Apakah Dia Hamil?

1273 Words
“Kenapa pintu belum terbuka juga? Gimana, sih? Aku takut banget, Tuan.” “Tuan? Kenapa cuma lihatin aku doang? Nyebelin banget, lakukan sesuatu atau apa gitu.” “Kamu maunya saya bagaimana? Tidak ada sinyal di sini, jaringan semuanya terputus. Lalu apa lagi? Maunya saya dobrak pintu gitu? Tidak mungkin juga, kan?” Ambar bingung harus bagaimana, dia juga sudah tahu darah apa yang sebenarnya dia takuti dari tadi, itu bukan darah keperawanan seperti yang dia pikirkan dari awal, melainkan darah datang bulan untuk hari pertama memang lah sangat banyak seperti itu. Tadinya dia akan meminta maaf karena sudah memfitnah tuannya, tetapi karena melihat tampang tuannya yang super judes saat ini, dia mengurungkan niat untuk meminta maaf. “Kamu coba ingat-ingat deh kemarin dari jam berapa kita terkurung di sini? Nah, paling tidak sebelum jam yang sama pintu nya akan terbuka otomatis, tenang saja ... toh tidak merasa sesak sama sekali, kan? Selama di dalam sini, jadi untuk apa, sih, berisik seperti itu.” “Kalau gitu caranya bakalan lama banget, Tuan, hampir menjelang sore setelah ashar. Aku bisa mati kelaparan juga di sini, nggak makan dari kemarin, dan anehnya lagi hanya aku yang menderita, Tuan santai-santai aja.” Tuan Father pun tertawa terbahak-bahak kali ini, dirinya sangat jahil membuat anak orang tidak makan dari kemarin karena ulahnya. Padahal jika dia berbaik hati, dari kemarin malam pun keduanya sudah memakan sesuatu yang ada di dalam kulkas, Ambar pun belum tahu ada kulkas di dalam kamar tersebut. “Suara apa itu? Ha ha.” Perut Ambar keroncongan, cacing kreminya membutuhkan asupan makanan, sampai terdengar suara perutnya oleh Tuan Father. “Bukan suara apa-apa, Tuan, itu cuma suara cacing.” “Kemari, saya akan beritahu sesuatu yang saya rasa cukup menyenangkan untuk kamu,” titah Tuan Father. “Apa itu, Tuan? Makanan kah?” “Makanan saja terus yang kamu pikirkan, cepat mendekat,” titahnya lagi. Ambar pun sedikit mendekat, dia masih menyembunyikan darah itu dengan sangat hati-hati, bisa malu jika dilihat tuannya lagi, setelah menurut untuk lebih mendekat, bukannya diberikan makanan tetapi dirinya diberikan sebuah kunci yang tidak tahu untuk apa. “Kenapa diam? Ambil, ini kunci yang akan menyenangkan kamu, dijamin kenyang,” cecar Tuan Father. “Maksudnya aku harus makan kunci ini, Tuan?” “Oh astaga. Bukan begitu maksudnya, memangnya saya apa? Saya juga manusia biasa masih punya hati, melangkah lah lebih jauh, dekat kamar mandi, belok ke arah kiri nanti di sana kamu akan tahu sendiri apa gunanya kunci itu, cepat! Sebelum saya berubah pikiran lagi,” ucap Tuan Father lebih sabar lagi menghadapi wanita itu. Dia sudah kelewatan kemarin, tidak mau lagi bermain-main dengan pengasuhnya, baru sebentar bekerja dengannya saja sudah banyak momen gila, apalagi sampai bertahun-tahun, tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti. Ambar masih bingung, dia pun menatap Tuan Father dengan tatapan ragu, “Nggak ngerjain aku, kan, Tuan? Aku nggak punya tenaga lagi lemes banget, nggak bisa main-main lagi.” “Oh, iya? Benarkah kamu lemas? Lalu itu darah apa Ambar? Banyak sekali di sini, saya risih dengan seprai ini, ganti setelah pintu terbuka nanti.” “Itu darah misteri Tuan, darah yang nggak seharusnya dilihat oleh laki-laki lain,” ucap Ambar. “Entahlah, kamu pergi sana, cari yang kamu inginkan sesuai perintah saya tadi, ini asli kebaikan bukan main-main seperti yang kamu pikirkan, sebelum kamu mati,” cicit Tuan Father dengan nada bicaranya yang sedikit mengejek. Ambar pun mengangguk menuju ke arah yang sudah diarahkan sebelumnya, dia sangat lapar sampai pasrah mau diperintahkan apapun oleh tuannya, pada saat kakinya berhenti di salah satu pojok kiri, di sana Ambar bertemu dengan kulkas besar yang biasanya dia lihat ada di supermarket. *** “Wahh, ini kenapa ada kulkas di sini? Asli kulkas, kan, ya? Aku nggak lagi halusinasi karena lapar? Ah, nggak mungkin cuma halu, kedua mataku masih normal walaupun keadaannya gelap tetap saja masih terlihat jelas di dalam sana ada banyak minuman segar seperti di supermarket.” Membuka pintunya lalu mengambil semua yang dia inginkan, seperti minuman, roti, cokelat, dan masih banyak lagi. Ambar pun tak lupa membawakan makanan untuk tuannya, supaya dia terkesan lebih menghargai tuan rumahnya. “Tuan, ini gapapa aku ambil, kan? Aku cuma kali ini aja makan makanan yang ada di dalam kulkas itu. Aku mohon ....” “Hah? Sebanyak itu? Kamu sampai kantungi pakai handuk? Aduh, parah banget, sih, mana handuk saya. Untuk apa? Sebanyak itu untuk apa?!” “Lah, emangnya ini handuk Tuan?” Tuan Father bisa sesak napas jika lama-lama seperti ini terus, seharian satu kamar dengan wanita desa seperti Ambar sudah seperti membunuhnya secara perlahan. Dia pikir hanya wanita seperti Seli yang bisanya merepotkan, tahu-tahu Ambar pun sama saja. Semua wanita sama, itu yang saat ini ada dipikirannya Tuan Father. Sikap dan kelakuannya sama, selalu membuatnya pusing tujuh keliling, dibiarkan malah semakin menjadi-jadi. “Kamu coba jelaskan, untuk apa makanan sebanyak itu? Dikira mau kasih makan sekampung apa!” “Tuan, kenapa salah paham terus sama aku, ini sengaja aku lebihkan untuk Tuan juga, pasti Tuan juga kelaparan, kan? Setidaknya makan roti sama s**u ini, aku salah juga kah?” “Saya tidak suka semua itu, memangnya saya siapa kamu? Tugasmu itu hanya jadi pengasuh, bagian makan dan lain-lainnya urusan Al! Dia tahu semua yang saya suka, makan saja semuanya,” cetus Tuan Father bersidekap d**a. “Ya udah kalau nggak mau, makasih banyak loh sebelumnya, aku akan makan dan habiskan semuanya, awas kalau lapar jangan suruh aku!” “Silakan saja habiskan semuanya, saya tidak percaya kamu akan menghabiskan semuanya dalam satu hari, apa yang kamu bawa sama saja seperti belanja bulanan,” ucap Tuan Father yang menantang Ambar. “Oke! Aku terima tantangan darimu, Tuan!” Sembari menunggu pintu terbuka, dalam keadaan gelap tetapi sedikit terang karena sinar matahari sudah mulai masuk melalui jendela kamar, Tuan Father pun mulai bisa melakukan sesuatu lagi tidak selalu diam saja di tempat tidur. Ambar pun masih bersusah payah menghabiskan semua makanannya, yang paling sulit dihabiskan itu sosis dan makanan kenyal lainnya, Ambar tidak terlalu menyukainya. “Hoeeek, duh mual jadinya.” “Kamu kenapa?” tanya Tuan Father, dia yang sedang membaca buku pun langsung menoleh ke arah Ambar. “Nggak, Tuan, gapapa kok.” “Hmm, kirain kenapa. Ambilkan buku saya yang lainnya dong di dalam lemari merah itu, saya bosan baca buku yang ini,” titah Tuan Father. “Iya, Tuan, hoeeek.” “Ehhh, kamu kenapa, Ambar? Katakan, jangan diam saja?!” “Aku mual, Tuan, gapapa kok.” “Makan apa kamu sampai seperti itu? Jangan dipaksakan deh kalau tidak mampu, saya tidak akan mempermasalahkannya lagi,” cicitnya. “Entah kenapa Tuan, setelah makan sosis kenyal ini, jadi ingat yang semalam. Jadi mual deh nggak bisa ditelan dengan lancar,” ucap Ambar dengan segala kepolosannya, karena semalam dia tidak mengingat begitu jelas. “Hah? Memangnya apa yang kamu ingat mengenai semalam?” “Aku rasa tanganku meremas sesuatu yang panjang dan kenyal gitu, entahlah ... mungkin mimpi aja, Tuan, aku lanjutkan makan dulu, nggak mau ditantang! Harus bisa menghabiskan semua ini.” Duh, gimana kalau nanti dia ingat apa yang dia remas semalam, ya? Semoga saja tidak mengingat dan terlupakan. “Tuan, bolehkah aku berteriak di balkon kamar ini? Siapa tahu dengan begitu ada yang bisa mendengar, lalu menolong kita.” “Jangan lakukan itu, awas saja kalau berani.” Baru saja dilarang, tetapi Ambar justru kembali mual dan berlari ke kamar mandi dengan suara hoeek hoeek nya. Dia berusaha untuk memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi. “Dia kenapa, sih? Perasaan aneh banget deh, dari mulainya banyak darah di sini, lalu ... mual? Oh astaga, dia tidak sedang hamil, kan?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD