Penjahat Tanpa henti mendaratkan pukulan berkali-kali kepada marx di seluruh tubuhnya.
Karena tubuhnya yang besar dengan armor daging menutupi seluruh tubuhnya, marx terlihat layaknya seperti anak bayi saja baginya.
Pejahat tersebut berhenti dan melihat wajah marx yang sudah berlumuran darah, dan nafasnya terdengar agak lambat namun dia masih dapat mendengar sesuatu.
"Nampaknya aku berlebihan"penjahat melihat ke arah marx yang terluka parah.
"Tunggu dulu satu, dua,.... Dimana satu lagi bukannya kalian ada tiga? "Penjahat itu bingung.
Celia yang berada di dalam semak-semak terdiam dan gemetar ketakutan, tubuhnya banjir keringat yang amat banyak dan tidak berani melihat ke arah pahlawan.
Namun celia terkejut saat mendengar suara penjahat itu yang kesal karena suatu hal.
"Apanya yang lucu bocah! "Dia dengan penuh amarah melihat marx yang tertawa lucu, "dimana gadis kecil yang bersamamu, atau aku hancurkan wajahmu.....!"terlihat ludah darah mengenai wajahnya.
"Mati saja sana sialan hahahaha! "Marx tertawa terbahak-bahak.
Celia yang berada di semak-semak mengepalkan kedua tangannya sampai berdarah.
"(Marx hentikan!) "celia dengan gigi bergetar.
"Hehehe, kalau begitu kau mati duluan! "Langsung saja dia mendaratkan pukulan yang amat kuat sampai wajah marx menghantam tanah.
Terlihat tanah di seluruh tempat ini mulai retak dan hancur lebur karena pukulannya saja.
Saat debu pasir menghilang terlihat kepala marx yang masuk ke dalam tanah, bahkan wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
Terlihat penjahat tersebut menunjukan raut wajah penuh amarah dan kepalanya merasakan sesuatu seperti terkena lemparan batu kecil.
Amarahnya mulai kembali memanas dan dia melihat wanita berambut abu-abu dengan banyak tindik di telinganya.
Namun terlihat jelas wanita itu menunjukan raut wajah penuh kebencian dan amarah yang bercampur aduk.
"Hehehe, sekarang kau baru keluar setalah aku menghabisi teman-teman kecilmu ini! "Dia tersenyum jahat melihat celia.
Celia tetap diam dan mengarahkan tangannya kepada penjahat tersebut, penjahat tersebut menampilkan senyuman mengerikan dan bergerak amat cepat.
Dia yang telah berada di depan mata celia dan hampir mendaratkan pukulan mendadak terdiam dan tidak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya.
Kepalan tangan kanannya yang amat kuat tidak dapat digerakkan, layaknya seperti ada seseorang yang sedang mencengkeram tangannya.
"(Kekuatan macam apa ini, kenapa aku tidak dapat bergerak!) "penjahat tersebut dengan tubuh gemetar.
Dia merasakan sesuatu yang berbahaya di tangan kanannya yang tidak bergerak tanpa memiliki wujud yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
Celia mengarahkan tangannya kepada d**a penjahat tersebut, namun tepat di belakang penjahat hantaman tendangan tepat di kepala sebelah kirinya.
Dia terhempas amat jauh sampai menghancurkan seluruh benda di sekitarnya.
Penjahat tersebut bingung dan melihat tepat di depannya anak yamg barusan dia kalahkan telah kembali pulih.
"Kau baik-baik saja celia "terdengar suara marx yang agak berat.
Celia terkejut dan melihat ekspresi marx yang tidak biasanya, namun terlihat aura meluap di sekitarnya yang dapat memberikan tekanan terhadap musuhnya.
Celia menganggukkan kepalanya dan terlihat marx menampilkan senyuman lebar di bibirnya, celia ikut tersenyum juga karena mengetahui bahwa walaupun dia terlihat berbeda, dia tetaplah marx yang dia kenal sebagai anak kelas 1-A dan teman baiknya.
"Kalau begitu jaga lucas untukku, akan aku buat hancur daging bodoh itu! "Marx membunyikan jarinya.
"Hahaha, sudah aku duga kau kuat bocah! "Dia tersenyum senang melihat marx.
"Tentu saja, masih kuat pukulan guru kazama bodoh! "Marx menjulurkan lidahnya mengejek penjahat tersebut.
"Katamu kazama.... Kazama si predator hahahaha menarik sekali! "Terlihat senyuman jahat tertampil di wajahnya.
Bersambung.