“Santai aja, gak usah kaku,” ucap Damar. Mereka sudah duduk di tempat Damar tadi. Setelah Damar membantu Jihan mengambil buku yang gadis itu tunjukkan, entah keberanian dari mana atau memang Damar sudah menutupi rasa malunya, Damar menawarkan diri untuk berdiskusi tentang materi yang sedang Jihan pelajari. Kalau saja Bani ada dan melihat cara Damar mendekati Jihan, sudah pasti Bani akan kesal. Mana ada mendekati perempuan dengan cara mengajak belajar. Astaga, apa tidak cara atau alasan lain yang lebih bisa di katakan luar biasa lagi selain apa yang Damar lakukan. Jihan lagi-lagi mengangguk kaku, dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa mudah sekali mengiyakan ajakan Damar saat Seniornya itu terlihat begitu pintar menjelaskan apa yang Jihan tak mengerti dan mengajak Jihan untuk berdisku

