Kamar Sultan Mah Beda

1396 Words
Ambar sudah cukup lama menunggu Tuan Father tidur, kenapa aneh sekali karena tidur orang normal di siang hari biasanya paling lama 30 menit atau bahkan lebih cepat daripada itu, tetapi kini yang Tuan Father alami sudah lewat dari dua jam. “Aduh, gimana dong? Kenapa dia lama sekali tidurnya, apa aku bangunkan aja? Nggak, nggak boleh kayak gitu, Ambar. Ingat, apa yang Al bilang tadi, sebenarnya dia itu orangnya baik, cuma rada-rada aja, hmm.” Pada saat Ambar akan menyelimuti tuannya itu, kedua matanya tak sengaja melihat sebuah remote yang saat ini tengah tertindih oleh tuannya itu. Entah remote apa, sungguh Ambar tak tahu apapun selain ingin memindahkan remote tersebut dari pinggang tuannya sebelum benar-benar tertindih dan akan merasakan tidak nyaman. “Maaf, ya, tuanku, aku nggak bermak-sud, aaaah.” Ambar ceroboh, dia sampai jatuh menindih tubuh tuannya dengan gerakan cepat dia langsung kembali ke tempatnya semula, untung saja domba badot itu tidak merasakan kejadian tersebut, mungkin saja saking pulasnya tertidur. Tidak jadi memindahkan remote itu, Ambar pun memilih untuk duduk saja di sofa, bingung harus melakukan apa selain diam dan tak bisa berkutik sama sekali, mulai menyadari ternyata kamar tersebut kedap suara, mau teriak sekeras apapun dari dalam, orang yang ada di luar tidak akan bisa mendengarnya selama pintunya tertutup seperti sekarang ini. “Haduh bodoh pisan, kenapa aku baru sadar ini kamar kedap suara kalau pintunya tertutup, terus tadi ngapain aku teriak-teriak manggil si Al, ya, percuma kalau gitu.” “Eh, sebentar ... untuk apa kamar kedap suara segala? Ihhh, jangan-jangan ....” “Aaaaa, aku takut, gimana kalau itu semua benar? Ya Allah lindungilah aku.” plukk. “Awww, apa ini? Bantal?” Ambar menoleh ke arah tuannya karena barusan kepalanya terkena timpuk bantal dengan keras. Selain dia, siapa lagi yang akan melakukannya, maka dari itu Ambar pun berkacak pinggang mengamati tuannya dari ujung kepala sampai ujung kakinya. “Tapi, dia tidur nyenyak banget, terus tadi siapa yang lempar bantal ini? Hmm jadi aneh.” “Makanya kalau bicara itu dijaga, jangan sembarangan berpikir deh,” ucap Tuan Father kemudian dia membuka kedua matanya sembari melototi Ambar. “Heiiii, jadi dari tadi kamu nggak tidur, eh maksudnya dari tadi Tuan nggak tidur atau gimana, kok bisa ....” “Menurut kamu?” “Ya, itu aku ... hmm apa kebangun, Tuan?” “Badanmu berat, mana mungkin saya bisa tidur dengan nyenyak. Ambar, tolong tuangkan air minum untuk saya,” titah Tuan Father. “Jadi, Tuan merasakan ....” “Ambar, saya lagi malas debat sama kamu, cepat tuangkan air nya, saya haus, oh ya ... bantu saya bangun dulu,” titahnya lagi. Ambar pun melakukan itu semua, tanpa berkomentar lagi Ambar melayani tuannya dengan baik, selain dirinya sudah bekerja dengan kontrak, Ambar pun benar-benar tulus membantunya. “Kenapa kamu? Belum bisa ke luar juga?” “Iya, Tuan, aku harus ke luar dari sini, nggak mungkin juga, kan, kalau semalaman di sini.” “Lagian siapa juga yang mau satu kamar sama kamu semalaman, pede banget. Nih, tekan saja remote ini, kamu bisa ke luar,” titah Tuan Father memberikan remote itu. “Remote? Ini remote apa, Tuan?” “Tekan yang warna hijau untuk membuka pintu, dan warna merah untuk ....” Ambar tanpa mendengarkan dengan jelas pun langsung gegabah menekan tombol yang berwarna merah, karena katanya warna hijau untuk membuka pintu, pastinya yang warna merah untuk membukanya dengan lebar, pikirannya seperti itu karena sudah blank hampir seharian terkurung di kamar tersebut. “Aihhh, kok jadi gini, Tuan? Bagaimana ini, Tuan? Kenapa jadi gelap, aduh aku takut, Tuan, gimana?” Tuan Father geleng-geleng dengan ulahnya Ambar, sungguh memalukan baginya. Sudah diberitahu tetap saja sok tahu, ya, jadi seperti inilah nasib mereka berdua sekarang, tombol yang warnanya merah untuk mengunci selama 24 jam, dan yang lebih parahnya lagi selama itu juga tidak akan ada sinyal sama sekali, laptop, ponsel, maupun komputer. Begitu panik dan ceroboh Ambar terus-menerus teriak meminta pertolongan entah pada siapa, Tuan Father mengurut keningnya dengan frustasi, bisa-bisanya dia mengenal wanita ndeso seperti Ambar. “Tuan, kenapa diam aja? Gimana ini? Kenapa jadi gelap semua? Apa remote nya rusak? Kok aku tekan nggak bisa lagi, aduh kenapa, ya,” ucap Ambar yang masih polos mengotak-atik remote nya. “Selamat Ambar, kamu akan bermalam dengan saya malam ini, nikmatilah kebodohan kamu itu.” “Hah? Maksudnya apa, Tuan?!” *** Setelah Tuan Father menjelaskan apa yang sudah terjadi pada kamarnya saat ini, begitu panik dan syok keadaan Ambar saat ini, bisa-bisanya dia tidak mendengarkan penjelasan tuannya sampai selesai, mungkin jika dia tidak sembarangan seperti tadi, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. “Sudah, jangan nangis seperti itu, saya tidak akan ngapa-ngapain kamu, hapus air mata kamu,” titahnya. “Gimana kalau aku nggak bisa ke luar lagi, hiks, gimana sama orang tuaku di desa, pasti mereka akan sedih kalau tahu anaknya meninggal karena terkurung di kamar seperti ini hiks, aku takut.” Tuan Father menghela napas berat kali ini, benar-benar istuning teung-teuingeun si Ambar, membuatnya ingin berkata kasar tetapi tidak mungkin juga dia melakukan itu pada seorang wanita polos seperti Ambar. Yang sebenarnya dia ingin lakukan adalah memeluknya, menenangkan dan menjelaskan lebih detail lagi, bahwa mereka tidak akan selamanya terkurung hanya dalam waktu 24 jam saja, setelah itu semaunya akan baik-baik saja. “Hei, jangan diam di situ, nanti kamu kedinginan, AC akan semakin full kalau sudah seperti ini, kamu sudah melakukan hal yang fatal, maka dari itu, kemari, jangan diam di dekat pintu seperti itu.” Ambar menggeleng sambil menunduk, dia tak mau bangun sampai pintunya bisa terbuka, dia pun sangat takut berduaan dengan laki-laki di dalam kamar dalam posisi gelap seperti itu, anehnya gelap tetapi AC nya masih full, sungguh kamar yang amazing bagi Ambar. “Ambar, gampar? Cepat, kemari lah ... saya tidak akan melakukan apapun seperti yang kamu pikirkan, saya lumpuh, mana mungkin bisa berbuat yang macam-macam, setidaknya kamu duduk di sofa pakai selimut, kalau memang tidak mau naik ke ranjang,” ucap Tuan Father. “Nggak mau, Tuan, aku mau di sini aja sampai pintunya terbuka.” “Kan, saya sudah bilang, pintu dan semuanya akan kembali ke semula dalam waktu 24 jam, ayolah, sampai pagi lagi pun belum bisa dibuka, paling nanti sorean.” “Lagian kenapa pintunya seperti ini? Kenapa kamar ini aneh? Beda dengan yang lain, Tuan.” “Dulu ... ahhh, kamu tidak harus tahu, itu privasi saya. Cepat, naik ke atas sofa, jangan di situ.” “Jangan-jangan dulu Tuan sering m***m sama pacarnya, ya? Supaya kedap suara lalu pintunya terkunci seperti ini, iya, kan? Hayoo, ngaku.” “Waw sekali pikiran kamu itu, Ambar. Saya berpikir ke arah situ saja belum pernah, ada alasan kenapa kamar ini seperti aneh kayak gini, dan itu bukan karena saya m***m!” “Terus apa coba? Apa coba?” Ambar bertingkah seperti menantang. “Kamu manusia tidak punya hati, seharusnya tidak akan mengerti walaupun saya jelaskan, cepat ke sofa, atau kamu menyesal mati kedinginan di situ, saya mau lanjut tidur saja, oh, iya? Kamu salat, kan? Pakai saja kamar mandi saya sesukamu, jangan ganggu saya,” cecar Tuan Father sebelum menutup kedua matanya lagi. Ambar dengan panik langsung menghampiri tuannya, menggoyangkan tubuh itu agar tak tertidur lagi, dia sangat takut jika harus ditinggal tidur lagi, Ambar sangat ketakutan, dia benar-benar sangat trauma kegelapan. “Tuan, bangun, aku takut, aku nggak mau sendirian.” Ambar tak tahu malu sampai ikut merangkak ke ranjang itu, membuat Tuan Father benar-benar tidak nyaman dengan posisi seperti itu, Ambar sungguh bodoh dan keterlaluan. “Ah, ya ampun ... baiklah, saya bangun!” “Tuan, aku takut.” “Terus? Kalau takut, saya harus bagaimana?” “Jangan tidur, aku pengen ke kamar mandi.” “Hmm, ya, sana.” “Tapi, janji jangan tidur, oke? Aku mohon, Tuan cukup membuka kedua mata selama aku di kamar mandi.” “Sama saja, di dalam sana gelap, Ambar, paling kamu hanya bisa gunakan air nya saja, sana ....” “Apa? Di dalam juga gelap? Ini mati listrik kongslet? Aku panggil tukang listrik kalau gitu nanti setelah bisa dibuka pintunya, supaya dibenerin.” “Ahhhhh, ya ampun. Iya ... iya nanti kamu panggil saja, cepat pergi, katanya mau ke kamar mandi.” “Tuan ....” “Kenapa lagi?” “Pengen pipis.” “Terus? Apa?” Tuan Father sangat tertekan saat ini. “Temenin.” “Apa?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD