yang minta aku buat temuin Reynard. Aku bener-bener bingung dan takut harus gimana. "Enggak kok, mah," balasku sembari tersenyum kepada mamah. "Yaudah kalau kamu gak mau cerita sama mamah. It's okay. Mamah bisa ngerti kok sayang. Semoga aja semua baik-baik aja, ya? Kalau ada apa-apa dan kalau kamu perlu sesuatu jujur aja sama mamah, sekali pun itu menentang papah mamah bakalan selalu ada buat kamu sayang." "Makasih banyak ya, mah. Tania gatau lagi harus gimana kalau Mamah gak ada. Tania bersyukur banget bisa punya kalian." Aku memeluk mamah dengan sangat erat. Genggaman tangannya mampu membuatku merasa lebih baik, apalagi dengan dekapannya. Ia mengusap punggungku dan memberiku kekuatan. "Kamu pasti kuat nak, Mamah yakin itu. Udah, jangan sedih sedih lagi, jangan di pikiran terlalu larut, sekarang kamu istirahat aja." Aku mengangguk mengiyakan, "iya Mah," jawabku. "Oh iya, satu hal lagi. Kalau ada apa apa itu kamu langsung cerita aja ke Mamah sayang, jangan di simpen sendiri. Okey? Mamah cuma pengen tau gimana anak Mamah, masalah apa yang anak Mamah hadapi sendirian." Aku menunduk terdiam, apakah ini sebuah kode dari Mamah supaya aku mau cerita semuanya? Aku tau sebenarnya ini bukan masalah yang besar tapi terkait Reynard yang merupakan orang yang berbeda keyakinan dengan kami itu pasti ga akan pernah mudah, terlebih lagi Papah. Aku bener-bener takut dan bingung harus gimana. Semakin aku nutupin semuanya, semakin aku ngerasa tertekan nantinya dan aku gamau itu. *** Hari ini aku memutuskan untuk menemui Reynard dan membicarakan apa yang selama beberapa hari ini mengganggu pikiranku, aku sangat tau ini akan sangat sulit, terlebih lagi Reynard adalah pria yang teramat keras kepala, tapi entah bagaimana pun caranya aku harus bisa membujuk dirinya untuk menemui Papah. Hari ini aku cuti kerja, aku bangun lebih awal. Mempersiapkan sarapan untuk kami sekeluarga, melakukan kegiatan pagi yang sangat jarang aku lakukan. Sayangnya usahaku sia-sia, Papah berangkat ke kantor sebelum aku selesai membuat sarapan padahal semua ini kulakukan hanya untuk menarik simpatik Papah agar ia tidak mendesakku terus menerus. "Papah kamu udah berangkat tadi sayang," ucap Mamah yang langsung mendapat helaan nafas dariku. Aku merasa kecewa sekali. "Iya, Mah." "Kamu gapapa 'kan? Oh iya, Mamah cuma mau bilang kalau kamu harus cepet-cepet bawa laki-laki itu kesini sebelum Papah sendiri yang datang temuin dia. Lagian kenapa si kalian nutupin hal semacam ini, nak?" Mamah menatapku dengan tatapan yang sangat penasaran. Aku terdiam cukup lama, "Tania bukannya nutupin ini dari kalian, Tania cuma mikir kalau ini terlalu cepat, Mah. Tania bener-bener belum siap." "Cepat apanya? bukannya itu bagus? Itu artinya Papah ngasih lampu ijo buat kamu jalin hubungan ke tahap yang lebih serius." "Tapi, Mah. Ini tuh bukan perkara mudah, Tania belum bisa, dan Reynard ju—" "Reynard?" Mamah menatapku penuh selidik. Aku mengangguk, "namanya Reynard. Tania bakalan coba ngomong sama dia soal hal ini, Tania juga percaya sama Mamah kalau Mamah bisa nenangin Papah. Mamah ga perlu khawatir, Tania ga bakalan ngecewain kalian." Usai mengatakan hal itu aku kembali ke kamarku untuk menenangkan diri. "Tidak akan mengecewakan kalian", kalimat itu menjadi boomerang untuk diriku sendiri karena aku sangat tau kalau apa yang telah aku lakukan pastinya akan mengecewakan mereka. Ku ambil ponselku lalu mengirimi Reynard pesan singkat untuk bertemu di cafe Lavender, dekat tempatnya bekerja. Waktu telah menunjukkan pukul 11 pagi dan aku telah menuju ke cafe Lavender, tempat dimana kami janjian. Entah bagaimana reaksi Reynard nantinya, aku hanya berharap ia tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menolak ajakanku. Aku tiba lebih dulu lalu segera memesan minuman yang Reynard suka. Aku duduk di depan etalase kaca cafe, menatap ke arah jalan sembari mengaduk-aduk minuman yang kini ada di hadapanku. Kantor Reynard tepat berada di seberang jalan, kantor yang sangat megah. Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku sembari terus melihat ke arah luar. "Seharusnya dia udah dateng," ucapku lalu menarik nafas dalam-dalam. Tak selang beberapa lama akhirnya orang yang ku tunggu-tunggu datang juga. Ia duduk di hadapanku tanpa menyapaku sama sekali. "Kenapa lama banget?" tanyaku yang langsung memulai pembicaraan. "Banyak urusan. Lagian ga biasanya kamu ngajakin ketemuan di jam kayak gini. Kamu kan tau jam jam segini aku banyak banget kerjaan," ucap Reynard. Aku tersenyum kaku, "emang susah ya ketemu sama anak pemilik perusahaan terbesar di Indonesia, dan juga merupakan CEO perusahaan yang sampai saat ini masih aku kagumi, harusnya aku buat janji dulu, ya?"' "Kamu ngomong apa sih?" Reynard menatapku dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. "Kenapa? Aku salah ngomong ya?" "Denger ya, kalau kamu dateng kesini cuma buat ngomongin hal kayak gini mending kamu pulang deh, aku banyak kerjaan." Reynard berniat untuk bangkit dari kursinya. "Disaat semua orang bersikeras ngomong kalau kamu emang ga pantes buat aku, aku selalu yakin dan percaya kalau itu ga bener. Aku selalu berusaha buat jaga nama baik kamu, aku selalu berusaha nutup telinga aku rapat-rapat dari omongan orang-orang yang ngejelekin kamu. Dan, kamu tau kenapa aku datang kesini jauh-jauh? Aku dateng kesini buat bilang kalau Papah aku mau ketemu sama kamu, Papah aku mau bicara sama kamu terkait keseriusan kamu sama aku. Sekarang aku tanya, kamu serius kan sama aku? Jadi apa kamu mau nemuin Papah ku dan bilang kalau kamu bener-bener sayang aku?" aku menatap Reynard. Langkahnya tertahan, ia terdiam cukup lama tanpa berbalik badan ke arahku. "Kamu tau kita ga bakalan berhasil," ucap Reynard dengan nada bicara yang kesal. "Yaudah, sekarang mending kita akhiri semuanya," balasku tanpa berpikir sama sekali, ucapan itu keluar sendiri dari bibirku dengan spontan.. Reynard berbalik menatapku, aku tau ia pasti sangat terkejut. "Kamu mau putus?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD