Bab2

557 Words
Hari hari biasa telahku lalui selayaknya suami istri, tapi itu hanya di luar, kami akan menjadi orang asing ketika kami hanya berdua, aku belum bisa meyakinkan hatiku sendiri, atau memantapkan jiwaku untuk suamiku sekarang, toh dia juga tidak menuntutku melayaninya selayaknya pasangan. Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi setidaknya ada sebuah masa, dimana kita bisa saling menguatkan. Kupandangi wajah lelap suamiku yang sudah terlelap. Tak terasa butir butir air mata menetes dengan sendirinya, aku tidak bisa membohongi diriku, aku menginginkan laki laki lain yang menjadi suamiku, bukan orang yang ada di depanku ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, hari hariku menjadi sangat berat dan tidak bersemangat. Kulihat dia membuka matanya dan membuatku kaget, kuberbalik memunggunginya dan mengusap air mataku agar tidak terlihat olehnya, bagaimanapun tidak ada orang yang boleh tau kesedihanku. "Kamu mau aku bertindak lebih denganmu?" kau ini jangan suka membodohiku, aku tau apa yang kau lakukan, bukankah selama ini kau terpesona dengan ketampananku? Pura pura jutek, padahal diam diam memperhatikanku saat tidur," bicaranya terdengar sangat sombong. Aku diam tak menanggapi ucapanya, aku sadar ini semua sudah takdir dari yang kuasa, tapi aku belum siap, sungguh aku tak siap harus menjadi istri seorang Kaen yang umurnya sangat jauh dariku. ku merasa ada yang bergerak di pinggangku, dan aku tersontak kaget." Apa yang kau lakukan??"tanyaku kaget," bukankah ini sudah tugasmu sebagai istri melayani suaminya??apakah kau mau masuk neraka hanya karna tidak patuh pada suamimu?" jawabnya "A ... ku "jawabku gugup.A ku bingung harus jawab apa,sudah1 minggu aku mengabaikanya, aku juga tak bisa seperti ini terus, haruskan aku melepaskan hal yang selama ini kujaga untuk kupersembahkan padanya? "Tidurlah, dan jangan memandangiku saat tidur, jika kau belum benar benar siap menjadi istriku se utuhnya," jawabnya melepaskan pelukanya, dan kembali terpejam. Aku merasa berdosa mengabaikanya, tapi aku belum siap, aku masih harus memantapkan hati ini. Jam alarm berbunyi, membuatku perlahan membuka mataku, kulihat jam menunjukan jam angka setengah lima, ku mengedarkan padanganku mencari sosok Kaen tak ada disampingku, kumendengar gemercik suara air dan sudah dipastikan, dia sedang mandi sekarang. Kulihat dia keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk di pinggangya, aku tersontak kaget. "Pak, yang kira kira dong kalo didepan saya, jangan b***l begitu. Apa Bapak nggak malu sama anak kecil kaya saya?" kataku sambil menutup mataku dengn telapak tanganku. "kenapa? Aku sudah terbiasa begini, kamu harus terbiasa melihatku tanpa busana, agar kau dapat melayaniku dengan meliht.diriku, bukan malah membayangkan lelaki lain," jawabnya, perkataan macam apa ini, huh ... dasar menyebalkan. Dia berjalan melewatiku tanpa dosa, dan mengambil koko serta kopyah lalu memakainya, melihat ia memakai koko, terlihat kadar ketampanannya bertambah 3 kali lipat. "cepat kau mandi dan bergegas sholat subuh, Aku menunggumu untuk jama'ah bersama," aku melongo mendengar ucapanya, baru sehari aku selsai haid, dan dia sudah tau kalau sekarang aku sudah bersih, dia seperti cenayang saja, jangan jangan tadi malam ia ngintip ... oh no. Kubergegas turun dari kasur dan menyambar handuk di tempatnya, dalam waktu 10 menit, aku telah menyelesaikan ritual mandiku , bersamanya satu minggu ini, membuat hariku lama sekali seperti satu bulan, sifatnya yang menyebalkan kadang membuatku ingin memakan nya hidup hidup. Kusalami punggung tangannya setelah solat. Ada hawa tenang menyelimuti hatiku, apakah ini pertanda jika Tuhan menjadikan ia pembimbing menuju ridho-Nya, semoga saja, hati ini pelan pelan bisa meng ikhlaskan semua yang terjadi, dan menerima dia menjadi suamiku seutuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD